Catatan Hati, review buku

Resensi Buku Atomic Habits – James Clear


Buku ini yang beli suami, tadinya saya gak terlalu minat baca karena saya udah baca buku tentang habit juga sebelumnya, The Power of Habit oleh Charless Duhigg. Saya iseng aja baca introduction-nya, bagian My Story. Eh kok seru ya. Dapet nih pitch point-nya untukmengundang terus baca. Akhirnya saya lanjut. Dan ternyata banyak banget dagingnya, trik, tips, dan cara untuk membuat hidup lebih produktif dan terarah (ciyeh). Tentu seperti biasa, biar gak lupa, saya catat ulang bagian pentingnya di sini. Hal pertama yang membuat saya tertarik lanjut adalah fakta bahwa meskipun progres yang kita lakukan sedikit, tetapi akan berdampak besar di depan, tanpa kita sadari. Nampar kan buat saya yang suka banget bilang: pengen cepet-cepet beres ini, pengen cepetan kelar itu, sementara lupa sama detail kecil yang menyertai prosesnya.

Time magnifies the margin between success and failure. It will multiply whatever you feed it. Good habits make time your ally. Bad habits make time your enemy. Habits are double-edged sword. bad habits can cut you down just as easily as good habits can build you up, which is why understanding the details is crucial. Asli najong nih kalimatnya. Menurut saya mirip sih dengan hadits tentang waktu adalah pedang, bisa bermata dua. Waktu sebagai bahan bakar yang kita pakai dalam kebiasaan kita.

James Clear memperkenalkan istilah the plateau of latent potential (people call it an overnight success). Ini penting buat kita yang sering menganggap bahwa keberhasilan orang kok kayanya gampang, dia kok bisa cepat suksesnya, apalagi di dunia digital yang serba instan ni. Sementara kok kita lambat banget mau sukses. Aslinya kita aja yang gak tahu. Gak ada kesuksesan yang melalui proses instan, kecuali sukses bikin mie instan enak. The outside world only sees the most dramatic event rather than all that preceded it. But you know, that it’s the work you did long ago−when it seemed that you weren’t making progress−that makes the jump today possible. Jadi kudu sabar dalam berproses. Kayak kalau bikin candi dalam semalam mah bisa berujung kegagalan, apalagi kalau buat kita yang gak punya ilmu sakti mandraguna.

Small changes often appear to make no difference until you cross a critical threshold. The most powerful outcomes of any compounding process are delayed. You need to be patient. -page 28

Kenapa sih dinamakan atomic habits? Atom yang merupakan partikel terkecil yang menyusun sifat dan karakteristik segala sesuatu di dunia ini, meski merupakan bagian terkecil, tetapi atom adalah hal fundamental dalam penyusunan semesta. Sama seperti habit juga merupakan unit fundamental yang memberikan kontribusi besar bagi overall improvement kita. Mungkin habit seukuran atom ini terasa insignificant, tetapi ketika sudah membentuk dan terikat satu sama lain, maka ia akan menjadi bahan bakar kemenangan di masa mendatang.

Atomic habits−a regular practice or routine that is not only small and easy to do, but also the source of incredible power; a component of the system of compound growth. -page 27

Perlu diingat bahwa untuk membangun habit, yang diperlukan bukan hanya goal atau outcome, tetapi juga perubahan identitas diri. Fokusnya adalah pada diri kita mau jadi orang apa/seperti apa? Katakanlah kita punya goal ingin menulis atau membuat buku. Bangunlah identitas bahwa kita adalah seorang penulis. Setiap kita menulis, maka kita adalah seorang penulis. Setiap kita latihan lari, maka kita adalah pelari. Kalau identitas itu sudah lekat, maka sulit untuk menanggalkannya.

Ada four-step loop yang menyokong habit: cue, craving, response, and reward. Ketika diulangi, maka ada feedback neurologis yang akan membentuk kebiasaan kita Dari empat langkah tersebut, James Clear menyusun ada 4 laws of behaviour change yang menyusun atomic habit ini:

  1. Cue –> Make it obvious
  2. Craving –> Make it attractive
  3. Response –> Make it easy
  4. Reward –> Make it satisfying

Pertanyaannya how to?

Make it obvious

Petunjuk yang harus diperhatikan dalam poin ini adalah time and location. Misalnya kita punya tempat dan waktu spesifik untuk menjalankan kebiasaan tersebut. Contoh membangun kebiasaan mengaji setelah salat Magrib di musola/spot khusus untuk solat. Jadi gak ngambang gitu. Tentu perlu trigger untuk kita bisa tergerak melakukan kebiasaan tersebut. Trigger-nya bisa berupa lingkungan/barang yang membuat kita ingat untuk melakukan habit tersebut. Misal nih, kita simpan Al Qur’an kita di meja dekat menyimpan mukena, tapi harus telihat JELAS di mata, gak disimpan di rak atau laci yang gak kelihatan langsung sama sapuan mata kita.

Make it attractive

Membangun kebiasaan yang tampaknya berat menjadi lebih mudah menarik jika kita bisa mengasosiasikannya dengan pengalaman positif, ini main mindset juga sih sebenernya. Coba ganti pemikiran bahwa kita harus (I have to) menjadi kita akan/kita butuh (I get to). Ada yang namanya motivation ritual; you simply practice associating your habits with something you enjoy. Contohnya kita bisa berpikir bahwa banyak pahala yang mengalir dan dosa-dosa yang diampuni jika kita membaca ayat-ayat suci Al Qur’an (untuk kebiasaan mengaji kita tadi). Atau bisa juga kita memulai rutinitas yang berat tadi dengan sebelumnya melakukan hal yang kita sukai atau membuat kita rileks. Saya biasanya meminum kopi+susu+sedikit gula sebelum saya mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan riset saya: baca paper, nulis manuskrip, ngerjain analisis statistik. Setidaknya bau kopi yang wangi dan rasa hangat cangkirnya bisa membuat saya nyaman untuk mengerjakan riset saya.

Make it easy

James Clear menjelaskan perbedaan antara motion and action (yang saya juga baru ngeh bedanya). Motion itu biasanya kita “hanya” melakukan planning, strategizing, and learning. Langkah yang bagus sih, perencanaan, tetapi hal tersebut tidak menghasilkan sesuatu. Sedangkan action adalah sebuah langkah yang ada outcome-nya. Kalau kita memiliki dua puluh ide untuk ditulis yang baru dituangkan dalam bentuk outline, itu adalah motion. Tapi kalau kita beneran duduk dan menuliskan ide tersebut dalam bentuk karya, itulah action. Jadi harus dieksekusi gitu, sebab kunci dari habit yang kuat adalah repetition, not perfection.

Biar action ini terlaksana, penting untuk membuatnya mudah. Habit yang kita bangun mungkin di suatu hari nampak oke dilaksanakan, tapi di hari lain kita sepertinya ingin menyerah saja. Pada hari-hari tersebut, it’s crucial to have as many things working in your favor as possible so that you can overcome the challanges life naturally throws your ways (page 152). Intinya kita harus meminimalisasi friksi yang ada untuk mempermudah kita menjalankan habit yang baik, dan begitu pun sebaliknya. Contoh kalau kita ingin produktif dalam bekerja, tapi sering tersandung procrastination karena banyak melirik sosmed di smartphone, maka hapus saja semua aplikasi sosmed dari smartphone kita. Ini saya coba, dan ngefek banget.

Ada teori two-minutes rule yang menarik dari James Clear. When you start a new habit, it should take less than two minutes to do (page 162). Karena biasanya kita tu inginnya ngerjain hal yang terlihat besar, dan pada akhirnya we end up trying too much too soon. The idea is to make your habits as easy as possible to start. Nanti baru ditingkatkan intensitasnya. Misalkan kita ingin rutin lari, ritual memakai sepatu hanya dua menit kan. Itu menjadi kunci dalam memulai habit lari kita. Kalau misalnya ingin menamatkan satu buku dalam satu bulan, Tampak berat juga. Tapi ubah menjadi, membaca dua lembar buku tersebut setiap hari. Jadinya terasa lebih mudah.

Make it satisfying

Kita akan lebih mudah mengulang suatu kebiasaan jika dalam pelaksanaannya kita merasa senang atau puas (satisfy). Ada yang namanya The Cardinal Rule of Behaviour Change: What is immediately rewarded is repeated. What is immediately punished is avoided. Jika kita sudah punya target untuk menurunkan berat badan, menulis buku, atau mempelajari bahasa baru, artinya kita membayangkan diri kita mencapai posisi tersebut, our future self. Sepertinya mudah melihat goal tersebut dalam jangka panjang, tetapi jika dalam sehari-harinya, biasanya kita kaalah dengan yang namanya instant gratification, kepuasan instan. Targetnya sih nurunin berat badan, tapi hari ini ada yang ngasih cokelat, ya dimakan aja. Targetnya sih nulis satu halaman per hari, tapi waktu yang dipunya gak dimanfaatkan malah dipakai untuk scrolling IG story. Jadi ambyar kan. Makanya kita harus punya trik untuk habit yang kita jalankan nih. Misalnya kalau kita berhasil menulis satu halaman, baru kita boleh scrolling IG story. Sebaliknya kalau kita gagal makan diet dengan makan cokelat, kita denda diri kita sendiri ke celengan khusus, biar gak sering jajan.

Konsekuensi membuat kita kapok jika melakukan kesalahan. Biasanya when the consequences are severe, people learn quickly (page 206). Penting juga jika kita punya seseorang yang bisa mengawasi atau mengingatkan kita dalam menjalankan habit kita. Seperti kalau dalam kelompok yang sama, biasanya kita lebih stabil dan konsisten melaksanakan kebiasaan. Ada di grup one day one juz, biasanya bisa membuat kita lebih termotivasi untuk menyelesaikan satu juz setiap hari.

Lalu selanjutnya dari habit?

Bab berikutnya membahas mengenai advanced tactics. Bahwa habit itu bisa membuat orang menjadi sukses, dan great in their field. Selalu ada perbincangan mengani nature or nurture, genetic or hardwork. Sebenarnya keduanya penting, asalkan kita ada di tempat yang tepat dalam mengekseskusi bidang kita. Genes do not determine your destiny. They determine your areas of opportunity (page 219). Lagipula genes can’t make us successful if we’re not doing the work.

Kita juga harus tahu apa habit dan goal yang “kita banget”. You don’t have to build the habits everyone tells you to build. Choose the habit that best suits you, not the one that is most popular (page 222).

When you can’t win by being better, you can win by being different. By combining skills, you can reduce the level of competition, which makes it easier to stand out (page 225).

Setelah memiliki habit yang konsisten, diperlukan juga ketahanan pada boredom. Saya ngerti banget namanya manusia pasti suka diserang sama yang namanya rasa jenuh. Yang membedakan orang sukses dan yang biasa-biasa aja adalah faktor bahwa ia bisa bertahan dari rasa bosan pada habitnya tersebut. Someone that can handle boredom of training everyday, doing the same things over and over and over.

Jadi semangat habis baca buku ini, yes, untuk menjadi lebih baik, lebih fokus, dan konsisten. Yuk semangat yuuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s