Catatan Hati

My 3-Minute-Thesis Competition in RUG


Public speaking is not really my thing.

Lho, terus apa yang saya pikirkan ketika memasukkan abstrak thesis saya ke kompetisi ini?
Ada suatu misi tersembunyi di dalamnya. Bahkan ketika malam itu saya memberanikan diri untuk menekan klik tombol ‘send’ di laman aplikasi 3MT @universityofgroningen, saya tidak pernah memberitahu suami saya (my no.1 supporter), dan supervisor saya (my no.1 mentor). I thought, let’s Allah shows His way, if He will.

Saat melihat pengumuman ada kompetisi 3MT yang bergengsi itu, rasa ambis saya bergejolak (Well, ambis selalu dikaitkan dengan konotasi negatif, bahwa orang punya rasa nafsu besar untuk pencapaian tertentu. Saya juga awalnya berpikir demikian, tapi hal itu berubah kemudian). Seorang Monik sebenarnya gak akan tertarik ikut-ikutan yang seperti itu, boro-boro bahasa Sundanya mah. Dulu waktu tahun pertama PhD, saya pernah dibilangin sama postdoc di departmen saya. “Istri saya ikutin ini nih, 3 minute thesis competition dia ngirimin abstrak, kamu gak mau ikutan?”

Ikutan?? Once in a blue moon kalau seorang Monik akan ikutan kompetisi yang melibatkan public speaking. Bahkan dalam hati saya berkata, ngapain lah ikut yang kayak gitu, lieur. Selama saya PhD, ga akan deh saya ikut-ikut kayak gitu.

Lalu apa yang membuat saya di tahun terakhir ini nekat ikutan? Nah itulah, kadang-kadang, saya itu bisa sangat impulsif untuk sesuatu yang menantang. Ada beberapa alasan yang mendorong saya saat itu.

  1. Saya membayangkan bahwa jika ada perempuan berjilbab bisa tampil di panggung khalayak ramai yang bergengsi, itu akan menjadi dakwah tersendiri. Di Eropa, Belanda, kan mungkin masih ada stigma bahwa muslim itu kurang berpendidikan, apalagi muslimah. Berkerudung, jadi hambatan. Saya ingin membuktikan bahwa that’s not the case.
  2. Selain muslimah, saya juga ingin membawa nama ‘ibu’. Ibu sekolah S3 itu adalah sesuatu yang normal, bisa lho. Bisa juga berjejer dengan mahasiswa muda-muda lainnya. Di departmen saya, cuma saya ibu dengan dua anak. Kalau bapak-bapak yang punya anak banyak. Tapi saya ingin membuktikan (entah pada siapa, mungkin pada kolega saya di departmen, dan supervisor saya). Bahwa saya yang mungkin dulu di tahun pertama dianggap sebelah mata karena emak-emak sekolah tampak rempong. Tapi ternyata saya step up di kompetisi ini.
  3. Saya orang Indonesia. Dari Asia, yang bukan ras utama di Eropa, yang mungkin juga masih dipandang berbeda. Tapi saya si Orang Indonesia, yang dulu negaranya pernah dijajah Belanda. Hey saya menjejak panggung ini lho. Orang Indonesia seperti ras Kaukasoid Eropa, gak ada beda.

Entah dari manalah semangat dan ambisius itu muncul. Pokoknya saya coba saja.

Talking in the big stage with many spectators is really out of my comfort zone.

Saya bisa begitu ekspresif dan nyaman ketika menulis. Sebab saya asosiasikan menulis sebagai bentuk ketenangan pikiran, kalau ada kesalahan ya masih bisa diedit. Berbeda dengan berbicara di depan umum. Kalau salah, gak lebih mudah untuk mengoreksinya.

Maka, ketika ternyata saya terpilih menjadi salah satu kontestan dari 12 PhDs untuk mempresentasikan thesis saya selama 3 menit saja, barulah saya sadar. Oo … This is too much, Allah gak main-main. This will be a difficult trial for me.

Bener kan ternyata. Saya gak bisa sesantai itu dalam persiapan. Buat orang lain mungkin hal mudah, tapi buat saya, noo… Pada supervisor dan kolega di department dengan santainya saya bilang bahwa di tahun terakhir saya PhD, saya ingin mencoba hal baru. Saya ingin lebih mendapatkan ‘helicopter view‘ dari penelitian-penelitian PhD saya sekaligus bisa menyampaikannya pada komunitas, general population. Seperti yang saya harapkan, kolega saya takjub juga saya bisa ikutan ini. Gak nyangka kali ya, saya bisa-bisanya ikutan beginian.

Bismillah. The preparation was really challenging. Tapi saya niatkan sesuai misi saya di awal tadi. Ya Allah, saya bukan da’i, bukan juga muslimah kuat di negara asing ini. Tapi saya pikir “panggung” akademisi di 3MT ini bisa menjadi sedikiiiiit saja ladang dakwah saya. Bahwa seorang muslimah, bisa berdiri dengan tegak di antara akademisi-akademisi lainnya. Bahwa saya seorang ibu dua anak, bisa tetap menyuarakan buah pikirannya. Bahwa saya seorang wanita Indonesia, bisa berkarya di negara yang dulu pernah menginvasi Tanah Air.

Kalau tahu drama dua minggu persiapannya, wuaahh.. gak keliatanlah dari senyum di foto saya ini. Suami yang paling tahu stres dan tegangnya saya sampai hari H. Sampai saya pikir, ngapain saya tuuu nyusahin diri sendiri, repot. Bahkan selesai dari kontes, saya ingin nyumputin kepala di balik bantal. Susah emang jadi orang gak pedean tu.

Alhamdulillah. Meski public speaking will never be my favorite thing, but this area pushed me to the limit I never imagine before. Thank you Allah. Thank you my dear husband @fbprasetyo for the endless support, thank you Runa and Senja who keep saying: Bunda is the best. Thank you all my friends and family for the best encouragement and pray.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s