Ramah itu Menyemangati


Saya paling seneng kalau ketemu orang ramah. Dampak yang dia bawa jadi positif banget. Bawaannya kita jadi ikut ramah, ikut seneng, dan ikut senyum. Berasa sehat deh badan dan berasa damai dunia

Katanya sih orang Indonesia itu ramah-ramah. Katanya orang bule itu apatis. Hmm.. kalo kata saya mah itu mah tergantung orangnya sendiri.

Di Indonesia banyak juga saya suka nemu mbak-mbak jutek di supermarket, mas-mas nyebelin di angkot, yang bikin kita jadi ikut menarik bibir ke bawah gegara ngeliat dia.

Tapi sering kali juga saya nemu mamang-mamang batagor yang ramahnya bukan main, kalau saya lewat suka nyapa, kalau saya beli suka basa-basi nanya, “Kemana aja Neng jarang keliatan?”. Ada juga mbak-mbak murah senyum yang ketemu di metromini, dia ngegeser duduknya kalau kita mau duduk atau mau lewat.

Orang bule apatis? Mungkin iya, orang Belanda sih iya cuek. Tapi ga selalu cuek itu artinya jutek.

Sering juga saya  ketemu opa-opa dan oma-oma di supermarket sini. Terus pas lagi ngantri di kasir mereka ngelihat Runa, Runa kan kadang bertingkah ngambil ini deh itu, atau berceloteh maem-macem. Mereka dengan ramah dan antusiasnya menyapa Runa, “Wat en mooi schoen en mooi jasje..” (Sepatu dan jaketmu bagus). Atau pernah juga mereka ngajak Runa ngobrol basa-basi, “Wat heb je dat dan?” (kamu bawa apa itu?) sambil nunjuk cokelat yang Runa bawa. Saya pasti merespon dengan bahasa Belanda seadanya sambil senyum. Seneng deh rasanya disapa sama orang ramah.

Kalau di jalan saya lagi dorong stroller Runa, dan papasan sama orang sini, mereka pasti akan menyapa, “Hai!”, atau “Oii” sambil mengangguk atau senyum. Padahal saya gak kenal juga sama mereka. Katanya sih kalau lagi jalan dan papasan sama orang dan udah terlanjur bertatapan mata, sopannya adalah menyapa. Sayapun juga jadi ketularan hobi menyapa seperti itu. Oiya tapi penyapaan ini kayanya lebih banyak terjadi di daerah perumahan keluarga atau di pinggiran yang ga gitu kota, seperti di daerah rumah saya. Kalau udah ke kota sih ga banyak yang kayak gitu.

Tapi ada juga nenek-nenek atau kakek-kakek yang mukanya jutek minta ampun, kalau ngeliat orang boro-boro senyum. Ada juga ibu-ibu atau bapak-bapak yang gak membalas sapaan kita. Ada juga anak muda yang gayanya sengak dan ngelihat dengan tatapan gak ramah.

Intinya mah orang ramah bisa nemu di mana-mana, ga cuma di Indonesia aja. Di sini juga ada. Orang jutek juga bisa aja ketemu di mana-mana, berharap aja kita lebih sering ketemu orang ramah daripada orang jutek. Kenapa? Karena kalau ketemu orang ramah itu kita jadi semangat kan? Rasanya tu hangat gitu. Kita jadi semangat mau berangkat, semangat kerja, semangat untuk jalan dll. Tentunya semangat itu menular, kita jadi merasa.. Wah saya di”ramah”in oleh orang, saya juga harus ramah dong ke orang lain.

Saya yakin orang-orang ramah tersebut pasti indeks kebahagiaan hidupnya tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s