Tentang Menulis

Setelah Menerbitkan Buku Solo? What’s Next?


Januari 2018 was a big leap for me, as an amateur writer. Cita-cita dari zaman baheula (Sunda: dulu) akhirnya bisa terwujud, Alhamdulillah, Barakallah.

Satu buku solo sudah tembus penerbit mayor, Elexmedia Komputindo. Folder berisikan kumpulan naskah tersebut akhirnya menjadi lembar-lembar yang berwujud. Finally…. Perasaan yang gak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ternyata memang butuh setahun untuk ‘membereskan’ semuanya. Setahun yang gak kerasa. Setahun yang lalu saya mendeklarasikan bahwa saya akan menerbitkan buku. Yang mana saya paling ogah sama urusan deklarasi-deklarasian, cukup disimpan dalam notes pribadi aja. But somehow the declaration works.

Kalau saya tengok ke belakang lagi, dari mulai menulis, mengumpulkan semua bahan tulisan jadi satu, mengedit, menyelesaikan dokumen kelengkapan naskah (seperti sinopsis, profil, dll), mengirimkannya ke beberapa kawan untuk diminta kritik, mengedit lagi, meminta testimoni, mengedit lagi, mengirimkan ke beberapa penerbit, ditolak, mengirim lagi, mengedit, mengirim, ditolak, sampai akhirnya bisa berjodoh dengan salah satu editor Elexmedia. Well, that was a long journey.

Setelah buku terbit, ternyata penulis gak bisa diam saja. Saya pikir kalau terbit di penerbit mayor maka penulis tinggal ongkang-ongkang kaki saja nunggu buku dibeli oleh khalayak dan nunggu royalti turun. Iya sih kalau case-nya penulis tersohor cem Andrea Hirata atau Tere Liye. Lha newbie kaya si daku? Bisa aja sih mau diam saja, tapi masa tega “anak yang baru dilahirkan” ini ditelantarkan begitu saja, heuheu. Saya juga harus memperjuangkan nasibnya agar bisa sampai ke pembaca.

Selama memiliki mimpi untuk menerbitkan buku, jujur ni yah, saya gak mikirin soal berapa materi atau keuntungan yang akan saya dapat dari hasil penjualan buku. Maksudnya saya gak ngejar buku harus laku dan jadi best seller. Bisa terbit aja udah syukur, kalau buku bisa laku keras ya itu bonusnya. Tapi kemudian, mau gak mau saya juga harus berusaha mendistribusikan Si Sulung saya ini ke pembaca yang berminat baca, tapi gak ada kesempatan untuk ke toko buku.

Saya pun mengambil “jatah” buku dari penerbit untuk saya jual sendiri. Tentunya ya saya promosikan, lalu ketika ada pelanggan, saya harus mencatat alamatnya dan mengurus transaksi dan pengiriman. Beruntung alhamdulillah ada Mama dan Kakak saya di Bandung yang bersedia direpoti untuk urusan packing dan kirim. Tapi ternyata berdagang tetap bukan kelebihan saya. Saya merasa dengan promosi dan mengurusi calon pembeli cukup menyita waktu. Padahal sebenarnya gak segitunya banget sih, saya aja orangnya suka rempongan. Dan tentu lebih enak kalau saya sendiri yang bisa mengurusi urusan pendistribusian buku tanpa ngerepotin Mama dan Kakak. Belum lagi buku-buku ini ingin saya angkut ke Groningen dan saya jual di sini, tapi memang belum nemu metode pengangkutan dari Indo ke Belanda yang simple dan murah, mwahaha..

Saya sedikit banyak kehilangan waktu yang biasa saya habiskan untuk berkontemplasi dan menulis. Saya jadi sibuk di medsos dan menghubungi ini itu, kadang merasa tak enak kalau belum membalas pesan orang. Kelebihan lainnya saya jadi diminta untuk mengisi beberapa kelas online mengenai menulis. Saya senang banget bisa berbagi pengalaman dan ilmu saya yang sedikit, tapi ternyata saya tidak begitu menikmati “spotlight” (Cih, sok beken kau Mon, haha). Tapi saya kembalikan lagi deh ke innamal a’malu binniyat. Semoga apa yang saya bagi bisa jadi amal jariyah buat saya, meski secuil.

Nah, 2018 sudah hampir menginjak bulan ketiga. Saya belum menyelesaikan naskah apapun lagi. Padahal ingin lagi disibukkan dengan ritme menulis seperti dulu, yang menggebu-gebu. Saya gak ingin cepat berpuas diri, sebab ini baru saja tembus karya solo yang pertama. Memang mau berhenti di situ aja? Enggak sih Insya Allah. Tapi mungkin sedang banyak hal yang saya harus urus belakangan ini, terutama adiknya Runa. Padahal Adeknya Runa anteng lho, tidurnya gak terlalu bikin begadang dan rungsing (kayak Runa dulu), ini emaknya aja yang gak pinter memanfaatkan waktu.

Jadi pembaca yang budiman, doakan saya untuk bisa mulai melanjutkan lagi proyek menulis saya. Masa iya harus pake deklarasi-deklarasian lagi, ah embung.

 

Advertisements

8 thoughts on “Setelah Menerbitkan Buku Solo? What’s Next?”

  1. Banyak pengalaman baru ya mbak ketika sudah menerbitkan buku solo 🙂 saya salah satunya saat diminta ttd dan kata-kata manis pengantar sebelum ttd. Astagaaa… ternyata tulisan tangan saya jelek sekali 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s