Perpus!


Satu dari sekian banyak hal yang saya suka (dan ada juga tidak saya sukai) dari perusahaan tempat saya bekerja menjadi editor adalah PERPUSTAKAAN! I love library, where there are books, smell of books, magazines, cozy place to read, and etc.

Entah kenapa dari dulu, saya suka sama perpus (don’t call me nerd). masih kecil-kecil, saya dan kakak suka bolak-balik minjem buku cerita di perpustakaan dekat komplek kita, namanya Fantasi kalo ga salah. Bahkan saya dan si kakak sempat membuka perpustakaan sendiri di teras rumah, dan hanya bertahan 2 hari, dengan pelanggan 3 orang (tetangga teman sepermainan kita), dan keuntungan 200 rupiah, hahaha.. That’s silly, but we kinda enjoyed it.

Waktu SD pun saya menjadi pengurus perpustakaan perwakilan kelas saya, dari kelas 3 sampai kelas 6. Keuntungannya saya bisa meminjam buku itu kapan saja, ga harus ketika jadwal peminjaman kelas. Untunglah perpustakaan SD Assalaam yang ada di lantai 3 cukup terurus, ada meja bundar, karpet, dan bantal duduk yang nyaman (I still can imagine that circumstance!). Kalau saya datang lebih cepat dari jadwal masuk sekolah, biasanya saya nunggu di perpus itu, sambil liat-liat buku dan baca buku. Koleksi bukunya lumayan lhoo.

Waktu pertama masuk SMP, perpustakaan SMP 5 itu parah banget. Ada di lantai 3 bangunan lama. Jangankan mau ke perpusnya, naik tangganya aja males. Belum baunya apek, penjaga perpusnya jutek pula, haha. Saya sempet jadi anggota perpusnya dan meminjam beberapa buku dan komik di sana. Untunglah pas kelas 2, perpus SMP 5 dirombak, dipindahkan ke center SMP (posisinya strategis) dengan bangunan yang baru.

Di SMA 3, perpus juga menjadi salah satu tempat nongkrong saya, selain kantin (still, don’t call me nerd). Biasanya saya dan kawan-kawan dari buletin Tifosi atau ekskul Literatur ngumpul dan rapat di sana. Tapi perpus SMA ini jarang saya jamahi untuk meminjam buku, bukunya ga menarik. Maka dari itu, saya mengalihkan hobi ke-perpus-an saya ke taman bacaan deket SMA 3-SMA 5, di jalan Banda, namanya Pitimos. Saya bolak-balik ke sana mungkin hampir 3 hari sekali, saya minjem banyaaaak komik dan novel. Di sana koleksinya lengkap, komik lama macem Topeng Kaca ada di sana, saya inget saya minjem itu berturut-turut sampe tamat (sayangnya sampe sekarang itu komik ga jelas tamatnya).

Di ITB, saya ga tertarik sama perpusnya, haha.. (Saya udah mulai normal apa ya?). Bangunan perpusnya aneh, kayak WC raksasa, karena tembok bangunannya itu seperti ubin WC (can you imagine). Terus bau ruangan dan bukunya apek. Padahal kan saya suka wangi buku. Kadang-kadang aja saya ke perpusnya, kalau lagi belajar bareng dan orang-orang milihnya perpus (mending belajar barengnya di selasar salman bener deh).

Perpus Farmasi sendiri sebenernya oke. Enak buat belajar, baca, internetan. Sebelumnya perpus farmasi itu terletak di labtek farmasi sendiri. Posisinya strategis, tempatnya nyaman, dan akses buku buat belajar/ngerjain tugas enak. Tapiii.. eh ni perpus malah dipindah ke lantai 4 perpus pusat ITB, jadi males deh kesana, heuheu.. Ex perpus jadi dibikin laboratorium klinik, jadinya keren sih, tapiii.. perpusnyaa jadi jauuhh dan ga okee T_T

Di kantor pertama saya, saya sangat suka perpusnya. Luaaaass.. nyamannn, adem juga, buku dan majalahnya banyak (ya iya, namanya juga  penerbit buku,hehe). Kami, si junior-junior hobi nongkrong di perpusnya. Biasanya tiap jam istirahat, setelah makan siang, kami ngumpul di sana. Pssst.. Banyak hal yang kami bisa lakukan di sana. You have no idea lah what we did there. Mulai dari bobo siang, ngegosip, nonton OVJ online, ngerencanain liburan, keketawaan, sampe melakukan gerong bata (GErakan meRONG-rong BAwah TAnah), lengkaplah di sana. Akhirnya kami dikenal sebagai geng perpus, hahaha..

Kumpul-kumpil Geng Perpus

Perpus dan penjaga gawang perpusnya, Miss Winda

Anyway, ada 1 lagi cita-citaku selain kepengen punya apotek sendiri. I want to have my own library in our house later. A warm and cozy library. Yang dindingnya semuanya penuh lemari buku (dan bukunya juga tentu), ada karpet empuk, ada bantal duduk, ada meja kecil buat nyimpen minum dan cemilan. Saya ingin menerapkan pada anak saya kelak apa yang dulu mama dan papa saya biasakan pada saya dan kakak: suka baca. Dari dulu Mama dan Papa memang mencekoki saya dan kakak (adek saya udah beda generasi sih, tapi untung dia juga hobi baca) banyak bacaan, mulai dari langganan Bobo, dibeliin ensiklopedia pengetahuan anak, buku-buku cerita bergambar, sampai kalau dapet duit THR perginya ke gramedia untuk beli buku.

Well.. Yes, we should have a library!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s