Pengalaman Berkesan saat Haji


Jika ditanya pengalaman apa yang paling berkesan ketika haji?

Saya tidak bisa menjawab dengan hanya satu dua kalimat saja. Bisa jadi satu buku saya habiskan untuk bercerita. Saya juga tipe orang yang tidak terlalu pandai bercerita dengan lisan. Padahal banyak sekali yang ingin saya sharing. Tentu pengalaman tiap individu saat haji akan berbeda, pun pengalaman saya dan suami tidak sama meski kami sering bersama-sama ketika menjalankan ibadah haji. Spiritual dan perasaan yang tercipta hanya melibatkan makhluk tersebut dan Rabb-nya, romantis bukan?

Kalau dikupas satu-satu mungkin ini yang saya pribadi rasakan selama 3 minggu berada di Madinah dan Mekah

1. Menjadi lebih mudah menangis ketika berdoa dan shalat

Jujur biasanya saya hanya bisa menangis ketika shalat dan berdoa ketika sedang ada masalah dan merasa putus asa. Pada saat itulah saya jadi lebih ingat Allah dan meminta pertolonganNya. Memang senantiasa manusia seperti itu kan? Ketika senang lupa pada Tuhan dan ketika susah baru kembali bersujud meminta pada Tuhan. Apalagi biasanya ketika shalat saya kadang tidak khusyu, pikiran melayang pada: nanti masak apa, habis ini mau beresin apa, dan to do list yang mampir di pikiran, Astaghfirullah. Kadang juga shalat jadi tidak tuma’ninah (tenang dan tidak tergesa-gesa) karena Runa manggil-manggil: “Buuuunn..” atau karena harus cepat-cepat lanjut ke pekerjaan berikutnya.

Berbeda saat saya shalat dan berdoa di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram. Rasanya pikiran hanya berpusat pada shalat itu sendiri, ya pada bacaan shalat dan artinya, ya gerakannya, dinikmati satu-persatu. Mendengar bacaan imam-pun tanpa perlu usaha air mata rasanya sudah mengalir saja sendiri, padahal paham arti surat yang dibacakan imam saja tidak. Saking merdunya suara imam.

Saya menangis ketika mengingat dosa-dosa, mengingat bahwa hidup ini hanya betul-betul fana, mengingat akhirat yang hakiki, mengingat mati, dan nanti dimanakah saya akan ditempatkan. Saat itu doa utama saya simpel, hanya meminta diampuni dosa, diberikan khusnul khotimah, dan dikumpulkan dengan seluruh keluarga saya di surga kelak agar pantas bertemu Allah, Rasulullah, para sahabat dan tabi’in.

Saya menangis karena merasa kecil, kecil sekali di hadapan Allah. Di antara banyaknya manusia saleh dan salehah di dunia ini, apalah saya ini. Begitu tingginya keimanan dan ketakwaan orang-orang terdahulu, apalah saya ini. Di antara luasnya kebesaran Allah atas langit dan bumi, bahkan semesta yang kita bahkan tidak tahu seberapa besarnya, itupun masih saja kita lupa. Berharap hanya pada syafaat dan ridho Allah saja.

Mungkin keadaan seperti ini dirasakan banyak jamaah haji karena situasi dan kondisi beribadah yang sangat kondusif sehingga segala sesuatunya lebih khusyu. Kita seperti lupa akan dunia dan hanya ingin beribadah saja.

Masjid Nabawi yang penuh kedamaian

Masjid Nabawi yang penuh kedamaian

2. Menjadi lebih menjaga diri, menahan diri, dari ucapan dan perbuatan sia-sia dan dosa

Rasanya semua yang ada dalam diri kita sangat dikontrol ketika di sana, terutama ketika sedang ihram. Pokoknya jangan sampai ada hal-hal yang melanggar larangan haji. Meskipun yang tahu tentu hanya diri sendiri. Di surat Al Baqarah 197 disebutkan bahwa dalam keadaan haji maka maka seseorang tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Itu benar-benar dijaga. Kalau ada rasa kesal dan tidak sabar, banyak-banyak zikir dan istighfar, semoga tidak mengotori haji. Kalau ada hal-hal yang rasanya ingin dikomentari, ditahan jangan sampai jadi perkataan sia-sia. Jadi seperti lebih “jaim” (jaga image) gitu deh, tapi bukan dalam arti jelek lho. Bukan hanya image luar saja yang dijaga tapi juga yang terbersit dalam hati.

Kedua orang tua saya dan suami memberi nasihat: pokoknya jangan sampai berantem antara suami istri, jangan mendongkol, jangan melawan (pada suami khususnya). Soalnya banyak cerita-cerita yang suami-istri berantem pasti ada aja kejadian yang “menampar”, setelah itu baru sadar. Alhamdulillah saya memang jadi agak jaim sama suami, wkwkwk.. terlebih lagi kan selama di Madinah dan selama prosesi haji kami tidak sekamar, bertemu hanya saat jalan bareng ke masjid, pas beribadah, atau pas saat makan. Tentu pas ketemu hanya membahas hal-hal penting saja, jangan sampai deh kelepasan ngomong. Padahal biasanya kami ini pasti ada saja berbeda pendapat.

3. Menjadi lebih kuat daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya

Di sini saya merasa push myself beyond the limit. Kalau dipikir pakai logika, rasanya saya tidak akan mampu melewatinya, tapi dengan izin Allah semuanya terjalani juga. Hal ini tidak pernah terbayangkan sampai benar-benar ada di sana, terutama pada tempaan fisik ketika prosesi utama haji. Saat 5 hari puncak haji di Mina-Arafah-Muzdalifah, dengan rangkaian mabit, wukuf, lempar jumroh 4x (kami mengambil nafar tsani), dan tawaf-sai, fisik sangat terkuras.

Seumur hidup saya, mungkin saat baru merasakan aktivitas jalan kaki yang paling puanjaang, sampai rasanya kaki saya sudah gak berasa lagi, sampai rasanya kaki saya berjalan secara otomatis saja, tidak lagi digerakkan oleh sistem somatik tubuh, tapi sudah refleks saja berjalan teruuuss.. sampai di tujuan. Badan remuk, tapi besoknya masih harus berjalan lagi dan beraktivitas seperti biasa.

Menuju jamarat di pagi hari

Menuju jamarat di pagi hari

Menuju Mina selepas magrib

Menuju Mina selepas magrib

Saat itu saya sampai mengingat-ingat, masa-masa tersulit apa saja yang pernah saya alami selama hidup saya, untuk tetap menguatkan pikiran saya bahwa: masa sulit itu Insya Allah akan berlalu, lihatlah! Yang paling saya ingat adalah pertama, saat-saat ujian apoteker yang berat, banyak kengerian di sana (bukan lebay ini). Juga saat-saat melahirkan Runa, hal terberat ketika didiagnosis impending eclampsia dan harus berakhir di meja operasi. Masa-masa sulit tersebut tentunya tidak seberapa dengan apa yang mungkin dialami banyak orang lain di luar sana. Maka dari itu, saat di sana, pikiran saya mengirimkan sinyal-sinyal positif ke badan. Tempaan ini akan selesai, Insya Allah.. apalagi ini dalam rangka beribadah.

Salah satu momen terberat ketika di Muzdalifah. Tidur beralaskan tanah yang penuh kerikil, beratapkan langit, dan berdesakan dengan ribuan manusia lainnya. Penuh debu dan asap serta ingar bingar bus yang mengantarkan jamaah

Salah satu momen terberat ketika di Muzdalifah. Tidur beralaskan tanah yang penuh kerikil, beratapkan langit, dan berdesakan dengan ribuan manusia lainnya. Penuh debu dan asap serta ingar bingar bus yang mengantarkan jamaah

4. Merasa dekat dengan kehidupan Rasulullah

Selama ini saya hanya membaca dan mendengar saja sirah Rasulullah, tanpa bisa membayangkan bagaimana kehidupan di zaman Rasul. Begitu melihat kota Mekah, Masya Allah di sinilah Rasulullah dilahirkan, di sinilah Rasul pertama kali menerima wahyu dan kemudian menyampaikannya pada penduduk Mekah, di sinilah perjuangan Rasulullah selama 13 tahun menyebarkan Islam. Begitu melihat kota Madinah, Masya Allah.. inilah kota kaum Anshar yang dengan tangan terbuka menyambut Rasulullah ketika hijrah. Di sinilah kota di mana Rasulullah meletakan dasar-dasar daulah Islamiyah. Di sinilah kota yang damai, di mana Rasulullah dapat mewujudkan tatanan masyarakat madani. Sejak saat hijrah itu pulalah mulai terjadi peperangan terbuka antara kaum muslimin dan kafir Quraisy.

Saya benar-benar tertampar dan malu. Jujur, selama ini saya tidak banyak mengetahui sirah Rasulullah secara lengkap. Hanya dari pelajaran agama waktu sekolah, dari ceramah agama, maupun dari mentoring dan kajian. Aduuuh.. kemana aja Monik? Kisah manusia paling mulia ini kamu gak banyak tahu? Dalam hati saya kemudian berjanji: baca sirah Nabawiyah sampai tamat. Dari dulu beli-beli bukunya aja, tapi dibaca ga sampai seperempat bukunya, hiks. Ingetin saya ya, masih ada KEWAJIBAN BACA.

Banyak momen yang membuat saya merinding bergetar. Ketika ziarah ke makam Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq RA, dan Umar bin Khattab RA.. Assalamu alaika Ya Rasulallah warohmatullohi wabarokatuh. Assalamu alaika Ya Abu Bakr. Assalamu alaika Ya Umar. Ketika ziarah ke makam para syuhada di Uhud, kisah peperangan Uhud terasa lebih membuat merinding, apalagi setelah dikisahkan lagi oleh Ustad Saddam, pembimbing kami di Madinah. Padahal sebelumnya saya tidak pernah tertarik mendengar kisah-kisah peperangan, soalnya saya penakut.

Makam Rasulullah dan Abu Bakar Ash Shiddiq. Orang-orang berbondong-bondong ingin berziarah dan memberi salam

Makam Rasulullah dan Abu Bakar Ash Shiddiq. Orang-orang berbondong-bondong ingin berziarah dan memberi salam

 5. Haji sebagai refleksi diri

Haji memang ibadah yang personal. Apa yang terjadi selama haji, hanya Allah dan dirinya yang mengetahui. Banyak yang bilang, apa yang terjadi selama di tanah suci adalah gambaran perbuatan orang tersebut selama di dunia. Kalau sering mendengar cerita-cerita “unik” selama haji, mungkin itu memang benar adanya, meskipun saya tidak mendengarnya dari mulut pertama. Ada cerita jemaah haji yang sudah sampai ke Masjidil Haram tapi tidak bisa lihat ka’bah; ada cerita jemaah haji yang setelah sampai tanah suci menghilang dan tidak terlihat beribadah, baru kembali lagi setelah rombongannya mau pulang ke tanah air; ada juga Jemaah haji yang terpisah dari rombongan tanpa identitas, dan ia mendadak amnesia, lupa siapa dirinya dan nomor maktab, hanya ingat nomor telepon rumahnya di Indonesia; dst. Sebab dibaliknya Wallahu a’lam hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu. Yang pasti yang terjadi itu menjadi refleksi dirinya dan apa yang dia lakukan sebelumnya.

Contoh lainnya masih berhubungan dari poin nomor 2. Katanya kalau berbuat salah di tanah suci, pasti akan langsung dibayar kontan oleh Allah di sana, bisa jadi untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali. Saya percaya akan itu, sejauh ini saya dan suami pernah merasakan teguran Allah saat berada di sana. Kami merasa teguran halus itu sebagai kasih sayang Allah pada kami supaya kami sadar dan cepat-cepat beristighfar memohon ampun. Penasaran? Nanti saya ceritakan lagi terpisah, panjang ternyata kalau di sini. Postingan ini saja sudah panjang, hehe. Yang pasti ketika terjadi “sesuatu”, maka kami berrefleksi, ada apa di balik kejadian tersebut, kemudian banyak-banyak berzikir, beristigfhar, dan mengambil ibrahnya. Alangkah bagusnya kalau kebiasaan berrefleksi ini bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, bukan hanya pas haji saja.

6. Menjadi pasrah, hanya menggantungkan tujuan pada Allah

Ketika pergi ke sana ibaratnya kita meninggalkan kehidupan dunia kita, meninggalkan pekerjaan, rumah, harta, bahkan anak. Memasrahkan diri pada Allah, ya Allah saya mau beribadah haji, saya titipkan urusan dunia saya padaMu, termasuk anak. Paling berat tentunya meninggalkan anak, apalagi saya berpisah dengan Runa sekitar 2 bulan. Rasanyaa… Ga bisa dikatakan. Pikiran saya adalah: apapun yang terjadi di sana, gimana Allah saja, pokoknya saya pasrah, hanya berharap pada Allah. Tapi pasrah juga bukan berarti tanpa ilmu dan persiapan, Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Siapa yang gak meleleh kalau dikirimi foto Runa lagi begini. Pastinya saya kangen banget

Siapa yang gak meleleh kalau dikirimi foto Runa lagi begini. Tiap dikirimi foto Runa sama mama atau ibu, saya pasti ngerasa nyesnyes gimana gitu. Lalu dikembalikan lagi ke Allah, semoga Runa dijadikan anak solehah dan selalu dalam lindunganNya

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. Semoga semua yang berniat untuk berangkat haji dikuatkan dan dimudahkan langkahnya. Semoga kami masih ada rezeki dan umur untuk kembali lagi ke Baitullah, aamiin.

 

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Berkesan saat Haji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s