Di Mana Air Zam-zam?


Ini salah satu yang bikin penasaran banyak orang karena keberadaannya. Ya, betul air zam-zam, sang mata air surga.

Kebanyakan orang yang belum pernah ke Mekah atau Madinah berpikir bahwa meminum air zam-zam di Mekah itu langsung dari sumurnya, sehingga pertanyaan yang muncul adalah:

“Jadi sumur air zamzam itu di mananya Ka’bah?”

“Kalau lagi di Madinah gak bisa menikmati air zam-zam dong, kan sumurnya hanya ada di Mekah?”

“Pasti ngantri dong ya pas mau minum air zam-zam, harus ngambil dari sumur?” –> karena yang terbayang adalah sumur dan timba seperti yang ada di desa-desa di Indonesia.

Itu juga yang saya pikirkan sebelum tiba di Madinah dan Mekah. Aslinya memang sih zaman dahulu zam-zam ini berupa sumur yang ada timbanya. Di Museum 2 mesjid (Exhibition Two Holy Mosque) ada replikanya.

sumber

sumber dari sini

Tapi kenyataannya di zaman sekarang ini:

Air zam-zam itu melimpah ruah dan mudah sekali didapatkan. Tidak perlu menimba dulu untuk mendapatkan air. Air zam-zam tersedia di sekitaran komplek Masjid Nabawi, di dalam Masjidil Haram, dan di sekitaran komplek Al Haram. Kapan saja dan berapa banyaknya mau diambil bisa saja.

Bentuk asli sumurnya sendiri saya juga kurang tahu. Yang pasti sumur zam-zam masih terletak di dekat Ka’bah, sekitar 11 m dari Ka’bah. Hanya saja pengunjung tidak ada yang bisa ke sana. Katanya sih dulu dibuka untuk umum. Waktu kami ke sana, kami tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan sumurnya. Menurut ilustrasi dari buku Sejarah Mekah, oleh Dr. Muh. Ilyas Ghani, sumur zam-zam terletak di bawah tempat thawaf.

Sumur zamzam dan ruang bawah tanah di awah tempat thawaf. Sumber: Sejarah Mekah, Dr. M. I Abdul Ghani

Sumur zamzam dan ruang bawah tanah di awah tempat thawaf. Sumber: Sejarah Mekah, Dr. M. I Abdul Ghani

 Sejarah sumur zam-zam

Mata air zam-zam atau sumur zam-zam adalah sumber air tertua yang tidak pernah kering. Mata air itu muncul ketika Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi ditinggalkan Nabi Ibrahim di Mekah. Perbekalan kurma dan air Siti Hajar lama-kelamaan habis. Bayi Ismail pun mulai kehausan. Akhirnya Siti Hajar naik ke atas bukit Shafa dengan harapan mendapatkan air ataupun pertolongan. Namun nihil. Siti Hajar berlari lagi ke bukit Marwa dengan tujuan yang sama. Siti Hajar bolak-balik sampai tujuh kali sampai akhirnya Ia mendengar bunyi yang bersumber dari mata air. Saat itu Malaikat Jibril mengebaskan sayapnya sehingga muncullah air dari tanah. Dari situlah Siti Hajar bisa minum dan akhirnya menyusui Ismail. Itulah yang dikenal dengan air zam-zam hingga kini.

Tujuh putaran antara bukit Shafa dan Marwa ini kemudian dipraktekan sebagai ibadah sa’i ketika haji dan umroh. Jarak antara Shafa dan Marwa ini lumayan lho. Kalau saya hitung-hitung kira-kira satu kali lintasan dari Shafa ke Marwah ataupun sebaliknya menghabiskan waktu 10 menit. Jadi kalau 7x ya kira-kira 70 menit. Sekarang sih enak, sa’i bolak-balik Shafa-Marwa tempatnya adem, sudah ber-AC, lantainya marmer, kalau haus tinggal istirahat minum air zam-zam. Terbayang dulu perjuangan Siti Hajar, sudah jalannya menanjak dan berbukit-bukit, panas pula, Masya Allah.

Hikmah sa’i: Hidup adalah bentuk perjuangan, tetapi jika  dalam berusaha selalu yakin pada Allah, maka Allah lah yang akan memberikan jalan. Siti Hajar walaupun dalam keadaan susah tidak putus asa untuk mencari pertolongan sehingga bolak-balik Shafa-Marwah. Niat Siti Hajar saat itu hanya untuk mencari air/pertolongan, dengan keyakinan pada Allah. Ia yakin pada perintah Allah pada Nabi Ibrahim untuk meninggalkannya di Mekah. Bentuk ketaatannya pada suaminya Nabi Ibrahim dan juga pada Allah akhirnya membuahkan hasil. Meskipun pada akhirnya bukan dari usahanyalah pertolongan datang. Tapi pertolongan datang langsung dari Allah. Perjalanan apapun yang dilakukan dengan dasar keyakinan pada Allah dan untuk kebaikan Insya Allah akan berpahala.

Sumber air zam-zam ini sempat lenyap. Ketika Mekah banyak didatangi kabilah-kabilah (termasuk Suku Jurhum) dan kesucian Ka’bah mulai tercemari kemusyrikan dalam penyembahan berhala, sumur air zam-zam mengering dan tenggelam(1). Sejarah lainnya menyebutkan saat itu Suku Jurhum dari Yaman datang ke Mekah. Suku tersebut termasuk suku yang menguasai Mekah. Datang kemudian Kaum Khuza’ah ke Mekah. Saat itu mereka juga ingin menguasai Mekah sehingga mereka menjajah Suku Jurhum. Saat pecah perang di abad ke-5 M, Suku Jurhum diusir dari Mekah. Sebelum mereka pergi, mereka menimbun sumur zam-zam dengan berbagai benda, seperi baju besi, perisai, pedang, dll. Tujuannya agar sumur tersebut tidak bisa digunakan oleh Suku Khuza’ah. Dari situlah sumur zam-zam tidak ditemukan lagi(2).

Sampai pada suatu masa, Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW bermimpi untuk melakukan penggalian zumur zam-zam. Ia diberitahu letak sumur tersebut. Maka dari itulah Abdul Muthalib merupakan orang yang berhak mengatur sumur zam-zam ini. Olehnya, semua orang berhak meminum dari mata air tersebut(1,2).

Tentang sumur zam-zam

Dahulu kala, air zam-zam ini diambil dengan gayung atau timba. Kemudian pada tahun 1373 H/1953 M dibangunlah pompa air untuk nenyalurkan air dari sumur ke tempat penampungan air. Berdasarkan penelitian air zam-zam dapat dipompa sampai 11-18,5 liter/detik, sehingga per menitnya akan menghasilkan air sebanyak 660 liter! (11×60). Dalam sejam bisa menghasilkan 39.600 liter! Subhanallah, betapa melimpah ruahnya, seperti tidak akan pernah habis(1).

Air zam-zam kini

Pada tahun 1415 H, dibentuklah lembaga yang bertugas mengurusi air zam-zam. Mereka memiliki peralatan untuk menyalurkan air dari sumur ke tangki penampungan air dari beton dengan volume 15.000 m3, dan bersambung lagi dengan tangki lain ke bagian atas Masjidil Haram. Ditambah lagi, air zam-zam kini dengan mudahnya dapat diangkut ke tempat-tempat lain dengan truk tangki(1). Terutama ke Mesjid Nabawi di Madinah. Karena itulah di Masjid Nabawi pun tidak pernah kekurangan stok air zam-zam.

Jadi sudah terbayang dong, kalau tidak perlu nimba sumur lagi saat mau minum air zam-zam. Di sekitaran komplek Masjid Nabawi bisa ditemukan galon-galon air yang selalu penuh. Di sampingnya tersedia gelas plastik untuk bisa langsung meminumnya. Bahkan ada pilihan air zam-zam yang ‘not cold’ di beberapa galon. Air zam-zam ‘not cold’ ini tidak terlalu hangat, hanya ketika diminum efeknya tidak sedingin yang biasa. Bisa jadi pilihan ketika kita sedang sakit tenggorokan atau batuk.

Galon air zam-zam di Mesjid Nabawi

Galon air zam-zam di Masjid Nabawi

Galon air zam-zam di Mesjid Nabawi

Galon air zam-zam di Masjid Nabawi

Serupa dengan di Masid Nabawi. Di Masjidil Haram pun kita bisa menemukan galon-galon air serupa. Tersebar di seluruh komplek dan pelataran Masjid. Rasanya ingin ngambil bergalon-galon untuk dipakai mandi di hotel, haha. Pokoknya selalu sedia botol kosong setiap ke masjid, biar selalu bisa isi ulang.

Galon air zam-zam di Masjidil Haram

Galon air zam-zam di Masjidil Haram

Petugas yang selalu mengisi persediaan air zam-zam di galon-galon yang ada di Masjidil Haram

Petugas yang selalu mengisi persediaan air zam-zam di galon-galon yang ada di Masjidil Haram

Keutamaan air zam-zam

Ada banyak sekali keutamaan air zam-zam, seperti dalam Buku Sejarah Mekah(1), saya kutip di sini:

  1. Berasal dari mata air surga
  2. Pemberian Allah atas dikabulkannya doa Nabi Ibrahim
  3. Menjadi faktor penentu hidup dan perkembangan Mekah
  4. Merupakan bukti nyata dari Allah di tanah suci
  5. Menjadi nikmat dan manfaat besar pada Masjidil Haram
  6. Sebaik-baiknau jenis air di muka bumi
  7. Munculnya air zam-zam merupakan dari perantara Malaikat Jibril
  8. Berada di tempat paling suci di bumi
  9. Air yang digunakan untuk mencuci hati Rasulullah lebih dari satu kali
  10. Air yang dapat berfungsi sebagai makanan sekaligus obat untuk penyembuh segala macam sakit
  11. Jika diminum dengan niat kebaikan maka Allah akan mengabulkannya
  12. Keinginan untuk mengetahyi seluk-beluknya merupakan tanda keimanan dan terbebas dari sikap munafik
  13. Tidak akan habis walaupun airnya diambil
  14. Telah ada sejak 5000 tahun yang lalu, merupakan sumur tertua di muka bumi.

Adab meminum air zam-zam

Ini yang penting. Siapapun yang meminum air zam-zam pasti mengharapkan berkah dari Allah. Tak jarang jamaah haji pun membawa pulang air zam-zam untuk dibagikan pada keluarga. Kalau bisa dibawa bergalon-galon tentunya sudah dibawa deh. Tapi tentunya ada batasan bagasi dari maskapai penerbangan.

Nah, tentu ketika meminum air zam-zam patutlah kita berdoa. Doa yang kita minta tentunya ditujukan pada Allah, bukan karena menganggap air zam-zam sebagai hal keramat.  Rasulullah pernah bersabda bahwa: “Air zam-zam tergantung orang yang meminumnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Al Hakim dan Ad Daruquthniy dari Ibnu ‘Abbas, juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir).

Doa tersebut akan tergantung dari diri masing-masing. Insya Allah jika niatnya baik, hal baik juga akan menghampiri.

Apakah ada doa khusus ketika meminum air zam-zam? Ada.

اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً واسعاً، وشفاءً من كل داء

/Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon waasi’an wa syifa’an min kulli daa-in/

Ya Allah aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizqi yang luas, dan kesembuhan dari segala macam penyakit“.

Adab meminum air zam-zam

Adab meminum air zam-zam

Wallahu a’lam.. semoga bermanfaat.

Referensi:

  1. ) Ghani, Muhammad Ilyas Abdul, Sejarah Mekah, Madinah Al-Rasheed, 2003
  2. ) Hatta, Ahmad, dkk, The Greatest Story of Muhammad SAW, Maghfirah Pustaka, Cetakan kelima 2014

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Di Mana Air Zam-zam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s