Journey, Life is Beautiful

Terpaksa Nanjak dan Turun


Liburan naik gunung, hiking, trekking, apalah namanya (saya gak tahu bedanya), sambil berburu foto-foto landscape yang cantik mungkin jadi ambisi suami sejak kapan, Qadarullah baru kesampaian summer 2020 ini, trip ke Switzerland (Lauterbrunnen dan sekitarnya, Engelberg dan sekitarnya). Istrinya yang jiwa petualangnya mengkeret setelah punya dua anak agak susah diajak berkoordinasi. Makanya saya bebaskan saja suami untuk menyusun itenerary ke mana, pokoknya saya ngikut aja. Tiba-tiba hari ini trekking 4 km PP, besoknya melewati jembatan dan terowongan air terjun, besoknya naik cable car ke atas gunung, dst.

Pinginnya selalu bisa merangkum trip di blog, tapi apa daya, kadang suka skip. Udah banyak trip-trip yang catatannya tertunda ditulis, sampai sekarang udah lupa jadinya. Tujuannya nulis di blog, ya biar inget, oh dulu pas nge-trip gini dan gitu, kesannya apa, bisa terekam terus jejaknya.

Jadi saya nulis segini dulu aja, sama sedikit foto. Klau mau lihat hasil foto-foto landscape yang bagus selama di Switzerland, bisa dicek di akun IG suami aja: @fbprasetyo.

Selama diajak membolang naik-turun gunung, sebenarnya ada secuil rasa enggan dibalut keterpaksaan. Haduh nanti capek, haduh berat naik ke atas, haduh kasian nanti anak-anak gimana, dan haduh-haduh lainnya. Maap anaknya suka pesimisan dalam situasi yang menantang. Jadinya dalam perjalanan naik dan turun saya banyak berzikir aja, supaya lancar selama hiking, sekaligus memuji keindahan alam yang dilewati selama perjalanan. Dan saya juga jadi (sok-sokan) berfilosofi.

Berikut foto-foto pendakian kami:

Mendaki di Wengen, dengan track yang easy untuk anak-anak
Di Muren
Turun gunung di Wengen

Memang kalau mau lihat pemandangan bagus di atas harus berusaha keras, kalau perlu gas pol, digenjot terus semangatnya, walaupun kaki terasa pegel, dan gak tahu di mana ujung puncaknya. Sudah sampai atas, Masya Allah keindahannya, puas rasanya, rasa capek tadi jadi gak terasa. Dan ketika turun malah ternyata lebih susah daripada naik, soalnya telapak kaki harus bisa menjejak dengan seimbang, diiringi rem yang stabil, supaya badan gak menggelinding begitu saja di jalanan menurun.

Sama halnya seperti hidup. Ketika kita sedang berusaha mencapai cita-cita dan tujuan, diperlukan determinasi tinggi untuk terus maju, walau lelah, ya jangan berhenti di tengah jalan. Keletihan dalam perjalanan akan dibayar lunas saat berhasil meraih impian. Dan saat hidup terasa berada dalam posisi menurun, jangan sampai kita melepaskan kaki kita pasrah pada jalan menurun, bisa-bisa kita nanti terjun bebas. Perlu ada kekuatan dan sabar menahan agar saat turun kita tidak jatuh.

Itu aja sik, sisi hikmah yang bisa saya ambil ketika hiking.

Oiya satu lagi, it’s always nice to have company in our every journeys. So we will not be alone. Untuk kasus saya dan suami, kami belajar untuk saling percaya. Saya percaya aja kalau suami akan menunjukkan jalan yang benar sampai ke tujuan. Beberapa kali saya tanya, ‘masih lama gak?’, ‘masih jauh gak?’, dan dia selalu bilang, ‘bentar lagi kok’, ‘sedikit lagi kok’. Meski dalam hati saya tahu tidak semua ‘bentar’ dan ‘dekat’ yang dia bilang itu benar. Dia bilang gitu biar perasaan saya lebih baik. Sementara suami juga menaruh kepercayaan pada saya dan Runa, bahwa kami mampu berusaha naik dan turun dengan kekuatan kami. Alhamdulillah semuanya lancar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s