Mommy's Abroad

“Hallo, Bandoeng!”


Dikirimi video berjudul “Hallo, Bandoeng” sama Bapak mertua. Videonya berisi video kilasan Bandung tempo doeloe, dengan lirik berbahasa Belanda. Bapak bilang, coba tanyain sama Runa ini lagunya tentang apa. Jadilah kami pun penasaran lirik dan lagunya tentang apa. Digoogling dan dapatlah.

Tadinya cuma baca dari Wikipedia aja, terus dari lirik berbahasa Belanda tersebut, saya udah bisa agak mengerti artinya. Meski bahasa Belendong eike ngap-ngapan, ye kan? Tapi gapapa sambil belajar. Terus udah feeling nih kayanya ini lagu berbau-bau bawang (maksudnya seudih dan mengundang air mata).

Beneran pas buka youtube yang udah ada arti lirik berbahasa Indonesianya, itu mah air mata langsung mendesak-desak keluar semua. Ngebayangin orang tua, ngebayangin anak, dan tentunya tanah air.

Monggo disimak di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=dT-WFYKhFlI&feature=youtu.be

Lagu itu berlatar tahun 1920an. Ketika orang Belanda banyak yang ke tanah air (mari kita skip bagian penjajahannya. Itu mah memang sejarah kelam yang bikin sedih/kesel). Lagunya bercerita mengenai kerinduan seorang ibu yang sudah tua, pada anak lelakinya yang tinggal di Bandung. Ia menghabiskan uang tabungannya untuk bisa menelepon ke Indonesia melalui sambungan radio di kantor telegraf. Bukan Telegram di zaman mari yaa.. yang ada di ponsel pintar Anda. Jadi si anak entah tinggal di Bandung udah berapa lama. Dia menikah dengan wanita Indonesia, dan udah punya anak-anak. Anaknya bilang kalau setiap hari mereka selalu membicarakan sang Ibu, bersama anak-anaknya. Si anak-anaknya ini belum pernah ketemu Omanya, cuma melihat dari foto aja. Kabayang kaaan.. udah mah zaman baheula gak bisa nelepon tiap saat, mau kirim surat nyampenya seabad, mau pulang-pergi Indo-Belanda juga kudu pake kapal laut berbulan-bulan. Kangennya si Ibu dan Anak ini udah kayak apa.

Ini link Wikipedianya: https://en.wikipedia.org/wiki/Hallo_Bandoeng

Bercucuran air matalah si daku cengeng ini. Posisinya kebalik aja, kita yang di Belendong, ortu yang di Bandung. Terus Suami jadi pingin ikutan berdendang. Akhirnya dia nyanyi dan bikin kolase foto-foto yang ada Ibunya. Eike mo ikut nyanyi kan apa daya ya suara mencar-mencar kek kelereng disebar, hihi. Biarin aja suami nyanyi sendiri, dia pan emang ada sedikit bakatlah ya. Jadilah seperti ini https://www.youtube.com/watch?v=ZT0mKoQD2qs&feature=youtu.be

Tentu sukses bikin Ibu jadi termehek-mehek. Bapak juga. Mamaku juga. Wah beneran ni ratjun juga, bikin semua jadi pada mewek. Hal ini jadi penawar racun yang bisa mengobati kangen. Si aku karena bukan tipe anak romantis (tidak seperti suami dan ibunya), gak bisa tuh berehek-ehek sama si Mama membahas betapa kangen dan berterima kasihnya daku sebagai anak. Nanti deh mungkin kalau ada kesempatan eike nyenyong bole juga.

“Hallo, Bandoeng … Ja moeder hier ben ik …

 

 

7 thoughts on ““Hallo, Bandoeng!””

  1. Jadi mbk monik tinggal di belanda gitu…

    Kalau dibayangin emang sedih banget ya mbak. Antar kota aja udah kangen, apalagi antar negara. Tiap hari bisa telepon aja, Masih kangen, apalagi yang jarang bicara.
    Saya bersyukur deh, nggak pernah jauh-jauh dari emak. Saya orangnya manja banget. Yang kalau kangen bakal nangis terus.
    Dasar aku….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s