Catatan Haji 1437 Hijriyah, Diary Perjalanan Haji

Diary Haji 2016 – Manasik Haji part 3


Part 1 bisa dibaca di sini, part 2 bisa dibaca di sini

Senin, 12 September 2016

HARI IDUL ADHA – 10 Dzulhijjah

(Rangkuman) Amalan-amalan di hari Idul Adha

  1. Setelah salat Subuh di Muzdalifah dan langit terang, bersiaplah untuk berangkat ke Mina sambil bertalbiyah dan berzikir
  2. Melempar jumratul ‘aqabah dengan tujuh batu kerikil. Melempar kerikil dengan bertakbir: Allahu Akbar!
  3. Setelah selesai melempar jumrah, berhenti bertalbiyah
  4. Setelah selesai jumratul ‘aqabah, kenakanlah pakaian biasa dan minyak wangi. Semua larangan ihram sudah halal kecuali berhubungan suami istri
  5. Menyembelih hadyu di Mina (sudah diurus oleh pihak Euromuslim dan Diwan)
  6. Tahallul, untuk perempuan cukup menggunting seruas jari. Untuk laki-laki baiknya mencukur habis rambut. Rasulullah SAW mendoakan orang yang mencukur gundul rambutnya saat tahallul akhir.
  7. Menuju Makkah untuk tawaf ifadhah dan sa’i (tidak harus hari yang sama sih, pasti kan lelah ya setelah sebelumnya berada di Mina-Arafah-Muzdalifah). Banyak yang mengakhirkan tawaf ifadhah setelah menyelesaikan ibadah lempar jumrah di hari terakhir. Sementara saya, suami, dan beberapa rekan lainnya melaksanakan tawaf ifadhah di hari tasyriq.

… sambungan

Ketika muslim di seluruh dunia sedang merayakan Idul Adha, salat Id, makan ketupat dan opor, berkumpul dengan keluarga, dan siangnya memotong kurban. Ternyata di belahan bumi lain, di tanah suci, di padang pasir jazirah Arab, ada hampir dua juta jamaah haji sedang berjuang untuk menyelesaikan ibadah haji.

Saya terbangun-bangun malam itu sampai subuh. Badan terasa sakit-sakit. Tentunya hal ini gak ada apa-apanya. Terbayang orang yang gak punya rumah, setiap hari tidur tanpa kasur, di tempat terbuka. Ini cuma sehari aja, rasanya berat ya, Masya Allah. Subuh menjelang. Teringat kerikil untuk lempar jumrah, kami pun akhirnya menyempatkan diri memunguti kerikil-kerikil di sekitar. Mudah saja, banyak kok stoknya.

Kami siap-siap salat Subuh. Tapi akses ke kamar mandi atau tempat wudhu agak sulit. Memang ada WC/kamar mandi portable gitu, tapi hanya sedikit (atau mungkin di sekitar tempat kami tidak terlihat banyak). Kan kebayang ya WC terbatas dan dipakai sejuta umat. Untung saja saya gak kebelet pipis. Akhirnya wudu kami lakukan dengan air dari botol. Note: bawa botol air untuk wudu di Muzdalifah, takutnya tidak ada akses ke kamar mandi.

Saya dan beberapa kawan dari rombongan Euromuslim akhirnya salat Subuh berjamaah. Hari sudah terang. Kami kembali lagi disibukkan dengan kegiatan: menunggu. Bus-bus lalu lalang menjemput jamaah menuju Mina. Para jamaah mengantri naik, ada sedikit momen rebutan bus, heuheu. Untunglah masih terkendali. Kami sampai maktab Mina sekitar pukul 07.00. Gak nunggu lama, saya langsung mandiii, membersihkan diri. Rasanya badan bentuk dan baunya sudah gak jelas.

Suasana di pagi hari Muzdalifah, saat bus-bus menjemput para jamaah menuju Mina
Dari Muzdalifah banyak juga para jamaah yang berjalan kaki menuju Mina dan ada yang langsung menuju jjamarat

Perut lapar, belum ada konsumsi dibagikan. Untungnya saya masih punya persediaan popmie. Jadi deh nyeduh pop dan bikin teh anget. Alhamdulillah.. rasanya itu adalah sarapan ternikmat di dunia. Oiya di maktab Mina disediakan banyak botol air minum dan juga water cooker. Hanya kadang stok water cookernya sedang tidak ada, mungkin banyak yang memakai. Teman satu maktab saya bawa sendiri water cooker dari Belanda, saya jadi bisa nebeng. Note: Bawa water cooker, teh-kopi-gula sachet juga merupakan ide bagus, kalau bagasi mencukupi.

Pukul 09.00 kami diberi tahu untuk siap-siap untuk melakukan jumrah ‘aqobah. Jarak dari maktab Mina kami sampai lokasi jamarat sekitar jalan 4.4 km. Di sepanjang perjalanan menuju jamarat suasananya tidak terlalu padat. Tapi panasnya luar biasa. Dari dulu saya sering mendengar kabar mengenai tragedi Mina, ada jamaah haji yang terinjak-injak ketika sedang lempar jumrah, dan berita negatif lainnya. Apalagi di tahun 2015 (setahun sebelum saya haji) ada juga kejadian tragis di Mina dan lainnya. Saya agak khawatir. Tapi saya tetap berdoa semoga ibadah lempar jumrah ini lancar dan aman.

Alhamdulillah ternyata ibadah lempar jumrah tidak terlalu ramai. Pak Said, dan kedu austadz Euromuslim memandu kami menuju jamarat aqabah. Tanpa menunggu lama, pelemparan tujuh kali kerikil berlangsung cepat. Kami mengambil jamarat yang di level 3. Saya baru paham ternyata jamarat itu dibuat bertingkat-tingkat untuk menghindari penumpukan masa. Note: bawa selalu air putih di tas, soalnya selama jalan pasti akan haus karena panas. 

Dari jamarat kami kembali ke penginapan di Aziziyah. Jarak tempuh sekitar 800 km. Pukul 11.00 kami sudah sampai di penginapan. Lega rasanya, alhamdulillah. Saya pun mandi (lagi) soalnya keringatan parah pas jalan dari Mina-jamarat-Aziziyah. Setelah itu saya dan suami cari makan siang.

Asar sampai Maghrib kami bisa istirahat, beres-beres, nyuci baju (jika ingin). Kebetulan ada jemuran di atas penginapan. DIjamin gak sampai beberapa jam dijemur, pakaian sudah kering. Setelah Maghrib kami harus segera berangkat lagi ke Mina, kan harus bermalam di Mina. Tapi Masya Allh ternyata perjalanan dari Aziziyah ke Mina terasa jauh dan berat. Eh kita jalan kaki lho. Gak ada angkutan umum atau bus lagi yang akan ngangkut-ngangkut kita. Well, memang tidak disediakan. Sampai tenda sudah pukul 21.00, kaki saya sudah tidak berasa lagi saking capeknya.

Di sepanjang jalan menuju Mina dan lokasi jumrah, banyak jamaah haji yang duduk-duduk dan melepas lelah di sana. Tetapi para askar yang berpakaian seperti tentara mengusr mereka, ada yang pakai mobil pula. Sirinenya mangaung-ngaung di untuk mengusir jamaah yang menggelar badan di sana. Memang tidak boleh ada jamaah yang “menetap” di sekitar jamarat, mungkin alasannya agar di sana tidak penuh dan tidak menghalangi jalan.

Sampai di tenda Mina, kami masih sempat makan malam dan isitrahat… Semoga kaki ini masih kuat diajak jalan besok hari, sebab kami akan melakukan rute yang sama lagi.

Note: Jadi dalam tiga hari melakukan lempar jumrah, kami PP dari Aziziyah-Mina. Paginya-siang kami di Aziziyah untuk istirahat dan beres-beres. Malamnya kami  menuju jamarat, lempar jumrah lalu kami menginap di Mina. Paginya kami kembali lagi ke Aziziyah. Begitu sampai ibadah lempar jumrah selesai.

Selasa, 13 September 2016

HARI TASYRIQ ke 1 – 11 Dzulhijjah

(Rangkuman) Amalan-amalan di hari tasyrik:

  1. Melakukan lempar jumrah tiga kali berurutan: jumrah shughra, wustha dan ‘aqabah (kubra). Sunahnya memang dilakukan saat matahari tergelincir (masuk waktu Zuhur). Tetapi, kami menurut saja apa yang diinstruksikan oleh rombongan. Ada jadwal-jadwal melempar yang baik dilakukan, agar tidak terlalu ramai di jamaratnya. Kami baru melempar jumrah setelah Maghrib sambil jalan menuju Mina dan menginap di maktab.
  2. Melempar jumrah shughra dengan tujuh kerikil sambil mengucapkan: Allahu Akbar di tiap lemparan. Setelah melempar jumrah shuhgra, berdoa ke arah kiblat dengan doa yang panjang dan banyak. Sesuai berdoa, menuju jumrah wustha, melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan jumrah aqabah.
  3. Malamnya bermalam kembali di Mina

Hari Tasyriq, kami berangkat dari Mina pukul 6.30. Lebih enak berangkat pagi agar belum terlalu panas dan juga banyak bisa dilakukan di Aziziyah. Saya, suami, dan beberapa rekan lainnya ingin segera menyelesaikan rukun haji yaitu tawaf dan sa’i. Akhirnya pukul 08.00 kami berangkat ke Masjidil Haram, dibimbing oleh Ustadz Rolly. Tricky juga mau ke Masjidil Haram, sebab kami harus menggunakan angkutan umum. Kami mencegat bus di jalan besar Aziziyah. Untungnya Ust. Rolly bisa bahasa Arab, jadi ia yang melakukan tawar-menawar dengan supir bus. Kami membayar 30 riyal per orang (padahal katanya tarif biasa itu cuma 2 riyal per orang, ya namanya juga musim haji). Jalanan macet dan banyak yang ditutup, akhirnya menjelang siang baru kami sampai di dekat Masjidil Haram. Kami ngadem dulu di Zamzam Tower dan makan siang di food court mall-nya. Mengisi tenaga untuk tawaf dan sa’i.

Kami pun salat Zuhur di Masjidil Haram. Setelahnya kami melangsungkan tawaf di lantai dasar (di dekat Ka’bah). Puanassssnya Masya Allah, hanya untungnya tidak terlalu ramai. Sekitar 30 menit, tawaf pun selesai. Kami pu salat sunah dan minum air zamzam. Kemudian dilanjut dengan sa’i. Kaki sudah mulai terasa kebas karena sudah banyak dipakai jalan. Sa’i memakan waktu hampir 1,5 jam. Pukul 14.30 kami sudah selesai.

Kami harus langsung menuju Aziziyah. Rasanya ingin istirahat, kan masih harus jalan malamnya ke jamarat dan ke Mina. Menuju Aziziyah kali ini kami mengambil taksi. Masih harus tawar-menawar lagi biar gak dikasih harga selangit. Akhirnya kami bayar 100 riyal untuk satu taksi (dalam taksi ada empat orang, jadi 100 riyal bagi empat). Pukul 16.30 kami sampai di Aziziyah, alhamdulillah.

Perjuangan belum berakhir, Bung! Setelah Maghrib kami masih harus jalan lagiiii…. ke jamarat dan Mina. Ya Allah ini perjalanan terjauh saya (dengan kaki) dalam satu hari. Kaki saya rasanya mau copot, tapi harus tetap menabahkan diri. Gak boleh ngeluh, apalagi marah. Gak boleh misuh-misuh, apalagi ngomel. Ujian sebenarnya ini…

Kalau ditotal-total dan ditrack, jarak tempuh kami dalam sehari itu: hampir 32 km dalam 7 jam-an terpisah).

Perjalanan menuju jamarat, setelah Maghrib
Perjalanan menuju jamarat

Rabu, 14 September 2016

HARI TASYRIQ ke 2 – 12 Dzulhijjah

(Rangkuman) Amalan-amalan di hari tasyriq kedua:

  1. Amalan yang dikerjakan saat 12 Dzulhijjah sama dengan saat 11 Dzulhijjah. Yaitu melakukan lempar jumrah shughra, wustha, ‘aqabah.
  2. Bisa memilih nafar awal atau nafar tsani.

*Nafar awal: jamaah melontar jumrah hanya di tanggal 10, 11, 12 Dzulhijah. Lalu bermalam di Mina duamalam saja, lalu setelahnya meninggalkan Mina menuju Makkah pada 12 Dzulhijah sebelum matahari terbenam. Total krikil yang dilontar jama’ah nafar awal adalah 49 butir.

*Nafar tsani atau nafar akhir: jamaah melontar jumrah pada tanggal 10, 11, 12 dan 13, lalu menginap di Mina selama tiga malam dan meninggalkan Mina menuju Makkah pada 13 Dzulhijah. Total batu yang dilontar sebanyak 70 butir.

Seperti hari sebelumnya, pagi hari kami sudah jalan dari maktab Mina menuju Aziziyah. Sore kami berangkat lagi untuk lempar jumrah shughra, wustha, ‘aqabah yang kedua. Lalu bermalam di Mina. Entah mengapa suasana di tenda tidak sepadat sebelumnya. Mungkin beberapa rombongan memilih nafar awal dan langsung ke Mekkah. Rombongan kami memilih nafar tsani. Jadi kami masih harus melakukan lempar jumrah yang terakhir esoknya.

… bersambung ke bagian minggu terakhir di Makkah

Suasana maktab di Mina. Pagi hari kami bisa makan pop mie dan menyeduh teh/kopi hangat. Maafkan penampakan suami yang sudah botak ini haha.. Ini sudah tahallul akhir
Banyak yang memenfaatkan tali-tali yang berseliweran di maktab ini jadi jemuran. Mungkin mereka memang tidak memiliki penginapan singgah, seperti kami di Aziziyah. Jadi mereka benar-benar tinggal di Mina seharian itu.
Advertisements

2 thoughts on “Diary Haji 2016 – Manasik Haji part 3”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s