Berhaji dari Belanda, Kenapa Tidak?


Fajar dan Monik pergi haji dari Belanda pakai paspor apa?” Begitu pertanyaan yang terlontar dari Ibu di beberapa minggu sebelum kami berangkat haji.

Ya, pakai paspor Indonesia, Bu. Kita belom ganti kewarganegaraan kok, hehe..” Canda suami menjawab pertanyaan ibu.

Belakangan saya baru sadar, oh Ibu bertanya seperti itu bukan tanpa sebab. Ternyata ada kasus bahwa sekian ratus jemaah haji asal Indonesia berangkat dari Filipina, menggunakan paspor palsu. Apakah mereka ditipu oleh agen atau memang mereka mengambil risiko berangkat dengan “mengambil” kuota Filipina saya juga tidak membaca beritanya lebih lanjut. Yang pasti mereka dijanjikan untuk berangkat haji pada tahun itu juga setelah mendaftar melalui agen tersebut.

Mungkin Ibu saya agak cemas, apakah kami menggunakan “jalan pintas” untuk berangkat haji. Lha iya, kok bisa berangkat haji di tahun itu juga, padahal kami baru mendaftar sebelum bulan Ramadhan, sekitar tiga bulan sebelumnya. Di Indonesia saja jika ingin berangkat haji tahun depan, paling kurang tahun ini harus mendaftar, itupun dengan biaya yang cukup mahal, ikut ONH plus plus plus.

Residence Permit/Verblijf

Suami kemudian menjelaskan pada ibu bahwa untuk berangkat haji dari Belanda (atau negara Eropa lainnya) yang dibutuhkan selain paspor adalah residence permit atau izin tinggal (semacam KTP), di Belanda KTP ini disebut verblijf. Verblijf menunjukkan bahwa kami merupakan penduduk resmi, walaupun sementara, di Belanda.  Tentu verblijf ini harus masih dalam masa berlaku ketika kita hendak mengajukan visa haji.

Informasi yang kami dapatkan dari rekan kami di Groningen yang tahun lalu naik haji, untuk mengajukan visa haji, verblijf harus masih berlaku minimal 6 bulan sampai setahun saat kita berangkat haji. Jadi misalkan kita berangkat haji September 2016, verblijf harus masih berlaku sampai September 2017. Ini yang membuat kami asalnya ragu apakah bisa mendaftar atau tidak. Kalau verblijf suami sih tidak masalah, masa berlakunya masih 5 tahun lagi karena dia memegang verblijf untuk knowledge migrant (visa kerja). Sedangkan verblijf saya adalah verblijf student, yang akan berlaku sampai Desember 2016, studi saya memang sudah selesai per Juli 2016. Lalu Bagaimana akhirnya visa haji saya bisa tembus? Akan saya bahas poin tersebut di bawah.

Paspor dan verblijf (Resident Permit)
Paspor dan verblijf (Residence Permit)

Kok Tidak Mengantri

Hanya mendaftar tiga bulan sebelum haji kok bisa berangkat? serius nih?

Duarius malah bro. Itulah keuntungannya berangkat haji dari negara-negara dengan penduduk islam yang minoritas. Tidak ada antrian sama sekali, bahkan kuotanya kurang terpenuhi. Jadi Pemerintah Saudi merumuskan  proporsionalitas dalam penerapan kuota jemaah haji untuk tiap negara yaitu: sepermil atau seperseribu dari total popoulasi penduduk

Saudi Arabia has imposed strict quotas on Muslim-majority countries, limiting nations to 1,000 pilgrims for every million residents. (sumber dari sini)

Oiya dengan catatan mulai tahun 2013, kuota tiap negara dikurangi 20% karena adanya perluasan wilayah Masjidil Haram. Belanda memang bukan muslim-majority countries, tapi kalau dihitung rata untuk tiap negara, Belanda yang memiliki 17 juta penduduk, maka kuota hajinya adalah 17.000 (dipotong 20% menjadi 13.600). Yang berangkat haji dari Belanda? Menurut sumber ini, Ministry van Hadj di Belanda hanya mengeluarkan sekitar 5.000 visa untuk haji setiap tahunnya. Lha iya hampir separuh penduduk Belanda tidak beragama (di wiki tertulis no affiliation), dan 20% lainnya beragama Katolik.

Indonesia memang populasi penduduknya buanyaak, sampai 250 juta jiwa, kuota haji di Indonesia biasanya mencapai 200.000, tapi penduduk muslim di Indonesia sendiri mencapai 87%, tentu yang mendaftar untuk haji jumlahnya mencapai jutaan. Karena itulah ada antrian panjang.

Mencari Biro/Agen Haji di Belanda

Langkah berikutnya tentu adalah mencari biro atau agen yang dapat memfasilitasi kami untuk berangkat Haji. Tahun lalu, rekan kami di Groningen, Pak Tatang dan istri berangkat dengan melalui biro Milligorus, biro Turki. Biro ini cukup besar ternyata, tidak hanya ada di Belanda, tapi juga ada di negara Eropa lainnya. Menurut pengalaman Pak Tatang dan istri, selama rangkaian haji semuanya dipandu dalam bahasa Arab, bahasa Turki, ataupun Belanda. Pak Tatang sendiri ya cukup menguasai Bahasa Arab, sedangkan Bu Tatang juga paham Bahasa Belanda. Ini membuat kami keder, Bahasa Arab dan Belanda tidak ada satupun yang kami cukup kuasai. Tentu akan sangat nyaman jika kami bisa menemukan biro Indonesia yang ada di Belanda.

Sebelum bulan Ramadhan, suami mencoba juga mengontak Milligorus Belanda, ternyata mereka mensyaratkan si verblijf tadi harus berlaku minimal 6 bulan saat berangkat Haji, bahkan ada aturan baru untuk tahun 2016 ini berlakunya harus satu tahun. Wah untuk susah juga ya. Jika saya ingin memperpanjang verblijf saya dengan menjadi dependen ke verblijf suami setidaknya memerlukan waktu paling lama 3 bulan, jika beruntung prosesnya paling cepat 3 minggu. Sementara tentu mereka membutuhkan kepastian segera jika kami mendaftar melalui mereka. Akhirnya kami mencoba mencari opsi lain.

Salah seorang sahabat suami saya di pengajian mencetuskan nama Euromuslim. sebuah organisasi muslim Indonesia di Amsterdam. Dari beliaupun kami mendapat kontak Pak Said Badjuber, penanggungjawab pelaksana haji dari Euromuslim. Suamipun langsung mengontak via whatsapp dan mencoba telepon langsung. Tapi kami kecewa begitu dikontak beliau bilang bahwa kuota mereka sudah penuh, 30 orang jatahnya. Ia berjanji untuk memberi kabar jika ada penambahan jatah untuk Euromuslim. Kami tunggu-tunggu Pak Said tidak berkabar, sampai suami telepon-telepon beberapa kali dan whatsapp tapi Pak Said tidak menjawab, mungkin Ia masih dalam jam kerja atau sibuk. Sambil menunggu jawaban Pak Said kami mencari informasi Euromuslim itu apa dan bagaimana sistem kerjanya dalam memberangkatkan haji. Ketika googling, eh saya menemukan curhatan dari seorang alumni jemaah haji Euromuslim yang berangkat tahun lalu, testimoninya meyakinkan dan memuaskan. Terlebih lagi karena Euromuslim itu khusus mengurusi jemaah haji Indonesia saja. Kami jadi makin condong ke Euromuslim, tapi juga harap-harap cemas karena Pak Said masih diam seribu bahasa.  Jawaban yes akhirnya kami dapatkan dari Pak Said tak lama kemudian. Alhamdulillah.. bisa memastikan langkah pertama aman.

Euromuslim

Jadi Euromuslim ini sebenarnya adalah suatu organisasi Islam yang berlokasi di Ekingenstraat 3, Amsterdam Osdorp. Tempat tersebut adalah base Euromuslim sekaligus mesjid bagi orang-orang Indonesia. Organisasi ini berdiri ternyata sudah sejak 1970, diprakarsai oleh orang-orang Indonesia baik students maupun workers yang menetap di Amsterdam dan merasa butuh suatu wadah untuk saling membantu dalam lingkungan berislam. Aktivitas utama dari Euromuslim ini lebih pada menyediakan pendidikan Islam bagi komunitas orang Indonesia di Belanda, ada pengajian anak, pengajian untuk orang dewasa, belajar bahasa arab, kajian, dan lain-lain.

Lha jadi ini biro haji atau bukan sih?

Sebenarnya bukan sih. Tapi Euromuslim bekerja sama dengan biro lain (baik dengan biro Turki atau Maroko, yang lebih besar dan berpengalaman) untuk memberangkatkan khusus jemaah Indonesia yang tinggal di Belanda. Mereka sebenarnya bukan biro haji secara resmi.

Adalah Pak Said Badjuber, yang kami kontak dari awal, merupakan penanggungjawab pelaksana haji dari Euromuslim. Terhitung sejak tahun 2007 sampai sekarang, Pak Said sudah berhaji 9 kali. Saya agak lupa sejak tahun berapa Pak Said membwa rombongan haji di bawah bendera Euromuslim, mungkin sejak 5-6 tahun lalu. Keberangkatan jemaah haji Indonesia tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan biro Turki/Maroko terkait. Tahun 2015 dan tahun ini, Euromuslim bekerja sama dengan Diwan Travel, travel agent Maroko. Jadi Euromuslim ‘mendapat jatah’ kuota dari Diwan khusus untuk orang-orang yang mendaftar dari Euromuslim. Diwan sendiri secara keseluruhan memberangkatkan 180 jemaah haji dari seluruh Belanda. Diwan-lah yang mengurus keseluruhan keperluan dalam rangkaian haji, mulai dari aplikasi visa, tiket pesawat, hotel di Madinah dan Mekah, transportasi berupa bus selama di sana, konsumsi, dan lain-lain.

Belakangan kami baru tahu bahwa Diwan Travel ternyata bukan juga biro inti dalam mengurus segala keperluan haji jamaahnya. Mereka juga menginduk pada biro “resmi” yang lebih besar, yaitu Foundation Al Taqwa. Jadi begini, di Belanda dan negara-negara lain dengan yang penduduk muslimnya sedikit, pemerintah tidak ikut andil dalam mengurusi haji warganegaranya. Semuanya dilakukan oleh biro-biro yang terverfikasi secara resmi oleh pemerintah Saudi Arabia. Biro-biro ini mendapat jatah kuota untuk haji, dari situlah mereka melakukan penjaringan calon jemaah haji. Di Belanda, sejak 2012, ada sekitar 16 biro yang memiliki izin tersebut, Foundation Al Taqwa ini adalah salah satunya. Al Taqwa ini kemudian membagi kuotanya untuk biro-biro perjalanan haji lainnya, seperti Diwan Travel ini. Puanjang ya ternyata proses kuota ini.

WhatsApp Image 2016-09-27 at 19.27.07 (1).jpeg
ID Card Diwan Travel

Jalan Keluar dari Euromuslim

Kembali pada Euromuslim tadi. Setelah kami di-yes-kan oleh Pak Said, kami langsung tanya, bagaimana dengan status verblijf saya ini. Pak Said meyakinkan bahwa meskipun verblijf saya sudah mau habis tapi tetap bisa dipakai untuk mengajukan visa haji. Beliau bilang tahun lalu juga ada yang seperti itu, tapi tembus juga. Beliau menyarankan juga, sambil diurus saja verblijf barunya. Kalau verblijf baru bisa selesai sebelum biro mengumpulkan paspor dan verblijf untuk aplikasi, ya bagus. Ya sudah, sayapun memakai verblijf lama tersebut, sambil mengurus yang baru. Memang ternyata prosesnya luamaa.. mungkin karena aplikasi saya tidak mendesak, expired Desember tapi mau diganti sejak Juli. Saya dan suami sampai menelpon ke kantor IND di Zwolle supaya proses aplikasi perubahan verblijf saya dipercepat dengan alasan verblijf tersebut mau dipakai daftar visa haji. Tapi teuteuup lama… Saya yang jadi cemas, kalau hanya visa haji suami saja yang keluar bagaimana? Saya harus ikhlas suami berangkat sendiri. Namun ternyata setelah kami berkenalan dengan calon jemaah haji Euromuslim lain, ada juga yang berkasus seperti saya. Lega saya tidak sendiri, ada dua orang lagi yang berstatus student dan masa studinya selesai tahun itu. Bahkan mereka malah tidak punya opsi untuk memperpanjang/mengganti verblijf seperti saya, mereka juga pasrah.

Keyakinan dari Pak Said tetap menghidupkan semangat kami, dengan santai beliau selalu bilang, Insya Allah bisa Pak, Bu, biro-nya sudah biasa mengurus kasus-kasus seperti itu, sudah terpercaya. Sambil banyak-banyak berdoa kami menantikan keluarnya visa haji. Alhamdulillah visa haji kami granted hanya dalam waktu dua minggu setelah pengumpulan, Allahuakbar, lebih cepat daripada proses aplikasi verblijf baru saya. Langkah ini sangat melegakan. Eh tidak dinyana pada akhirnya si verblijf baru saya keluar juga, yee.. telat.

Biaya

Biaya yang ditetapkan oleh Euromuslim (pun dari Diwan Travel) adalah sebanyak 4.150€ per orang. Ditambah dengan konsumsi sarapan dan makan malam selama di hotel Madinah dan Mekah 250€, total 4.400€. Ketika kami sudah mendapat lampu hijau dari Pak Said bahwa masih ada kuota tersisa, kami langsung mentransfer 1.000€ sebagai tanda jadi (itu di awal bulan Ramadhan). Pelunasannya kemudian dibayarkan di akhir bulan Ramadhan, beberapa ada juga yang melunasi sebulan sebelum keberangkatan. Di luar itu, ada biaya tambahan sebanyak 50€ per orang yang dibayarkan langsung ke Pak Said untuk tips/ongkos orang-orang yang mengangkut barang dari bus ke hotel dan sebaliknya dan biaya akomodasi lain-lain.

Manasik Haji

Keuntungan berangkat haji yang dikoordinir oleh Euromuslim adalah kami mendapatkan fasilitas manasik haji selama seminggu sekali selama 1,5 bulan. Manasik haji dimulai sejak pertengahan Juli sampai akhir Agustus. Jadwal manasik hari Jumat atau hari Minggu sore pukul 17.00 di Mesjid At Taqwa, Ekingenstraat (base-nya Euromuslim), boleh memilih salah satu, jika tidak bisa datang Jumat bisa datang hari Minggu karena materinya sama. Tadinya saya pikir manasik haji itu seperti yang saya lihat di Indonesia, calon jemaah haji diajarkan memakai ihram lalu ada miniatur ka’bah dan jemaah akan memutari ka’bah sambil dituntun harus melakukan apa saja selama tawaf. Hampir 3 minggu manasik saya masih berpikiran naif.. kapan ya ada miniatur ka’bah untuk latihan tawaf. Ternyata itu hanya angan-angan saya semata, haha. Manasik itu yaa.. seperti belajar di kelas saja. Pak Aziz Balbaid adalah mentor kami selama 1,5 bulan yang mengisi kelas manasik. Dengan telaten beliau menjelaskan semua tahapan dalam rangkaian umroh dan haji, lengkap kap kap. Dengan sabar pula beliau menjawab semua pertanyaan kami, mulai dari pertanyaan ringan, berat, pendek, panjang, detail, diulang-ulang, dan berputar-putar. Semoga Allah memberikan pahala yang besar untuk Pak Aziz untuk ilmu jariyahnya, Insya Allah, aamiin.

Fasilitas

Untuk fasilitas penggembira bagi jemaah yang berupa barang tidak usah berharap deh, tidak ada tuh yang namanya dikasih kain ihram gratis, tas sandang kembaran, mukena kembaran, buku-buku doa, koper, maupun goodie bag haji ala di Indonesia. Dikasih satu buku mengenai tata cara haji dengan manasik seminggu sekali saja sudah syukur. Kami tidak punya identitas kembaran, hanya ID card dan gelang haji saja yang sama. Untunglah kami mendapat hadiah hiburan dari maskapai penerbangan Turkish Airlines kami diberikan goodie bag berupa tas kain kecil (lumayan untuk menyimpan sendal saat masuk mesjid), tas sandang serbaguna, sajadah ringan, dan tasbih counter.

Gelang identitas haji, yang hijau sebagai pengganti paspor, penanda bahwa kami adalah jemaah haji dari Eropa. Gelang yang putih merupakan tanda masuk maktab di Mina
Gelang identitas haji, yang hijau sebagai pengganti paspor, penanda bahwa kami adalah jemaah haji dari Eropa. Gelang yang putih merupakan tanda masuk maktab di Mina

Tapiii.. untuk fasilitas hotel, Alhamdulillah kami sangat puas. Untuk biaya haji yang dikeluarkan sebanyak 4400€ atau setara 63-65 juta rupiah kami mendapatkan fasilitas hotel berbintang. Di Madinah kami menginap di hotel bintang 4 yang sangat dekat dengan Mesjid Nabawi, ditambah breakfast dan dinner ala buffet hotel yang lengkap dan rasanya enak. Sekamar hanya ditempati oleh 4 orang saja (ikhwan dan akhwat dipisah dong). Di Mekah, selama prosesi haji, kami mendapat hotel transit di Aziziyah, semacam penginapan sederhana saja, tapi cukuplah. Kan kami harus menginap di Mina dan semalam di Muzdalifah, jadi penginapan tersebut cukup untuk istirahat dan bersih-bersih. Lokasinya pun strategis dekat dengan lokasi lempar jumroh dan tidak terlalu jauh dengan Masjidil Haram. Oiya sekamar tetap ber-4 dengan roomate yang sama dengan di Madinah. Di Mekah saat seminggu terakhir, kami mendapatkan servis terbaik setelah berlelah-lelah selama prosesi haji. Hotel di Zamzam Tower, yang tepat berada di depan Masjidil Haram, menjadi tempat istirahat kami. Mau pergi ke Haram hanya tinggal melangkah sudah sampai, Masya Allah. Breakfast dan dinner segala rupa tersaji di restoran hotel.

Fasilitas hotel bintang 4 dan bintang 5 dengan harga 65 juta rasanya musykil bisa didapatkan jemaah haji dari Indonesia. Hanya haji dengan ONH plus plus plus yang bisa tembus, itu harus merogoh kocek sebanyak 15 ribu dollar atau 200 juta rupiah (menurut jemaah haji Indonesia yang kami temui di sana, Ia dan rombongannya menginap di hotel bintang 5 juga, bayar segitu langsung berangkat tahun itu).

Durasi Haji

Nah ini juga penting. Tidak seperti jemaah haji reguler Indonesia yang menghabiskan waktu sekitar 40 hari untuk semua rangkaian ibadah (biasanya 8 hari di Madinah dan satu bulan di Mekah), kami hanya diberikan jatah 3 minggu, dengan rincian: 5 hari di Madinah, lalu di hotel transit 2 hari, sehari untuk umroh dan sehari istirahat. Lalu 5 hari untuk Arafah-Mina-Muzdalifah (prosesi haji), dan 9 hari di Mekah-Masjidil Haram. Padat, ringkas, dan menguras fisik, terutama di 5 hari puncak haji. Namun dengan waktu 3 minggu tersebut semuanya Alhamdulillah terlaksana dengan baik dan lancar.

Pembimbing Haji

Ketika manasik, Pak Said pernah menyebutkan nanti kami akan dibimbing oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mekah/Madinah. Belum terbayang juga, mahasiswa seperti apa dan bagaimana mereka membimbing kami, padahal bertemu saja belum pernah. Kalau tidak salah, jemaah haji di Indonesia selalu ditemani ustadz yang sejak manasik sampai di Mekah dan Madinah, kalau ada apa-apa ustadz ini yang jadi tempat bertanya, ustadz juga yang memandu saat tawaf, saat lempar jumrah, dan lain-lain. Untuk kami, Pak Said ternyata sudah mengatur 3 mahasiswa Indonesia sebagai pembimbing kami selama di sana. Ketika di Madinah, kami dipandu oleh ustadz muda bernama Saddam Husein yang sedang menempuh semester akhir di Universitas Islam Madinah. Beliau yang memandu kami ketika ziarah ke Uhud, ketika berkunjung ke Museum Al-Qur’an, dan Museum Asmaul Husna. Meskipun pertemuan kami tidak lama hanya beberapa hari, saya pribadi merasa terbantu karena pengetahuan beliau luas, kami banyak bertanya apa saja.

Di Mekah ada 2 ustadz yang menunggu kami, keduanya juga berkuliah di UIM. Namanya Ustadz Roli asal Gorontalo dan Ustadz Irwan asal Tasikmalaya. Jadi keduanya memandu kami sekaligus melakukan haji badal (menghajikan orang lain dengan syarat tertentu). Dari sejak umroh, lalu di Mina-Muzdalifah-Lempar jumroh-tawaf ifadah ditemani oleh mereka. Mereka sudah pernah beberapa kali melaksanakan Haji, sudah kenal medan di Mekah dan sekitar Masjidil Haram juga. Alhamdulillah kegiatan selama di Mekah lancar karena bantuan beliau-beliau. Oiya ustadz-ustadz ini hanya untuk rombongan Euromuslim saja, untuk jamaah Diwan lain yang kebanyakan orang Maroko saya juga kurang tahu apakah mereka punya ustadz atau tidak.

Penutup

Semoga penjelasan awal ini cukup membantu saudara-saudara muslim  yang hendak berniat haji dari Belanda ataupun dari Eropa. Meskipun tidak ada bayangan awalnya, Insya Allah jika diniatkan semuanya akan dimudahkan. Meskipun jalan di depan terasa sulit, Insya Allah jika diikhtiarkan Allah akan membuka jalan. Karena tidak ada sesuatu pun yang mustahil di sisi Allah, tugas manusia hanya berdoa, berikhtiar, dan bertawakal, semoga Allah ridho, aamiin aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Labaik Allahumma Labaaik, labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalah….

Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu

Advertisements

9 thoughts on “Berhaji dari Belanda, Kenapa Tidak?

  1. Barakallah teh Monik…
    Semoga kami pun segera mendapat undangan ke Baitullah…
    Haji maupun umroh… aamiin…
    Ikut berbahagia… Teh Monik lulus kuliah plus dapat menunaikan rukun islam yang ke-5
    🙂

  2. Moniiiik.. Seneng banget bacanya :’)
    Pas kemarin2, ada temen yg baru pulang dari Jepang dan cerita kalau haji dari sana juga nggak ada antrian, malah kuotanya kurang sampai didiskon. Subhanallah..
    Jadi makin semangat kuliah di luar negeri ya.. Siapa tau ada kesempatan haji juga dari sana.. Nuhun sharingnya mon :*

  3. Masya Allah, dimudahkan berangkat hajinya ya mba. Pernah dengar sih kalau di negara2 minoritas muslim kuota hajinya berlebih tapi sayangnya kami gak punya koneksi di negara2 tersebut. Semoga kami pun bisa segera mendapatkan panggilan ke Baitullah.

  4. Assalamualaikum mba monik,

    Senang sekali baca artikel mba monik ini 🙂

    Oh iya saya mau tanya, Apakah euromoeslim juga menyediakan paket ibadah umroh? Karena saya ingin sekali beribadah umroh tapi karena saya juga tinggal di belanda jadi saya rada bingung utk berangkatnya. Sebelumnya terima kasih ya mba monik.

    Salam, Nurul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s