Dari Jarkom ke Group WhatsApp


Coba hitung ada berapa grup whatsapp yang ada di smartphone kamu? 10, 20, 30? Katanya sih makin banyak group WA makin menunjukkan tingkat keaktifan seseorang. Saya sendiri punya kira-kira lebih dari 20 grup WA, tapi yang aktif saya ikuti atau yang aktif berbunyi paling hanya sekitar 6-10. Mulai dari grup whatsapp keluarga, saudara, teman kampus, tetangga, alumni SD, angkatan farmasi, genggong pas kuliah, awardee, komunitas blogger, komunitas di Groningen, sampai grup whatsapp sementara, yang terbentuk untuk janjian bikin acara, kepantiaan, atau iuran kado. Kreatif dan praktis banget generasi zaman Y dan Z ini. Gak ribet mau komunikasi atau memberi informasi di antara kumpulan orang, tinggal bikin grup, ngobrol di grup, jadi deh.

Saya jadi inget zaman saya SMA dan kuliah dulu. Mana ada grup whatsapp untuk woro-woro ngasih pengumuman. Yang ada itu adalah JARKOM, alias jaringan komunikasi. Masih inget gak?

Kalau inget soal jarkom-menjarkom ini saya pengen ketawa sendiri. Banyak hal kocak yang terjadi dalam perjalanan jarkom ini. Istilah jarkom ini pertama saya dapatkan ketika kelas 1 SMA, saat saya ikut Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS) yang diselenggarakan OSIS. Semua peserta LKS ini kan mengikuti semacam ospek dan dilatih kompak untuk seangkatan. Nah salah satu cara menguji kekompakan ini adalah dengan jarkom. Jadi suatu ketika panitia memberikan informasi berupa tugas hanya ke salah satu peserta LKS. Informasi tersebut disampaikan saat kegiatan LKS sudah bubar, katakanlah Jumat sore. Pokoknya entah bagaimana caranya si pesan tersebut harus sampai ke semua peserta LKS. Di hari Sabtu, saat ada kegiatan LKS di pagi hari panitia akan mengecek apakah semua peserta mengerjakan tugas sesuai informasi yang diberikan kepada salah satu peserta LKS saja? Atau apakah ada peserta yang missed?

Mulailah sistem penjarkoman ini dimulai. Medianya? Melalui SMS dong. Masalahnya gak mungkin kan si penerima pesan langsung mengirim SMS ke semua peserta LKS yang berjumlah 50 orang? Bisa bangkrut karena pulsanya boros ntar. Apalagi dulu SMS kan tarifnya 300-350 rupiah untuk yang beda operator, tapi lebih murah untuk yang sesama operator, sekitar 150 atau 200. Bahkan ada layanan gratis SMS untuk sesama operator. Jadi alur kerjanya adalah si penerima pesan pertama akan memberikan info ke ketua angkatan, lalu ketua angkatan akan mengirim SMS ke beberapa orang inti. Orang inti ini akan menyebarkan ke anggota lain, sesuai jarkom yang sudah disepakati sebelumnya. Kurang lebih begini ilustrasinya:

jarkom

Karena tarif SMS dulu yang mahal tersebut, si jarkom ini dibagi berdasarkan provider hape si anggotanya. Yang simpati kirim SMS ke sesama simpati, dan seterusnya. Paling si ketua angkatan yang harus rada ngemodal ngesms ke beberapa orang inti sekaligus. Yang lucu adalah ada pesan yang tidak sampai karena ybs gak punya pulsa, jadi deh jarkom terputus di tengah-tengah. Si bersangkutan kemudian sedikit merasa bersalah tetapi berharap bisa dimaafkan karena tidak punya pulsa adalah hal yang masih lumrah (saat itu), haha. Pesan melalui jarkom juga sering tidak sampai jika si ybs hanya punya tlp rumah, rada males dan ribet nelepon rumah soalnya. Atau bahkan ada juga sama sekali ga punya telepon. Ya atuh jaman dulu mah masih banyak orang gak punya hape, yang gak punya telepon rumah aja masih biasa.

Penjarkoman ini juga berlanjut saat saya mengalami ospek di farmasi ITB. Kalau ada tugas mendadak semua orang di angkatan harus ter-informasi. Lebih canggih lagi memodifikasi jarkom. Jadi untuk memastikan semua orang menerima pesan, si orang terakhir penerima SMS di tiap ujung jarkom harus mengirim balik si SMS ke ketua angkatan. Jadi ketua angkatan lega bahwa semua orang sudah mendapatkan pesan. Pada jaman saya kuliah tarif SMS provider kayaknya udah gak semahal sebelumnya, jadi sistem penjarkoman sudah gak melulu berdasarkan kelompok provider yang sama.

Jarkom pun masih digunakan untuk kegiatan setiap angkatan saya di farmasi. Sekarang kami lebih canggih. Jarkom yang suka putus di tengah-tengah diantisipasi dengan hal lain. Daripada repot mengirim pesan berantai, lebih baik sms dikirim langsung ke semua dari satu orang saja.  Namanya jarkom terpusat. Nah, biar si pemegang jarkom terpusat  ini gak rugi, ya pulsa dia disupport sama angkatan dong. Dibuatlah kas khusus untuk jarkom, haha.. Saya sendiri sih ogah jadi tumbal ngirim sms ke banyak orang, walaupun pulsa diganti. Jempol bisa gempor bok. Tapi selalu ada orang yang loyal di angkatan yang bersedia jadi jarkom-man.

Jarkom masih berlanjut untuk mengirim informasi mengenai tugas perkuliahan di farmasi atau tugas praktikum. Tapi lebih santailah ya, gak perlu repot menyambungkan sms ke orang selanjutnya. Sudah ada kas angkatan juga untuk jarkom ini. Sudah ada yang rajin mengirim jarkom terpusat juga. Sering juga kegiatan unit, himpunan, atau kemahasiswaan mengandalkan jarkom ini. Sering saya dapet sms dengan kata di depan: [JARKOM].

Kalau dipikir-pikir perjuangannya untuk menyampaikan informasi itu lumayan juga ya. Eung apalagi.. jaman ortu kita dulu, mau kirim pesan ya pakai surat, mau telepon ya pakai telepon umum atau ke wartel (warung telepon, *asa jadul yak). Dibandingkan sekarang? Dengan adanya internet, ngirim pesan bisa lewat whatsapp, mesej fb, email, line, dll. Bahkan jarak jauh gak jadi masalah lagi, kan ada skype, facetime, google hang out, whatsapp call. Semuanya jadi super mudah. Tapi kadang mudah bisa menghilangkan hal-hal yang penting juga lho. Seperti rasanya perjuangan, rasanya kerja sama, atau rasanya berkorban demi kepentingan orang lain (ini ngomongin apa sih).

Saya jadi kangen dapet SMS dengan kata depan: JARKOM! Hahaha.. epic banget sih masa-masa penjarkoman itu.

Advertisements

6 thoughts on “Dari Jarkom ke Group WhatsApp

  1. Sadis dulu memang sekali sms 350 perak. Dulu sempat bisa kirim sms gratis pakai akun Indosat di Internet. Kalau jarkom yg ga gitu penting anak2 TI’04 pakai moda itu. Tapi ya kadang nyampe, kadang ngga.

    • Iyaah mahil beeungeud. apalagi simpati masih lebih mahal drpd IM3 atau XL. Ho oh inget tug sms gratis dr indosat, anak2 gamais yg suka pake buat gnirim jarkom sama tausiyah. tapi daku mah gaptek ga ngerti caranya

  2. Iih… dulu sempet juga da, kirim sms via internet… apa ya namanya, lupa. Inget ketik ketik no.HP plus tausiah-tausiah jaman Alhayaat 😀

    • Iya bangeeet teeh Muthiii.. Gamais kan juga pake sms gratis ituu. Pokonya segala rupa diusahakan biar informasi tersebar. Kebayang skrg mah tinggal kirim whatsapp pake leptop beres yak semuanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s