Catatan Hati

Apakah Saya Disayang Allah?


Saat pandemi ini, banyak sekali saudara-saudara kita di Indonesia ditimpa banyak ujian, musibah, kehilangan, kesakitan, dan segala rupa. Saya dan keluarga suami pun mengalaminya. Banyak kisah sedih dan tragis membuat saya ikut merasa merana, membayangkan betapa pedih rasa kehilangan, dan betapa berat ujian yang harus dihadapi orang tersebut.

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Al Quran Surat Al Baqarah ayat 155-157

Di sela-sela rasa duka yang saya rasakan. Terselip sebuah tanya: Allah menyayangi hambaNya dengan memberikan ujian2 berupa kesulitan, materi, kehilangan dan lain-lain. Saya merasa, Alhamdulillah ya Allah, sejak dulu sampai sekarang, Allah sangat baik sekali, memberikan ujian kesulitan yang akhirnya bisa selesai. Pernah ada kesulitan yang rasanya menghimpit, tapi kemudian seiring berjalan waktu, semuanya membaik. Hanya saya takut, apakah Allah tidak memberikan ujian berat pada saya, seperti yang dialami orang-orang terdahulu, karena saya tidak termasuk orang yang disayangi Allah😭😭? Tapi tentu saya juga gak akan berani untuk meminta diberi ujian berat, takut sekali, mentalnya lemah menghadapi ujian seperti itu.

Pertanyaan ini saya tanyakan pada Kakak ipar saya, seorang yang Masya Allah kaya ilmu dan saleh. Beliau menjawab dengan bijak. Tentu jawabannya ada di Al Qur’an. Hal tersebut menenangkan hati saya.

كُلُّ  نَفْسٍ  ذَآئِقَةُ  الْمَوْتِ   ۗ وَنَبْلُوْكُمْ  بِا لشَّرِّ  وَا لْخَيْرِ  فِتْنَةً   ۗ وَاِ لَيْنَا  تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Saya izin mengcopy pesannya di whatsapp ke blog saya (yang cetak miring), agar bisa saya baca lagi sebagai pengingat. Dan bisa juga menjadi manfaat bagi para pembaca blog, dan netizen dunia maya. 

Allah menguji kita dengan dua macam ujian, yaitu ujian keburukan dan kebaikan. Menurut Ibnu Abbas RA, maksudnya adalah الرخاء والشدة yaitu kondisi sejahtera dan kondisi susah.
Maka saat kita mengalami kesulitan, kita sedang diuji. Ketika kemudian kesulitan itu selesai, kita berada dalam kondisi sejahtera, maka itu juga kita sedang diuji.

–> Artinya apapun keadaannya, manusia itu selalu dalam keadaan diuji. Seperti di ayat Al Baqarah 155 tadi,  Yang namanya manusia hidup di dunia ya pasti diuji. Itu normal, itu biasa saja, itu sunatullah.

Di dalam Al Quran pun ada contoh hamba-hamba yang disayang Allah yang diuji dengan bermacam ujian.
Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman (semoga salam dari Allah terlimpah kepada beliau berdua) diuji oleh Allah dengan kemenangan, kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan yang amat besar. Beliau berdua lulus ujian ini dengan tetap konsisten dalam syukur dan amal shalih. Bandingkan dengan Qarun yang diuji Allah dengan kekayaan tapi gagal karena sombong dan menolak berbuat baik dengan kekayaannya.

Sudah tepat sikap kita tidak meminta ujian berat karena kita tidak tahu apakah kita sanggup atau tidak kalau diuji berat. Allah lebih mengetahui ujian yang paling tepat untuk kita.

Yang diajarkan Allah dalam Al Quran adalah doa meminta kebaikan, bukan meminta keburukan. Juga doa meminta kemenangan, bukan meminta kekalahan. Juga doa meminta anak cucu yang baik, bukan anak cucu yang durhaka. Juga pasangan yang menjadi penyejuk mata.

Meskipun kita tahu, ada hamba-hamba Allah yang Dia sayangi pun diuji Allah dengan kekalahan dalam sebagian perang. Ada yang diuji anak yang durhaka. Ada yang diuji dengan suami yang jahat. Ada yang diuji dengan istri yang kafirah.

Yang diajarkan Nabi Muhammad (semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada beliau) adalah doa-doa meminta kesembuhan, bukan meminta sakit. Juga doa meminta kecukupan dan rizki yang baik, bukan meminta kekurangan dan kemiskinan.

–> Saya jadi ingat kata Ust. Hanan Attaki, memang ada orang yan berdoa minta miskin, minta susah? Gak ada! Gak berani. Kenapa? Karena kita percaya karena Allah Maha Mengabulkan Doa. Nah, kalau beneran dikabulin gimana? 

Kita tahu betapa besar pahala perang di jalan Allah. Tapi meski demikian, Nabi saw mengajarkan kita untuk tidak berangan-angan bertemu musuh. Berangan-angan saja dilarang, apalagi meminta bertemu musuh. Tapi apabila Allah menguji seorang muslim dengan bertemu musuh, maka supaya lulus ujian itu, dia harus hadapi dengan tegar tidak boleh lari.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Wahai kaum Muslimin, janganlah kalian mengharap bertemu dengan musuh, dan mohonlah kesehatan kepada Allah, namun apabila kalian bertemu dengan mereka maka bersabarlah. Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa surga berada di bawah naungan pedang.”

Wallahua’lam bishawab…

Ya Allah berikanlah ketenangan hati, curahkan kasih sayangMu… aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s