Fakta Bus Mini Jakarta


Cari nafkah di Jakarta emang ga segampang ngorek-ngorek upil di idung. Ga bisa langsung cuil, dapet, terus buang.

dan..

Transportasi di Jakarta emang ga senyaman pijatan krimbat mbak-mbak salon, yang dengan tangannya bisa membuat pelanggan merem melek menikmati relaksasi otot kepala yang tegang.

Saya berangkat dan pulang kantor tiap hari naik Metromini atau ga Koantas. Mereka berdua termasuk jenis bus mini (sama kaya Kopaja). Bus mini ini berarti dia ga sebesar bus-bus antarkota dan juga ga sekecil angkot, jadi dia semacam ABG-nya angkutanlah, angkutan agak ‘nanggung’ yang labil.

Sekitar sebulan saya menempuh perjalanan dari Fatmawati ke Pasar Rebo (turun di jalan baru), saya sering mengamati hal-hal remeh temen yang ada di bus mini ini.

Berikut adalah 9 Fakta (based on monik’s preception) mengenai bus mini Jakarta:

  1. Ikan Teri Dipepes. Bus mini ini rata-rata memiliki 25 kursi: 6 di depan (deket supir), 14 di tengah, dan 5 di belakang berjejer. Tapi ada juga yang kursinya dicabut, biar lebih banyak memuat penumpang (penumpang jadinya berdiri). Kapasitas normal 25 orang itu bisa digandakan 2x lipatnya, 50 orang bisa masuk ke dalamnya. Kalau supir sama keneknya ga berprikemanusiaan biasanya penumpang didedet-dedet kaya ikan teri dipepes, bedanya pepes baunya masih sedep kan yak, lha di bus baunya sedep 7 rupa. Bus ga akan berangkat sebelum volume bus terisi penuh dengan badan manusia (terutama untuk bus yang akan masuk tol, biasanya jumlah penumpang dimaksimalkan). Gang di dalam bus diisi dengan penumpang yang berdiri, format posisinya udah diatur pula, harus hadep kiri-kanan *dia kira baris-berbaris*, biar muatt banyakk.
  2. Ilmu Sakti Si Kenek. Naaah.. Hebatnya, meskipun ini bus udah penuh sama manusia, baik yg duduk, berdiri, maupun yang gelantungan, keneknya masih bisa nyelip-nyelip di antara penumpang untuk mintain ongkos, toel sana toel sini, kencring-kencring, dengan gesitnya kenek menyelinap, akhirnya semua penumpang bisa bayar. Heran daku juga, dia pake ilmu menipiskan tubuh kayanya, atau.. dia minum WRP diet to go *kalah dong eike*.
  3. SIM G Sopir. Gaa mau kalah pamor dari kenek, sopir pun pun punya ilmu sakti. Dalam hal menyetir sopir bus mini ini emang juara, kayanya mereka ini mengantongi SIM G kali yaa.. GEBUUUUTT GELOO.. ga mau kalah dia sama mobil, motor, apapun yang menghalangi di depannya, dia kira ini rute sirkuit Sepang kali ya main susul menyusul aja gitu, ga bisa liat jalan ada yang kosong, zep zeeep zeeeep.. kita di dalem tergoncang-goncang, udah kayak bawa hewan ternak aja. Lagian sih bus ini juga bodinya udah ga jelas bentukannya, kaya besi kalengan gitu, jadi si sopir mah nyante aja kali ya mo sradak-sruduk kesana kemari, mo lecet, penyok, bruntus-bruntus pun ga peduli, yang bawa mobil bagus yang harus hati-hati mah..
  4. Women Rules. Eitsss.. Jangan kira pasangan setia sopir-kenek ini hanya dijalankan oleh kaum Adam saja, ada lho kaum Hawa yang ‘menunggangi’ busmini ini. Saya udah 3 kali dapet bus yang nyupir-in dan ngenek-in cewe. Biasanya kalau yang ‘mengurusnya’ cewe, hasilnya jadi lebih manusiawi, bawanya lebih tenang, dan ga terlalu maksain menuhin bus juga. Memang wanita sisi lembutnya selalu aja ada.
  5. Kora-kora Kaleng. Posisi favorit saya di region tengah, depan, deket pintu masuk. Posisinya lebih enak karena biasanya kaki lebih leluasa dan ada pegangan besi di depannya. Kadang bisa keliatan jalan di sampingnya. Kalau bus lagi  masuk jalan tol dan ngebut, terus saya pegangan di besi itu, sambil merem, ngerasain angin menabok-nabok wajah, serasa.. naik kora-kora kaleng.
  6. Pengamen. Banyak pengamen yang suka mampir di bus ini, dari mulai anak kecil, remaja, orang tua, dari mulai lagu alay, dangdut, pop, barat, dan qasidahan semua pernah saya dengar. Kayanya penghasilan mereka dari ngamen ini cukup lumayan (penumpangnya lebih banyak daripada angkot, kemungkinan dapet uang lebih besar). Ga semua pengamen saya kasih recehan. Biasanya saya ngasih ke pengamen yang nyanyinya niat, ga ngasal (saya ngasih uang untuk jerih payahnya latihan), atau kadang karena rasa iba. Sebenarnya saya masih bingung apakah iba ini tepat? Terutama untuk pengamen anak-anak. Aduuh, saya paling ga tega, masa masih keciiil udah disuruh ngamen, ortunya manaa siiih?? Mau ngasih salah -ntar dia pikir ngamen adalah profesi yang menghasilkan cukup uang-, ga mau ngasih salah juga. Akhirnya untuk pengamen anak, saya kasih snack aja, kayak cokelat, wafer, apa ajalah, harganya 500-1000an, sama aja kan kaya ngasi recehan?
  7. Kaki Kiri. Ini yang bahaya dari busmini ini, kadang-kadang dia suka nurunin penumpang di mana aja, kapan aja, saking fleksibelnya.  Pas nurunin penumpang ini si bus ga berhenti 100%, paling cuma 75% lah, jadi penumpang turun sambil bus masih memiliki gaya kinetik *halah*, bahkan berhenti nuruninnya kadang di tengah jalan. Sebenernya penumpangnya juga  yang kadang bandel, turunnya pas bus masih jalan.  Nah, dianjurkan untuk turun dari bus, kaki kiri didahulukan.. Alasannya? cobain aja sendiri turun pake kaki kanan sama kaki kiri, mana yang kerasa lebih pageuh, eh tapi jangan dicoba deng, bahaya ntar, pokonya apapun yang terjadi kaki kiri duluan!
  8. Acuh vs Apatis. Memang untuk bisa dapet tempat duduk nyaman di busmini ini gak mudah, yaa first in first get-lah.. Yang naik belakangan pasrah untuk berdiri, kalau beruntung mungkin bisa duduk kalau ada penumpang lain yang turun. Gak peduli cewe atau cowo, muda atau tua, kalau dapetnya belakangan ya berdiri. Wong semua juga pengennya nyaman. Kecuali nih ya.. kalau ada ibu hamil sama ibu gendong bayi, pasti HARUS ADA yang ngalah, ngasiin tempat duduk ke ibu-ibu itu. Emang ada yang tega liat ada ibu-ibu perut buncit atau ibu-ibu gendong bayinya yang masih bobo berdiri kegoyat-gayot arus derasnya bus? Kalau sampe satu bus itu pada apatis, dikutuk juga semua tujuh turunan deh. Ya.. memang ga semua orang rasa pedulinya tajem (harus diserut pake silet kayanya biar tajem), mungkin karena tekanan hidup di Jakarta yang berat sampai lupa lirik kiri-kanan. Jangan sampai deh.. Tapi Alhamdulilah, saya masih sering melihat bapak-bapak/pemuda yang cukup gentle untuk memberikan tempatnya pada yang butuh, anyway ga harus lelaki aja lho yang harus ngalah, perempuan yang masih kuat juga bisa, katanya mau emansipasi?
  9. Penurunan Jumlah Penumpang. Ada fenomena menarik nih ketika saya dari Senin-Sabtu naik bus ini (rata-rata di jam yang sama). Hari Senin itu pasti yaa padeett banget penumpang, bisa sampe berdiri satu kaki deh biar muat masukin penumpang. Tapi seiring bergeraknya hari, Selasa-Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu, jumlah penumpang makin berkurang.. Kaya hari Kamis dan Jumat tu ya.. kursinya aja ampe kosong.. Ini orang-orang pada kemana yaakk?? Apakah mereka hilang ditelan hari? atau.. mungkin mereka nginep di kantor ya? Jadi ga berangkat dari rumah lagi.

Kesimpulan:

  • Saya lebih milih angkot daripada busmini, bener deh.. Kalau di Bandung saya suka mencak-mencak karena angkot nyebelin, ternyata ada angkutan umum yang lebih nyebelin lagi. Angkot lebih memanusiakan manusia.
  • Kalau saya hamil dan punya anak suatu hari nanti, jangan sampai naik busmini ini. mending naik angkot aja, bajaj juga gapapa, mobil pribadi apalagi (amiin aja).

Metromini
http://www.langitberita.com/wp-content/uploads/2011/10/metromini.jpg

Kopaja
http://www.matanews.com/wp-content/uploads/kopaja.jpg

Koantas Bima
http://dianfitriah.files.wordpress.com/2011/01/koantas-bimajpg.jpg

Advertisements

3 thoughts on “Fakta Bus Mini Jakarta

    1. eh 9 maksudnya,, salah nulis, keingetan sama on the spot-nya trans, kan ada 7,, hahaha…
      tapi harus jadi pengamen anak2 deee.. jadi anak dulu yee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s