Dokter yang Cocok


Dokter. Profesi yang dianggap dewa. Yang katanya paling tahu semuanya dan bisa menjadi perantara Tuhan dalam menyembuhkan penyakit. Well, maybe that’s right.

Dan mungkin karena dianggap sebagai “goddes” ini jadi terbentuk juga pemikiran kalau dokter ga boleh melakukan kesalahan. Hey, my life is on your hands, can you please do it right? Tapi ya, dokter pun manusia, ga akan lepas dari melakukan kesalahan. Kalau itu terjadi.. booooom.. media massa langsung menyorot sebagai ‘tindakan malpraktik’. Dokter salah memberi resep, salah melakukan tindakan, terlambat melakukan tindakan, dll. Kadang emang gerah sama pemberitaan media yang berlebihan tentang profesi tersayang kita ini. Mungkin ga selebay itu juga yang terjadi. But bad news is a good news, jadi pemberitaannya bagus buat ditampilkan. Yang bagus-bagus malah ga diberitain, heu..

Oke, bukan itu sih yang mau dibahas sebenernya.

Memang harus diakui, jadi pasien pun harus pinter, salah satunya pinter milih dokter yang tepat untuk kita. Nah, nemuin dokter yang cocok sama kita dalam segala hal emang ga gampang. Dokter haruslah pertama expert di bidangnya, juga baik hati, tidak sombong (serius ini mah.. beberapa kali nemu dokter ga jarang ada dokter tu yang lagaknya minta ampun, mungkin karena dia ngerasa pinter bangedd gitu ya, sekolah berabad-abad, jadinya songong), tarifnya cocok di saku, juga pro RUM (rational use of medicine; singkatnya ga asal ngasih obat).

Sejauh ini saya cuma percaya dokter yang masuk kriteria di atas adalah dr. Rachmat Gunadi, SpPd(K). Pasiennya sayang sama beliau. Beliau adalah dokter ter-humble yang pernah saya kenal, yang ga pernah nenteng-nenteng jas putih dokter kebanggaannya ke mana pun berada, yang ga pernah judging, dan super ramah.

dr. Rachmat ini pembimbing skripsi S1 saya yang saya kerjain di rshs. Pas awal-awal saya tu dablek banget masalah rheumatologi, lupus, dan sejenisnya, tapi beliau ga pernah membuat saya merasa dablek, malah menganggap saya sebagai ‘teman sejawatnya’ (padahal jadi apoteker aja belom). Sekarang berapa banyak sih dokter yang nganggep apoteker sebagai sejawat? Okelah saya pun ga bisa membela profesi apoteker ini karena emang taringnya di dunia ksesehatan belom keliatan. Tapi at least, dianggep-lah sebagai profesi yang sama-sama mengerti tentang pengobatan pasien.

Saya berharap ada dokter sejenis dr.rachmat untuk jadi dokter spesialis kandungan saya (tapi cewe), untuk jadi dokter spesialis anak buat runa, untuk jadi dokter gigi saya, dokter internis buat mama&papa saya, dan dokter segala rupa. Intinya punya dokter keluarga yang seperti dia. Tapi sayangnya belum nemu ey..

Yang paling penting sekarang itu punya dr.anak yang bagus. Mungkin kalau buat kita sendiri, masih ga terlalu mikir harus dokter yang  bagus. Tapi buat anak? Buat anak ko coba-coba..

Well, ada bersyukurnya juga saya pernah belajar farmasi. Doktrinasi mengenai pengobatan, efek samping, penggunaan obat dan sebagainya masih ada yang nempel juga. Walaupun saya (belum) melanjutkan estafet keprofesian saya di dunia kerja (artinya kalau lama ga dipake ilmu saya bisa karatan), dan saya juga ga sepinter dokter-dokter itu, saya cukup tahu bahwa ‘itu ga perlu’ waktu Runa diresepkan antibiotik Amoxan oleh salah satu dokter.

Yah semoga masih banyak dokter-dokter yang jiwa RUMnya masih tajem. Semoga bisa nemuin dokter-dokter yang baik. Atau ga nemu juga gapapa sih, artinya kita semua sehat dan ga butuh berobat ke dokter. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s