review buku

Review Buku Battle Hymn of the Tiger Mother vs The Happiest Kids in the World


Battle Hymn of the Tiger Mother – Amy Chua VS The Happiest Kids in the World – Rina Mae Acosta & Michele Hutchison

Kedua buku ini saya baca di waktu yang hampir bersamaan, dan saya tamatkan di waktu yang berbeda. Meskipun kedua buku bertema parenting ini memiliki daya tarik tersendiri—tentunya dengan kubu dan pendekatan parenting yang berbeda. Anehnya, saya tidak langsung bisa menamatkan kedua buku tersebut dalam waktu relatif cepat, ada jeda waktu saat saya membaca kedua tersebut. Ada rasa “lelah” yang menggelayut saat saya membuka bab demi bab dari buku tersebut, dan saya butuh pause sebelum saya menyelesaikannya. Apa sebabnya?

Saya mulai dari buku pertama, sebuah memoar dari Amy Chua dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Amy Chua adalah seorang Chinese Mother, generasi kedua, yang lahir dan dibesarkan di Amerika. Kedua orang tuanya merupakan imigran pekerja keras, ayahnya merupakan lulusan PhD di universitas beken, Massachusetts Institute of Technology (MIT). Orang tua Chua mendidik Amy dan ketiga adik perempuannya menjadi seorang high-achiever, yang Amy bilang merupakan tipikal Chinese next generation after immigrant parents.

Amy Chua memiliki asumsi bahwa generasi Chinese ketiga (yaitu anak-anaknya, Sophia dan Lulu) akan menjadi generasi yang spoiled dan akan terjadi “penurunan kualitas hidup/value” generasi. Sebabnya generasi ketiga ini memiliki kenyamanan hidup dengan orang tua yang mapan, dengan kehidupan yang upper-middle class di Amerika. Kekhawatirannya ini membuat Amy kemudian berusaha menerapkan the Chinese hard and tough parenting pada kedua anaknya. Kebetulan juga Amy Chua lahir di tahun harimau, menurut kalender Cina, jadilah ia seorang Tiger Mom, memang cocok dengan karakter Amy yang percaya diri, tense, dan pengatur.

But. I could make sure that Sophia and Lulu were deeper and more cultivated than my parents and I were. (page 22)

Amy sendiri merupakan seorang professor hukum di Yale Law School, bersuamikan seorang American-Jewish. Lucunya, Jed, suami Amy, memiliki gaya parenting seperti Western parenting pada umumnya, yang berfokus pada kebebasan dan kebahagian anak. Dalam buku ini Amy menggunakan istilah Western parenting dan Chinese parenting. Meskipun ia mengakui bahwa tidak semua parenting ala Barat seperti yang dia ceritakan, sebab Western di sini pun sangat diverse dalam style parenting. Namun, sebaliknya Chinese parenting, cenderung lebih seragam.

America seems to convey something to kids that Chinese culture doesn’t. In Chinese culture, it just wouldn’t occur to children to questions, disobey, or talk back to their parents. (page 24)

Salah satu cara Amy mengajarkan values yang diyakininya mengenai kerja keras, kesuksesan di masa depan, dan keperayaan diri adalah dengan men-drill kedua puterinya dengan musik klasik. Sophia, si Sulung yang cenderung penurut, dipilihkan instrumen piano. Sementara Lulu, yang sejak kecil menunjukkan sikap rebelnya, diberikan biola sebagai fokus musik klasiknya. Keduanya menjalani les intens sejak usia empat tahun. Amy juga merasa bahwa kegiatan serupa playdate dan sleepover, serta kegiatan ekstrakulikuler drama dan seni itu membuang-buang waktu. Kedua anaknya sudah memiliki banyak jadwal les musik klasik setiap hari, mengerjakan pe-er, les bahasa Cina—yes betul, les bahasa ibunya sendiri, soalnya Amy tidak mau kedua anaknya yang dibesarkan menjadi native English hanya belajar bahasa Cina terbatas dari dirinya. Mereka harus mengerti bahasa Cina dengan baik dan benar. Kalau di Indonesia mah berbahasa Indonesia yang baku, baik dan benar, sesuai PUEBI. Pokoknya yang penting bagi Amy dan style Chinese parenting-nya adalah akademik yang cemerlang (harus straight As) dan advanced classical music (menurutnya musik klasik itu adalah cerminan dari sebuah kehidupan tinggi, kebalikan penurunan, kemalasan, dan kemanjaan)

Tiger Mother to the girls: “My goal as a parent is to prepare you for the future-not to make you like me.” (page 49)

Chinese parents can order their kids to get straight As. Western parents can only ask their kids to try their best. (page 51)

Western parents worry a lot about their children’s self-esteem. But as a parent, one of the worst things you can do for your child’s self-esteem is to let them give up. On the flip side, there’s nothing better for building confidence than learning you can do something you thought you couldn’t. (page 62)

Extra credit id not extra. It’s just credit. It’s separates the good students from the bad students. (page 70)

“Do you know what a foreign accent is? It’s a sign of bravery. Those are people who crossed an ocean to come to this country.” (page 86)

Westernes believe in choice; the Chinese don’t. All these Western parents with the same party line about what’s good for children and what’s not—I’m not sure they’re making choice at all. They just do what everyone else does. They just keep repeating things like ‘You have to give your children the freedom to pursue their passion‘ when it obvious that the ‘passion’ is just going to turn out to be Facebook for then hours which is a total waste of time and eating all that disgusting junk food—I’m telling you this country is going to go straight downhill! No wonder Western parents get thrown into nursing homes when they’re old! (p. 228)

Sampai sini saja, sudah bikin saya terengah-engah ketika membaca kisah Amy ini. Sebabnya saya merasakan gimana jungkir baliknya Amy mengatur waktu kedua anaknya untuk sekolah, les musik klasik yang berkepanjangan, setiap hari, setiap waktu, bahkan ketika liburan ke luar kota atau luar negeri pun, mereka harus tetap menjalani rutinitas tersebut. Untuk Lulu, membawa biola ketika traveling lebih mudah. Tapi untuk Sophie dan pianonya? Amy bahkan sangat niat untuk menyewa hotel untuk liburan yang memiliki ballroom atau restauran dengan piano. Jika tidak ada, Amy mencari toko musik terdekat yang pianonya bisa disewa untuk latihan Sophie! Belum lagi latihan untuk konser, pertunjukkan, seleksi untuk kompetisi. Sesi latihan ini bisa berjam-jam dalam sehari, bukan hanya dengan guru khusus, tapi dengan Amy juga. Amy pun selalu mendampingi kedua anaknya di sesi latihan, mengantar jemput mereka ke tempat les tambahan dengan guru yang profesional. Gimana gak lelah aku tuh bayanginnya?

Tapi di balik kelelahan membacanya ini, ada hal-hal yang membuat saya tersentuh. Yaitu ketika Ibu dari Jed, suaminya, mereka memanggilnya Popo, didiagnosis kanker, dan harus menjalani perawatan serius. Popo tinggal sendiri, di kota lain. Namun ketika Amy tahu bahwa ibu mertuanya sakit dan butuh bantuan, tanpa pikir panjang ia menawarkan ibunya untuk tinggal dengan mereka—sesuatu yang jarang terjadi pada Westerners, bahkan Jed sendiri sempat meragukan keputusan Amy. Jed tahu Amy kadang berbeda pendapat dengan ibunya, dan ada percikan konfilk dan ketidakcocokan yang terjadi. Jed khawatir kalau mereka serumah, bukankah akan menambah ruwet suasana di rumah? Amy tahu ia mungkin ada clash dengan ibu mertuanya, tapi ia berprinsip, bukankah seorang anak harus selalu siap sedia memberikan apapun dan membantu orang tuanya? menimbang apa yang sudah orang tuanya lakukan ketika anaknya masih kecil sampai besar. Apakah itu hutang budi? Ya bisa jadi. Tapi dalam Chinese value mereka diajarkan seberapapun menyebalkan orang tua, pada akhirnya seorang anak itu tetaplah menyanyangi dan setia pada orang tuanya.

My mother’s elderly parents lived with us in Indiana when I was little. My father’s mother lived with my uncle in Chicago until she died at the age of eight-seven. I’ve always assumed. that I would take in my parents if the need arose. This is the Chinese way. (page 96)

I can’t tell you how many Asian kids I’ve met who, while acknowledging how oppressively strict and brutally demanding their parents were. happily describe themselves as devoted to their parens and unbelievably grateful to them, seemingly without a trace of bitterness or resentment. (page 101)

Cerita Amy justru semakin menarik ketika Lulu mengalami kegagalan ketika mengikuti seleksi Pre-College program di Julliard School New York, sebuah program pretensius untuk menjadi cikal bakal pemusik profesional. Kegagalan ini akhirnya menjadi pelajaran bagi Amy. Namun efeknya cukup panjang, sebab Lulu semakin merasa tertekan dengan tuntutan Amy untuk latihan dan bekerja keras.

The Chinese parenting approach is weakest when it comes to failure; it just doesn’t tolerate that possibility. The Chinese model turns on achieving success. That’s how the virtuous circle of confidence, hard work, and more success i generated. (page 146).

Ditambah lagi Lulu menunjukkan sikap rebelnya di usia remaja tanggung, 13 tahun. Ia semakin berani menentang Amy dan bersikap tidak penurut terhadap apa yang diminta ibunya. Amy semakin panas tentunya. Semakin Lulu membangkang, semakin keras tekanan yang Amy berikan. Ia menganggap hubungannya dan Lulu serupa pertarungan yang harus dimenangkan. Dan pada suatu titik, gunung api dalam diri Lulu dan Amy meletus. Amy pun merasa ia harus mundur sejenak…. dan mempertanyakan value yang selama ini dipegangnya dengan teguh.

Here’s question I often get: “But Amy, let me ask you this. Who are you doing all this pushing—your daughters”—and here always cocked head, the knowing tone—”or yourself?” I find this a a very Western question to ask (because in Chinese thinking, the child is the extension of the self). But that doesn’t mean it’s not an important one. (page 148)

Tentunya ada konflik, ada penyelesaian. Betul Amy, akhirnya menekan remnya untuk Lulu, tapi di sisi lain, ia tetap mendorong Lulu untuk menjadi yang terbaik di bidang yang dipilihnya. Saya suka dengan prinsip Amy bahwa bisa jadi kita menyukai bidang yang kita pilih, tetapi kita gak bisa cuma “suka”, kita juga harus “being great” di bidang tersebut. Gak cuma asal milih suka ini dan itu, tapi terus leha-leha, kan sama aja bohong.

But just because you love something, I added to myself, doesn’t mean you’ll ever be great. Not if you don’t work. Most people stink at the things they love. (page 215)

Pada akhirnya memoar Amy ini menjadi kontroversi di Amerika dan dunia barat pada umumnya. Banyak yang menjudge bahwa Amy ini sinting, dan kedua anaknya tidak memiliki masa kecil yang bahagia. Padahal gak juga sih. Dalam surat yang ditulis Sophie dan dimuat di New York Post, Sophie membantah anggapan orang Barat terhadap gaya parenting sang Tiger Mom. Dan ia bersyukur atas kehidupan masa kecilnya bersama sang Ibu yang mendidik ia dan adiknya dengan keras.

So what does it really mean to live life to the fullest? … To me, it’s not about achievement or self-gratification. It’s abour knowing that you’ve pushed yourself, body, and mind to the limits of your own potential … If I died tomorrow, I would die feeling I’ve lived my life at 110 percent.

Tentunya penerimaan dari dunia pun berlainan. Ternyata bagi pembaca di Asia, kisah Amy sangat inspiratif dan dijadikan panutan.

My memoir, seen in the West as a story about “extreme” parenting, opposite with acceptance readers from Japan, Korea, Singapore, Taiwan, related very naturally and sympathetically to the book. Why do Western parents think it’s a bad thing to ask their child to aim for first place? I just don’t understand. (page 235).

Buku kedua, The Happiest Kids in the World, ditulis oleh dua orang ibu yang menetap di Belanda. Rina Mae, seorang Asian-American, yang dibesarkan di San Francisco, sedangkan dan Michele adalah wanita asli Inggris. Mereka berdua menikahi pria Belanda dan melahirkan anak-anaknya di Negeri Kincir Anfin tersebut. Pada mulanya mereka mengalami culture shock, tentang bagaimana menumbuhkan dan mendidik anak-anak di Belanda. Mereka berdua yang notabene berasal dari kultur dengan paham yang mirip dengan Amy Chua, merasa bahwa sistem parenting dan pendidikan Belanda itu bertolak belakang dengan apa yang mereka terima di masa kecil, dan dengan apa yang mereka pahami. Sampai lambat laun mereka pun merasa enjoy dengan parenting ala Dutch ini. Dutch parenting memberikan banyak energi untuk motivasi anak daripada fokus pada achievement. Anak-anak Belanda ini akhirnya menjadi self-aware, responsible and sociable, less stress dibandingkan dengan anak-anak di US dan UK.

Parenting Belanda itu sangat bebas, santai, dan minim kompetisi, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk para ibu. Gak ada tuh mompetition atau peer pressure.

This is Alien to me, getting the highest grades is seen as a fast track to success in life. My childhood was one big competition and I had to be the best every time. Michelle. (page 25)

Being top of the class, graduating with a first-class degree, playing a musical instrument to grade 8 or qualifying to compete in the Olympics won’t make the rest of your life any easier, or guarantee success and happiness in the future. (page 29)

Parents today have been indoctrinated with a belief that how we parent a child determines their future. (page 62)

Like chilhood, becoming a mom shouldn’t be rushed or over-managed. There’s absolutely no shame in not keeping it all together all the time. (page 69)

In the Netherlands, however, it isn’t all about getting A grades and getting into the right university. (page 88)

I feel it’s important that they have the freedom we had as children. (page 166)

American moms tend to be more competitive, judgemental, and tightly wound, which probably adds to feelings of anxiety, angst, and self-doubt. (page 201)

Yang membuat saya juga “lelah” saat membaca penuturan kedua ibu beranak dua ini adalah sepertinya hidup sebagai anak di Belanda itu utopia dan paling sempurna. Kalau Amy Chua sering sekali membandingkan Chinese parenting vs Western parenting, buku ini juga secara konstan membandingkan kultur dan parenting US/UK dengan Belanda. Overprotective and anxiety in UK and US vs Easy going and relaxed parenting.

Sebenarnya masih wajar, kan mereka berdua lahir dan dibesarkan di US dan UK. Tapi di satu sisi cerita mereka tampak berlebihan mengunggulkan The Dutch Parenting. Mereka menonjolkan semua contoh baik-baiknya, dan support system yang sangat menunjang di Belanda. Adanya playground on almost street corner, banyaknya kesempatan untuk kerja part-time untuk sang Ibu, sistem daycare yang mumpuni, dll. Padahal ada juga kan contoh yang kurang dan tidak baiknya dari Dutch ini. Seperti tingginya angka perceraian di Belanda. Lalu kebebasan yang kebablasan (setidaknya menurut pendapat daku ya, seorang Muslim), sex bebas, ‘elgebeteq’, ganja, dan masih banyak lagi, yang tentunya gak sesuai dong!

Kondisi sempurna yang mereka ceritakan ini akan susah diimplementasikan oleh orang tua dari kultur dan negara lain. Sepertinya tips-tipsnya useless di beberapa bidang, karena it’s outside of the Dutch context. Saya juga sama sekali gaks etuju di bagian Let’s Talk about Sex dan Dutch Teenagers Don’t Rebel, beda prinsip, value, dan paham agama Islam.

Dutch moms have redefined the maning of having it all. plenty time of children, choose to stay at home, work part-time, full-time, without financial and social pressure. (page 198)

Okey. Tentunya ada. punch lines yang menarik dan bisa saya simpan untuk referensi parenting saya

All-weather cycling is a truly character-forming experience. Cycling against the wind became a mental as much as a physical battle. They learn that life isn’t always sunny and full of rainbows. They learn to face the rain. They learn not to give up. Cycling to school whatever the weather conditions teaches children resilience, and there is a definite link between resilience and happiness. (page 143)

Every step they take, we have to learn to let go. (page 169)

Parents often focus too much on the things that their children can’t do, and not enough on what they can. Every child has their own unique talent. (page 184)

Perceived successes and failures of our children as a direct reflection of our parenting styles. When initially started as a sincere drive—wanting the best of our children—morphed into a hungry desire: wanting our children to be the best. (page 199)

Peer pressure feel elsewhere in the developed world comes largely from a senses of guilt. (page 199)

“A lot of parents will do anything for their kids, exept let them be themselves.” (Banksy) (page 291)

Pada akhirnya setelah membaca kedua buku ini, yang baik ya bisa dicontoh, yang tidak sesuai ya disaring dan ditinggalkan. Sebagai orang Indonesia, saya merasa parenting ala Tiger Mom sebenarnya masih masuk akal, asal.. tidak berlebihan, sesuai porsinya lah. Saya setuju kalau kita memang harus tetap mengarahkan anak-anak kita ke suatu bidang yang menurut prinsip kita baik atau memang wajib. Seperti ya mengajari mengaji, itu kan harus ya. Kompetisi? Tetap ada perlunya, tapi lagi-lagi sesuai porsi. Di sisi lain, saya juga setuju dengan memberikan kebebasan pada anak seperti parenting ala Belanda, asal jangan kebablasan aja. Saya setuju anak-anak tetap harus bisa menikmati masa kecilnya dengan dengan memberikan mereka ruang gerak dan otonomi sendiri. Untuk anak saya, meski kami tinggal di Belanda, tetap saja saya tidak bisa mengikuti Dutch parenting plek-plek. Apalagi kalau kami gak berencana menetap selamanya di Belanda. Anak saya harus tetap bisa memiliki jiwa “kompetitif” dalam arti positif, kalau gak nanti ketika dia balik ke Indonesia, dia gak akan terbiasa dengan kehidupan di Indonesia yang keras, kalau gak nanti dia terlibas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s