Satu Setengah Jam di Rumah Sakit


Hari itu saya ditelepon sama teteh di SDF (Syamsi Dhuha  Foundation-Yayasan Lupus), diminta tolong bantuin salah satu Odapus yang mau periksa ke dokter spesialis syaraf RSHS. Dengan agak malas-malas aku menyanggupi, bukannya ga mau bantuin, hee.. tapi saya suka agak ga suka kalau disuruh-suruh, maunya kalo bertindak ya atas keinginan/kesadaran sendiri. Gatau kenapa saya juga yang harus diminta tolong dari sekian banyak volunteer SDF, alasannya satu karena volunteer untuk Mbak Rara (sebut saja beliau begitu) sedang kambuh juga sakitnya dan kedua karena saya tinggal di Kopo dan Mbak Rara tinggal di Soreang, masih satu wilayah.

Akhirnya saya sanggupi. Besoknya saya datang jam 8.15 ke RSHS menemui Kang Farid dari SDF dan Mbak Rara. Jadi lupusnya Mbak Rara ini sudah membandel banget. Sudah sampai pernah disuntik mabthera yang muahhal banget. Terus efek samping dari metil prednisolon yang udah lama dikonsumsinya ini bikin tulang belakangnya keropos sehingga susah untuk duduk apalagi jalan. Ia berangkat dengan ambulan ke RSHS dan sampai di sana dibawa dengan bed. Belum lagi matanya yang jadi kena katarak dan nyaris glaukoma juga karena efek samping obat. Sekarang ia mengalami vertigo sehingga mau periksa ke bagian syaraf.

Sebelumnya saya ga terbayang bagaimana kondisinya. Sampai bertemu dengannya saya langsung.. meghela nafas beraaat dan panjaang. Seperti pada umumnya pasien lupus yang mengonsumsi steroid, efek samping moonface (dan sebagainya) pun ada padanya.

Saya sedikit berbincang dengan bapaknya, bapak Mbak Rara tampak sangat kebapakan dan ramah. Ia berbicara dengan bahasa sunda fasih, walaupun begitu ia masih mengerti kalau saya berbicara dengan bahasa Indonesia. Katanya dia menolak untuk diperiksa langsung dengan dokter spesialis di RSHS, padahal dokternya sudah berbaik hati meringankan pengobatannya, kalaupun ada biaya administrasi SDF akan membantu. Katanya lagi, bukannya mau menolak kebaikan hati ibu Dian Syarif, tetapi ia takut kalau periksa melalui jalur bukan Jamsostek (ya jalur biasa untuk bisa diperiksa langsung dengan dokter spesialis syaraf) nanti Jamsosteknya akan dicabut karena dianggap mampu, kan ada catatannya kalau periksa, kalau ditelusurui nanti takut bermasalah.

Tarikan nafas saya semakin panjang dan berat. Yaa.. tau sendirilah berobat di poli RSHS yang dicover Jamsostek dan Askes. Beratus antriannya, diperiksa oleh residen, dan berdesakan di lorong rumah sakit.

Bapak pergi ke pendaftaran ditemani kang farid, saya mengobrol dengan Mbak Rara, saya berdiri di sebelah bednya sambil mengajaknya bicara apapun dengan santai.

Ternyata ia sudah menyandang lupus hampir 9 tahun. Sempat kuliah dan lulus di HI salah satu perguruan tinggi swasta, namun ga sempat bekerja. Dulu nyeri sendinya sempat parah sampai-sampai tangannya ga bisa diluruskan, teman-teman kuliahnya ga ada yang tahu ia menyandang lupus, setelah lulus baru temannya tahu, itupun masih tidak tahu Lupus itu apa? Semuanya enteng mengalir dari bibirnya. Ibunya ternyata sudah tiada, Bapak berhenti kerja untuk merawatnya, memasak, dan menemaninya. Untung kakaknya ada dua orang lelaki, kerjanya hanya penjaga Mkios dan montir.  

9 tahun minum obat-obatan itu.. mungkinlah efek samping yang sekarang ia alami muncul. Matanya kabur kalau menonton, untuk melihat sms, dan sekedar melihat wajah saya. Dengan sambil tertawa ia berkata: Biasanya saya tanya bapak, siapa yang lagi main di tivi, eh Bapak malah gak tahu.

Dari mulai bulan November tahun lalu, kondisinya memburuk, sampai disuntik Mabthera tadi. Tulang belakang yang menopang jalannya pun mulai keropos.. Apa karena sudah 9 tahun menjalaninya, ia sudah menerima semuanya dan menjalaninya dengan lapang?

Saya melihat Bapak, mondar-mandir kesana kemari mengurus pemeriksaan putrinya, mengapit tas emak-emak tanpa peduli itu terlihat canggung pada lengannya. Saya kembali menarik nafas panjang.

Entah apa yang saya rasakan. Otak saya melambat dan perasaan saya memekat.

Beberapa bulan lalu saya merasa ujian apoteker yang akan saya hadapi sangat sangaat sangatlah berat dan menyesakkan dada. Tapi ternyata, tidak begitu, itu begitu kecil, saya akan BISA MENGHADAPINYA (amiin).

Dan saya pun merasa, apapun cita-cita tinggi saya, keinginan ego saya, yang paling saya inginkan saat ini adalah bisa selalu disamping keluarga kecil saya, ayah. Bisa hidup bersama dan saling menjaga. itulah kebahagiaan saya.

Entah nyambung atau tidak. Satu setengah jam di rumah sakit, berbicara banyak.

Semoga Mbak Rara dan masih banyak Mbak Rara lainnya selalu diberikan kesabaran dan ketenangan hati. Semua yang menjadi bagian dari mereka, akan menjadi penggugur dosa-dosanya kelak. Allah punya cara terbaik.

Advertisements

2 thoughts on “Satu Setengah Jam di Rumah Sakit

  1. very inspirative..
    so meaningful..

    care for lupus your caring saves live..
    your caring saves life..

    Yes, harus lulus ujian Apt supaya bisa caring someone dan bisa saving life them

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s