Raudhah -Sang Taman Surga- dan Makam Rasulullah SAW


Ada dua pesan utama yang saya ingat dari pembimbing haji kami, Pak Aziz Balbaid, mengenai ziarah ke Raudhah dan makam Rasulullah:

Satu, kalau ziarah dan berdoa untuk Rasulullah dan sahabat, hendaknya tetap menghadap kiblat, bukan menghadap makam. Ditakutkan nanti malah musyrik.

Kedua, ketika mendapat kesempatan untuk berdoa di Raudhah, berdoalah sesuai kondisi, tidak perlu memaksakan. Jangan sampai kita memaksakan sholat di tengah keramaian orang dengan risiko terinjak-injak. Ada juga rombongan jemaah haji dari salah satu ras tertentu, mereka membuat lingkaran di tengah-tengah karpet hijau Raudhah. Lalu di antara mereka bergantian shalat di dalam lingkaran, sedang yang lain berjaga supaya tidak ada yang lewat di depan teman yang sholat tersebut. Tapi itu kan mengganggu orang lain yang juga akan melewati Raudhah. Apalagi jamaah yang ke Raudhah itu banyak, sedangkan Raudhah tidak terlalu luas. Akhirnya malah mendzalimi orang lain yang lain.

Poin pertama saya mengerti dengan baik. Poin kedua, saya agak bingung, maksudnya gimana sih? gak kebayang. Memang saya baru mengerti maksud dari Pak Aziz itu setelah saya menginjakkan kaki saya ke Raudhah.

“Hajjah-hajjah, ziarah.. ziarah!” seru seorang Askar sambil melambaikan tangannya pada kami. Maksudnya Ia memberi petunjuk kalau mau ziarah ke makam Rasulullah SAW hendaknya kami menunggu di bagian paling depan saf wanita. Nanti pintu gerbang untuk menuju Al Raudhah akan dibuka.

“Raudhah?” tanya saya pada Askar

“Na’am, ke sana Ibu, tunggu.” jawab Askar dengan bahasa Arab, campur bahasa Indonesia seadanya, mungkin Ia memang menebak dari wajah saya, kalau saya ini orang Indonesia.

Ternyata kalau mau memasuki Raudhah itu tidak bisa seenaknya toh, ada aturan tunggunya. Karena banyaknya jamaah yang ingin berziarah ke sana, maka diaturlah pembagian waktunya. Untuk jamaah wanita itu dimulai setelah Dhuha, setelah Shalat Zuhur dan setelah Shalat Isya. Sementara untuk jamaah laki-laki bisa memasuki Raudhah di waktu selain itu. Entah mengapa kunjungan ke Raudhah ini seperti drama dan penuh kehebohan. Saya sendiri tidak menyangka seperti itu. Mungkin saking excitednya ingin berziarah, saking rindunya pada Rasulullah SAW dan jejak sejarahnya, membuat para jemaah begitu emosional.

Dialah Al Raudhah, ruang di antara mimbar dan kamar Rasulullah. Di sampingnya terlihat jelas makam Rasulullah SAW yang diapit oleh makam Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Raudhah sendiri artinya taman. Seperti sabda Rasulullah SAW, Di antara rumahku dan mimbarku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku ada di atas telagaku (HR. Bukhari). Ada pendapat yang mengatakan bahwa taman tersebut kelak akan berpindah ke surga. Mungkin karena itulah jemaah haji berbondong-bondong ingin berdoa, berzikir, dan melaksanakan shalat sunah di area Raudhah. Area Raudhah memang tidak terlalu luas, hanya ditandai dengan karpet berwarna hijau. Semua area sholat masjid Nabawi berkarpet merah. Jadi selama yang kita injak masih karpet merah, ya belum sampai di Raudhah.

Meskipun para Askar sudah berusaha mengatur para jemaah dengan menyuruh kami berbaris sesuai ras: Melayu, Turki, Eropa, Afrika, India, dst.. Tapi tetap saja banyak para jemaah tidak mengindahkan para Askar. Pokoknya ketika pintu menuju Raudhah terbuka semua berlari masuk. Beneran lari, seperti dikejar. Ternyata masih ada gerbang lagi untuk menuju Raudhah yang dijaga Askar. Disana Kami diminta menunggu lagi. Mereka akan memperbolehkan masuk beberapa kloter jamaah, lalu menutup gerbang lagi, kemudian membukanya. Bergantian para jamaah menunggu untuk masuk. Begitu sampai waktu ziarah habis.

whatsapp-image-2016-12-05-at-22-32-57

Jadwal ziarah ke Raudhah dan tata tertibnya

whatsapp-image-2016-12-05-at-22-27-46

Di depan gerbang menuju Raudhah, menunggu dan mengantri

Saya sempat berziarah ke Raudhah dua kali. Kali pertama saya salah strategi. Saya belum mengerti bagaimana aturan mainnya dan bagaimana para jamaah ini berreaksi. Saya mengikuti saja hawa-hawa excited para jemaah yang ingin buru-buru masuk. Akhirnya saya terdorong-dorong oleh jemaah haji, terutama dari Afrika, yang badannya besar-besar. Padahal di depan gerbang Raudhah ada warning lengkap dalam bahasa Arab, Inggris, Turki, Indonesia, Urdu (mungkin, saya juga gak yakin bahasa apa :p). Intinya para jemaah dianjurkan untuk bersabar dan tidak menyakiti sesama ketika memasuki Raudhah. Harap menunggu giliran, Insya Allah rezeki berdoa di Raudhah tidak akan ke mana. Oh barulah saya rada ngeh sama pesan kedua dari Pak Aziz.

Di dalam itu benar-benar padat, sepadat-padatnya. Seperti sarden di dalam kaleng rasanya. Badan saya terdorong sana-sini. Kaki saya seperti tidak menjejak lagi, mengikuti arus manusia. Saya sempat memberikan salam dan shalwat untuk Rasulullah SAW, Allaahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad! Juga salam untuk Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Selebihnya saya hanya sempat berdoa saja dalam hati. Tidak memungkinkan untuk shalat di sana, wong berdiri aja susah. Askar di dalam Raudhah bertengger di dekat pilar besar, sambil berusaha mengatur arus jamaah yang masuk. Jika sudah memberi salam dan shalawat serta cukup berdoa, diharapkan jamaah segera keluar. Agar jamaah lain bisa masuk. Askar bahkan melarang jamaah untuk melakukan shalat di Raudhah di saat padat seperti itu, karena itu tidak memungkinkan. Bagaimana bisa shalat dengan khusyu di tengah-tengah kepadatan arus jamaah yang masuk? Belum bahaya bisa terinjak-injak, tertendang, maupun terdorong-dorong.

Di tengah kepadatan itu, mata saya terumbuk pada kehebohan yang dibuat oleh jamaah haji dari ras tertentu. Mereka berdiri dan saling bergenggaman tangan membantuk lingkaran. Oh, ini yang dimaksud Pak Aziz. Walaupun Askar sudah melarang, ditambah derasnya arus jamaah yang melewati Raudhah, mereka tetap bertahan. Bergantian mereka shalat di dalam lingkaran yang dibuat, di atas karpet Raudhah. Begitu inginnya mereka memanjatkan doa dan shalat di atas karpet Raudhah, di atas taman surga Rasulullah SAW.

Memang benar, beribadah di Raudhah itu sunnah dengan keutamaan besar. Tapi jangan sampai kita mengejar sunah sehingga kita jadi berbuat hal yang diharamkan Allah. Salah satunya menganiaya/menyakiti sesama. Mungkin saking inginnya kita beribadah di Raudhah kita sampai tidak mengindahkan jamaah lainnya yang juga terjepit di sana. Kita jadi tidak sadar berbuat kasar dan seenaknya demi kenyamanan beribadah kita di sana, Naudzubillah.

Papan warning sebelum memasuki Raudhah

Papan warning sebelum memasuki Raudhah

whatsapp-image-2017-01-19-at-15-59-45

Papan warning sebelum memasuki Raudhah

Alhamdulillah saya berhasil keluar dari Raudhah dengan kondisi masih lengkap, walaupun sesak napas dan badan terjepit-jepit. Cukuplah saya ke Raudhah kali itu. Tapi tentu saya ingin ziarah lagi, memberi salam pada manusia paling agung di bumi. Di subuh kali lainnya, saya mencoba lebih tenang untuk memasuki Raudhah. Saya mencoba mengkuti papan warning itu. Menunggu giliran tiba.

Saya mengikuti rambu-rambu yang diberikan Askar. Ketika dibilang baris ya baris, ketika sudah boleh masuk ya masuk. Memang terasa lebih ayem. Tipsnya: sabar saja, duduk, tilawah dan berdoa, dan bershalawat. Berdoa di manapun di Masjid Nabawi tentunya sama saja kok. Daripada membuang-buang waktu dengan berdesakan lebih baik memanfaatkannya dengan berdoa.

Alhamdulillah, giliran saya masuk Raudhah tidak sepadat sebelumnya. Setelah memberi salam pada Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar bin Khattab RA, saya sempat shalat sunah dua rakaat di Raudhah. Oiya, ketika berada di depan makam Rasulullah SAW, tidak perlulah mengusap-usap makam atau berdoa menghadap makam. Sebab tidak sesuai dengan syariat. Ucapkan saja shalawat sebanyak mungkin.

Di sinilah saya banyak belajar. Ibadah itu bukan hanya sekedar memanjaatkan doa pada Allah, tapi juga bagaimana kita bisa bersabar dalam beribadah. Bersabar dengan jamaah lain dan menahan emosi jika tersakiti. Tidak layak jika kita sampai mengotori ibadah kita dengan hal-hal kecil seperti marah maupun menyakiti orang lain.

Oya, saya dengar cerita dari suami, kalau jamaah laki-laki sepertinya tidak seheboh jamaah wanita. Mungkin juga disebabkan karena Raudhah ini ada di area ikhwan. Juga karena waktu ziarah atau waktu untuk memasuki Raudhah untuk jamaah laki-laki lebih lowong (tidak dijadwal seperti untuk akhwat).

whatsapp-image-2016-12-05-at-22-28-05

whatsapp-image-2016-12-05-at-22-25-49

Makam Rasulullah SAW

whatsapp-image-2016-12-05-at-22-25-36

Karpet hijaunya. Ketika suami dapat giliran untuk melaksanakan shalat berjamaah di Raudhah

Wallahu ‘alam.

Itu sedikit cerita dari saya mengenai tempat mulia di Masjid Nabawi. Sejahtera atasmu ya Rasul Allah, sejahtera atasmu ya Nabi Allah, sejahtera atasmu ya kekasih Allah, sejahtera atasmu ya kekasih Tuhan semesta alam, semoga Allah memberi balasan kepadamu ya Rasul Allah, dari kami dengan balasan terbaik yang Dia berikan kepada seorang Nabi dan seorang Rasul dari umatnya. Aamiin aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Advertisements

4 thoughts on “Raudhah -Sang Taman Surga- dan Makam Rasulullah SAW

    • Insya Allah mbak ada rejekinya aamiin. itu makam Rasulullah SAW aja mbak, di sebelah2nya ada lag makam Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA, ada tertulis jg di pintunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s