Buiten Spelen (Welcome Spring, part 2)


Sepertinya hawa-hawa spring sudah datang. Matahari terbit lebih cepat dari biasanya, ga kayak waktu winter ditungguin sampe jam 9 masih aja gelap. Suhu juga rada menghangat, meski kalau keluar rumah masih harus pake jaket tebel dan perlengkapan lengkap. Langit pun didominasi oleh  warna biru dan cerahnya matahari.. ga mendung mengundang lagi. Kuncup-kuncup bunga udah mulai kelihatan muncul malu-malu di rerumputan.

Berasa ada kehidupan dan semangat baru.

Hari Senin, hari saya dan Runa di rumah.. Cuaca bagus, kerjaan ga ada (ada tapi dilupa-lupain), lagi ga sibuk juga.

“Run, kita main ke speeltuin yuuk?” (speeltuin: playground)

“HAYUUU” sambut Runa

Maklum sejak winter kita jarang maen di luar. Setiap ngelewatin speeltuin yang menggoda, Runa pasti pengen main di sana. Tapi saya dan suami selalu beralasan: nanti ya Run, kalo udah ga dingin, udah ga hujan, kalau cuaca bagus

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga.

Saya segera bergegas ganti baju tanpa mandi (mandiii, nanti aja pas wiken, haha), mengemasi tas runa dengan biskuit dan botol minum, dan ngeluarin sepeda dari garasi. Ga sampai 5 menit bersepeda udah nyampe di tempat yang dituju. Runa pun langsung menghambur ke spot permainan. Wah untung sepi, ya iyalah anak-anak pada sekolah kali.. dan masih rada pagi juga (jam 10-an).

Runa and her second spring in Groningen

Runa and her second spring in Groningen

Runa mulai mencicipi ayunan, serodotan, mainan pasir, dan panjatan kapal-kapalan. Gak lupa kita sambil bernyanyi salah satu lagu favorit Runa:

Memandang alam dari atas bukit..

Sejauh pandang kulepaskan..

Sungai tampak berliku..

Sawah hijau membentang

Bagai permadani di kaki langit

Gunung menjulang.. Berpayung awan..

Ooh.. indah pemandangan..

Ih jadi kangen kampung halaman.. Pemandangannya bagus dan damai. Walaupun liriknya ga sesuai dengan pemandangan di depan mata, hehe.. Memandang alamnya cukup dari atas gelanggang kayu perosotan. Ada sungai sih, bahkan ada bebeknya juga. Sayangnya gak ada sawah, adanya rerumputan dan pohon yang masih gundul dari sisa-sisa perjuangan musim dingin. Gunung? mana ada.. Kan Belanda tanah flat, bahkan daratannya lebih rendah dari lautan. lautan dikeruk biar bisa jadi daratan. Ada bukit buatan di sini, itupun buatnya dari tumpukan sampah yang dijadikan bukit. Kesian.. kesian.. kesian.. *ala Upin Ipin*. Tapi Subhanallah pemandangan tetep indah.

Speeltuin in de lente (playground di musim semi)

Speeltuin in de lente

ongeveer speeltuin (sekitaran playground)

ongeveer speeltuin (sekitaran playground)

Advertisements

5 thoughts on “Buiten Spelen (Welcome Spring, part 2)

  1. Halo mba,,, blog walking pertamaku disini… btw rumah di samping sungai itu bentuknya sama semua kah? ko mirip-mirip gitu..

    • halo mbak @mirna, makasih dah berkunjung.. Iya sama semua mbak rumah2 di sini. Dalam satu komplek atau satu jalan gitu semua rumah bentuknya sama, ga ada rumah yg lebih gedee atau lebih kecil, biar ga ada kesenjangan sosial, hehe.. mudah2an yg punya rumahnya ga ketuker sama rumah tetangga yak 😛

  2. Halo mbak,salam kenal hihihi
    Gatel komen disini gara-gara baca Runa suka juga ya ama lagu memandang alam dari atas bukit,hihihi jadi inget keponakan yang juga suka banget nyanyi lagu itu hihihi
    Kadang yang jelas cuma lirik awal ama bagian akhir doang ^^’

    • Halo Mbak @menik, salam kenal juga! Iya lagunya emang enak ya, hebat pencipta lagunya, liriknya indah dan sesuai dengan lagu utk usia anak2.. karangan Pak AT Mahmud kalo ga salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s