Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Menanti Kelahiran Senja (3)


Selasa, 21 November 2017, pagi hari, Martini Ziekenhuis

Pagi itu, setelah saya sudah siuman dan bertemu dengan bayi saya, saya lalu dibawa ke ruang rawat inap. Semua perawat dan petugas medis yang ke ruangan saya selalu bertanya: “How are you doing? How is your feeling?”. Mereka tidak hanya memastikan kondisi si bayi baik-baik saja, tapi juga sangat memperhatikan kondisi si ibu. Soalnya kadang kondisi dan perasaan si ibu setelah melahirkan suka terpinggirkan karena bayi yang jadi fokus utama. Alhamdulillah semua perawatnya baik dan ramah. Kondisi saya masih terbaring di tempat tidur dengan gerak yang terbatas, soalnya di tangan masih terpasang infus dan juga kateter. Tugas utama saya hanya menyusui bayi saja. Perawatlah yang menangani bayi untuk ganti popok dan menidurkannya. Suami juga yang pertama kali diajarkan perawat untuk memegang bayi ganti popok, dll.

Suami menemani saya sampai pukul  10 pagi, ia mau beres-beres rumah dulu dan menjemput Runa di sekolah. Pagi hari tadi Runa tetap ke sekolah. Runa siap-siap di rumah dan diantar ke sekolah dengan bantuan tetangga-tetangga saya yang soleh dan solehah, ada Mbak Atika dan Mas Ris. Runa harusnya pulang sekolah pukul 15.00, tetapi suami ingin menjemput Runa lebih cepat, di waktu jam makan siang, pukul 12. Kami pikir pasti Runa sudah tidak sabar mau ketemu sama adiknya :).

Sorenya, Runa diantar lagi ke rumah oleh Ayahnya. Untung Runa solehah, malamnya dia tidur ditemani lagi oleh Sofa dan Yudi, sementara suami kembali lagi ke RS untuk menemani saya dan bayi. Istirahat saya sangat cukup, saya gak banyak begadang. Kalau bayi nangis, ya ada perawat dan suami yang mengurusnya. Saya cuma mimikin aja.

begini posisi bayi dan ibunya selama di RS. Enak sih, kalau bayi nangis mau nyusu, tinggal diambil dan hap mimik deh

Rabu, 22 November 2017

Perawat-perawat masih lalu lalang tiap beberapa jam ke ruangan saya, ngecek tekanan darah, ngasih obat, ngukur suhu badan, sampai ngelapin badan dan mengganti pembalut. Soalnya daku belum bisa turun dari tempat tidur kan. Kabar baiknya, di siang hari saya sudah bisa copot infus, jadi pergerakan saya sudah lumayan bebas. Sorenya bahkan saya sudah bisa lepas kateter, jadi agak lega. Rasa nyeri karena sc masih kerasa. Obat yang saya terima untuk penahan rasa sakit cuma parasetamol (kayaknya dulu di Indonesia saya dapat analgesik yg jos deh, secara parasetamol kan analgesik yang paling ringan). Sebelum memberi obat, biasanya perawat selalu menanyakan dulu pada saya: dari skala 1-10, berapa rasa sakit yang kira-kira kamu rasa? Saya menjawab ya.. 4-5-lah, Alhamdulillah memang nyerinya gak terasa terlalu parah.

Makanan yang disediakan rumah sakit tentunya gak semewah makanan di RS Indonesia, heuheu. Manalagi kalau di Indo dulu, saya udah jajan segala macem setelah lahiran, dari mulai martabak manis dan martabak asin sampai brownies dan cemilan yang dibawain ortu dan mertua. Pagi hari sarapannya cukup roti aja sama keju. Jam 10an ada buah lagi. Siangnya eh roti lagi (hadeuh..).  Makan malamnya baru hot meal. Untunglah suami bawa makanan dari rumah, juga ada masakan dari Ka Hegar, Icha, dan Nadia dibawa ke RS, Alhamdulillah, bersyukur punya kawan-kawan yang perhatian.

Sarapan pagi “cuma” sama roti, keju, susu, dan buah

Kamis, 23 November 2017

Oiya, selama dua hari di RS, saya sama sekali gak ketemu dokternya lho. Saya mikir, kemana ini dokter, apa memang gak akan melakukan kunjungan ya? Tapi memang perawat dan petugas medis yang lainnya sudah cukup sigap. Perawat yang memeriksa saya bilang kalau saya sudah baikan siang ini boleh pulang. Kalau merasa belum baikan ya sampai Jumat. Ya sudah, saya kan gak mau lama-lama juga di RS. Ingin cepat di rumah aja, biar lega. Enaknya kalau pasien mau pulang, gak usah nunggu pakai acc dokter segala atau nunggu administrasi dan pelunasan biaya dll. Semua biaya sudah ditanggung asuransi. Gak pakai lama, sesuai yang dijanjikan perawat, pukul 11 kami sudah siap pulang. Sudah ada Kraamzorg (maternity care) juga yang stand by di RS dan ikut kami pulang ke rumah. Si Kraamzorg inilah yang akan membantu kami selama 8 hari ke depan dalam mengurus bayi, mengurus saya, juga mengurus rumah. Alhamdulillah semuanya terasa lancar.

Hikmah

Alhamdulillah, setiap ibu pasti punya cerita melahirkan yang berbeda-beda tapi tetap dramatis. Banyak orang yang bilang sc itu sakit banget, mendingan lahiran normal, pulihnya akan lebih cepat. Well, saya gak bisa bandingin sih, sc atau normal bagaimana rasa sakitnya dan bagaimana masa pemulihannya, soalnya kedua proses melahirkan saya ya melalui sc. Satu yang saya rasakan, kontraksi is not my thing, I can’t deal with that. Mungkin saya memang jenis ibu yang tidak bisa melewati fase kontraksi yang hebat untuk sampai bisa melahirkan secara natural. Sudah takdirnya seperti itu. Tapi bukan berarti saya tidak merasakan kemudahan-kemudahan yang Allah berikan atas proses melahirkan melalui operasi ini. Gak penting lagilah mana normal mana sc, yang penting sehat semua.

Saya meyakinkan diri saya bahwa saya HARUS pulih lebih cepat setelah proses operasi. Bukan berarti saya tidak bisa fit lebih cepat akibat operasi sc dibandingkan dengan lahiran normal. Rasa linu, perih, sakit akibat di’belek’ dan juga setelah kateter dicopot tidak menghalangi saya untuk bisa merasa lebih sehat. Ya, saya harus lebih tegar dan gak banyak ngeluh, demi sang bayi dan juga demi Runa. Saya gak tega ninggalin Runa lama-lama di rumah. Saya juga harus bisa memberi asi buat Senja. Qadarullah saya diperbolehkan pulang lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan sebelumnya. Lagipula saya cuma dengan suami di sini, jadi gak bisa mengandalkan ortu (seperti dulu waktu saya lahiran di Bandung). Itu sih yang kemudian bikin saya lebih gak cengeng.

Jadi melahirkan di Belanda, jauh dari orang tua dan keluarga, ternyata tidak semenakutkan itu. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar 🙂

Gambarnya Runa, hadiah untuk Bunda katanya, jadi terharu :’)). *Itu bayinya masih di dalam perut

–Tamat–

Advertisements

1 thought on “Menanti Kelahiran Senja (3)”

  1. Ikut berkaca2 mengikuti proses persalinan adik Senja, jd inget gimana waktu lahiran Faiha rasanya seperti mimpi tanpa ada kehadiran ortu. tapi kemudahan itu selalu ada bersama kesulitan, cepat pulih bunda duo RS dan sehat2 semua ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s