Catatan Hati

Born a Crime – Trevor Noah [review buku]


Tadinya saya gak tertarik nonton siaran ‘The Daily Show’ the satirical news program, yang dipandu oleh Trevor Noah. Walaupun banyak yang bilang Trevor Noah itu lucunya cerdas banget, apalagi soal sarkasme yang menyangkut Donald Trump, juara bangetlah. Saya juga sebelumnya gak tertarik nonton stand up comedy-nya Trevor Noah, yang ada di youtube atau Netflix. Padahal Suami pernah nonton, terus saya cuek aja. Males soalnya nonton/dengerin stand up comedy (SUC) tu. Kadang jokes-jokesnya menurut saya gak penting, minim esensi, dan kadang agak ‘dark’ aja gitu (gak tau mungkin saya pernah denger/nonton SUC yang salah aja kali ya😅).

Tapi kemudian yang bikin saya akhirnya tertarik beli autobiografi komedinya Trevor Noah ini adalah ketika saya pernah lihat cuplikan video Trevor Noah yang cerdas saat menanggapi isu ter*risme di Prancis. Udah agak lama sih, 2015 silam, tapi saya baru kapaan gitu nonton cuplikan salah satu show-nya. Katanya: “Most, 99.9% of Muslim people are not terrorists. How do we know this? Because we’re still alive. You understand? There are more than a billion Muslim people on the planet… They have ample opportunities. Those falafels that we buy after the club at midnight? Most Muslims are not terrorists.”

Setelahnya ada Perang Ukraina vs Rusia. Banyak refugee dari Ukraina kemudian membanjiri negara-negara tetangganya, semua bersedia menampung mereka. Lalu yang menggelikan adalah ketika ada komentar dan pemberitaan dari media Eropa yang bilang seolah-olah perang yang terjadi di Eropa ini adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka bisa ada di “this civilized country“. Di The Daily Show, Trevor Noah mengompilasi video-video dari reporter TV yang bilang tentang penyerangan Rusia, yang isinya, emang ngeselin sih kalau denger. Seolah-olah Eropa itu sangat educated untk sebuah terjadinya perang. Lalu menganggap normal perang-perang yang terjadi di Timur Tengah, Afrika, Palestina, sebab tidak terjadi di “this civilized countries“.

Seolah lupa itu perang seratus tahun di era late middle ages Eropa. Lanjutnya lagi “That’s all of European history, they even had something called the Hundred Years’ War … they got a Nobel Prize because they stopped fighting, imagine that.”

“I don’t know about you but I was shocked to see how many reporters — around the world, by the way — seem to think that it’s more of a tragedy when white people have to flee their countries. Because, I guess, what? The ‘darkies’ were built for it?” -Trevor Noah.

Saya jadi mulai mengkuti video-videonya, SUC-nya, dan kemudian tertarik ketika menemukan buku ‘Born A Crime‘ ini di salah satu coffee book shop di Zwolle. Yang tadinya cuma pengen lihat-lihat dan minum kopi cantik sambil nungguin appointment di kantor imigrasi Zwolle, jadinya saya beli empat buku, haghag, impulsif. Dua buku untuk saya dan dua buku untuk Runa. Tapi gak nyesel sih beli buku ini.

Saya kemudian jadi paham apa yang membentuk pemahaman Trevor Noah yang sangat frontal soal rasisme ini. Trevor Noah bukan cuma komedian receh, tapi ia bisa mengomentari isu-isu ini dengan sarkasme cerdas. Seolah-olah kalau pas dia ngomong itu, kita jadi pengen ikut nimpalin, “Taahh makan tah, maksudnya gitu (untuk para pelaku rasisme).

Okey, itu baru soal Trevor Noah dan latar belakang kenapa saya membaca buku ini. Mengenai bukunya. Menurut saya biografi ringan ini lengkap dalam dua sisi. Antara sedih dan komedi, antara kebandelan dan kecerdasan seorang anak, antara kemiskinan dan perjuangan keluar dari lingkaran setan kemiskinan, antara kasih sayang ibu yang tanpa batas dan watak kerasnya yang tanpa ampun, antara keburukan rasisme namun dibungkus dengan humor yang tidak terduga. Ada di beberapa halaman saya merasa miris dan pilu, tapi ada juga yang bikin senyum-senyum sendiri, sampai ngakak tiba-tiba, sambil ngomen dalam hati ‘geblek pisan ieu‘.

Kenapa judulnya ‘Born in Crime’? Sebab Trevor Noah lahir di tengah-tengah politik apartheid sedang berkuasa di Afrika Selatan. Pemisahan antara orang kulit putih dan kulit hitam yang sangat kentara. Tahulah ya siapa yang dikasih privilege dan siapa yang dipinggirkan? Ibunya Trevor Noah berasal dari suku Xhosa di Afrika Selatan, sedangkan ayahnya adalah Swiss-Jerman. Trevor lahir di luar ikatan pernikahan, atas keputusan dan kesadaran ibunya sendiri. It was like double crimes. Of course it was illegal in South Africa at the time for Blacks and Whites to have children. Apalagi di luar nikah. Jadilah Trevor Noah tumbuh sebagai anak ‘mix’ yang mendapat perlakuan berbeda. Sebagai kulit hitam enggak, sebagai kulit putih juga enggak. Gak ke sana, gak ke sini. Literally a criminal act in apartheid South Africa. His whole life growing up, Trevor Noah is an outcast. He doesn’t seem to fit in with any group.

Bisa dimengerti kenapa Trevor Noah sensitif terhadap isu-isu rasisme. Ia sendiri mengalami dan menyaksikan rasisme parah di era apartheid sampai hampir berakhirnha apartheid tsb.

Dua pesan penting yang menurut saya menonjol dari buku ini, dan tentunya bisa diambil pelajaran adalah mengenai: 1. Rasisme, so much injustice and extreme bias comes along with that. Dan kita tahu betapa buruk efeknya, betapa tidak manusiawinya, dan standar ganda itu selalu ada. Kenapa ada orang-orang yang selalu merasa dirinya lebih baik daripada kamu yang lain padahal Allah ciptakan kita semua sama dari tanah?; 2. Mengenai kekuatan dan kasih sayang seorang ibu. Wah luar biasa sih Sang Ibu Trevor Noah ini. Gak salah kalau ia bisa jadi orang hebat salah satunya karena didikan ibunya.

Gak banyak penjelasan. Dua quotes di bawah ini cukup menjelaskan kekuatan seorang Patricia Nombuyiselo Noah sebagai seorang ibu.

But I was blessed with another trait I inherited from my mother: her ability to forget the pain in life. I remember the thing that caused the trauma, but I didn’t hold on to the trauma. I never let the memory of something painful prevent me from trying something new. If you think too much the ass-kicking your mom gave you, or the ass-kicking life that gave you, you’ll stop pushing the boundaries and breaking the rules. It’s better to take it, spend some time crying, then wake up the next day and move on. You’ll have a few bruises and they’ll remind you of what happened and that’s okay. But after a awhile the bruises fade, and they fade for a reason–because now it’s time to get up to some shit again (page 91-91).

“I know you see me as some crazy old bitch nagging at you, but you forget the reason I ride you so hard and give you so much shit is because I love you. Everything I have ever done I’ve done from a place of love. If I don’t punish you, the world even punish you even worse. The world doesn’t love you. If the police get you, the police don’t love you. When I beat you, I’m trying to save you. When they beat you, they’re trying to kill you.” (Patricia Noah, Trevor’s mom).

Advertisement

1 thought on “Born a Crime – Trevor Noah [review buku]”

  1. Wah sudah lama banget kepingin baca buku ini karena somehow masuk rekomendasi mulu di mana-mana, tapi maju mundur karena sama Mbak aku pun gak pernah ngikutin Trevor Noah (pernah sih nonton beberapa videonya yang viral), jadi takutnya pas baca kurang terlalu relate. Tapi, baca review Mbak jadi kepingin baca juga. Makasii ya Mbak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s