Akhirnya selesai! Tapi…


Alhamdulillah Oktober 2016 lalu akhirnya saya bisa menyelesaikan studi master saya di University of Groningen. Syukur tidak ada habisnya perjuangan selama dua tahun menempuh perkuliahan, research, dan tesis akhirnya berakhir juga.

Eh, tapi benarkah berakhir begitu saja?

Bukankah hidup itu adalah perjalanan menempuh tujuan yang tidak ada habisnya? Tentu akan berakhir di ujung usia kita. Manusia akan “hidup” jika memiliki tujuan, apapun itu. Selama masih diberi umur oleh Allah, manusia akan selalu berusaha untuk menempuh hari-harinya. Hingga suatu saat akan terasa hasil dari yang diusahakannya.

Jika saya kilas balik dua tahun kemarin. Bisa dibilang itu adalah dua tahun yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Banyak tantangan, ada kesulitan, ada jatuh bangun. Tapi Alhamdulillah banyak juga senyum bahagia di sana.

Menjadi Student Mom

Tidak pernah saya lupa hari pertama saya kuliah di tahun kedua. Saat itu jadwal daycare dan sekolah Runa, anak saya, sudah bertambah. Seiring juga dengan bertambahnya bobot kuliah saya. Senin, 31 Agustus 2015, saat itu musim gugur yang dingin dan hujan deras. Pagi-pagi saya sudah bersepeda nganter Runa ke sekolah, ternyata.. saya salah jadwal! Jadwal Runa tersebut baru berlaku tanggal 1 September, hari Selasa. Saya panik bukan main, jadwal kuliah pertama saja akan dimulai 30 menit lagi, lalu Runa bagaimana? Masa mau saya bawa ke kelas. Akhirnya saya mencari jalan keluar, untunglah saat itu ada Mbak Tina dan Bude Nunung (tetangga sesama orang Indonesia) yang bersedia dimintai tolong. Meskipun saya tahu ini merepotkan. Tapi syukurlah mereka mau membantu. Saya akhirnya ngebut mengayuh sepeda saya sampai kampus menerabas hujan. Tau sendiri orang Belanda kan disiplin, tidak ada tuh istilah telat-telat. Saya telat sih dan basah kuyup, tapi untunglah kelas belum mulai. Bahkan hampir semua orang di kelas juga basah kuyup. Setidaknya ada temen berbasah-basah ria dengan bau lembap.

Belum lagi momen ketika Runa sakit dan saya harus tetap ke kampus. Saat itu Runa sakit diare saat saya harus presentasi awal research di grup saya. Akhirnya suami yang cuti dari kantor. Pernah juga Runa terkena cacar, hampir seminggu harus di rumah. Padahal saya harus ke kampus dan tetap mengerjakan tugas. Sana-sini saya meminta tolong pada sahabat-sahabat saya di sini. Untunglah selalu ada pertolongan. Ketika anak sakit itulah yang membuat saya paling tidak konsen menjalani kuliah.

Ada hari-hari di mana saya harus begadang, karena saya tidak bisa seenaknya mengerjakan tugas di kampus kalau Runa tidak ada jadwal daycare atau sekolah. Kalau siang hari di rumah pun, saya harus fokus main sama Runa, mana bisa buka-buka laptop. Ada juga saat saya harus mengulang ujian Medical Statistics, rasanya kalang kabut takut tidak lulus lagi. Tapi harus tetap perform dengan pekerjaan rumah tangga.

Ada waktu-waktu di saat saya dan Runa baru sampai di rumah sore hari (pulang dari kampus saya jemput Runa di sekolah) dengan kondisi lapar. Sayangnya saya belum sempat masak sama sekali. Tidak ada warteg dan toko makanan yang bisa diandalkan untuk beli lauk jadi. Akhirnya saya dan Runa ngemilin roti atau biskuit dulu untuk ganjel. Setelah itu baru saya masak.

Momen-momen tersebut yang membuat saya berpikir. Benar tidak sih jalan yang saya pilih ini? Rasanya kok berat ya. Saya juga merasa lelah hayati. Tapi di sisi lain, tidak mungkin dong saya menyerah, ini jalan yang saya dan keluarga saya pilih. Lagipula saya ini punya Allah, kalau saya tidak memasrahkan dan meminta tolong pada Allah ya pada siapa lagi?

Ketika akhirnya saya bisa menyelesaikan semuanya dengan lancar. Saya bisa tersenyum mengingat hari-hari tersebut. Pencapaian tersebut bukan hanya usaha saya. Banyak faktor pendukung di depan, belakang, dan samping saya. Runa dan suami adalah pendukung terbaik selama ini. Runa sudah solehah sekali dan jarang rewel selama bundanya kuliah. Suami juga selalu memberikan support  dan bala bantuan. Tidak hanya itu saya bersyukur selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yang ringan tangan membantu.

Graduation Ceremony, 5 Oktober 2016, Alhamdulillah

Graduation Ceremony, 5 Oktober 2016, Alhamdulillah

Dilema

Nah… balik lagi ke masa kini. Ketika setelah selesai, saya bertanya-tanya? What’s next? Terngiang-ngiang Lagu Armada yang populer di tahun 2009, “Mau dibawaa kemanaaa..?” Iya mau dibawa kemana ilmu saya? Bukannya saya tidak punya rencana. Tetapi saya sedikit dilema dalam memutuskan rencana mana yang akan diambil. Satu langkah dan satu keputusan untuk 5 tahun mendatang.

Terbayang setelah selesai kuliah, pastinya ingin leha-leha istirahat di rumah. Menghabiskan waktu dengan Runa sebelum Runa masuk basis school. Mengerjakan hobi dengan santai, banyak membaca dan banyak menulis. Enak sekali pasti kalau punya banyak waktu untuk menulis. Alasan lainnya, tentu saya ingin juga memberi adik buat Runa, hoho. Dulu saya merasa puas mengasuh Runa ketika saya murni jadi ibu rumah tangga. Sampai Runa berusia dua tahun, rasanya Runa sangat ‘kepegang’ sama saya. Ingin juga menerapkan yang sama ketika punya anak kedua.

Tapi.. Tapi.. apakah kalau saya memilih istirahat di rumah, apa saya bisa tetap produktif ketika saya kuliah dulu? Bukankah orang akan semakin produktif jika Ia memiliki tanggung jawab untuk beberapa hal?

Panggilan untuk berada di rumah ini sebenarnya sangat menggoda. Meskipun saya sendiri belum tahu nanti saya akan jadi apa kalau saya istirahat dulu di rumah. Adakah momentum yang hilang jika saya memilihnya?

Apalagi banyak orang berkomentar:

Tanggung. Sudah S2 di sini, lanjut lagi aja. Tinggal cari profesor, nah ada profesor pas S2 kan? Apalagi beasiswanya juga dilanjutkan. Ibaratnya kaki sudah nyelup sebelah, celupin saja sebelah lagi.

Mumpung. Kapan lagi bisa sekolah di LN, pergunakan kesempatan seluas-luasnya untuk mereguk ilmu di negara maju ini. Kapan lagii?

Rampung. Kan udah rampung S2-nya, apa lagi? Rampungin sampe S3, pulang jadi dosen. Habis perkara

Errr.. komentar-komentar yang menggoda.

Kalau saya lanjut kuliah lagi, sudah siapkah menempuh segala kerepotan yang ada? Ini bukan S2 lagi lho, bukan jadi student biasa. Bukan perkara mudah. Kalau kata orang-orang yang udah nyemplung di S3: S3 itu ga main-main lho, itu pilihan hidup. Yang akan menentukan kamu empat tahun ke depannya. Menyelesaikan apa yg dimulai.

Jadi merinding. Sudah siap mengulang kembali dua tahun kemarin dengan beban yang lebih berat?

Tetiba teman saya ada yang nge-tag saya di tulisan ini:

Don’t seek a PhD to please other people
Don’t seek a PhD just because it makes you sound smart
Don’t seek a PhD because you don’t know what else to do
But seeking a PhD because you want a career in research or university teaching and of course, because you have passion on it

Dari buku 57 Ways to Screw up in Grad School (Kevin D. Haggerty and Aaron Doyle)

O-ow.. Iya juga sih.

Pilihan pulang ke tanah air

Pulang ke tanah air itu pasti, Insya Allah. Saya pasti mengabdi untuk Indonesia. Tapi yang belum tahu itu adalah kapan? Sudah cukupkah ilmu saya yang “cuma” dua tahun ini untuk pulang? Sudah siapkah menghadapi keadaan di Indonesia yang tidak seindah dalam pikiran?

Tetap terbayang suasana nyaman di kampung halaman sendiri. Deket dengan keluarga, makanan enak dan murah mudah didapat, tidak akan kelaparan karena tidak masak. Apalagi kalau lagi di rumah Mama, wuihh.. segala macam makanan enak tersedia di meja, tanpa perlu bersusah-susah.

Tapi eits.. kalau pulang, udah tahu mau ngapain? Harus matang dong rencananya.

Kembalikan pada Niat

Dilema ini saya kembalikan lagi pada niat, Innamal a’malu binniyat. Betul niat hidup di dunia ini kan semata-mata untuk berbuat baik, untuk beramal, sebagai bekal di akhirat.

Maka saya berdoa pada Allah. Mana saja yang Allah putuskan pada saya itu berarti yang membuat saya paling bermanfaat, Insya Allah. Tapi tentu saja menunggu putusan Allah itu tidak hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Harus tetep berusaha toh?

Akhirnya saya lanjutkan aplikasi S3 saya. Sudah ada calon profesor, sudah ada topik, sudah bolak balik revisi, sampai di tengah jalan ada keraguan. Sampai Si Prof-nya juga ragu “Kamu beneran mau lanjut ga sih? Kok kayaknya kurang kuat niatnya”. Bismilllah, luruskan lagi niat. Sampai akhirnya sudah keluar acceptance letter dari universitas. Berarti Allah masih memberikan saya jalan untuk lanjut S3. Eh iya, beasiswa juga harus diperjuangkan. Pundi-pundi euro kan  tidak gitu aja turun dari langit.

Ini yang sedang saya kerjakan. Meskipun persyaratan dengan poin-poin yang cukup menuntut. Bahkan mungkin ada yang belum bisa saya penuhi. Saya coba lagi saja. Jika Allah memberikan jalan dengan diluluskannya aplikasi beasiswa saya. Artinya Allah masih menghendaki saya menuntut ilmu di tanah kompeni.

Manusia hanya bisa berusaha dan Allah-lah yang menentukan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Lomba Blog “DILEMA”yang diadakan oleh Murtiyarini’s blog

 dilema

Advertisements

28 thoughts on “Akhirnya selesai! Tapi…

  1. good luck mba dan semoga diberi kelancaran semua, ditunggu cerita cerita kedepannya tentang S3 kayaknya lebih seru dan menantang hahaha

    • aamiin.. hahaha.. iya mbak smoga bisa lanjut S3 @mbak Mirna, tp apapun keputusannya di depan, Insya Allah dijalani dgn baik 🙂

  2. Selalu salut ama wanita yg mau melanjutkan sekolah sampai phd :). Aku tau itu ga mudah banget.. Aku aja lulus s1, trs balik indo, diminta papa lanjut aja s2, tp krn telanjur keterima kerja dan ngerasain gaji, jd lbh milih kerja mbak.. Udh keenakan ama gajinya .. Pdhl suami wktu itu mendukung banget.. Tp namanya pilihan yaa.. Buatku yg ptg kita bertanggung jawab ama pilihan kita sih..

    • Setuju mbak @fanny, yang penting tanggung jawab sama pilihan yang udah diambil, hrs konsisten ngejalaninnya, biar hasilnya juga baik, hidup juga bahagia, btul? 🙂

  3. Selamat Mbak Monika, saya salut sama Mbak, pokoknya dari tulisan-tulisannya di blog ini kebayang perjuangannya nggak mudah. Senior saya ada yang di Groningen juga Mbak, (jangan-jangan udah kenal malah? hehe). Oya Mbak, saya pengen tahu pengalaman mencari supervisor utk PhD, sama tips-tips berkomunikasi dgn profesor di luar negeri. Kalau sempat dishare ya, Mbak 🙂

    • hadeuh jadi mayu dikomen sama petinggi groni kekeeke.. blm seberapa ateuh aku mah dibanding mamak2 PhD di Groningen dan juga mamak2 pendamping para bapak PhD yang sabar menemani. Ini masih banyak ngeluhnya, wakwaww

  4. keren mbak. Akhirnya dilema berakhir dengan daftar ke S3 ya. Wuih…saya mah selalu salut sama orang2 yg bisa sekolah tinggi apalagi di luar negeri begini mbak. Mudah2an selesai S3, bisa mengabdi ke tanah air tercinta ini ya mbak. Kiss kiss untuk Runa 🙂

    • Masih dalam proses Mbak ini utk ke S3nya, smoga saja hasilnya yg terbaik deh. Aamiin aamiin.. iya Mbak Insya Allah, pingin pulang. Salam juga utk Kakak Alun dan Kakak Lintang ya Mbak, Kiss back :-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s