Repost: Kala wanita memilih untuk tidak bercerita pada wanita


Izin repost dari artikel sebelah

Kala wanita memilih untuk tidak bercerita pada wanita
Diposkan oleh Linda Studiyanti

Saya melihat beberapa fenomena yang terjadi belakangan ini. Dimana wanita sudah tak senyaman itu bercerita pada sesama wanita. Mereka bilang, tak mendapatkan tempat yang tepat untuk sekedar menemukan rasa aman dan nyaman, hingga akhirnya memilih pria sebagai teman curhat.

Secara psikologis, wanita memang berkebutuhan untuk bicara banyak dan banyak bicara setiap harinya. Apa saja; dimulai dari keluh kesah, kegembiraan, cerita pengalaman, bahkan sampai gosip yang antah barantah kebenarannya. Dua orang wanita yang saling bercerita : Keduanya heboh, menceritakan cerita masing-masing, tak mau kalah satu sama lain. Bersahutan, namun sama sekali tidak berkorelasi. Contohnya begini,

A : “Eh, kemarin aku galau banget nih, kerjaan ga beres, semuanya kacau dari pagi sampe sore….blablabla..”
B : “Iya, tau ngga ada diskon kerudung di… blablabla…”

Bersahutan-namun tak berkorelasi. Ya, itu realita. Coba saja perhatikan.
Di sisi lain, pria memiliki kecenderungan untuk mendengar. Kecuali pada orang-orang tertentu yang memang memiliki kebutuhan untuk banyak bicara. Pria dan wanita, dua kepribadian yang berbeda itu akan saling melengkapi sekali. Itulah kenapa fitrahnya jadi klop.

Lho, tapi kan wanita itu ingin dimengerti bukan? Banyak sekali hal yang tidak pria mengerti, diantaranya saat wanita itu merasa kasihan pada anak kecil di jalanan, saat wanita terharu menonton sinetron, dan saat wanita tidak mengerti harus berbuat apa. Semua itu mestinya hanya bisa dimengerti oleh wanita lagi bukan? Hal yang saya sebutkan tersebut bukan (sepenuhnya) diri saya, ini hanyalah sebuah hasil observasi. Jadi, kenapa sekarang ini banyak wanita yang justru memilih pria sebagai tempatnya menyimpan rahasia?

Melalui hasil observasi bersama klien-klien curhat saya, berikut inilah jawaban yang saya dapatkan. Kenapa beberapa orang wanita malah memilih pria sebagai teman curhat,
1. Sibuk
Ada seorang wanita yang sedang benar-benar butuh tempat cerita. Butuh banget, tapi ia hanya bisa cerita ke beberapa orang sahabat wanita yang ia percayai saja. Sayangnya, sahabat-sahabatnya tersebut adalah tipe-tipe sahabat efektif efisien. Saat si wanita yang pertama merasa butuh sekali untuk bercerita, si kedua—karena merasa bahwa masih banyak hal yang harus dikerjakan—berkata, “Duh, maaf banget ya, mungkin lain kali bisa cerita. Tapi aku masih ada yang harus dikerjain”. Pupuslah sudah keinginan wanita pertama untuk bercerita.

2. Disalah-salahin melulu
“Bla bla bla bla….. jadi gimana menurut kamu?”, si wanita pertama bercerita.
“Yah, itu mah kamunya aja yang lebay. Ga gitu kali..”, si wanita kedua menjawab.
“Iya, terus… bla bla bla bla… jadi gimana nih, aku harus gimana?”, tanya wanita pertama.
“Tuh kan, apa aku bilang. Mestinya kamu ga boleh gitu…”, jawab wanita kedua.
GEREGETAN..
“(Males banget deh cerita lagi, kapok!)”, gumam wanita pertama dalam hati.

Jika peristiwa itu terjadi berulang kali, wanita tersebut bisa jadi trauma untuk bercerita karena dalam benaknya selalu terlintas prasangka, kalau-kalau orang lain hanya akan menambah buruk perasaannya dan tidak akan membenarkannya.

3. Ga dianggap manusia
Jangan salah lho, seseorang yang secara kasat mata seperti superior, superwoman, atau apapun itu pasti pernah merasakan saat-saat pahit dalam hidupnya. Percaya deh! Naasnya, seseorang yang sudah terbiasa kelihatan ‘kuat’ dalam banyak kondisi, akan terus dipercayai sebagai orang yang ‘kuat’ dalam semua kondisi. Padahal ga gitu juga kan? Kesan ‘kuat’ itu terlalu lengket menempel dalam dirinya hingga timbul perasaan, jika ia bercerita, maka orang lain akan merasa bahwa sebenarnya ia lemah. Saat ia bercerita, kalau dirinya sedang berada dalam kondisi terpuruk, orang lain tidak percaya, karena terbiasa melihatnya ‘kuat’.

4. Seroboot…
Sebut saja mawar. Nah, si mawar ini punya temen namanya melati. Suatu hari, si mawar mau curhat sama si melati. Dari kejauhan ia sudah melihat si melati. Melambailah tangan si mawar, isyarat come here buat si melati. Melati pun datang tergopoh-gopoh dan tepat saat mulut si mawar terbuka beberapa mili, si melati langsung serobooot.. curhat duluan, “Tau gak sih war, si ini…blablabla…”. Sudah satu jam, dan si melati pun tak kunjung mengakhiri ceritanya. Sepersekian detik si melati diam, mencoba untuk menarik nafas. Saat itu pula si mawar kembali membuka mulutnya satu senti, mencoba untuk bisa mencurahkan juga masalahnya. Tak diduga, saat itu pula langsung si melati langsung seroboooot… “terus ya war, sebel banget deh… blablablabla”. Si mawar urung bercerita, merasa lelah untuk sekedar membuka mulut.

5. Cut!
Ya, ucapkan kata tersebut seperti saat sang sutradara memotong adegan si pemainnya.
Hal lain, yang membuat beberapa wanita menjadi malas bercerita kepada wanita lainnya adalah karena Cut! ini. Belum juga ceritanya tuntas di ceritain, eh, langsung dipotong gitu aja. Gimana jd ga males cerita kalau gitu caranya? Rasain aja deh sama diri sendiri, enak gak sih kalau lagi ngomong, eh dipotong gitu aja.

6. Duh, saya juga lagi pusing..
Semua orang itu pasti punya masalahnya masing-masing. Jangan sekali-sekali berkata hal ini pada teman wanita yang sedang curhat pada kita. Niscaya kata tersebut hanya akan membuatnya tambah pusing dan merasa sia-sia karena sudah bercerita pada orang yang salah. Yaah, mendingan juga cerita sama yang lain deh..

7. Tulalit, tulalit
Nah, yang ini yang paling parah. Si subjek curhat cerita panjang lebar dari awal sampai akhir. Eh, di akhir cerita, si objek curhat cuma bilang, ‘hmm.. bisa diulangi lagi? maaf aku ga tadi gak konek’. HAAAHHH..
Beberapa alasan di atas membuat beberapa orang wanita malah lebih memilih pria untuk teman curhat atau tempat untuk menyimpan rahasia.

Eits, tunggu dulu.. sesungguhnya ya saudari-saudariku. Ukhtifillah yang disayang Allah, tulisan di atas bukan ditulis dalam rangka untuk kampanye curhat sama pria, atau ikhwan, atau cowo atau ‘kakak’ atau ‘akang’ atau apapun kamu sebut itu. Bukan, tentu saja bukan. Saya cuma mau bilang, ayolah, mulai perhatikan lagi saudari-saudari kita. Bisa saja saat ini ia sedang berada dalam kondisi keimanan yang terlemah. Dan jangan sampai ia memilih alternatif pria atau ikhwan atau cowo atau ‘kakak’ atau ‘akang’ atau apapun kamu sebut itu, untuk bercerita. Kasihan, ga akan solutif, malah nambah masalah baru lagi.

Meski kita juga punya masalah, boleh jadi, saat kita dengerin cerita orang lain kita malah nemu solusi dari masalah kita sendiri. Atau- boleh jadi pula kita malah bisa bersyukur, ternyata masalah kita ga ada apa-apanya dibanding dia. Kebanyakan orang yang curhat itu pengen didengerin aja kok, kalau mereka minta solusi, yaa baru dikasih. Kalo enggak minta, yaa dengerin aja. That’s all.

Yuk yuk, kita coba sama-sama yaa. Berusaha menjadi sebaik-baik tempat saudari kita buat cerita. Kalau kita belum bisa ngasih solusi, setidaknya kita bisa dengerin.

Maaf ya, kalau saya pernah berbuat beberapa dari tujuh sebab di atas.

Allahua’lam bisshowab.

-Hidup lebih berarti, di saat kita mampu memberi-

note:

pertama-tama mengutip tulisan mbak di atas, saya juga mau minta maaf.. kalau saya pernah berbuat beberapa dari tujuh sebab di atas. The fact, I don’t mean that, I really like to listen to my friends’ stories. bcos by listening to them, I can learn things, from their life, their experience, their spirit, even their galau stories, hehe… 

Lucky me, I surrounded with many best girl-friends.. They listen to me and care too.. 🙂 big hugs for all you there, girls…

 And bless me too.. bcos not only surrounded with great besties, I also have best friend ever, who always there to listen my all capruks. I know, for most people, it must be annoying. but as the article said, yes it’s true, sometimes men can listen better than women. U’re the best listener, dear hubbie..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s