review buku

Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata


Sepertinya cuma buku Andrea Hirata yang bikin saya gak akan menutup buku sekali membuka lembar pertama ceritanya.

Akhir minggu. Saya buka bukunya di pagi hari, pikiran saya terpaku pada kisahnya, gak mau pergi. Siang hari saya baca di sembari menemani anak-anak bermain. Malam hari, saya tamatkan tanpa jeda. Seperti ingin mengikuti terus ke mana langkah kaki Aini dan Guru Desi di cerita tersebut.

Andrea Hirata selalu bisa mengangkat topik orang-orang marginal menjadi sesuatu yang mencengangkan. Cerita Andrea Hirata meniupkan motivasi, mengembangkan mimpi, dan memperkaya jiwa. Sama seperti dulu saat saya membaca dua karya pertamanya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi 15 tahun yang lalu. Yang membuat saya ingin bermimpi ingin mengejar cita-cita ke negeri asing, dan meyakini bahwa tak ada yang mustahil bagi siapa yang berusaha keras. Dan buku Guru Aini ini telah melecutkan semangat yang sama pada saya dengan kedua buku pendahulunya.

Guru Aini, Andrea Hirata

Melalui sosok Aini, saya temukan berlian di balik timbunan lumpur. Berlian yang akan menampakkan kilaunya ketika ditempa dengan alat yang tepat, dan cara yang benar. Bahwa kebodohan bukanlah sesuatu yang absolut, tapi kemalasanlah sumber kebodohan. Bodoh atau tidak itu terletak pada keinginan untuk mengubah nasib. Dan keinginan itu akan ada ketika kita memiliki motivasi yang kuat. Motivasi Aini, si anak peraih angka biner 0 1 0 setiap ulangan Matematika, adalah ia ingin menjadi dokter ahli. Padahal ia sendiri tidak tahu apa itu dokter ahli, pokoknya ia ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan penyakit ayahnya. Ayahnya yang hanya berjualan mainan anak-anak kaki lima di pelabuhan tiba-tiba kolaps, perawat di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Kabupaten tak ada yang bisa mengobati. Mustahil pula keluarga Aini bisa membawa ayahnya berobat ke dokter ahli.  kota Palembang. Kata Tabib di Selat Garam, tabib kesekian belas yang didatangi, penyakit model Ayah Aini hanya bisa disembuhkan dengan sekolah, dengan ilmu kedokteran modern, oleh dokter ahli.

“Ada keindahan yang sangat besar pada seseorang yang sangat ingin tahu, Laila, keindahan yang terlukisakan kata-kata” (Guru Desi pada Guru Laila, hal  198).

Tak ayal sesekali dia gembira, gembira karena keluarga dan sahabat setia, namun memahami suatu ilmu memberinya bentuk gembira yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Kegembiraan yang sulit dilukiskannya dengan kata-kata (Aini, hal 206).

“Jika Ibu ikuti dengan pensil, lambang ini takkan pernah berakhir. Inilah lambang infinity, Bu, suatu lambang yang bagi kemungkinan tak berhingga. Kata Guru Desi, kemungkinan tak berhingga bagi mereka yang ingin belajar, bagi mereka yang punya niat baik, bagi mereka yang berani bermimpi.” (Aini pada Ibunya, hal 212).

Melalui sosok Guru Desi, saya temukan sosok guru idealis yang pantang menyerah. Desi Istiqomah, murid terbaik, di kotanya. anak saudagar terpandang, “merelakan” masa mudanya untuk mengabdi menjadi guru matematika di desa antah berantah, bernama Ketumbi. Ambisinya adalah menemukan genius matematika di pelosok desa. Agar orang bisa berkaca bahwa matematika bisa ditaklukan oleh siapa saja, tak peduli ia miskin atau kaya, udik atau kota. Matematika selama ini selalu dianggap momok bagi sebagian besar anak-anak. Tak ada yang lebih kejam dari persoalan matematika. Guru Aini bertekad tidak akan mengganti sepatu olahraga putih dengan garis merahnya itu sebelum tugasnya rampung. Sepatu olahraga putih pemberian sang ayah ketika ia pertama kali merantau.

Guru Desi tak berminat pada karier dan reward semacam itu. Minatnya hanya pada mengajar matematika pada anak-anak kampung (hal 52).

“Tak ada yang lebih membuat murid gembira selain berhasil mempelajari sesuatu, dan tak ada yang membuat seorang guru gembira selain menemukan cara untuk mengajari muridnya.” (Guru Desi, hal 236).

Saya jadi belajar lagi cabang keilmuan yang terdapat di bidang matematika: aritmetika, aljabar, gemoteri, trigonometri, sampai pada kalkulus, yang katanya merupakan tingkat tertinggi dari pemahaman matematika. Saya jadi terbayang dulu ketika masih duduk di bangku sekolah, belajar semua itu. Ada yang saya suka, ada yang membuat saya mati gaya. Ketika saya belajar kalkulus selama satu tahun di bangku kuliah, saya ngap-ngapan. Mungkin saya hampir seperti Aini, yang menghapalkan angka-angka ujian matematika, sebuah hal yang muskil.

Tak hanya itu, di buku Guru Aini ini terselip pesan moral bagi manusia sekaligus kritik tajam bagi penguasa. Pendidikan selama ini masih menjadi kepemilikan orang-orang berpunya. Orang udik yang pintar tak memiliki jalan untuk keluar dari sarang jahiliyah desanya. Orang pintar yang terkungkung di desa, bisa-bisa hanya berakhir menjadi pelayan di warung kopi atau buruh pasar. Miris rasanya kalau mengingat hal tersebut. Sedangkan saya yang berasal dari keluarga “kota” bisa mencecap pendidikan yang baik, tentu tetap dengan usaha. Kalau dulu Papa saya tidak keluar dari kampungnya di Kamang, Bukittingi sana, mungkin saya belum tentu juga bisa menggapai bangku kuliah sampai sekarang ini. Masya Allah, alhamdulillah.

“Kau mengalami apa yang disebut knowledge paranoia, Aini. Suatu gejala yang dialami orang yang bersusah payah menguasai sesuatu, lalu menguasainya, lalu takut untuk belajar lebih lanjut pada tingkatan yang lebih sulit dan tinggi karena takut menjadi tak mengerti lagi, Usah risau, Boi! Itu gejala biasa. Namun matematika tak bisa begitu. Jangan belajar matematika seperti orang berpolitik. Sudah dapat suara, sudah menduduki jabatan, lalu nyaman, lalu diam saja, tak peduli janji-janji. Karena matematika itu sendiri adalah janji-janji yang indah.” (Guru Desi pada Aini, hal. 247).

“Lihatlah itu! Lihatlah gesit dan fasihnya jari-jari kecil anak perempuan itu menulis ilmu! Lihatlah wajah kecerdasan Indonesia dalam kemiskinan! Lihatlah anak cerdas terbuang di pojok pasar!” (Debut Awaludin, hal 291).

Satu lagi mengenai hubungan unik antara Guru Desi dan Aini adalah sekeras apapun Guru Desi pada Aini di awalnya, semakin Aini ingin maju. Meski dihajar dengan hardikan, Aini tetap membantu. Tekadnya sekuat baja untuk menaklukan matematika. Guru Desi bukan seorang yang lemah lembut pada muridnya. Ia tak segan mengeluarkan amarah, teriakan, dan hukuman pada muridnya yang bodoh (malas), apalagi yang tidak jujur. Beberapa kali Aini dibuat menangis terisak-isak oleh Guru Desi. Namun Guru Desi melakukan itu bukan untuk menyakiti Aini, tetapi untuk menggemblengnya.  Saya jadi teringat Ibuk supervisor saya, haha.

Positive mental attitude, sebab Guru menyayangi dengan cara yang aneh, tough love. Guru bersikap keras karena ingin kau tak jadi penakut, Tun, Seorang penakut takkan bisa belajar matematika!” (Aini pada Enun, hal 256).

Hal lain yang saya sadari selalu ada di setiap cerita Andrea Hirata adalah hubungan hangat antara seorang ayah dan anaknya. Bagaimana sosok ayah menjadi pahlawan bagi anaknya, tak peduli sang ayah seorang yang miskin, sakit keras, tak terpelajar. Namun ayah adalah tonggak pegangan bagi si anak. Yang membuat anak selalu berkaca, ada ayahnya yang senantiasa mendukungnya. Yang membuat anak selalu percaya diri, bahwa dirinya mampu. Kasih sayang ayah yang tak bertepi, kuat, sekaligus romantis. Sebuah moral yang tinggi dari kisah Andrea Hirata.

Saya mengucap Masya Allah, angkat topi, salut, bertepuk tangan, standing ovation untuk karya Andrea Hirata ini!

3 thoughts on “Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata”

    1. Halo Mas Dodo, terima kasih sudah berkunjung. Iya betul, jadi guru perjuangannya besar, pahalanya juga besar šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s