Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja, Mommy's Abroad

Ramadan dan Runa tahun ini


Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Masih ada kesempatan untuk mengumpulkan bekal-bekal pahala yang bertaburan. Masih ada kesempatan untuk memohon ampun untuk dosa-dosa. Padahal dosa selalu nambah aja tiap tahun.

Ramadan ini dimulai dengan suasana mellow. Ya mellow cuacanya (yang sering hujan angin), ya mellow juga perasannya. Ada perasaan, ya Allah pengen saya tu Ramadan lagi di Indonesia, di Bandung, deket keluarga. Udah 7 tahun ya Ramadan di rantau, ternyata ada rasa sedih-sedihnya kerasa sekarang.

Juga tantangan muncul, sebab Runa sudah semakin besar, udah 9 tahun. Sudah harus semakin mengerti Islam, iman, ibadah-ibadah. Bukan maksudnya ngerti gimana banget, tapi ya, terbiasa, dan tahu bahwa ini adalah agama yang jadi pegangan hidup kita sampai mati, yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Terus gimana menerapkannya value-value itu pada Runa? Gak gampang, asli. Dulu saya merasa, saya belajar memahami Islam seperti let it flow, semuanya sudah ada, semuanya serba mudah. Itu gak berlaku untuk Runa. Juga untuk saya sebagai orang tua.

Alhamdulillah Runa tu anaknya tergolong penurut, mau mendengarkan, dan punya tekad kuat untuk menyelesaikan kalau kita memberi “tugas”. Seperti salat dan puasa, gak mudah untuk kami membiasakannya pada Runa. Dia gak punya perbandingan gitu, dia gak punya komunitas yang sama dengannya. Ya kuat-kuatan orang tuanya. Alhamdulillah suami punya kebiasaan untuk salat berjamaah bareng. Itu ngebantu banget untuk pembiasaan anak salat lho.

Untuk puasa juga. Kami udah soundingsounding, beberapa pekan sebelumnya. Ini akan jadi puasa pertama Runa di waktu sekolah yang full. Tahun lalu relatif lebih mudah, sebab lagi lockdown. Sekolah sempat hanya setengah hari, dan bergantian shift hari (gak tiap hari). Jadi mudah untuk menjaga Runa tetap puasa, dan dia juga gak mudah cape. Tidak ada komunikasi khusus ke sekolah saat Runa puasa, sebab, memang pada saat sekolah setengah hari itu gak ada jam makan siang.

Saya kerap merasa sedih, kasihan pada Runa. Runa masih kecil, tapi dia sudah menghadapi tantangan-tantangan akan perbedaan yang rumit di Belanda ini. Yang umumnya begitu, tapi kita berbeda. Yang orang sini bolehkan, menurut kepercayaan kita tidak boleh. Ia seperti sendiri di tengah-tengah keramaian. Saya takut, kalau Runa akan merasa terpinggirkan, berbeda, dan jadi terluka. Walaupun saya pernah dengar ceramah seorang Ustadz yang bilang kita jangan samakan kemampuan kita dengan anak kita. Anak kita bisa jadi potensi yang besar, daripada yang kita bayangkan. Mungkin untuk kita menghapal 1 juz akan sulit sekali, tetapi untuk anak kita, bisa jadi ia lebih mampu.

Runa pernah cerita, ada gurunya yang bercerita tentang eljibiti, bahwa itu adalah hak semua orang. Orang bisa memilih untuk jadi apa yang dia mau. Di tayangan televisi ada reality show mengenai mengenal tubuh manusia, tapi disajikan dengan orang-orang yang bertelanjang bulat (untuk anak-anak lho ini tayangannya). Melihat pornografi di sini ya biasa saja. Ada orang tua yang merupakan pasangan sesama jenis. Itu kan hal-hal yang gak saya temukan di masa kecil saya dulu, boro-boro, umur kuliahan baru rada ngeh kali. Saya rasa, dulu saya sangat naif tentang hal tersebut, gak adaa juga kali yang aneh-aneh kayak gitu di Indonesia. Sementara hal-hal seperti ini sudah Runa cerna sejak umur 7 tahun. Apakah itu sesuatu yang berat? Semoga tidak.

Balik lagi ke Ramadan. Jadi ada juga yang muslim di kelasnya Runa, mungkin 3 orang. Saya tanya salah satu mamanya, apakah anaknya akan (belajar) puasa di sekolah. Saya berharap Runa jadi punya teman yang membuat dia semangat puasa ketika di sekolah. Temannya ini dari keluarga Maroko. Jawaban mamanya sedikit membuat saya kecewa. Mamanya bilang dia masih terlalu kecil untuk berpuasa di sekolah, kasihan kalau anak-anak lain makan dia gak makan. Kalau weekend sih anaknya tentu akan puasa. Dulu anaknya yang sulung juga baru berpuasa wajib di umur 11 tahun, karena udah wajib (udah baligh). Tapi ya, tetap saja itu pun menurutnya masih kecil juga.

Akhirnya Runa adalah satu-satunya anak yang berpuasa di kelasnya. Runa anaknya sangat berusaha. Kami tetap membawakannya bekal, tetapi ia berusaha untuk tidak makan siang di sekolah. Meski lihat teman-temannya makan bekal roti. *Roti sih ya, buat saya lagi lapar juga gak terlalu menarik, mwahaha.. Maksudnya kalo yang keliatannya bakso, batagor, mie, baru jadi laper. Kalu cuma roti, yah gak tergoda, wkwk. Oiya kami juga bilang sama Juf M kalau Runa akan latihan puasa, dan Juf M sangat welcome dan mengerti.

Yah… memang sih tantangan berpuasa di sini lebih berat (apalagi untuk anak-anak) daripada di Indonesia. Tapi saya dan suami juga berusaha untuk mengenalkan Runa sejak dini, gak yang tiba-tiba di masanya udah wajib dia harus langsung berpuasa. Perlu ada “training” sejak dini. Kita juga dulu gitu toh? Bahkan dimulai dari umur yang lebih kecil.

Saya juga suka merasa iri, pada masa lalu saya saat anak-anak waktu puasa, pada anak-anak di Indonesia yang menyambut Ramadan dengan kegiatan yang mendukung. Ada pesantren kilat, KBM pun dibuat lebih ringan, lebih banyak muatan agamanya, ada mabit, semua anak berpuasa. Runa dan Senja gak dapat semua itu. Yang mellow sih saya, Runa kan gak ngerti ya.

Saya merasa harus punya effort lebih untuk membuat “kemeriahan” dan kebahagiaan yang terasa saat Ramadan untuk Runa. Dulu kan kita melihat iklan sirop Mar*an di tv aja udah merasa bersemangat dan ngeh, oh ini Ramadan, yang nikmat berbukanya seperti segarnya sirop itu. Runa dan Senja? Ya gak ada keriaan itu. Makanya orang tuanya yang harus effort. Kadang saya ingin mengeluh, ya Allah, saya capek, saya ingin menyerahkan sebagian “tugas” mengenalkan Islam ini pada pihak lain, pada pihak sekolah, pada komunitas. Tapi ya gak ada. Di Belanda, ada tentu komunitas, tentu kita yang usahakan juga. Ya Allah, maafkan keluhan hambaMu ini. Pernah saya menangis di satu titik. Memohon kekuatan, memohon Allah yang akan membimbing anak-anak.

Ini adalah salah satu usaha kami membuat Ramadan meriah:

Membuat hiasan Ramadan, bersama Pengajian Anak DeGromiest
Hiasan Ramadan, checklist Ramadan (it works buat Runa yang visual, senang liat yang tercentang kalau dia berhasil). Membahas topik harian Ramadan bersama anak-anak (masih bolong-bolong soale ortunya yang gak konsisten)
Hadiah kejutan selama 30 hari. Setiap Maghrib, Runa boleh buka satu kantong. Isinya ya hadiah-hadiah kecil aja. Mulai dari cokelat, permen, slime, playdough, ikat rambut, pulpen, suprise egg.
DIgantung di tangga, biar terpampang nyata, dan memberikan semangat
Menghias kantong-kantongnya bersama

Saya bukan emak-emak telaten soal DIY dan yang berhubungan dengan kreativitas, huhu. Karya saya gak cantik-cantik. Tapi yang penting usahanya ya.

Semoga Ramadan kita barokah. Sekian curcolan panjang saya. Mumpung ada me time nih. Suami lagi ngajak main anak-anak. Emak bisa blogging, nulis-nulis diary, dengerin radio, nikmaaaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s