Kenapa Jakarta??


Kenapa Jakarta?

Kalau bisa memilih tentu saya akan pilih untuk berkeluarga di Bandung, punya rumah di Bandung, berkarier dan berkarya di Bandung, punya apotek di Bandung, punya anak dan membesarkan anak di Bandung. Well, who’s won’t? Sapa juga yang ga pengennn?

Dulu saya ga pernah terpikir untuk menghuni ibu kota. Selama merencanakan pernikahan, opsi yang terplanning antara lain:

–        Tinggal bakal di Bandung
–        Atau di Yogyakarta (karena mas Fajarnya  ceritanya dulu berkemungkinan berkarier di UGM)
–        Atau di Belendong (hahaha.. we wish! Blm nasib deng itu mah)

Ya kita kan ga pernah tau juga ya apa yang terjadi kelak. Tau-taunya udah nemplok wae di Jakarta. Dulu mikirnya asa simpel pisan yak, di Bandung dan titik. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi jalan kita sekarang ini, khususnya yaa.. masalah lapangan kerja. Jadi inget ikrar yang pernah diucapkan mas Fajar: “Iih.. ga akan deh, kerja di Jakarta, tinggal di Jakarta, ga akannn”. Sekarang: telen lagi deh tu kata-kata (mangkanya jangan pernah ngucapin ga akan, ntar kualat). Kaya daku bilang, ga akan deh kayanya nikah habis lulus S1, paling kalo udah kerja, eh taunya nikah juga, hahah.. (eh itu mah bukan kualat deng, itu mah anugerah).

Back to topic. Jakarta, tempat segalanya tublek cublek, es campur aja kalah ramenya ama ibu kota. Betah ga betah deh di Jakarta, kalau bisa memilih tentu Jakarta bukan prioritas. Tapi yaa.. nasib memang membawa kami ke sini, menambah padat masa ibu kota.

Entah kenapa magnet si ibu kota ini kuat ya.
Yang dari desa mau ke kota, pilih Jakarta untuk mengadu nasib.
Yang lulusan perguruan tinggi di Bandung cari kerja ya di Jakarta.
Yang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, berurbanisasi ke Jakarta cari kehidupan yang “terlihat” menjanjikan
Bahkan Ayu Tingting pun merantau ke Jakarta mencari alamat pacarnya yang ga taunya palsu. Norman Kamaru pun dari Gorontalo ke Jakarta juga (ini kok jadi reportase gosip yak?)

Jakarta semakin padat, ya gimana lagi, mau ngelarang orang-orang pada ke Jakarta juga susah, wong di daerah mereka, mereka pikir ga bisa berkembang. Pusat ekonomi, insfrastruktur, teknologi, kemajuan kesehatan, dll semuanya ada di Jakarta. Ga merata untuk daerah lain.

Miris liat kehidupan di Jakarta.
Di tengah-tengah gedung tinggi, di bawahnya berkeliaran anak-anak kecil di bawah umur, ngamen, ngemis, tumbuh di jalanan. (Maknyaaa manaaa ini wooooy??)
Di tengah-tengah kemewahan gaya hidup sosialita, ada orang-orang bergelimpangan di jalanan, tidurnya beratapkan langit.
Doooh, doooh.. jomplangnya kehidupan Jakarta.

Saya cuma bisa berharap dan berdoa. Kelak saya bisa memiliki tempat tinggal yang nyaman dan layak untuk keluarga saya kelak, amiin..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s