Catatan Hati, Mommy's Abroad, School stuff

Inferior


Tiga tahun lalu, saya memulai perjalanan PhD ini dengan rasa inferior parah. Merasa salah tempat, gak bisa membawa diri dan membaur dalam kelompok, takut salah, takut dianggap gak kompeten. Bahasa Inggris belepotan, bahasa Belanda apa lagi. Kalau mau ngejawab pake bahasa Inggris, untuk percakapan sederhana sekalipun, saya suka takut salah. Apalagi untuk obrolan saintifik, untuk ngejawab pertanyaan supervisor pas diskusi tangan saya aja sampe dingin. Pikiran saya mengulang-ulang kalimat apa yang mau saya lontarkan. Sambil pikiran lain berbicara: gimana kalau balelol, salah grammar, atau orang gak ngerti apa yang saya omongin. Padahal sebenarnya bahasa Inggris saya gak parah amat kok. Dulu IELTS sekali tes langsung lulus band 7, kelas bahasa Inggris zaman kuliah pun masuk ke kelas A (kelas writing), yang artinya cukup di atas rata-rata. Cuma tuh emang bodohnya saya, rasa pede saya aja yang emang tiarap. Rasa inferior yang menggerogoti.

Tak ada hari tanpa beban bergelayut di pundak dan di hati. Saya selalu merasa berbeda dengan yang lain, dan saya takut dijudge karenanya.

Tahun berlalu, eh saya masih di sini. Qadarullah sebenarnya semuanya gak seburuk yang saya pikirkan. Alhamdulillah Allah sayang, dan terus membuka mata saya. Bahwa rasa inferior itu harus dibuang jauh-jauh. Hei, seorang ibu juga punya aktualisasi diri. Student Indonesia juga gak kalah smartnya dengan orang Eropa lho, biasanya malah lebih punya daya juang tinggi. Cuma memang kekurangan kita sebagai orang Indonesia itu (kebanyakan ya), suka merasa rendah diri, dan menganggap kalau bule-bule itu tuh wah banget, pinter, superior, dll. Padahal asli enggak, bule-bule juga sama ae kayak kita, kadang lebih parah, udah mah gak tahu, tapi suka sok tahu, haha.. tapi mereka pede aja gitu. Kalau salah ya ngaku aja biasa, minta maaf, dan gak ada rasa minder karena malu.

Rasa percaya diri merambati saya perlahan-lahan. Rasa nyaman pada diri sendiri membantu saya untuk mengangkat kepala dan bersuara. Untuk saya mah butuh waktu hampir dua tahun untuk bisa memiliki rasa nyaman, plus masa bodoh (atas pandangan orang lain). Buku Mark Manson, The Subtle Art of Not Giving a F*ck, adalah salah satu buku yang membuka mata saya. Meski kata-katanya banyak yang harus disensor, tapi apa yang disampaikannya itu apa adanya, dan emang najong sih.

It’s simple, really: things go wrong, people upset us, accident happen. These things make us feel like sh*t, and that’s fine. Negative emotions are necessary component of emotional health” (page 64) –> true! we can’t deny it, we just have to face it.

Konsep yang cocok untuk saya yang kadang terlalu memikirkan hal-hal yang gak penting, yang harusnya gak usah dipikirkan. Masih banyak ruang dalam hidup ini yang lebih berharga untuk dipikirkan. People talk sh*t, people look down on you, just don’t care about it. Ada masalah, kita berbuat salah, ya itu biasa, namanya juga hidup, mungkin kita akan down, tapi harus balik lagi on track. Konsep Mark Manson ini juga sebenarnya bukan konsep baru. Dalam Islam kan kita udah tahu ada tawakkal, bagaimana agar kita berorientasi akhirat, bukan menyandarkan hasil pada keduniawinan.Ya kalau ada hal yang gak sesuai sama orientasi akhirat kita, don’t give a care, bodoamat!

Kembali ke perjalanan saya mendapati diri saya yang bisa mengangkat diri ini dari kubangan inferior. Waktu memang yang membantu. Banyak belajar, belajar, terus fokus dengan peningkatan diri, disambung dengan tawakkal adalah kunci. Sehingga tanpa sadar, di satu titik, eh… ternyata saya bukanlah saya si inferior tiga tahun silam, saat sata memulai perjalanan PhD.

Yang dulu saya gak berani menatap eye on eye kolega atau supervisor saya, sekarang saya bisa mengatakan dengan lugas pada mereka, saya mau ini, sebaiknya begini. Ada rasa enjoy ketika bercakap-cakap dengan supervisor, dengan kolega, bahkan saya timpali dengan bahasa Londo pun hayuk. Mereka sampai heran: wah bahasa Belanda si Monik bagus juga, udah bisa ngangkat telepon ngejawab pake bahasa Londo. Ketika memang saya salah, atau hal/kalimat yang sampaikan kagokan, saya gak merasa itu beban. Salah ya bilang yawes sorry. Jelaskan maksudnya gini, pelan-pelan. Orang juga gak akan langsung merasa, si Monik maksudnya apa sih? Lebih sedikit beban dalam diri saya.

Saya semakin sadar, judgement dari orang lain itu gak penting, yang harus kita takutkan justru, bagaimana judgement Allah pada kita? PhD ini tentu bukan apa-apa dibanding tujuan hidup untuk Keabadian kelak. Harus selalu saya tekankan pada diri saya, PhD ini adalah jalan ibadah saya, bukan segalanya. Semoga itu yang akan dinilai oleh Allah kelak.

Akhir kata, pesan saya. Berbeda itu biasa, yang gak biasa itu adalah rasa beban sendiri karena mikirin perbedaan yang ada. I am different, so be it. It’s the best to focus on yourself, and whether you are fulfilling your own potential than comparing yourself to someone else. Terlebih lagi, saya rangkum lagi caprukan saya di atas: Kita percaya kan, bahwa hasil yang kita tuai bukan cuma hal yang secara fisik terlihat, dan yang terasa di dunia saja. Insya Allah ikhitiar kita juga akan berbuah manis di akhirat kelak, aamiin.

Di tahun terakhir PhD saya yang mungkin gak mulus, supervisor saya bilang: “You’re almost there, it’s sufficient with those published chapters. The remaining project still need extra time. I’ll take care of your extension, no worries.” Ia tersenyum. Senyum yang saya balas dalam hati, Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat. Gak papa saya gak lulus exact 4 tahun, setiap perjalanan PhD toh beda-beda. Awalnya saya sedikit khawatir, duh malu dong ya, teman-teman yang departemen farmasi pada lulus 4 tahun. Saya molor. Susah emang jadi orang pikirannya suka mikirin perbandingan terus (Ini masih terus belajar untuk tawakal ya gaes). Insya Allah jalannya begini. Malah supervisor mau memperpanjang kontrak plus menanggung allowance saya untuk 6-12 bulan ke depan. Tentu lebih memperpanjang napas kan, gak beban untuk cepet-cepet cari kerja atau cari penghasilan.

6 thoughts on “Inferior”

  1. Mungkin kultur dan sistem pendidikan kita sedikit banyak berperan dalam menghasilkan rasa inferior. Suka membandingkan dan lebih menghargai yang nilainya bagus. Kalau di Eropa Barat mau jelek bagus yg penting mentalnya sehat 😅Dihargai keunikannya

    1. Itulah Mbak, yang belum bisa diterapkan di kultur dan pendidikan kita. Mungkin memang persaingan hidup di Indonesia keras, jadi kita tuh dituntut untuk selalu bersaing

  2. I feel you banget kak. Dulu waktu Masih tinggal di Australia Aku juga merasa begitu. Tapi seiring berjalannya waktu sambil berusaha memperbaiki kualitas diri akhirnya jadi lebih PD. Duh kalo I get dulu rasanya kok susah banget mau hayo dobrak inferiormu toh nggak ada salahnya tunjukkan “pesonamu” butuh Dua tahun juga sampe akhirnya nyaman.

    1. Sama banget Mbakk.. Butuh waktu ckup lama untuk “mengumpulkan” rasa percaya diri itu. Padahal mah orang lain ngelihat kita biasa aja, cuma kita sendiri yg mikirnya suka berlebihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s