Trip to Hallstatt: Si Desa Tambang Garam Tertua


Hallstatt, the fairytale village

Hallstatt, the fairytale village

Hallstatt. Awalnya, saya juga gak terlalu ngeh Hallstatt itu semacam apa, kota-kah, site wisata-kah, atau apa..? Cuma waktu saya lagi nyusun rencana travelling ke Austria, saya nanya ke sahabat saya, Laras (dia sudah ke Salzburg dan Innsbruck sebelumnya), kalau di Austria yang layak untuk dikunjungi itu apa? Dia bilang Hallstatt.. Kemarin dia belum mampir ke sana. Eh Hallstatt apaan? Kata saya. Itu lho yang desa di kelilingi pegunnungan, tempatnya kaya di dongeng-dongeng. Jawab Laras.

Lah.. makin ga kebayang deh. Sudah saya googling juga, tapi belum dapat gambaran yang pas tentang Hallstatt. Begitu saya bilang ke suami tentang Hallstatt, dia langsung oke. Katanya terkenal sih itu. Ternyata Pidi, si sahabat saya yang tinggal di Austria juga sudah pernah ke sana. Bahkan dia cuma sehari pulang pergi, katanya cukup.

Jadilah Hallstatt dimasukkan ke itinerary. Salzburg dan Hallstatt bisa ditempuh dengan kereta sekitar 2.5 jam. Stasiun Hallstatt ternyata kecil banget. Turun dari Stasiun bisa langsung dilanjut dengan boat menuju Hallstatt. Jadi sebenarnya Hallstat ini adalah desa (village) di region Salzkammergut. Lokasinya dekat dengan danau Hallstätter See, berada di antara road linking Salzburg dan Graz. Dari sejak ribuan tahun yang lalu sebelum masehi, Hallstatt sudah menjadi desa tambang penghasil garam. Letaknya yang dikelilingi gunung dan danau membuat desa ini sulit dijangkau dengan jalan biasa. Bahkan, dulu gak ada jalan penghubungnya dengan kota/daerah lain. Sejak tahun 1997, UNESCO Convention for the Protection of the World’s Cultural and Natural Heritages memasukkan Hallstatt sebagai “World Heritage List.”

Okay. Setelah turun kereta dan menunggu antrian naik boat. Saya, suami, dan Runa sudah berdecak kagum. Subhanallah.. Masya Allah.. Oh ini tho fairy tale village surrounded by Alpens. Boat yang mengantar dari stasiun Hallstatt ke desa selalu tersedia sekitar 30 menit sekali. Jadwalnya pun sudah ditentukan dengan jam kereta-kereta yang datang dan pergi di stasiun Hallstatt. Dengan membayar 2,5 euro/orang kami sudah bisa menaiki boat dan sampai di sana (anak-anak gratis sampai usia 6 tahun). Oiya jarak tempuh cuma sekitar 15 menit kok.

View di Desa Hallstatt

View di Desa Hallstatt

Sampai di seberang sungai, kami langsung check in di hotel dan siap menelusuri Hallstat. Hari masih siang, sekitar pukul 1, waktu kami masih panjang. Pertama kami cuma jalan-jalan aja di sekitaran centrumnya, ga dibilang centrum juga sih sebenernya, soalnya tempatnya cuma segitu-gitu aja. Tapi sepanjang jalan mata kami dimanjakan sama pemadangan pegunungan yang masih ada sisa-sisa es/saljunya. Terus si suami bisa dengan senang hati memuaskan hobi fotografi, saya dan Runa juga dengan senang hati jadi modelnya, haha.

View danau, pegunungan, dan Desa Hallstatt

View danau, pegunungan, dan Desa Hallstatt

Di peta yang dikasih hotel ada air terjun katanya. Suami dong pengen ke sana, padahal jaraknya jauh kayaknya.. Tapi ya udah daku ngikut aja. Eh bener dong jauh, udah kayak naik-naik ke puncak gunung aja, kiri-kanan banyak pohon cemara, cem hutan gitu. Mana makin lama orang makin gak kelihatan. Mungkin gak semua orang juga tertarik jalan jauh.. Tapi okelah pemandangannya emang sedep, tapi saya jadi rada parno.. Gimana kalau tiba-tiba ada beruang hutan muncul dari balik pepohonan rimbun? Suami bilang: Penakut amat! Dia mah cuek-cuek aja, Runa juga lagi tidur di stroller, makinlah suami semangat jalan menuju ke air terjunnya. Kayaknya ada deh sejam kami jalan nyari air terjun. Pas udah ketemu.. ternyata gak bisa dideketin juga, itu kayak sumber mata air desa, hanya petugas dan orang yang berwenang boleh mendekati air terjun dan sumber mata air-nya. Takut tercemar kali ya.

Wajah ragu-ragu saya dalam perjalanan menuju air terjun

Wajah ragu-ragu saya dalam perjalanan menuju air terjun

Akhirnya ketemu jugaa.. si air terjun

Akhirnya ketemu jugaa.. si air terjun

Akhirnya kami balik lagi, sempet makan di salah satu resto di sana. Makan sambil memandang gunung dan danau.. Masya Allah. Nyampe hotel belum gelap sih, tapi saya udah capek pisan. Mesti hemat tenaga karena kami besok mau mendaki sampai ke menara pandang!

Salah satu restoran di Hallstatt

Salah satu restoran di Hallstatt

Pagi-pagi kami dah siap tancap menuju menara pandang. Ini harus jalan kaki lho, soalnya si railnya belum buka, hiks.. Ada 2 jalan menuju ke atas. Naik tangga yang zigzag  atau naik tangga plus jalan menanjak. Nah ini nih petualangan paling berat kami. Naik sampai ke atas itu membutuhkan waktu 1 jam! Pidi sebelumnya dah bilang, naik ke atas tuh ga bisa pake stroller. Mereka bawa anaknya (Aqila, 19m) pake carrier. Kita kan ga punya, adanya stroller, lha kita nanya dong ke petugas hotel bisa gak kalau lewat jalan menanjak ini stroller dibawa. Katanya, ada tangganya, tapi setelah tangga bisa dilanjut pake stroller. Ternyata: waduk pisan si mas-mas-nyaa!

Jadi nih yaa.. kami bela-belain ngegotong tu stroller melewati tangga-tangga dengan harapan setelah nemu jalan setapak stroller bisa dibuka dan dinaiki Runa. Gak mungkin juga kan Runa naik sendiri, kita aja jalan nanjak+naik tangga capek, apalagi anak kecil. Taunya udah capek-capek ngegotong stroller, eh si jalan setapak itu gerunjulan. Mana bisa dipake stroller, bisa-bisa roda stroller-nya gundul ntar. Akhirnya kami meninggalkan si stroller di tengah jalan, di dekat bangku. Memang enaknya di setiap berapa meter itu ada bangku tersedia untuk istirahat sebelum lanjut jalan. Perjalanan ke atas masih panjang bung! Apalagi Runa udah mulai ngeluh capek, akhirnya nih.. sisa perjalanan adalah kombinasi antara Runa jalan sendiri, Runa digendong Bunda, Runa digendong ayah. Lama-lama saya bawa badan sendiri aja gak kuat apalagi bawa Runa, haiyah..

Mungkin ada 2 jam kita naik. Akhirnya sampaaaaai jugaaaak. Alhamdulillah

World Heritage View of Hallstatt

World Heritage View of Hallstatt

Capek dan pegal terbayar dengan melihat pemandangan indah…

Menara Pandang paling puncak

Menara Pandang paling puncak

Suami foto-foto, saya dan runa difoto. Untung kami bawa bekel air minum, pisang, dan biskuit. Jadi bisa isi energi dulu sebelum lanjut turun lagi. Tidak lupa menjemput stroller yang kami tinggal di jalan, wakwakw.

My favorite photo. Ngaso dulu setelah 2 jam mendaki

My favorite photo. Ngaso dulu setelah 2 jam mendaki

Perjalanan menuruni pegunungan ini memakan waktu lebih cepat, sekitar sejam kami sudah sampai di bawah lagi. Iya iya jalannya mudun. Tapi dong itu ngegotong strollernya yang gak banget. Nyesel kami ga denger apa kata Pidi tentang stroller dan diam-diam berniat ngejogrokin si Mas resepsionis hotel ke danau pake stroller. Anyway, ya sud.. tidak perlu disesali, semua ada hikmahnya. Dapat pemandangan indah dan membuat betis jadi makin berotot.

Ini sedikit tips dari saya:

1. Makanan: Kalau bisa bawa makanan sendiri lebih bagus. Kemarin kami ngebekel pop mie dan cup a soup. Di hotel ada pemanas air, jadi bisa nyeduh air panas deh. Bawa juga cemilan berupa biskuit dan pisang sebagai bekel kalau nanjak-nanjak ke atas. Persis di depan dermaga tempat boat berlabuh ada tukang jualan kebab, bisa juga jadi pilihan. Selain itu ada resto-resto juga. Harganya mungkin mahal-mahal sih.. Kami cuma nyoba spageti tuna dan pizza di salah satu resto (dan cappucino), harganya sekitar 20e, ya bolehlah.

2. Stroller: Jalan-jalan di sekitaran centrum atau desanya masih stroller friendly kok. Buat yang bawa anak aman.. Tapi kalau mau naik ke atas menara pandang, jangan coba-coba bawa itu deh. Mending kayak Pidi dan Yayak pake carrier khusus balita yang muat sampai 20kg.

3. Penginapan: Kami menginap di Heritage Hotel, posisinya persis di depan dermaga. Pemandangannya bagus langsung menghadap pegunungan dan danau. Kalau mau lebih irit bisa cari di pension.

4. Durasi trip: Untuk menikmati Hallstatt sebenarnya sehari juga cukup. Apalagi kalau masih tinggal di Austria, bisa PP. Tapi kalau kayak kami yang trip ke beberapa kota di Austria, ya bagusnya menginap aja di Hallstatt biar ga capek dan puas seharian sightseeing desanya.

5. Spot tourism:  Museum sejarah Hallstatt, toko suvenir,  skywalk (hallstatt platform, si menara pandang tadi), naik pake rail, tapi railnya baru buka 9 April 2016, Mammot hohle (gua mammot) baru buka 10 April, dan Salz welten (tambang garam) baru buka 9 april.

Dicukupkan sampai di sini. Berikutnya saya akan berbagi cerita trip di Innsbruck, Ciao!

Photos were taken by SONY Alpha A6000

Photographer: Fajar Budi Prasetyo, Hyun Ju Kwag (for our family pic) *He’s Korean tourist, traveled from UK with his wife and 2 boys. We met them accidentally in Hallstatt, then we met him and his family again (twice) in Innsbruck. We called it serendipity. We switched our contact :), nice to met new fellows during the trip.

Advertisements

8 thoughts on “Trip to Hallstatt: Si Desa Tambang Garam Tertua

  1. mbak aku baca artikel ini nahan nafas loh. Baru nafas pas kelar baca kalimat paling akhir *wah situ keren bisa nahan nafas lama beneur?*. Asli ini keren dan beruntung banget dirimu bisa ke sana ya. Selama ini yang aku tau garam dihasilkan hanya dari air laut. Ternyata enggak selalu ya, buktinya di desa Hallstatt ini juga bisa bikin garam. Runa juga beruntung banget, masih kecil tapi pengalaman adventurenya udah banyak dan di luar negeri pulak!

    • haha.. mbak imelda bisa aja :P,, Alhamdulillah ada rejeki ke sana mbak, dimanfaatkan. Tapi Indonesia sbnrnya lbh beruntung karena kumplit semua objek wisata ada, dari mulai danau, pantai, gunung, sungai. Kalo di sini tiap negara paling cuma pny satu khasnya. Kayak Belanda boro-boro punya pegunungan, pantai juga ah cuma segitu aja, jauh banget sama pantai2 di Indo

  2. Pingback: Trip to Innsbruck: The Capital City of Alpen | time capsule

  3. Pingback: Trip to Munich: The Bavarian State | time capsule

  4. Pingback: Trip to Salzburg: Menelusuri Jejak ‘Sound of Music’ | time capsule

  5. Hi mba salam kenal..boleh tahu nginapnya di hotel mana, saya browsing hotel kol hmmmm muahal2 hiks, rencana mau April 2017 kesana, krn terinspirasi serial drakor spring waltz yg syuting tempatnya disana 😄, thanks ya mba

    • kami menginap di Heritage hotel mbak, persis di depan danau. Memang hotel di sana mahal2 mbak. Kalau yg mo lebih murah bisa cari pension

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s