Me VS Dutch: Scheduling Agenda Appointments (part 2)


Beberapa minggu ini ada hal yang menyentil saya untuk kembali menuliskan mengenai topik ini. Setelah sebelumnya pernah saya ceritakan secara singkat di sini. Dua tahun lebih menetap di Belanda membuat saya semakin banyak disiplin dan latihan mengatur jadwal dan waktu. Terutama jika berhubungan dengan orang lain atau kegiatan yang melibatkan orang lain di dalamnya. Tidak hanya dengan Dutch people juga dengan bangsa sendiri.

Saya dan suami pernah mengalami pengalaman yang agak menggelitik dalam scheduling dengan Dutch ini. Mungkin saya dan suami yang agak sensi, atau memang anggapan Dutch pada Non EU atau Non Dutch atau bahkan pada muslim (saya berjilbab) yang agak meng-underestimate (Mudah-mudahan saja bukan karena alasan ini). Sepengalaman saya sih Dutch itu toleran dan cenderung tidak rasis dan membeda-bedakan. Mungkin saja Kami kurang beruntung bertemu Dutch yang kurang begitu respek. 

Cerita 1

Saat itu suami ada jadwal periksa ke huisart (klinik) dekat rumah, pukul 13.30. Lima belas menit sebelumnya sudah nongkrong dong di ruang tunggu. Setelah lima menit lewat dari jadwal yang ditentukan, kok belum dipanggil-panggil ya. Suami lantas bertanya pada resepsionisnya.

Suami: I have an appointment at 13.30

Resepsionis: Oh, you’re 5 minutes late! (menurut suami, saat itu Si Resepsionis ngomong sambil rada ketus dengan pandangan gak mengenakkan).

Mungkin sih kata Suami, Si Resepsionis ini ketus karena udah mah dia ga keliatan bule, ngomong Inggris (bukan ngomong Dutch), telat pula!

Suami: (Langsung bete). I came 15 minutes before the appointment and I waited there! There’s no one called my name.

Resepsionis: Oh (Cuma bilang Oh aja, dengan ekspresi masih nyebelin. Dia lalu baru ngontak dokternya. Baru Suami pun dipanggil)

Cerita 2

Saya juga pernah ada jadwal cek kontak lensa di toko kaca mata (ya iyaa.. masa di toko daging). Jadwal saya pukul 16.15. Saya datang 16.05 dan langsung menuju pegawai yang ada di meja kasir.

Saya: I have an appointment to check my contact lenses

Pegawai: Let me check. It’s at 4 o’clock? You’re 5 minutes late

Saya: Actually, the appointment is at 4.15So I quite early

Pegawai: Oh yes. Please have a seat upstairs

Cerita 3

Ini sudah agak lama sebenarnya. Dan saya akui ini saya yang salah.

Saya pernah tiga kali telat jemput Runa di sekolah. Itu pun bukan saya mau sengaja telat, ada urusan kuliah itu juga, mepet banget dari kampus. Saya telat pun maksimal cuma  5 menit, suwer! Kalau saya telat 10 menit, bisa-bisa saya didendeng sama Si Gurunya Runa, meskipun saya yakin Dia ga tahu apa itu dendeng (apa sihh Moonn???). Saya pun sudah ngebut goes sepeda saya melebihi kecepatan cahaya. Tapi apa daya jembatan di sungai ditutup pas ketika saya mau melintas, karena ada kapal lewat. Mau nunggu kapal lewat ya lama.. saya langsung muter aja ke jembatan satu lagi. Paling tidak itu membutuhkan 5 menit ekstra untuk melewati jalan yang saya tempuh. Telat saya yang pertama pas Runa lagi sama Guru yang paling baik. Dia mah oke aja.. malah kayak wajar gitu. Telat yang kedua dan ketiga apesnya sama Guru Runa yang rada jutexxx. Dia sampe bilang: Kamu telat. Kalau kamu terus-terusan telat, mending sekalian kamu bayar extra time aja. Iyaaa siiihhh time is money, sorryy atuh ceu.

disclaimer: *Tapi karena dia sudah kayak men-state soal money. Saya juga harus menuntut hak saya dong. Tiap Runa ga masuk daycare-nya, karena alasan sakit atau urusan lainnya, Runa akan mendapatkan waktu pengganti. Hari ganti ini bisa dijadwalkan kapan saja, tergantung waktu kosong yang tersedia. Asalnya saya sih si ‘tabungan’ jadwal pengganti Runa gak pernah saya pakai. kan ga terlalu urgent juga. Tapi kalau Orang Belanda itungan, saya juga harus itungan dong. Saya cecer aja Si Gurunya soal jadwal pengganti. Saya kan udah bayar! Well sometimes I have to be a Dutch when dealing with Dutch*

Buat kita orang Indonesia pasti kan mikir: diih lebaynyaa.. telat cuma 5 menit jugakk. Baru dua kali, kagak terus-terusan. Tapi buat Dutch it’s a big deal. Sejak itu saya ogah telat jemput Runa, apalagi kalau pas yang megang Si Guru yang itu.

Begitulah ceritanya. Namun, kita harus tetap mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada kan. Poin yang saya mau bahas di sini ada 2.

1. Scheduling di Belanda itu sangat ketat

Yak betul, tight scheduling itu pedih Jendral! Apalagi kalau kita tidak tepat waktu. Perbedaan 2 menit pun bisa jadi menghasilkan efek yang berbeda pada hidup Anda! Contoh paling simpel ketika mau pergi naik bus atau naik kereta kami pasti selalu mengecek aplikasi jadwal bus dan trein. Ketika saya mau pergi ke kampus untuk ketemu dosen dengan jadwal jam 10 teng. Artinya paling lambat harus ambil bus yang ada di halte terdekat pukul 9.30. Jalan kaki dari rumah sampai ke halte 2 menit. Jadi dari rumah harus berangkat paling tidak 9.25 (ditambah ngunci pintu, pake syal dan segala perabotan winter di badan, rempong emang kalau keluar rumah pas winter). Nanti sampai halte dekat kampus 9.45 (durasi perjalanan 15 menit dari rumah ke kampus). Jalan kaki dari halte sampai ke kampus dan ke ruangan departmen 8 menit. Maka saya akan sampai depan pintu ruangan si dosen sekitar pukul 9.53. Itu baru namanya in time, tiba sebelum waktu yang direncanakanDutch itu bukan on time lagi mainannya, udah in time ya.

On time : pada waktu yang dijanjikan, tidak terlambat dan tidak juga sebelum waktu yang dijanjikan.
In time : sebelum waktu yang dijanjikan
Mangkanya kalau bisa usahakan in time, kalau tidak bisa ya on time tidak apa-apa. Sedep kan?

Nah, apa yang terjadi jika saya terlambat mencapai halte dan ketinggalan bus yang berangkat 9.30? Ya saya harus menunggu jadwal bus berikutnya, yang mana baru 15 menit lagi datangnya. Kalau saya ngambil bus 9.45 tentu akan pas sampai jam 10, tapi itu baru sampai halte cuy, belom lari-lari ke ruangan. Belom napas ngos-ngosan. Bisa-bisa yang mau didiskusikan sama dosen nguap semua bersama dengan keringat dan panik. Ya paling telat 5 menitan, tapi kan pandangan dia pada kita jadi ga respek karena kita ga on time. Padahal cuma 5 menit lhoo.. tapi ya itu, itulah Dutch. Mengaca pada kasus saya di cerita nomor 3.

Solusi saya daripada nunggu bus berikutnya, ya sudah ambil sepeda ngebut deh tu sama sepeda. Peduli amat sama dingin atau hujan (ini kisah nyata di winter tahun lalu). Dengan sepeda saya bisa mencapai kampus 15 menit saja (dengan ngebut). Paling tidak saya akan sampai 5 menit sebelum waktu yang ditentukan.
Suka ada juga supir bus yang strict banget. Jadwal bus di halte misalnya cuma berhenti dua menit. Lalu ada orang lari-lari ngejer bus minta ditungguin, yaa bentar doang paling 30 detik. Eh si supir cuek aja gitu langsung tancap gas jalan, meninggalkan si calon penumpang yang ngos-ngosan.
Itu baru dari satu sisi yang saya bahas lho, baru jadwal bus. Belum jadwal kereta, appointment dengan dosen, jemput Runa, jadwal periksa dokter, jadwal meeting, jadwal janjian dengan bank, gementee, dll dst…
Tampak ribet? Enggak juga sih kalau udah dijalanin malah rasanya kita menjalani waktu dengan efektif dan efisien.
2. Tampilkan identitas kita sebagai Bangsa Indonesia dan muslim yang tepat waktu!

Buat kita orang Indonesia, tight scheduling seperti di atas mungkin adalah hal yang lebay, yang tidak biasa. Memang ada excuse sih. Variabel hidup di Indonesia lebih banyak. Banyak ketidakpastian juga. Jadwal angkutan umum tidak reliable. Ada hujan dan banjir semua pasti juga ikut berubah. Macet di jalan (pastinyaaa), angkot ngetem, bis mogok, jalur KRL saling nunggu, dan lainnya. Mungkin ini yang membuat kita juga jadi ga aware banget sama scheduling. 

“Ah paling juga si anu pas ngumpul telat setengah jam, saya juga nyanta-nyantai deh.”

“Ini acara pasti ngaret. Gak usah deh datang tepat waktu. Nanti kita malah kelamaan nunggu.”

Naaah ini nih yang bahaya kalau budaya kayak gini kebawa sampai ke Belanda. Bisa gak bertahan hidup. Diinjek-injek lagi sama kompeni.

Emoh kan? Saya sih emoh.

Mungkin juga banyaknya orang Indonesia atau muslim secara general yang selama ini bermukin di Belanda memiliki image yang kurang baik di mata orang Londo. Salah satunya karena suka telat dan ga disiplin. Maka dari itu, penting bagi para diaspora untuk mulai menanamkan pentingnya scheduling dan tepat waktu. Biar mereka tu ga mandang kita sebelah mata.

Ada sedikit tausyiah dari seorang ustadz yang kemarin mampir di Groningen. Beliau bilang sebagai Muslim kita tidak cuma beribadah secara vertikal pada Allah. Kita juga tidak melulu berdakwah soal akidah dan fiqih. Tunjukkan identitas kita sebagai muslim Indonesia yang bermartabat. Kita juga punya hubungan horizontal dengan manusia lain. Jika kita student tunjukkan bahwa kita adalah student yang gak cuma rajin shalat tapi juga sisi akademiknya cemerlang. Tunjukkan bahwa kita adalah student yang gak cuma rajin puasa dan ngaji, tapi juga selalu disiplin dan tepat waktu. Jika kita workers, tunjukkan bahwa kita adalah orang yang gak cuma rajin beribadah, tapi memiliki performance yang prima di kantor.

Nanti orang lain dengan sendirinya akan bertanya-tanya. Wah apa rahasia sukses di akademik? Apa rahasia sukses di kantor? Sebagai muslim, kita bisa jawab. Rahasianya ya rajin shalat, ngaji, dan puasa. Itu sudah dakwah yang luar biasa.

Agenda 2017! Siap!
Agenda 2017! Siap!
Saya masih berusaha memperbaiki diri. Menyusun jadwal dan mengupayakan tepat waktu. Terutama yang melibatkan orang Londo. Kalau sama orang Indonesia, kadang yaa.. masih suka molor. Sering makluman. Memang orang Indonesia itu luar biasa legowonya. Ada teman telat, pasti ditungguin. Setelah datang, tetap disambut dengan senyum manis. Sama Londo mah manaaa ada kaya gitu. Ya ada sisi Orang Indonesia yang lebih humanis di situ. Lambat laun dengan mempraktekan tight scheduling ala Dutch ini bisa memperbaiki juga kedisiplinan saya, gak cuma di sini, pas di Indonesia juga kelak, aamiin.
Advertisements

6 thoughts on “Me VS Dutch: Scheduling Agenda Appointments (part 2)

  1. Dua minggu di tanah air, saya selalu datang in time setiap kali ada meeting di kantor. Tp sebel juga sih yg lain pada telat. Makin sebel krn saya tahu mereka telat krn ngobrol lama di tempat lain. Haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s