Kenapa Belajar Bahasa Belanda?


“Waarom wil je leren Nederlandse?” (Kenapa kamu mau belajar bahasa Belanda?)

Itu adalah salah satu pertanyaan yang ditanyakan guru kursus bahasa Belanda saat pertama kali masuk  kursus.

Kenapa?

Bahasa Inggris aja belom khatam kok ya mau pusing-pusing belajar bahasa lainnya. Sebenernya itu salah satu to do list saya dari dulu, bisa banyak bahasa, kayak Nirina Zubir, kan keren tuh, tapi sayanya aja yang kurang memotivasi diri saya untuk bisa belajar bahasa lain. Dulu sempet ikut les bahasa Jepang gratisan pas di ITB, cuma betah 2 kali pertemuan. Sempet pengen les bahasa Arab di Salman, tapi gak kesampaian. Nah sekarang momento-nya saya lagi di Belanda, kenapa enggak saya belajar bahasa negara setempat?

Motivasi lainnya saya ingin lancar bahasa ini adalah karena Runa. Ya, Runa di sekolahnya kan berbahasa Belanda. Pas di rumah seringkali Runa berusaha berbicara dengan bahasa tersebut, kadang dimengerti, kadang cuma mumbling aja gak jelas. Bahkan saya juga suka mendengar kosa kata baru dari Runa, mungkin Runa tahu dari Juff (guru) nya. Runa terlihat berusaha sekali supaya bisa membaur dengan bahasa tersebut. Jadilah saya berpikir bagus juga kalau saya bisa bercakap-cakap dengan Runa dengan bahasa Belanda, biar Runa merasa terbantu.

Memang sih anak-anak lebih cepat menyerap dan belajar bahasa. Anak-anak Indonesia di sini (temen-temennya Runa) yang berumur 5 tahun ke atas ngomong bahasa Belanda-nya udah casciscus aja gitu, saya sampe bengong kok mereka lancar banget ya, padahal di antara mereka ada yang baru setahun juga tinggal di sininya. Kalau main sesama anak Indo lainnya mereka malah lebih seneng pake bahasa Belanda. Tapi lucunya mereka gak pernah mau ngobrol pake bahasa Belanda sama ortunya, mungkin karena ortunya gak ngerti dan gak mau berusaha belajar ngerti juga.

Jadilah  selama di Groningen, saya ngambil kursus bahasa Belanda yang disediakan oleh languange centre universitas. Saya ikutan kursus ini pertama karena haratis, hoho.. Buat international student ada fasilitas untuk ambil kursus bahasa Belanda free sampai tahap tertentu. Jadilah saya sudah mengantongi 2 sertifikat untuk level A0-A1 dan A1-A2. Saya masih mau ikutan level berikutanya nih A2-B1 Februari nanti. Tapi kerasa sih lama-lama sulit dan bahasa Belanda itu aneh deh sumpah. Struktur kalimatnya ada yang saklek gitu, subjek dan predikat ada yang harus ditaro di belakang setelah kata keterangan waktu, harus lho ga boleh enggak. Penggunaan kata bantu yang ga ada aturannya (gak kaya bahasa Inggris). Pas ditanya kok gitu, si gurunya cuma bilang: It’s just like that

Selain dari les, saya belajar bahasa Belanda dari buku-buku cerita Runa. Setiap ke kringloop winkel (toko barang bekas), kami selalu membeli buku cerita anak yang ringan bahasa Belandanya. Sayang soalnya beli buku baru mah, hehe.. mending beli bekas aja, paling harganya cuma 50 sen sampe 2 euro, bisa beli banyak. Sebelum tidur biasanya saya membacakan 1-3 buku ke Runa. Awal-awal saya gak ngerti isi ceritanya apa, cuma lihat gambarnya aja. Tapi lama-lama saya ngerti kosa kata dan arti kalimatnya juga, lumayanlah. Saya juga belajar mendengar bahasa Belanda dari film anak-anak yang ditonton Runa, seperti Dora, Bubble Guppies, Tickety Toc, dan lain-lain.

Cuma satu tahun lebih di sini ga bikin saya lancar berbahasa Belanda, kenapa? Karena saya gak “terpaksa” untuk ngomong bahasa Belanda. Hampir semua orang Belanda bisa berbahasa Inggris. Di swalayan, di pasar, di bus, di kereta, di tempat-tempat umum, di universitas. Setiap saya mencoba ngomong dalam bahasa Belanda dan terbata-bata, mereka pasti langsung mengganti percakapan dengan bahasa Inggris. Gak seperti di Prancis atau Jerman yang lebih strict dengan bahasa mereka. Kami di sini dimanjakan sekali dengan bahasa Inggris. Ada senengnya sih, tapi yaa.. gimana saya mau latihan ngomong Belanda dong?

Bisa bahasa Belanda di sini ga bikin kita jadi lebih akrab sama orang sini dan diterima juga sih sama mereka. Bisa jadi karena kita berbahasa Belanda yang terbata-bata dikiranya imigran dari manaa gitu yang baru sampe Belanda, baru belajar bahasa Belanda, dan ditambah ga bisa bahasa Inggris, heuheu..Bisa dicap kurang pendidikan juga (mungkin) kalo kita ga bisa bahasa Inggris.

Temen saya juga ada yang bilang: laaah, gak usah cape-capelah belajar bahasa sini, gak kepake juga buat nanti.  Memang sih bahasa Belanda bukan bahasa yang memiliki influence yang besar di dunia, ga seperti Inggris, Perancis, Mandarin, Jerman. Pas udah balik lagi ke Indonesia juga ga akan kepake nih bahasa. Mangkanya dibilang useless belajar bahasa ini. Tapi saya pikir.. ya udahlah ga ada yang sia-sia juga kalau belajar.  Runa aja masih semangat belajar, hehe

Hasil review selama setahun lebih di sini:

  • Bahasa Belanda saya lumayan meningkat, tapi saya lebih mengerti bahasa Belanda dari tulisan/bacaan daripada dari conversation.
  • Saya masih gagap kalau memulai pembicaraan dengan bahasa Belanda.
  • Masih harus berusaha mengerti kalimat yang dilontarkan orang dalam bahasa Belanda (listening saya jelek kayanya nih)

Target saya, tahun ini saya lancar berbahasa Belanda layaknya bahasa Inggris, ciyee.. maunya sih gitu. Setelah itu saya pengen belajar Bahasa Arab dulu deh.. biar kalo baca Al Qur’an ngerti sekalian sama artinya. Habis baru belajar bahasa Mandarin.. lho lhoo.. banyak banget sih maunya, bahasa Inggris juga dibenerin kali Mooon.. hahaha.

Advertisements

One thought on “Kenapa Belajar Bahasa Belanda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s