Mommy's Abroad

“Dirijek, dirijek, dirijek aja”


Beberapa pekan lalu saya mengerjakan review manuskrip yang disupervisi oleh supevisor saya. Jadi dalam hal ini saya bertindak selaku reviewer yang diamanahi sebuah jurnal untuk mengecek “kepantasan” suatu manuskrip untuk layak terbit atau tidak. Jurnal tersebut lumayan ternama, masih Q1 di area medicine, edpidemiology, dan pharmacology.

Merupakan pengalaman yang menarik, sebab saya harus mengkritisi isi paper tersebut. Biasanya kan saya, sebagai PhD student, yang selalu kena kritik. Tentu ketajaman saya mengkritik masih selow, dibandingkan dengan si Ibuk supervisor. Dia bisa melihat dari sisi depan-belakang-kiri-kanan kekurangan dan kelebihan paper tersebut. Di beberapa tempat, si Ibuk juga sepakat pada poin-poin strong and weakness poin yang saya tuliskan di review. Sebagai reviewer, kita hanya berhak memberikan penilaian, tapi pertimbangan untuk rejection dan acceptance itu dari pihak editor jurnal. Jadi ya serah editornya. Editor akan menimbang dari kesimpulan major and minor concern dari beberapa reviewer yang dia tunjuk.

Baru kemarin ternyata saya diforwardkan email dari editor tersebut, bahwa paper tersebut bernasib malang. Ah sayang sekali paper tersebut kena reject. Padahal saya sangat mengapresiasi kerja keras authors dalam menuangkan risetnya ke paper tersebut. Saya membayangkan juga bagaimana dia bisa menghasilkan paper tersebut dengan banyak results, figures, dan tables. Pasti sang PhD tersebut pontang-panting menyelesaikannya (ngaca sendiri). Selain daripada dia juga menyitasi paper saya, ehem.. saya sebenarnya berharap papernya di-accept oleh jurnal tersebut. Menurut pandangan editor, dari dua reviewers, kesimpulannya ada major points yang harus diselesaikan dan nampaknya untuk sekarang mereka menolak dulu.

Saya jadi berkecil hati, membayangkan nasib paper saya yang sudah 3 minggu ada di meja editor RSAP (silakan gugling sendiri kepanjangan jurnalnya). Eh, gak berapa menit setelah saya menerima email forward-an di atas. Saya juga dapat email dari jurnal tersebut. Gak baca judul email udah deg-degan, kali aja paper saya kali ini diterima, terserah deh mau banyak banget revisiannya gak papa, asal masuk dulu.

Taunya… lagu mehe itu kemudian terngiang di telinga saya, “dirijek, dirjek, dirijek aja..”. Kalo penasaran lagunya bisa cek aja lagunya, yang nyanyi (siapa) Janeta gitu.

Ya Allah kena rijek lagi paper aku.. Sama yang ini udah empat kali. Udah dalam setahun iiniiiii…… Kapan paper yang ini bisa bucat (sundanese: pecah) dari dirikuuu.

Sakitnya ditolak jurnal lebih sakit daripada ditolak cintanya.. Maklum belum pernah ngerasain cinta ditolak sih, mwahaha..

Anyway, it’s just another Friday. And Alhamdulillah it’s Friday, and a weekend is out there!

Mulai lagi nge-scratch untuk ngebenerin paper ini. Ya Allah turunkan kemudahan dan kebaikan untuk ada jurnal yang mau meng-approve paper saya iniiii. Aamiin aamiin, aamiinkan netijen….

Saya sadar sih, ujian rijekan, meeting panas bertubi-tubi, malam dan pagi natap layar laptop, ini gak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan muslim-muslimah di zaman Rasulullah SAW dulu. Setelah peristiwa perijekan ini, I feel down, it’s true. Qadarullah, malamnya saya menonton kelanjutan Umar bin Khattab the Series. Masya Allah, bagi para tentara Allah pergi ke medan jihad adalah sebenar-benarnya wisata. Melihat para sahabiyah bertumbangan di Perang Yamamah, perang melawan nabi palsu Musailamah Al-Kadzab, membuat saya merinding. Inilah ujian yang hakiki. Jadi untuk kita yang hidup di zaman saat ini, semuanya adalah kenyamanan. Semoga kita jadi orang-orang yang tidak mudah putus asa dan senantiasa berjuang di jalan Allah.

Maapkan terakhirnya teu nyambung, tapi semoga ada manfaatnya curcolan saya kali ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s