Memori Cuci Piring


Sejak kecil saya dan kakak-adik saya selalu disuruh Mama untuk tidak lupa mencuci piring setelah makan. Minimal piring dan gelas yang habis kita pakai sendiri. Di rumah, Mama dan Papa memang jarang membiarkan cucian piring menumpuk. Mama biasanya selalu mencuci peralatan masak setelah selesai masak. Papa juga tangannya tidak bisa diam kalau lihat ada cucian di dapur menumpuk, pasti langsung selalu dicucinya.

Sewaktu ada pembantu di rumah, terkadang kami yang masih bocah ini berpikir, ah ada si bibik, ya bibik aja yang nyuci piringnya toh. Tapi Mama tidak pernah memberi ampun pada pikiran bocah kami ini. Kalau melihat kami “cuma” meletakkan piring kotor di tempat cucian, pasti suara Mama langsung menggelegar, “Siapaa ini yang piringnya gak dicuci, cuciii!!” Kami pasti langsung terbirit-birit menuju dapur dan mencucinya. Kalau lagi soleh/ah, kami akan langsung mencucinya dan sadar juga kalau memang gak boleh malas. Kalau lagi rada kurang soleh/ah, kami akan sedikit menggerutu, “Nanti juga dicuci Bibi” atau “Nyucinya habis selesai nonton tv aja.” Kalau sampai gerutuan kami terdengar Mama, sudah pasti omelan Mama akan makin terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Sementara Papa punya sikap yang berlainan. Kalau Papa melihat ada cucian piring kotor, tanpa ba-bi-bu dan bertanya bekas siapa, Papa akan segera mencucinya. Dalam hening tangan Papa bekerja satu-persatu membuat piring-piring dan gelas kotor tandas dari kotoran. Padahal ada bibik juga lho. Saya dan kakak kadang-kadang merasa tak enak dan akhirnya menawarkan jasa, “Udah Pa, nanti sama Monik aja dicucinya.” Tapi Papa cuma jawab sedikit dan melanjutkan pekerjaannya.

Lucu ya, Mama bertindak lewat ucapan dan Papa bertindak lewat perbuatan (teladan). Meski dua-duanya akan kita kerjakan, tetapi yang lebih membekas dan membuat kami sadar adalah teladan dari Papa. Tapi saya selalu bersyukur memiliki orang tua dengan kombinasi yang super seperti Mama dan Papa.

Rekaman mengenai drama cuci piring ini sepertinya sangat melekat di memori saya. Sampai saya akhirnya berkeluarga dan memiliki rumah sendiri. Saya juga jadi gak bisa tahan kalau melihat bak cucian dapur penuh dengan peralatan makan yang kotor. Rasanya ingin melihat mereka licin dan tertata lagi di tempatnya. Kebiasaan mencuci piring sendiri setelah selesai makan juga terbawa sampai sekarang. Kalau saya sedang berkunjung ke rumah orang dan ditawari makan, sambil cuci tangan saya akan sekalian mencuci piring kotor saya tersebut, sebisanya. Kalau pemiliki rumah tidak begitu mencegahnya. Yang saya pikir, satu buah piring kotor saya ini akan mengurangi beban si empunya rumah dalam beberes nanti.

Suami adalah orang pertama yang kena dampaknya akan kebiasaan cuci piring ini. Saya juga akan mengomel panjang jika ia tidak mencuci bekas piringnya ketika selesai makan. Apalagi kami punya deal. Kalau saya memasak, dia akan mencuci piring. Saya selalu beranggapan lelaki yang mencuci piring tanpa diminta adalah lelaki yang jantan, tentunya saya berkaca dari pengalaman Papa saya. Sori, definisi saya untuk lelaki jantan bukanlah yang berotot, berdada bidang, atau yang jago olah raga ya.

Suami sendiri memang memori masa kecilnya mengenai cuci piring ini berbeda 180 derajat dengan saya. Ia tidak pernah memiliki kebiasaan mencuci piring sendiri sebab selalu ada bibik yang melakukannya. Menyadari perbedaan kecil ini yaa kami melakukan deal-deal-an seperti di atas tadi. Kalau salah satu memasak, yang lainnya akan mencuci piring. Kalau salah satu sedang mengajak main anak, yang lainnya akan beres-beres dapur. Ketika kami pindah ke rumah baru dan ternyata ada dishwasher di rumah, suami senang bukan main. Tadinya saya pikir, untuk apa dishwasher toh cucian piring kami gak akan banyak-banyak. Ternyata setelah dipakai, eh enak juga yaa.. praktis amat.

Saya ternyata memiliki standar tersendiri mengenai cuci piring ini, terutama di rumah saya. Dalam pikiran saya, sesorang yang memiliki kemauan untuk mencuci piringnya sendiri setelah makan adalah orang yang bertanggungjawab dan berbudi luhur.  Saya akan senang sekali jika tamu/teman/kerabat yang berkunjung ke rumah lalu disuguhi makan, ia kemudian mencuci piringnya sendiri. Padahal saya selalu bilang sih (tulus lho), “Gak usah dicuci, ada dishwasher kok.” Tapi saya akan benar-benar mengapresiasi jika dia tetap melakukannya. Sampai suami saya komen, “Bunda ini kalau mau lihat baik enggaknya seseorang, pasti ngelihatnya dari apakah dia cuci piring setelah makan atau enggak.” Hahaha.. Saya mengakui. Aneh memang standar saya melihat ini, memangnya semua orang baik punya kesadaran sendiri untuk cuci piring?

Itu cuma hal kecil kok. Tapi kan perubahan yang besar itu memang selalu harus dimulai dari hal kecil dan tentunya dari diri sendiri. Mangkanya Mbak-mbak, kalau mau cari suami, mungkin bisa dilihat dari kebiasaan cuci piringnya. Ibu-ibu kalau mau cari mantu, bisa juga lihat dari situ *lhooo*, tentunya di luar syarat dia harus soleh ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s