So Long, Tetangga Tersayang!


*latepost*: To Keluarga Pak Taufiq, Mbak Tina, Mas Rayyan & Mbak Mayya

Tinggal di LN, pastinya kadang dilanda rasa kesepian karena jauh dari keluarga, kerabat, dan sahabat. Tentu cemas juga, siapa yang bisa diandalkan di sini kalau tetangga pun bukan orang terdekat? Tapi tidak begitu di Groningen, Alhamdulillah sejak menginjakkan kaki di Groningen, saya selalu dipertemukan oleh saudara tidak sedarah yang menyenangkan. Kami punya perkumpulan pelajar, ada juga halaqah pengajian, juga tetangga setia yang ringan tangan.

Salah satu keluarga istimewa yang saya temui di Groningen adalah keluarga Mbak Tina dan Pak Taufiq. Rumahnya persis di depan rumah saya. Kalau Mbak Tina lagi masak dan buka jendela, bau masakan yang wangi aja tercium. Kalau Rayyan dan Mayya, anak-anaknya, lagi main di luar pasti suaranya sampai kedengeran ke rumah. Terus Runa pasti akan bilang: “Bun, Runa denger suara.. itu pasti Mas Rayyan dan Mbak Mayya!” Selanjutnya Runa pasti minta ikut keluar rumah buat main.

Oiya sebelumnya jangan bingung kenapa kok Pak Taufiq disapa ‘Pak’, tapi Mbak Tina disapa ‘Mbak’ bukan ‘Bu’. Gak sepasang kan jadinya. Bukan berarti Pak Taufiq punya istri muda lho ya, wkwkw.. Itu biar Mbak Tina tetap merasa awet muda aja. Kalau Pak Taufiq segen juga sih kami panggil ‘Mas’.

Sekitar hampir 2 tahun kami bertetangga. Banyak suka duka, banyak keriweuhan yang terbagi, dan banyak makanan yang sering menyelingi. Paling seneng kalau denger bunyi bel “tingnongg”. Giliran saya yang bilang sama suami, “Jangan-jangan Mbak Tina mau ngasih makanan.” *tipe ‘tetangga masa gitu’ ngarep makanan gratis, haha*. Maklum masakan Mbak Tina itu enak-enak. Mbak Tina selalu memasak dengan sepenuh hati dengan full bumbu alami racikan sendiri. Beberapa kali ketika saya pulang kampus dan jemput Runa di sore hari, eh Mbak Tina kebetulan ngasih makanan, memang saya lagi laper banget dan belum masak. Biasanya kalau gini saya dan Runa makan roti untuk ganjel dulu baru saya masak. Tapi kalau ada ransum dari Mbak Tina ketika lapar itu rasanyaaa…. seperti kejatuhan durian runtuh. Kadang juga pas saya baru masukin sepeda ke garasi dan Runa teriak-teriak. (Syukurnya) teriakan Runa didenger sama Mas Rayyan dan Mbak Mayya, lalu mereka keluar rumah dan ngajak Runa ke rumah, berujung saya dan Runa ditawarin makan sama Mbak Tina. Btw, ini kok dari tadi berhubungan sama makanan terus yah, mwahaha.

Mbak Tina yang berprofesi sebagai dokter pun bisa diandalkan, selayaknya dokter pribadi warga Indonesia di Kajuit (jalan tempat tinggal kami). Kalau huisart (dokter) di Lewenborg gak bisa on call, Mbak Tina bisa langsung dihubungi. “Mbak Runa cacar, dikasih apa?”, “Mbak Runa muntah-muntah, gimana dong?”, “Mbak Runa tadi kakinya habis masuk ke jari-jari sepeda, aduh diapain ya?”. Mbak Tina langsung sigap, “Ini Mbak ada sop buat Runa“, “Runa dianget-angetin pakai kayu putih aja mbak, jangan dikasih susu dulu.”, “Ini saya punya thrombopop Mbak buat lukanya Runa.” daaan sebagainya. Punya ibu apoteker tetep aja butuh bantuan, apalagi kalau lagi panik karena anak sendiri sakit lupa deh semua kitab perobatan.

Bersama Intan dan Mbak Atika (tetangga saya yang dua lagi), kami kadang suka ngumpul, masak bareng, bikin kue bareng, nggosip bareng *ups*. Dan anak-anak anteng deh dibiarin main bersama. Walaupun pas main suka terjadi pertikaian antar anak, tapi namanya anak-anak gak seru kalau main diem-diem aja kan. Mas Rayyan mengayomi Runa banget, seneng deh kalau Runa punya kakak seperti Mas Rayyan. Ini kadang-kadang bikin Mbak Mayya cemburu, haha.. terus jadi ngusilin Runa deh. Tapi di kesempatan lain, Mbak Mayya pinter banget ngajak main Runa, main masak-masakan, main playdough, main gambar-gambar, sementara Mas Rayyan cuek asyik sendiri nonton atau main gadget.

Banyak banget kenangan menyenangkan, seru, dan menantang bersama keluarga Pak Taufiq ini. Kami pernah jalan bareng ke festival Deventer di waktu winter. Kami juga pernah terjebak di Utrecht ketika pulang dari Efteling di tahun baru. Saat itu kami kehabisan kereta malam, pas tahun baru jam operasi kereta berakhir lebih cepat. Pak Taufiq (yang satu-satunya lelaki dewasa, *Mas Fajar gak ikut waktu itu*) panik luar biasa, soalnya merasa bertanggungjawab membawa ibu-ibu dan anak-anak. Pak Taufiq dengan gayanya yang tetap cool, berusaha mencari cara gimana agar kami bisa pulang atau menginap. Syukurlah ada kenalan Pak Taufiq-Mbak Tina di Utrecht, jadi kami bisa menginap.

Namun selayaknya hidup yang hanya sementara, kehidupan di Belanda juga hanya sekejap. Sudah 4 tahun Keluarga Pak Taufiq tinggal di Groningen. Studi Pak Taufiq sudah hampir selesai, dengan begitu keluarga pun harus pulang ke Indonesia. Apalagi mas Rayyan dan Mbak Mayya sudah sekolah SD, harus segera pulang untuk bisa ikut sekolah di tahun ajaran baru. Hari Rabu, tanggal 29 Juni 2016, Pak Taufiq sekeluarga pun back for good to Indonesia. Kami tetangga ikut mengantar sampai Schiphol.

Sebetulnya saya tidak suka perpisahan. Saya juga bukan tipe orang yang romantis untuk berkata-kata selamat tinggal dan berpesan lainnya. Walaupun saya sangat sensitif dan gampang nangis/terharu, saya pasti gengsi untuk menunjukkan itu. Tapi melepas Mbak Tina, Mas Rayyan, dan Mbak Mayya membuat saya gak bisa menahan nangis. Adeuh cengeng banget.. Padahal hari-hari sebelumnya saya bisa lho gak nangis, sok cuek dan tetep bercanda. Sebelas duabelas dengan emaknya, Runa juga mewek saat melepas Mas Rayyan Mbak Mayya. Emak dan anak sama aje nih mellownya. Wajar sih Runa sudah besar, udah ngerti bahwa sahabat-sahabatnya ini akan ke Indoensia dalam jangka waktu lama, dan Indonesia itu jauh.. Runa tau itu karena sudah beberapa kali mengantar Anin, Atuk, Uti, dan Akung ke bandara. Runa bilang, “Kalau mau ke Indonesia itu jauh kan, Bun? harus naik vliegtuig (pesawat)”

Semoga sukses dan lancar semua urusannya di Indonesia ya Mbak Tinaa.. Mas Rayyan.. Mbak Mayya (Pak Taufiq masih balik lagi ke Groningen menyelesaikan tanggungan studinya). Bakal kangen banget sama medhok khas Mas Rayyan dan Mbak Mayya kalau lagi cerita-cerita, Runa aja sampai ketularan rada medhok. Bakal kangen bunyi bel yang bersahut-sahutan diikuti gedoran di pintu dari Mas Rayyan Mbak Mayya “Tante Moniiik.. Dek Runaa..“. Bakal kangen tawaran Mbak Tina, “Mbak Monik mau makan?“, bakal kangen sesi curhat sambil ngeteh dan bergosip di saat anak-anak jumpalitan di ruang tengah.

I’ll not say goodbye, because this isn’t a farewell. I just simply say: Until we meet again!!

Miss youuu

Sempet berfoto sebelum mengantar Mbak Tina sekeluarga ke ruang tunggu pesawat. Bersama Mbak Inayah dan Keluarga Intan&Mas Rully

WhatsApp-Image-20160629

So long, Mas Rayyan dan Mbak Mayya!

Words from Warga Kajuit Bersatu to Pak Taufiq, Mbak Tina, Mas Rayyan, Mbak Mayya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s