Menjaga Anak Perempuan


Ada satu berita perkosaan lagi yang muncul ke permukaan. Baca sekilas beritanya saja bikin saya gak tahan untuk menyelesaikan bacanya. Saya yakin kasus semacam ini tidak hanya terjadi pada korban ini saja, banyak kasus-kasus lainnya yang tidak terkuak ke masyarakat. Banyak hal, banyak sebab, tak usah dibahas.

Betapa tidak punya otak, hati, pikiran para pelaku. Bejatnya Naudzubillah. Untuk korban dan mungkin korban-korban lainnya, saya kirimkan doa banyak-banyak, semoga tenang di sisiNya, aamiin.

Berita ini menyisakan banyak hal buat saya. Saya merenung agak lama. Saya bertanya-tanya:

  1. Kenapa siihhhh orang bisa jahat seperti itu?
  2. Bagaimana saya bisa membesarkan anak perempuan di dunia yang gila seperti ini?
  3. Bagaimana saya bisa melindungi anak-anak saya dari orang-orang jahat itu?

Tapi kemudian saya paham juga banyak hal

  1. Bagaimana perasaan orang tua saya saat membesarkan dua anak perempuan
  2. Bagaimana mereka dulu sangat protektif pada saya dan kakak. Yang mana kadang saya dan kakak saya anggap adalah hal berlebihan. Pas jaman saya aja mungkin ortu saya udah parno, lha gimana jaman Runa nanti?

Ada satu hal yang ingin sekali saya ungkapkan pada mama dan papa terkait ini. Rumah saya dari sekolah jauh, dfengan mobil bisa 1 jam, kalau jalanan lancar 45 menitan. Kalau macet? Gak usah ditanya kapan sampenya.. Tua di jalan aja pokoknya. Saya ingat, dulu ketika saya dan kakak SMP dan SMA, setiap pulang sekolah sore/malam karena ada bimbingan belajar atau les bahasa Inggris, Papa pasti selalu menjemput kami. PASTI. SELALU. Bisa dihitung absennya Papa. Padahal saya dan kakak bisa naik angkot, bisa pulang sama teman, dan papa gak usah muter dari kantornya untuk bisa menuju sekolah/tempat les kami.

Ketika saya kuliah. Saya sudah biasa pulang naik angkot ke rumah malam hari. Tapi pasti papa selalu menelpon saya dan kakak sekitar jam 5 sore (jam papa pulang kantor). Pertanyaan Papa cuma: “Sudah pulang?” Mau dijemput?” Lalu Papa akan menjemput kami di Mesjid Salman. Bagaimanapun kondisinya, kalau papa pulang kantor sore atau malam pasti papa akan menyempatkan menjemput kami. Saya sih seneng dijemput, bisa irit ongkos dan gak lebih capek daripada ngangkot. Tapi kadang saya juga pengen punya kegiatan unit yang pulang malem, atau nginap di rumah teman.

Nyatanya saya jarang pulang malem juga waktu kuliah. Di unit saya gak pernah totalitas ikutan sampai malem, paling malem ya jam 8. Mau nginep di rumah teman? Saya harus punya alasan kuat untuk itu, apakah belajar bareng, kerja kelompok, atau apapun. Papa dan Mama pasti mencecar saya dan kakak untuk kegiatan yang melibatkan “tidak pulang ke rumah”. Dulu saya berpikir, kenapa sih Papa dan Mama ribet banget.. Anaknya udah besar kan bisa jaga diri. Tapi ortu tentu berpikir sebaliknya.. Nanti kalau anaknya kenapa-napa gimana? Hal inilah yang saya mengerti setelah jadi ortu.

Satu cerita unik lagi, saya pernah marah sama Papa. Sebabnya Papa telaaat banget menjemput di Salman. Janjinya Papa akan jemput setelah shalat Magrib. Ya sudah akhirnya saya tunggu saja. Kata Papa bareng Papa aja, gak usah naik angkot. Ternyata sampai shalat Isya selesai di Salman Papa belum juga datang. Akhirnya jam 7.30 baru Papa datang. Saya kesel banget, tahu gitu kan saya bisa naik angkot dari tadi, jam segitu mungkin udah sampai rumah. Gak usah nunggu-nunggu gak jelas. Hal ini baru saya mengerti sekarang.  Tipikal papa, Papa gak akan banyak komentar. Cuma bilang nanti pulangnya papa jemput. Setelat apapun itu. Mungkin baginya lebih tenang kalau anak perempuannya pulang bersamanya walaupun harus menunggu daripada pulang sendirian. Maaf ya Pa dulu Monik pernah ngambek sama Papa cuma karena itu..

Ah.. jadi orang tua memang sulit. Kadang kita ingin yang terbaik untuk anak, tapi anak belum tentu memahami yang orang tuanya inginkan.

Terkait tentang membesarkan anak perempuan. Mungkin kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, dan tetap menyerahkan pada Allah keselamatan anak-anak kita. Tapi satu yang pasti saya putuskan. Saya gak akan membesarkan Runa di Jakarta. Bisa stres saya nanti tiap hari nungguin anak saya pulang ke rumah. Iya, saya tahu bukan berarti di tempat lain itu akan lebih aman. Tapi saya cukup tahu Jakarta. Udah 2 tahun tinggal di sana, punya saudara juga yang tinggal di sana, sudah banyak yang saya lihat di sana. Sekolah di Jakarta, No.. No.. BIG NO. Lebih baik anak saya di pesantren aja sekalian. *Atau di Groningen aja gimana?*

Iya saya lagi parno. Tapi orang tua mana yang gak parno kalau tahu ada berita-berita menyeramkan berseliweran?

Semoga Allah melindungi kita dan anak-cucu kita, aamiin…

Terima kasih tak berhingga Papa dan Mama sudah berhasil menjaga dan membesarkan saya dan kakak sampai selamat ke jenjang pernikahan. Tugas Papa dan Mama selesai sudah. Pasti bukan tugas yang ringan.. Semoga saya bisa menjalankannya lebih baik dari ortu saya.

Dan emm.. lagi-lagi saya gak bisa mengucapkannya langsung ke ortu saya, karena sudah saya bilang sebelumnya berkata-kata manis bin romantis bukanlah style keluarga kami. Kali ini cukup saya tulis di sini saja dan saya sebut selalu nama mereka di setiap doa dan shalat saya. Mereka tahu kok saya sayang mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s