Catatan Haji 1437 Hijriyah, Diary Perjalanan Haji

Diary Haji 2016 – Lima Hari di Madinah (part 1)


Jum’at, 2 September 2016

Jum’at, hari baik, hari penuh berkah. Di hari itu pulalah kami rombongan Haji dari Euromuslim juga akan bertolak dari Schiphol menuju Madinah, Arab Saudi.

Tidak ada iring-iringan, tidak ada rombongan yang mengantar kami dari Groningen, apalagi ada tanjidoran (emangnya Si Doel yang mau berangkat haji). Hanya ada saya dan suami berangkat dalam diam, naik bis dari rumah menuju stasiun Groningen. Kami hanya membawa dua koper besar dan menggendong ransel masing-masing. Musim panas saat itu terasa lebih mellow. Terlebih saya teringat Runa yang ditinggal di Bandung bersama Mama Papa saya.

Di stasiun Groningen ternyata ada Pak Taufiq dan Mbak Frita yang melepas kami. Alhamdulillah suasana jadi gak sepi-sepi amat. Terima kasih Pak Taufik, Mbak Frita.

Pukul 15.30 adalah jadwal yang ditentukan dari Euromuslim untuk berkumpul di Schiphol. Beberapa rekan kami di antar oleh keluarganya, anaknya, maupun kawan-kawannya. Lagi-lagi kami sedikit masygul, tapi cuma sebentar, sebab kami mulai disibukkan dengan pembagian tiket dan ID dari Euromuslim dan Diwan (rekanan travel dari Euromuslim). Ternyata jamaah Haji dari Diwan banyak juga, jamaah Indonesia sendiri yang berangkat bersama Euromuslim sekitar 30 orang. Keseluruhan jamaah dengan Diwan ada 180 orang. Kami bertemu jamaah Maroko, Turki, Belanda, Pakistan, dll. Bervariasi juga ternyata jamaahnya Diwan.

Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya
Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya
Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya. Ada yang bertangis-tangisan lho

Kami naik Turkish Airlines dengan 3,5 jam penerbangan. Saya lupa pesawat kami berangkat jam berapa, pokoknya kami tiba di Istanbul sekitar pukul 00.30. Kami hanya transit sebentar lalu naik pesawat lagi dan sampai di Prince Mohammad bin Abdulaziz International Airport atau Bandara Madinah pukul 05.00 pagi.

Sabtu, 3 September 2016

Ternyata penerbangan yang memakan waktu semalaman ini cukup menyita energi juga, sebab kami tidak banyak tidur ketika di perjalanan. Antara deg-degan dan antusias campur jadi satu. Kami masih harus bersabar lagi setelah sampai bandara karena banyak urusan yang berhubungan dengan tunggu-menunggu dan mengantri. Mulai mengantri cek vaksin, menunggu imigrasi, menunggu antrian untuk pengecekan paspor, scan jari, dan foo.

Urusan tetek bengek masih berlanjut. Ambil bagasi, scan bagasi, masuk ke ke counter berikutnya untuk cek paspor. Rasanya lelah dan ingin cepat-cepat ngegoler. Kami masih harus menunggu bus datang, lalu petugas mulai mengatur koper dan akhirnya kami bisa duduk di bus. Perut sudah mulai keroncongan, untunglah saat di bus kami diberi konsumsi berupa kurma, roti, dan air. Sepertinya itu adalah fasilitas dari pemerintah Arab Saudi. Oiya, lalu paspor kami pun dikumpulkan. Jadi selama di Madinah dan Makkah, kami diberi tanda identitas lain, berupa gelang.

Gelang identitas haji, yang hijau sebagai pengganti paspor, penanda bahwa kami adalah jemaah haji dari Eropa. Gelang yang putih merupakan tanda masuk maktab di Mina

Pukul 09.30 kami sampai di hotel. Saya lupa nama hotelnya apa. Hotel bintang lima dengan jarak sekitar 200 meter ke Masjid Nabawi. Alhamdulillah masih kebagian sarapan. Saya sekamar dengan tiga orang lainnya, Mbak Indri, Mbak Vicka, dan Mega. Bersyukur banget punya roomate yang baik hati dan sigap. Mbak Indri dan Mbak Vicka sudah kayak kakak sendiri. Mereka sudah pernah umrah, jadi lebih tahu gimana kondisi di Madinah dan Makkah. Mega kayak adik saya, kami banyak belajar dari senior nih, hehe.

Gak lama setelah sampai di kamat,  kami pun segera mandi, beres-beres barang, dan istirahat, sampai sebelum zuhur tiba. Gak sabar ingin segera salat zuhur di Masjid Nabawi. Makan siang sayangnya tidak disediakan di hotel, jadi kami harus mencari tempat makan di sekitar Masijd Nabawi. Tidak susah sebenarnya, banyak restoran dan toko di sekitaran Masjid Nabawi. Awalnya sih kami bingung cari tempat makan, rasanya semua penuh dan antri. Setiap tempat makan dipadati jamaah haji dan jamaah masjid. Tadinya kami ingin mencari makanan khas Indonesia, katanya banyak kan, ada bakso sampai ayam bakar segala. Tapi akhirnya pilihan jatuh ke fast food terdekat di sekitar sana. Masih belum on nyari-nyari lokasi resto Indonesia.

Makan siang pertama kami di Madinah

Salah satu yang diincar setelah sampai tanah suci Madinah dan Makkah tentunya ait zam-zam. Air zam-zam di sekeliling Masjid Nabawi maupun di dalamnya berada di tong-tong air. Persediaan air zam-zam selalu penuh, rajin diisi oleh para petugas. Kami stay di Masjid Nabawi sampai Ashar. Banyak ibadah yang bisa dilakukan di sana, rasanya damai sekali bisa menghabiskan waktu di Masjid Rasulullah ini.

Oh iya, selama mobilisasi dari hotel ke Masjid, biasanya saya selalu bareng dengan suami dan dua atau tiga pasangan suami istri lain (yang sekamar dengan kami). Kami berpisah di gate khusus jamaah wanita dan pria. Di masjid, saya selalu bersama dengan kawan-kawan sekamar saya itu. Biar terasa lebih nyaman. Ketika pulang dari Masjid Nabawi, biasanya saya dan suami janjian lagi di depan pintu utama Masjid Nabawi.

Selepas Ashar, kami pulang ke hotel, mandi, istirahat sebentar, lalu siap-siap Magrhib dan Isya ke Masjid. Tidak disangka ternyata Maghrib adalah waktu-waktu di mana Masjid Nabawi dipadati jamaah. Setelah Isya berakhir, kami baru ke hotel lagi. Yeay, dinner disediakan hotel! Alhamdulillah.

Baca selengkapnya mengenai Madinah dan Masjid Nabawi

Minggu, 4 September 2016

Saya terbangun pukul 03.00 pagi. Padahal biasanya bangun jam segitu tuh pe-er banget. Mungkin efek ada di kota Madinatun Nabi rasanya ingin cepat-cepat balik lagi ke Masjid Nabawi. Saya segera cuci muka dan sikat gigi, janjian sama suami untuk tahajud sambil menunggu subuh di sana.

Subuh pertama itu tidak terasa saja, antara mengantuk tetapi juga ingin berdoa rasanya. Pukul 07.00, ternyata askar memberitahu jamaah, “Ziarah, ziarah!” katanya.

Saya masih belum ngeh. Saya tanya balik, “Raudhah?”

Ia mengangguk. Saya belum gimana tata cara ziarah ke Raudhah. Baca lengkapnya di sini –> Raudhah

Ternyata gate menuju Raudhah baru dibuka sekitar jam 07.00 lebih. Gerbang berikutnya dibuka pukul 07.30. Waduh ternyata antusiasme jamaah wanita sangat luar biasa. Begitu gerbang dibuka, mereka berlari ke dalam. Saya yang belum paham, ikut juga deh lari ke arah yang mereka tuju. Askar sudah sibuk mengendalikan jamaah agar tertib. Momen berdesak-desakan pun terjadi, saya terpisah dari dua kawan saya. Ya sudahlah, badan saya ikut terseret arus manusia menuju Raudhah. Hari pertama ziarah, saya tidak sempat salat di Raudhah (sempit dan desek-desekan banget). Saya hanya bisa memberi salam pada makam Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar bin Khattab RA. Saya berdoa mudah-mudahn masih ada kesempatan yang lebih kondusif ketika ke Raudhah.

Selesai dari Raudhah sudah pukul 08.00 atau 09.00 saya lupa, yang pasti perut sudah lapar sekali. Akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan kawan saya yang terpisah, kami pun ke hotel dan sarapan.

Misi berikutnya setelah tenaga terisi adalah: mencari simcard. Penting banget simcard ini sebagai sarana komunikasi selama di tanah suci. Harus janjian sama suami, sama kawan, dan update informasi dari grup WA Euromuslim. Tapi entah mengapa kok mau beli simcard susah sekali. Antrian di counter STC, Mobily, dan Zain (prepaid simcard Saudi) mengular di mana-mana. Katanya baru tahun 2016 ini kalau mau beli simcard resmi perlu banyak prosedur: harus menunjukkan paspor, barcode, dan fingerprint pulaPadahal kan paspor sudah dikumpulkan ya. Pokoknya harus menunjukkan identitas dirilah. Kalau beli langsung di counter, memang harganya murah, 30 real sudah paket internet lengap. Ada juga simcard yang dijual oleh calo. Mereka berkeliaran di sekitar counter, menawarkan simcard pada jamaah yang mengantri. Harganya tidak tanggung-tanggung ternyata, dua kali lipatnya! 70 real belum dengan paket internet, kalau dengan paket internet harga di atas 100 real, tergantung kita mau beli berapa giga. Kami sempat dibuat rempong dengan urusan simcard ini. Tapi mudah-mudahan makin ke sini jadi lebih mudah lah ya.

Setelah drama per-simcard-an, kami ke hotel dan istirahat biar segar lagi, sebab nanti setelah zuhur kami akan berkunjung ke Masjid Quba, salat ashar di sana lalu ke Makam Uhud. Pukul 14.30 rombongan haji Diwan dan Euromuslim sudah siap berangkat. Oiya selama di bus, rombongan yang orang Indonesia senantiasa satu bus, sebab jumlah kami kan lebih sedikit ya daripada mereka.

Di Masjid Quba, kami menunaikan salat Ashar. Selama perjalanan, kami senantiasa menjaga wudu, seperti yang sudah dinasihatkan sebelumnya, sesuai hadits. Mendirikan shalat di Masjid Quba memiliki keunggulan tersendiri, seperti tertuang dalam hadits: “Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid Quba & shalat di dalamnya dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala umrah.” (Ibn Majah no. 1412).

Mesjid Quba

Kami tentu ingin mendapatkan keutamaan itu, menjaga wudu sampai bisa salat di Masjid Quba. Tapi pesan saya, agak hati-hati juga nih kalau mau menjaga wudu, jangan sampai terlalu memaksakan. Ada pengalaman dari kawan saya ketika selepas salat di Quba. Ketika sudah di bus, tiba-tiba ia merasa sakit perut yang sangat. Seperti mau pup gak bisa ditahan gitu lho. Buru-buru kan kami minta supir bus supaya nyari toilet terdekat. Tapi susah juga gak bisa asal berhenti. Entah gimana waktu itu akhirnya, sakit perutnya bisa ditahan, dan di daerah makam Uhud baru ke WC.

Nah katanya, Si Kawan saya ini nahan kentut atau nahan pup apa ya selama perjalanan dari Masjid Nabawi (sudah berwudu) sampai selesai salat di Masjid Quba. Terus perutnya berontak apa gimana gitu, akhirnya perutnya melilit banget. Dia sampai meringis kesakitan.

Oke, drama selesai, alhamdulillah. Kawan saya sudah membaik. Selanjutnya, kami sampai di daerah Uhud. Makam Uhud, tidak terlihat seperti pemakaman di Indonesia yang ada nisan dan disemen. Ustadz muda  bernama Saddam Husain (mahasiswa di Univeristas Madinah yang juga megiringi jamaah haji Euromuslim) bercerita di bus mengenai Uhud.  Di peperangan tersebut 70 sahabat Rasulullah SAW syahid, termasuk Hamzah bin ‘Abdul Muthallib RA dan Mus’ab bin Umair RA. Para syahid dimakamkan di Makam Syuhada Uhud. Hanya makam Hamzah dan Mus’ab bin Umair  yang terpisah. Kedua makam tersebut dipagar di sekitar Uhud. Para penziarah tidak bisa masuk, hanya bisa melihat dari luar pagar saja.

Mendengar cerita mengenai Uhud, saya jadi nyesnyes cirambay. Dari dulu cuma tahu sekilas saja mengenai perang Uhud. Kali ini mendengar dan melihat makan para syuhada langsung, hati saya merasa sangat terharu, sedih, dan merasa kecil di hadapan Allah.

Selepas dari Uhud, kami pun segera diantar kembali ke Madinah. Kami hanya melewati Masjid Qiblatain, tetapi tidak turun. Soalnya sudah mepet Magrib, Ustadz Saddam kembali bercerita singkat mengenai Masjid QIblatain. Masjid tersebut dinamakan Qiblatain (masjid dengan dua kiblat) karena adanya wahyu pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) ke Masjidil Haram di surat Al Baqarah: 144.

Haru cepat sekali berlalu, Magrib dan Isya kami langsungkan di Masjid Nabawi. Kembali ke hotel dan istirahat. Mau cari oleh-oleh ataug gamis? Bisa banget di malam hari. Saya sempat juga tuh setelah Isya mamoir ke pasar India di depan hotel. Asal ga kecapean dan kalap juga sih pas belanja, hehe. Tapi overall meski pilihan belanjaan dan oleh-oleh lebih banyak di Makkah. Saya merasa lebih nyaman berbelanja di Madinah.

Senin, 5 September 2016

Apaaah sudah Senin lagi?? Waktu cepat banget berlalu. Antara dagdigdug, takut, antusias, semangat, berbagai macam perasaan campur aduk menyambut hari-hari manasik haji. Sementara diri ini masih menikmati kota Madinah yang damai.

Subuh di hari Senin itu berbeda, saya mengikuti tilawah tahsin yang diadakan oleh para ustazah di spot-spot Masjid Nabawi. Saya sangat merekomendasikan kalian untuk ikut kegiatan tersebut. Tahsin for visitor ini gratis kok dan hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit saja. Paling kita hanya diminta menyetor bacaan Alfatihah dan surat pendek, mereka akan membenarkan tajwid kita. Boleh juga membaca surat yang lain. Kekurangannya, tidak semua ustazah fasih berbahasa Inggris. Komunikasi ya dengan bahasa Arab.

Selepas sarapan, Mbak Vicka mengajak saya berlanja kurma di pasar kurma. Dari Mbak Vicka saya jadi tahu ada kurma susu (sukkary), kurma maryam (kurma mabroom), kurma ajwa, kurma ambhar, kurma muda, kurma majdoul, dan lain-lain. Katanya kalau beli kurma di pasar ini bisa lebih murah dan tentunya lebih beragam. Tidak hanya kurma, ada juga produk kurma olahan, seperti cokelat isi kurma, kurma isi kacang, kismis, biskuit selai kurma, dll. Oiya, letak pasar ini masih di pusat kota. Jaraknya sekitar setengah kilo dari Masjid Nabawi, ke arah selatan. Kira-kira hanya 10 menitan lah. Menurut saya (lagi) beli kurma di Madinah lebih enak daripada di Makkah.

Pasar Kurma Madinah

Zuhur tiba, tentunya kami menuju Masjid Nabawi lagi. Berita baiknya, kami sudah menemukan restoran Indonesia yang menjual makanan khas tanah air. Banyak kok ternyata, tidak usah khawatir. Ya Allah, untuk kami yang tinggal di Belanda, nemu resto/kios makanan dengan ragam dan rasa yang sesuai lidah banget rasanya Masya Allah, Alhamdulillah banget.

Sore hari, setelah Ashar, rombongan haji Euromuslim diajak bertandang ke Pameran Al Qur’an (Museum Al Qur’an). tempatnya persis di depan Masjid Nabawi. Saya terhanyut mendengar penjelasan dari Sang Pemandu mengenai sejarah Al Qur’an, sirah, dan beberapa tafsir dari ayat Al Qur’an. Ada sejarah penulisan Al Qur’an dari zaman Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, sampai disimpan dalam bentuk mushaf. Ada Al Qur’an terbesar di dunia, ada Al Qur’an yang ditulis dengan tinta emas, dan sebagainya.  Penjelasannya dalam bahasa Indonesia kok, soalnya ia juga mahasiswa dari Universitas  Madinah. Seluk-beluk dan isi museum ia jelaskan dengan detail.

Padat merayap, selesai dari museum langsung dilanjut Maghrib dan Isya di Masjid Nabawi.
Lalu tidur deh, siap-siap besok hari

bersambung ke part 2

 

Advertisements

1 thought on “Diary Haji 2016 – Lima Hari di Madinah (part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s