Sindrom ‘P’


I call it ‘P’ syndrome..

P is refer to Psikolog.

Jadi begini, pernah ga pada suatu waktu kamu rasanya pengen curhat gede-gedean (bukan diskon gede-gedean aja yang ada ya bu) sama seseorang yang sebenernya ga kamu terlalu kenal baik? Biasanya kan kita kalau curhat sama sobat deket, ato sama pacar mungkin, ato sama ortu.

Pernah beberapa kali terpikir pengen curhatnya sama psikolog or therapist. Macem Kevin therapistnya Robin di HIMYM. Kalo lagi pengen curhat sama si ‘P’ ini, berarti saya lagi kena sindrom P.

Habis kayanya kalo cerita sama Psikolog itu (bukan berarti eike gangguan kejiwaan yah, ato mungkin perlu dites?), pertama kita ga kenal-kenal amat sama dia, jadi dia bakal dengerin curhatan  kita sebagai orang yang objektif, ga terpengaruh sama siapa-siapa yang kita kenal, apa yang sebelumnya terjadi sama kita, dan kondisi kita gimana. Dan kedua, dia mungkin punya saran yang solutif, namanya juga psikolog pastilah dia belajar tentang problem solving pas kuliah.

Tapi sampai sekarang si “cita-cita” sindrom P ini belum pernah terlaksana. I just need somebody to talk to aja, besides talk to my husband (Orang pertama yang selalu saya curhatin ya pasti si ayah, bukan Mamah Dedeh ya —Mamah dan Aa’ Curhat Dong--)

Terus ada adek kelas saya dengan bijak ngomen: “Talk to as-samii”

Terus saya jadi terdiam… Iya bener.

Cuma tetep, kalo lagi kena sindrom ‘P’ kepikirnya psikolog, hahaha..

*Ah udah ah* Byee. capruk amat eike

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s