Pulang Kampuang


Tahun ini kali pertama saya dan keluarga pulang kampung ditemani anggota keluarga terkecil kami, Runa. Runa mau ketemu Uci (Nenek dalam bahasa bukittingginya), Buyutnya.. Uci belum pernah ketemu Runa ni, uyut satu2nya.. mumpung masih ada umur dan kesempatan. Runa harus tau dia punya darah minang dari Bundanya, dia harus tetep kenal kampuangnya. Begitu juga dengan kampung ayahnya di Magelang dan Solo, tentu Runa pun akan kami ajak ke sana.

imageRuna pulang kampuang

Alhamdulillah masih banyak saudara-saudara yg bermukim di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.. jd ke manapun kami melangkah selalu ada yg menampung. Kampung mama sebenarnya di Payakumbuh, almarhumah Oma besar di sana.. mama jg lahir di sana, sedangkan Opa ga ada darah Padangnya, Opa dari Madiun. Kalau Padang tempat mama&saudara2nya dibesarkan.. Opa&Oma kerja di Padang sebagai guru dan dosen. Papa berasal dari Bukittinggi, Uci dan alm. Aki sudah bermukim di sana sejak lama..

Ketiga kota tersebut mempunyai arti penting bagi saya, terutama pada masa kecil saya.. walaupun saya lahir di Padang, saya besar di Bandung.. Saya ga pernah mencicipi kehidupan di sana, kecuali saat liburan atau lebaran. Sejak kecil setiap tahunnya kami selalu punya tradisi pulang kampuang. Hal ini yg selalu saya dan keluarga tunggu-tunggu.. Setiap saya menjejakkan kaki ke 3 kota itu. Hati ini serasa bernostalgia dengan masa kecil, masa-masa menyenangkan, bersama oma opa, uci aki, tante-tante dan om-om, serta sepupu.. Saya merasa hati saya selalu terikat dengan suasana kota ini, mistis.. romantis.. Mungkin sama seperti jika saya pergi ke Yogyakarta, cuma beda kenangan aja.

Padang.. Kota yang panas. Yang saya inget tiap ke Padang pas mau lebaran adalah saya ga kuat hausnya pas puasa. Tapi begitu banyak memori bahagia lainnya yg saya ingat.. Main air di pantai Padang, main kembang api sama sepupu-sepupu, main di komplek ikip kampusnya Opa, pesta duren, makan sate padang, es cendol pattimura, jalan-jalan ke mall Suzuya (dulu, sekarang jadi Mall Brasco dan ada hotelnya pula), ngejajanin duit hasil ‘menambang’ saat lebaran, ke Gramedia beli komik dan buku cerita, momen dimarahin opa dan diomelin oma, momen jadi cucu kesayangan oma opa, hawa-hawa panasnya, nasi badarai khas Oma.. dan lain lainn…..kangeeeennn…

Bukittinggi lain lagi istimewanya. Kota ini seperti tanpa cela. Udara sejuk, tempat wisata dekat-dekat, kulinernya luar biasa. Rumah Uci dan Aki di belakang kantor DPRD, deket bgt kalo mau ke Panorama dan Ngarai Sianok, juga kalo mau ke Jam Gadang dan Pasar, tinggal jalan kaki 5 menit sampe. Ketika saya ke sana.. Sepupu-sepupu saya kalau mau sekolah tinggal jalan kaki, itu udh SD, SMP, dan SMA unggulan. Saya merasa.. uuh damainya, ga kaya Jakarta, Bekasi, bahkan Bandung sekalipun.. Ga ada rush time, macet (itu jg krn wisatawan), keriweuhan, dan kebisingan. Waktu berjalan lambat tapi tenang, less stress.. Ga kaya kita di Jakarta yang selalu diburu waktu, diburu uang.

Sempat terpikir oleh saya.. “aah.. mungkin bukittinggi kota yang cocok untuk jadi tempat tinggal”. Sebenarnya dalam hidup ini apa sih yang kita cari? Kalau ketenangan aja udah cukup mau cari apa lagi? Toh semuanya hanya sementara.. Tapi ga sesimple itu memang…

Bagaimanapun saya bersyukur saya memiliki darah Minang, saya mempunyai keluarga besar di sana. Walaupun saya memang bukan Padang totok, yang paham seluk beluk keminangan (apa deh ini). Terselip keinginan di hati.. mungkin suatu saat.. saya akan kembali ke bukittinggi dan tinggal di sini 🙂
Wallahualam

image
Pemandangan Jam Gadang di sore hari

Oya Runa belum sempet ke Payakumbuh. Waktunya mefet dan Runa cape jg.. Nantilah kita cerita tentang Payakumbuah, di Sungai Kamuyang, Batang Tabik, Pinang Baririk.. Lain lagi istimewanya.

Ps: ada 1 cerita bodos yang terjadi wkt saya di bukittinggi. Waktu jalan-jalan ke arah Great Wall. Ceritanya saya udah rada pede nih ngemeng pake baso minang.. pas belanja dan jajan pun babaso minang, rasanya udah fasih, walopun logat belum dapet. Pas di jalan mo pulang, di sebrang jalan ada mobil tiba-tiba berhenti, bapak2, nanya arah: “Ni, jalan ka kebun binatang kama yo?” (kak, mau ke kebun binatang ke mana ya?). Saya kan gelagapan ditanya tiba2, ga perisiapan, berasa ulangan dadakan. Spontan jawab (ceritanya) mau bales pake bahasa Minang: ” Oh ndak tau do.. ambo ndak tingga didieu” PReeeTTTT.. TETOOOTTTT!!! Maksud hati mau bilang disiko (di sini), malah keluar basa sunda (didieu). Habislah daku dibully suami, Minang gagal tapi Sunda ga jadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s