Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, Informatie, tips & trucs, Mommy's Abroad, [GJ] – Groningen’s Journal

Sekolah Anak di Belanda (part 3)


Hai, hai, Bunda-bunda solehah dan baik hati. Ini baru sempat saya lanjutkan lagi series mengenai Sekolah Anak di Belanda.

Bisa cek tulisan sebelumnya di: Sekolah Anak di Belanda (part 1), Sekolah Anak di Belanda (part 2).

Setelah sebelumnya membahas mengenai pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar. Kali ini saya akan melanjutkan cerita mengenai jenjang pendidikan berikutnya, yaitu Middelbare school (Sekolah menengah ke atas/high school).

Kalau di Indonesia kita mengenal ada SMP dan SMA selama 6 tahun, di Belanda sistemnya berbeda, sebab SMP-SMA digabungkan menjadi secondary school atau disebut dengan middelbare school, dengan periode waktu 4, 5, atau 6 tahun.

Bagaimana anak lulusan bassischool melanjutkan ke middelbare school?

Setiap anak yang lulus pendidikan 8 tahun basisschool, (biasanya di sekitar usia 12 tahun) tentunya diharapkan untuk melanjutkan ke pendidikan menengah. Setahu saja ini juga bersifat wajib dan masih gratis. Seperti basisschool, orang tua hanya membayar uang kontribusi (yang tidak mahal). Seberapanya tergantung sekolah dan kota tempat tinggal.

Ada tiga level middlebare school tergantung dari educational path-nya. Siswa akan masuk ke tiga level itu berdasarkan performa akademik dan minatnya juga. Tidak seperti di Indonesia yang penentuan masuk SMP-SMA berdasarkan dari ujian akhir nasional atau ujian masuk. Kalau zaman saya dulu sempat bernama EBTANAS dan UAN (tapi katanya juga sekarang bisa kombinasi ya dari nilai rapot + ujian akhir tadi). Kalau di Belanda, penentuan masuk middlebareschool berdasarkan hasil cito eindtoets dan rekomendasi dari sekolah, dan juga hasil diskusi si anak dan orang tua. Malah katanya rekomendasi dari sekolah ini yang menjadi acuan utama karena sekolah sudah mengikuti “perjalanan” akademik, kemampuan dan minat si anak sejak masih grup bawah. Skor dari final cito toets ini sepertinya yang “mengonfirmasi” rekomendasi sekolah tadi. Cito toets ini sebenarnya juga selalu dilalui si anak sejak di grup 3, makanya sekolah punya track record si anak sejak awal.

Mungkin kalau kita dulu ini namanya kaya Ujian Akhir Semester (UAS), yang diadakan 2x dalam satu tahun. Dan si UAS ini yang menentukan ranking dan naik/tidak naik kelas. Sedihnya itu kalau misal UAS kita konsisten bagus, tapi pas UAN eh “kepeleset” kebetulan misal hasilnya kuran bagus, ya udah deh gak jadi masuk SMP/SMA unggulan. Nah, kalau cito toets (setiap semester juga) di basisschool, ini malah penting untuk record dan penentuan masuk middelbare school.

Cito toets

Cito toets juga bisa disebut dengan ujian kompetensi siswa, yang diikuti oleh siswa dari grup 3 sampai grup 8. Ujian ini juga diadakan 2x dalam setahun, biasanya di tengah-tengah (Januari/Februari) dan di akhir (Mei/Juni) masa school year. Sekitar Juli-Agustus ada summer vacation, libur panjang sampai 6 minggu.

Yang diujiankan di Cito toets sebenarnya gak banyak, hanya yang inti saja: matematika, reading comprehension (pemahamam bahasa), spelling and technical reading. Menariknya nilai tes tidak dituliskan dalam bentuk angka, misal 1-10, atau 1-100, seperti yang biasanya kita dapatkan waktu sekolah dulu. Tetapi hasil tes dinyatakan dalam angka Romawi I, II, III, IV, dan V. Murid-murid akan dikelompokkan dengan range nilai yang tersebut. Range atas atau tertinggi adalah I, dan terendah adalah V. Sebaran tiap range adalah 20%. Jadi misalnya ada 20% anak yang nilainya di jauh atas rata-rata (range I), ada 20% anak uang nilainya di rata-rata (range III), dan seterusnya. Skor cito toets ini juga dibandingkan dengan nilai rata-rata nasional (tapi saya masih kurang paham gimana perbandingan ini).

Saat menerima raport, maka yang akan kita lihat adalah di range mana anak kita berada, tanpa ada perbandingan dengan nilai atau range teman-teman sekelasnya. Kita juga gak tahu anak kita ranking berapa, karena tidak ada urutannya. Adanya perbandingan antara hasil cito sebelumnya (tengah dan akhir tahun).

Salah satu contoh hasil laporan cito toets. Ada 5 kategori di situ: G=goed (baik), RV=ruim voldoende (lebih dari cukup), V=voldoende (cukup), M=matig (biasa/kurang), O=onvoldoende (tidak cukup). Di situ juga ada angka I, menunjukkan range atas

Contoh laporan cito toets lainnya:

Ini contoh grafik skor matematika (yang atas) dan hasil skor spellingnya. Grafik ini menunjukkan level kemampuan si anak dan rerata kelas

Kalau raport lainnya isinya apa dong? Isinya lebih banyak secara kualitatif dan tidak hanya mengukur kemampuan akademik anak, tetapi juga kemampuan bersosialiasi, kreativitas, kerja sama, social skill, soft skill, dll.

Seperti ini menunjukkan kemampuan anak dalam belajar, motivasi, cara belajar, dan guru juga kerap memberikan pesan-pesan bahwa si anak sudah baik dalam belajar, harus lebih berani, dll. Ada sentuhan personalnya.

Yaa.. wajar sih ya gurunya bisa memberikan penilaian selengkap ini soalnya jumlah anak dalam satu kelasnya paling banyak 30. Dan gaji guru juga termasuk lumayan (itu juga masih suka ada demo guru), hidup guru terjaminlah. Kalau di Indonesia kan udah guru kerjanya berat, gajinya juga pas-pasan, anak-anak yang diajar banyak. Maka susah juga mengharapkan penilaian yang komprehensif seperti ini untuk murid-muridnya. Kecuali sekolah yang jelas bayarannya mahal ya, so pasti pelayanan komprehensif bisa didapat.

Ok, kembali lagi pada melanjutkan ke jenjang sekolah atas. Setelah ada nilai final atau cito eindtoets dan rekomendasi dari sekolah, maka anak-anak bisa ditempatkan sesuai level middelbare school yang ada.

Apa saja level middelbare school itu?

Ada 3 level middlebare school, yaitu:

  1. Voorbereidend middelbaar beroepsonderwijs (VMBO)
  2. Hoger algemeen voortgezet onderwijs (HAVO)
  3. Voorbereidend wetenschappelijk onderwijs (VWO)

Agak keriting ya sama namanya, haha. Ribet sih emang. Gakpapa, kita kupas satu-satu ya. Untuk gampangnya bisa lihat dulu diagram berikut

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_the_Netherlands

Intinya, tidak semua murid bisa masuk ke level universitas. Dan hal itu sudah dianalisis sejak lulus SD, agak judging kelihatannya, but that’s the truth. Kalau emang dari awal anaknya memang tidak mampu atau tidak minat ke arah sana, ya tidak dipaksakan.

Level terbawah adalah VMBO, atau bisa disebut sekolah vokasi/pra-kejuruan. Yang pendidikannya ditempun selama 4 tahun. Setelah lulus mereka akan melanjutkan ke MBO, yaitu sekolah kejuruan selama maksimal 4 tahun. Jadi biasanya MBO ini terkait pada kemampuan teknis atau menjadi skilled-worker. Setelah lulus MBO, mereka bisa langsung enter the job market. Misalnya mereka bisa jadi teknisi, operator, bagian managemen, atau bahkan beauty therapist. Pokoknya yang lebih mengutamakan keahlian khusus atau service oriented. Bisa juga jika setelah lulus VMBO, dan mereka dirasa mampu untuk lanjut sekolah lagi, maka mereka akan ditransfer ke HAVO. Begitu juga jika setelah lulus MBO, mereka bisa loncat ke jalur pendidikan di atasnya (seperti di diagram), yaitu melanjutkan ke HBO.

Tingkatan tengah atau HAVO merupakan pendidikan 5 tahun. Jika lulus HAVO si anak akan melanjutkan ke HBO atau semacam sekolah politeknik (D3 atau D4 kalau di Indonesia). HBO ini seperti universitas tapi lebih banyak porsi aplikatif-nya daripada research-based dan critical thinking-nya, makanya disebut university of applied sciences. Saat di jalur HAVO, murid-murid juga akan diases lagi, jika mereka mampu loncat ke VWO maka mereka boleh lanjut ke jalur tersebut. Lulusan HBO sendiri ini setara dengan universitas biasa (WO), jadi mereka bisa melanjutkan master degree, bahkan PhD. Atau ya langsung lanjut kerja.

Tingkatan atas atau VWO adalah jalur umum seperti yang kita biasa lalui di Indonesia, yaitu pendidikan atas selama 6 tahun komplit. Setelah lulus baru mendaftar dah ikut ujian masuk universitas. Lalu bisa lanjut kerja atau ambil master, lanjut PhD.

Lebih jelasnya bisa cek ini jugaa..

https://www.iamexpat.nl/education/primary-secondary-education/dutch-school-system

Oiya tambahan, sama seperti basisschool, middelbare school juga terbagi menjadi 2: public school (openbare) dan special school (bijzondere school). Dua-duanya sama-sama gratis. Special school ini contohnya sekolah dengan paham agaman tertentu. Banyaknya sih yg Kristen Katolik atau Protestan, heu. Kalau yang sekolah Islam, sejauh yang saya tahu baru ada 2 di seluruh Belanda.

Demikian. Seperti itulah perjalanan pendidikan menengah di Belanda.

Semoga bermanfaat!

Advertisement

6 thoughts on “Sekolah Anak di Belanda (part 3)”

  1. Tes ujian di Indonesia susah-susah sampai ada bimbel dsb tapi kenapa PISA kita rendah ya? Menurut mba apa yg membedakan dg di Belanda?

    1. PISA setahu saya menilai dari kemampuan bahasa (termasuk reading), matematika, dan sains. Tapi mungkin Indonesia tertinggal banyak di bagian bahasa, heuheu.. bisa dilihat kasar dari minat baca yang rendah

  2. Pernah baca di buku Cleverlands tentang sistem pendidikan di negara-negara yang katanya superpower dalam hal pendidikan, salah satunya Singapura. Di buku itu dijelaskan katanya di SG pun anak-anak udah dari SD ditentukan bisa masuk universitas/gak. Tapi bedanya di SG persaingan dan lingkungannya kompetitif kali ya, jadi sampe ada istilah tiger mom dan anak2 SG pun pada stress sedari dini karena konsep itu :/ Jadi penasaran di Belanda pada stress juga ga? Kalau ga, apa karna sistem social service-nya lebih terjamin ya?

    1. Iyaa Cha, aku juga denger-denger di SG mah ngerik persaingan tuh. Kalau di Belanda sepengalamanku mah persaingan tu ga ditonjolkan, bisa dilihat dari gak ada ranking di kelas misalnya, atau urutan paling tinggi ke rendah. Orang tu biasa-biasa aja kalau anaknya di VMBO, HAVO, atau VWO. Mungkin memang ada orang-orang yang concern banget anaknya kudu di VWO (termasuk yang kalangan orang Indonesia lah, hehe.. atau yang keluarganya memang juga berpendidikan tinggi), tapi ga mesti juga. Ya soale itu tadi mo yg lulusan univ atau kejuruan, ujungnya punya kesejahteraan hidup yang gak jauh beda,yang kata Chaca social service-nya terjamin. Setres mah ada aja, tapi teuing tah setresna gegara naon, keknya bukan gara-gara sekolah 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s