Jalan Monas


“Nak, kalau ayahmu udah pernah jalan-jalan ke Menara Pisa di Italia, bundamu ini juga udah pernah mengelilingi Monas dan naik sampai puncaknya”

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan pada anakku kelak (tapi yaa.. mudah2an sebelum ngegendong anak bisa mampir dulu ke Paris lihat dan manjat Menara Eiffel sama ayah, hehehe… Amiin).

Ya, memang bukan orang Jakarta namanya kalo naik-naik ke puncak Monas. dan memang saya bukan orang Jakarta, hehe.. jadi penasaran untuk jalan kesana, melihat langsung, papanasan ga jelas, dan manjat (naik lift tepatnya) ke puncak Monas.

Dapat kesempatan kerja praktek (KP) apoteker di Jakarta saya manfaatkan untuk bisa sedikit ‘melek’ Jakarta. Sebagai Mojang Bandung berdarah Minang, selama hampir seumur hidup saya (dihitung sampai sekarang), saya jarang melangkahkan kaki keluar Paris van Java untuk menetap sampai sebulan. Pengalaman hidup saya untuk menetap seorang diri di luar Bandung memang minim. Dulu sih pernah magang di Jakarta juga sebulan, tapi ga dihitung soalnya nginep di rumah tante dan tiap minggu pulang Bandung, heuheu..

Singkatnya selama KP 3 minggu ini saya ngekos dengan sahabat saya si unyil dewdew di daerah Karet (Kuningan) dan bertahan tidak pulang Bandung sampai KP selesai, haha. Maka, di Sabtu pagi yang cerah, saya dan kawan-kawan seperjuangan KP memanfaatkan untuk JALAN MONAS.

Untuk mencapai Monas dari daerah Kuningan ini mudah saja. Saya dan dewdew tinggal jalan dari kosan ke halte busway terdekat, yaitu Kuningan Madya. Dari sana, kami naik Transjakarta (bukan naik busway ya, udah kebiasaan ngomong gitu sih, hehe) yang ke Dukuh Atas 2. Jalurnya aalah Kuningan Madya-Latuharhari-Halimun-Dukuh Atas 2. Sampai di halte itu, jalan dulu untuk pindah halte ke Dukuh Atas 1 (lihat petunjuk atas arah Kota). Dari Dukuh Atas 1 tinggal naik yang ke arah Monas. Alurnya: Dukuh Atas 1-Tosari-Bunderan HI-Sarinah-Bank Indonesia-Monas.

Alhamdulillah akhirnya kita bisa sampai, walaupun sempet kepisah bus sama dewdew pas naik di Dukuh Atas 1, haha (ini yang patut diwaspadai kalau naik transjakarta, kita ga selamanya akan bersama, bisa dipisahkan sama mas-mas fronliner bus :p). Ternyata setelah sampai di luar Monas pun untuk masuk ke dalamnya kita musti muter jauuuh nyari jalan masuk (mungkin karena kita ga pengalaman juga, jadi we kukurilingan ga jelas). Tapi namanya hari Sabtu ya, itu jalanan sueppii, volume kendaraan lewat sedikit.

Sampai juga kita di dalam lingkungan Monas, tapi untuk mencapai Monumen itu masih harus jalan (sambil olah raga pagi). Sebenarnya ada kereta-keretaan lho yang bisa kita naiki buat keliling Monas biar ga cape, tapi kita ga pake itu (sok-sok jalan sehat). Nyampe Monas, eehh para peserta jalan Monas yang lain belum pada dateng juga, jam karet semua dah. Daripada kita nungguin mereka akhirnya saya&Dewdew foto-foto sedikit.

Lanjut, kita memilih masuk duluan ke Monas aja deh, habis yang laen lama. Tapi lhoo.. lhoo.. ini jalan masuknya kemana ya??? Memang saking awamnya kita dan gak aware sama penunjuk jalan jadi kita sampai muterin itu Monas beberapa kali nyari pintu masuk, udah termasuk keBODOSan taraf akutlah. Ternyata eh ternyata pintu masuknya itu di seberangnya Monasnya, bukan langsung nyelip masuk gitu aja. Kita harus masuk lewat tangga ke bawah, ke lorong, dan baru bayar tiket masuk museum&monasnya (untuk anak-anak/pelajar/mahasiswa Rp1000,-).

Dari sana, kita masuk ke dalam Monas, ada Museum Sejarah Nasional. Di dalamnya remang-remang gimana gitu, enak buat bobo (apalagi habis cape keliling-keliling muterin kompleks Monas). Museum Sejarah Nasional ini berisi perjalanan Indonesia dari zaman sebelum purba, sebelum masehi, zaman kerajaan, masuknya agama, perkembangan Islam, sampai ke masa perkembangan pendidikan dan sumpah pemuda, penjajahan Belanda, Jepang, perjuangan kemerdekaan, lanjut ke zaman Indonesia udah bisa bikin pesawat sendiri. Perjalanan ini terpampang dalam pajangan kaca digambarkan dalam bentuk diorama dua dimensi hingga lima dimensi.

Museum Sejarah Nasional

Puas di dalam sana, kita beranjak ke lingkungan luar Monas, masih ada perjalanan sejarah Indonesia berupa ukiran dinding dan patung (2 dan 3 dimensi), juga ada sedikit esens hijau-hijau di sana.

Mau aapa kau Londo??

Perjalanan dilanjutkan menuju puncak Monas. Eeehh ternyata mau naik ke atas ngantri boo.. (udah makin siang, makin banyak orang, liburan terutama anak-anak SD SMP). Oya untuk bisa naik cukup bayar Rp3.000,- untuk anak/pelajar/mahasiswa.

Ngantriii dooonggg

Mengantri lumayan lama, akhirnya kami berkesempatan untuk naik lift ke puncak Monas :D. Di atas ternyata tidak terlalu luas, ada pagar-pagar membatasi (untuk mencegah orang ga berupaya bunuh diri dari Monas), dan ada teropong besar di 4 pojokannya (saya ga coba. Oya ini harus bayar kalo mau pake). Inilah pemandangan Ibukotaku dari atas ternyata..

Lingkungan Monas dilihat dari atas

Mesjid Istiqlal dilihat dari atas

Nangkring di atas (Pipi saya ga tembem kan? kan? kan??)

Pas mau turun.. eeaa.. ngantri lagi cuuyy. Lift gak berhenti di lantai dasar, tapi di lantai 2. Masih ada pemandangan lain yang bisa dilihat. Uwaaahh Jakarta tampak luas…

 Duo unyil (tapi dewdew lebih unyil :P)

Dari Monas, kami masih lanjut ke Pasar Baru dan Kota Tua, yang membuat kaki saya gempor habis sampai rumah….. untung ga jadi lanjut ke PRJ, kalau iyaa… eerrr….

Alhamdulillah sudah pernah sampai Monas, puncak Monas.. (bolehlah ntar jalan-jalan keluarga kesana ya Nak, sebelum ke Menara Pisa, hehe).

Foto-foto diambil dengan: kamera dewdew, kamera deus, kamera hp monik

Keterangan: Monas atau Monumen Nasional merupakan icon kota Jakarta. Terletak di pusat kota Jakarta, menjadi tempat wisata dan pusat  pendidikan yang menarik bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Monas didirikan pada tahun 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian pada tahun 1961. Monas selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk melihat keindahan kota Jakarta dari puncak Monas, menambah wawasan sejarah Indonesia di ruang diorama ataupun menikmati segarnya hutan kota seluas kira-kira 80 hektar di tengah kota Jakarta.

Advertisements

2 thoughts on “Jalan Monas

    • hehehe.. iya taaa, kapan lagi bisa naik-naik ke puncak monas.
      betul2, bisa tu dtg pagi dari bdg turun di stasiun, trus langsung pulang lg dari stasiun, kan dekett *niaatt*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s