Being Indonesian in the Netherlands, Catatan Hati

Sekilas info: Orang Londo vs Orang Indo


Saya dan suami, lahir dan hidup di Indonesia sejak kecil, sekolah, sampai kerja. Lalu hijrah ke Groningen, Belanda setelah dikarunai satu anak. Kini kami sudah lebih dari tujuh tahun jadi imigran di Belanda. Tentu dalam rentang tujuh tahun banyak penyesuaian dari kultur, adat, sistem negara, kebiasaan, mentalitas, dan banyak hal. Adat ketimuran yang biasa kami anut tentu banyak bedanya. Mau gak mau saya dan suami jadi sering berkomentar mengenai Belanda vs Indonesia.

Di Belanda tu gini yaa, kalau di Indonesia begini.. Orang Belanda gitu ya, kalau orang Indonesia gini. Ada bagusnya juga karena cakrawala berpikir kita jadi luas, membuat kaya pikiran dan hati. Tapi kadang saya juga lelah, selalu terpikir mengenai Indonesia, susah amat hidup di negara orang, gak ada akses kemudahan yang biasanya ada. Namun ketika berpikir kembali mengenai Indonesia yang penuh keruwetan, pemerintahnya yang bikin gondok, rasanya emoh jadi penduduknya JKW.

Ada beberapa hal yang membedakan interaksi orang Londo dan orang Indonesia

1. Orang Londo: NO first. Orang Indonesia: YES first

Orang Londo: Misal ketika ada sesuatu yang kita inginkan dari mereka, tapi menurut paham/aturan yang mereka ketahui bahwa hal tersebut susah dilakukan atau tidak bisa. Mereka akan menjawab: “gak bisa, pokonya gak bisa. I am afraid that I can’t”. Mereka gak berusaha untuk mencari tahu dulu bahwa sebenarnya ada celah dari aturan tersebut, ada pengecualian, terkadang ada special case. Tapi mereka don’t bother untuk ngulik itu. Kita yang harus inisiatif untuk tahu dan berusaha cari jalan keluar. Pokonya bikin kita kesel duluan deh. Cuma begitu ternyata yang kita bilang itu ternyata bisa, mereka akan mengerjakannya dengan baik, niat, gak asal-asalan.

Orang Indonesia sebaliknya. Mereka akan mengiyakan terlebih dahulu, “Iya, Bu, nanti kami cek..”, “Baik, Bu.. akan kami konfirmasi.”, “Bisa dicoba ..”, dll. Pokoknya bikin kita tenang dulu dengan mengiyakan segalanya. Entah apa yang mereka iyakan itu dikerjakan atau tidak. Bisa jadi enggak, atau cuma iya di bibir aja, dan dikerjakan ngasal. Akhirnya di belakang, baru kita dikecewakan bahwa itu tuh gak bisa.

2. Orang Londo: no hospitality in service needed. Orang Indonesia: hospitality in service is really needed

Orang Indonesia itu ramahnya luar biasa, apalagi untuk orang yang kerjanya di service. Kalimatnya santun, senyumnya menawan, basa-basinya oke, senenglah kalo interaksi dengan mereka, ikrib rasanya. Tentu kadang hospitality yang mereka tawarkan ada yang tulus, tapi juga ada yang berniat imbalan. Kalau saya baik-baikin, nanti mereka juga akan baikin saya; kalau service saya bikin seneng, nanti mereka ngasih kelebihan (atau tips). Untuk orang soleh, mereka memberikan keramahan yang tulus karena emang berbuat baik dan mengharapkan pahala dari Allah.

Orang Londo yang kerja di service? Gak ada jaminan mereka itu punya keramahan yang luar biasa. Itu mah tergantung gimana orangnya aja, emang ada yang pada dasarnya ramah. Tapi you know-lah, default-nya orang Londo itu kan tiis (dingin), gak da basa-basi. Ya mereka mengerjakan sesuai jobdesc mereka aja, gak mikirin imbalan lagi. Soalnya berbuat lebih atau enggak, gaji mereka ya udah sesuai yang ada (dan udah sesuai upah, ga ada yang underpaid), tips mah jarang. Kepuasan konsumen ya jadi nilai tambah aja, ga bikin naik gaji.

3. Orang Londo: egality is everywhere. Orang Indonesia: status is important

Kamu mo boss, profesor, pejabat, artis, atau rakyat jelata, gak ada perlakuan berbeda ketika kamu membaur di masyarakat. Semua pukul rata aja. Gak pake rasa hormat berlebihan, atau privilese yang membuat hidup kamu lebih mudah. Aturan dibuat untuk semua. Orang tajir yang rumahnya di area mewah sama orang yang gajinya mepet UMR kelihatan dari penampilan atau sikap biasa aja. Gak keliatan mana yang kaya atau yang pas-pasan. Kecuali ya kalau kamu bagian keluarga ningrat kerajaan Belanda sekalian, baru ada perlakuan berbeda. Misalnya kamu anaknya Raja Willem-Alexander atau saudaranya, bisa tuh kamu punya “kekebalan atas sesuatu”. Ada kejadian ini pas lagi lokdon parah, eh anak sulungnya si Raja ngerayain ultah ke-18 (katanya itu pesta penting), jadi mereka bikin pesta besar. Ngakunya sih bikin pestanya outdoor, dan pakai social distancing, dan undangan gak banyak. Bahkan PM-nya Belanda juga udah dikasih tau, dan pemerintah ngebiarin aja tuh.

4. Orang Londo: can’t manipulate rules. Orang Indonesia: cari jalan tikus is the key

Aturan itu dibuat untuk dipatuhi, kata orang Londo. Kata aturan itu ya kerjain. Mau cari celah? Susah ey … tau sendiri mereka orangnya strict, gak luwes. Birokrasi sih gak ribet ya, asal semuanya lengkap aja. Tapi kadang gak bisa gitu mereka tuh lihat exemption yang gak biasa. Ribet dah kalau mau berkelit mah. Kalau orang Indo, wui apa aja bisa dilakuin kali untuk keuntungan diri, atau mengurangi keribetan. Tapi da gimana aturannya juga kadang lieur sih, nurutin aturan kadang lebih ribet daripada nyari jalan tikusnya. Ditambah lagi kalau orang yang punya power, duit, orang dalem, pasti lebih mudah melenggang kangkung. Kan kita rakyat jelata jadi bete, ya udah deh berusaha nyari jalan tikus kita sendiri, daripada kitanya bete dan rugi.

5. Orang Londo: no kepo-kepo. Orang Indonesia: Mayanlah sambil cerita dapat bocoran gurih dari narasumber

Na ini nih, yang eike demen dari Orang Londo. Mereka mah jarang pisan kepo dan kasih komen di luar keperluan mereka. Kalo menurut mereka itu gak ada hubungannya sama mereka atau urusan terkait mereka, ya mereka ga akan nanya lebih lanjut. Enak sih ya, urusan lu ya lu, gue-gue. Beda sama orang Indo yang apa aja dikomenin sama netijen. Kalau ngobrol sama orang Indo, dikorek dikit bisa tuh ngucur kek keran aer. Apalagi kalau kita menunjukkan minat untuk mendengarkan, bisa digas terus ceritanya. Makanya harus hati-hati jaga mulut, kalau gak mau salah ngomong, terus ujungnya ada yang gak mesti diomongin keluar, atau berujung ghibah.

Itu aja dulu. Nanti sambung lagi. Doei!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s