Me VS My Husband: Upil War


Gambar dari sini
Gambar dari sini

Ini postingan sebenarnya berbau-bau gak penting campur rada tabu, tapi di antara proyek menulis yang sedang saya hadapi mulai dari yang menengah serius (travelling journal atau dan semacam essay) sampai super serius banget (ehem thesis), saya pengen sedikit leha-leha sama tulisan ringan. Kebetulan topiknya memang gak penting. Maaf sebelumnya kalau ini bisa jadi sesuatu yang jorok bagi sebagian orang. Mending gak usah baca aja kalo gitu.

Saya dan suami termasuk tipe easy-silly couple. Dalam artian gak terlalu kaku serius, gak gitu romantis, dan kadang punya kegiatan atau obrolan yang gak penting. Salah satu kegiatan gak penting tapi sangat menghibur sedang berlangsung selama beberapa pekan ini. Berawal dari kebiasan kami berdua yang rada geuleuh: ngupil.

Ngupil atau ngorong, bahasa gaulnya. Menggali tahi hidung bahasa bakunya, atau picking nose dalam bahasa inggris. Saya yakin siapapun pasti punya kebiasaan ini, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun dalam gerakan bawah tanah. Yang pasti ngupil itu semacam guilty pleasure (ngakuu hayoo para upilers?), soalnya rasanya itu nagih-nagih sedep. Semakin dalam dan semakin banyak bisa bikin semakin nagih. Dari mulai alasan awal cuma ingin ngebersihin satu upil yang nyangkut, malah bersambung ke korekan kedua, ketiga, dan seterusnya. Jarak antara bersih dan jorok memang tipis.

Beberapa kali dalam rumah tangga kami terjadi percakapan seperti ini:

Kalau saya ketangkap basah sedang ngupil di depan suami, dia pasti langsung berseru, “Jorookk ih Bundaaa!”

Saya membela diri dong, “Cuma juga satu.”

Gak tahan untuk mengupil lagi, suami langsung memberikan peringatan kedua, “Bun, atuhlah.. gak banget.”

Sayapun gak mau kalah dong, “Alah.. Ayah kayak gak pernah ngupil aja.”

Suami: “Gak sesering Bunda juga kali.”

Begitu juga percakapan yang sama terjadi ketika saya menangkap basah jemari telunjuk suami sedang menari-nari di lobang hidungnya. Pokoknya kami sama-sama mengklaim bahwa yang paling sering ngupil adalah pasangannya. Saya bahkan berargumen bahwa ngupil itu gak papa kalau di Belanda, gak dianggap jorok, soalnya Orang Belanda itu memang terkenal suka ngupil. Ini bukan pembenaran versi saya lho, ada faktanya juga.

The Dutch paper gezondNU bahkan pernah melakukan studi mengenai picking nose di Belanda, Neuspeuteren populair maar gevaarlijk (Picking Nose is popular but dangerous).  Dari hasil studi tersebut ditemukan bahwa lebih dari 90% Dutch itu suka ngupil! Bahkan 50% dari responden mengaku bahwa mereka melakukannya lebih dari 1 kali sehari, wakwaaww.. Yang lebih jijay lagi, responden pria (pria memang ditemukan lebih banyak mengupil daripada wanita di Belanda) mengaku bahwa mereka suka melakukan hal ini: “draai er een balletje van en schiet dat weg”. Yang artinya (upil) digulung-gulung di jari lalu dijentikkan ke udara, haha.. Tapi saya yakin kalian juga kalau ngupil pasti pernah ngelakuin kayak gitu. Paling gak banget ketika si jentikkan upil tersebut tiba-tiba mendarat di kita. Saya pernah ngelakuin kayak gitu dan bikin suami merepet bukan main *ya maaap*.

Oke, back to topic. Akhirnya sampai di suatu titik ketika kami berdebat mempertahankan harkat “tidak sering ngupil” diri kami. Kamipun membuat sebuah deal: Dalam seminggu saya dan suami akan menghitung skor ngupil kami. Jadi, setiap salah satu mengupil dan terlihat oleh pasangan, maka akan diberi angka 1, begitu seterusnya sampai akhir minggu. Di akhir minggu akan terlihat skor masing-masing. Nah.. yang skornya lebih besar, akan ada ganjaran yang boleh diberikan oleh pemenang. Oiya, pemenang itu adalah yang skornya lebih kecil lho ya.

Kompetisi pun dimulai. Buat saya ternyata lumayan juga dampaknya. Kalau di depan suami, saya jadi rada menahan diri untuk gak masukin jari ke hidung. Tapi kalau gak ada suami, ya baru deh saya bebas panen, haha. Bagus juga sih, frekuensi mengupil saya di depan umum (terutama di depan suami dan Runa) jadi berkurang. Suami mungkin yang suka rada gak aware kalau istrinya itu mengintai gerak-gerik jari tangannya.

“Ayah kenaaa!” Begitu saya bersorak ketika menemukan telunjuknya tanpa rasa bersalah sudah mulai mencangkul upil. Kadang suami mengelak, “Apa ih enggak juga, Si Bunda licik pisan masa merhatiin gitu banget.” Lha ya saya kan cuma inget kesepakatan kami aja. Gara-gara si Upil War ini kita malah jadi suka ngakak-ngakak gak penting, kadang gara-gara saya atau suami lupa skor sudah sampai mana dan dan saling berdebat mengurangi skor masing-masing. Tapi ternyata di akhir minggu skor dimenangkan oleh saya dengan hasil akhir 7-11, hahaha.. Konsekuensi yang suami saya terima gampang kok, saya cuma pengen dibeliin es kopi di Aldi Supermarkt, sekalian si Ayah yang kebagian nyebokin Runa pas lagi pup, sama ngebersihin mainan Runa, sama… Terus Suami langsung misuh-misuh. Deal is deal dong, harus dipatuhi.

Saat ini Upil War part II sedang dilangsungkan. Kami sama-sama siaga untuk menjaga diri. Bahkan kalau gatel banget tu idung bela-belain deh ke kamar mandi untk ngupil. Bagus kan bisa sekalian cuci tangan dan bersih jadinya. Bermanfaat juga toh?!

Advertisements

4 thoughts on “Me VS My Husband: Upil War

  1. aku termasuk jarang ngupil mba hahahaha.. terus baca postingan ini reflek ngupil.. daaaaann pas kalimat menjentikkan di udara, pas banget habis melakukan itu hahahha.. berasa kepergok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s