Catatan Hati, Mumbling

Kenapa dengan Introvert?


Belakangan ini saya sering melihat postingan mengenai introvert. Mungkin hal ini muncul setelah pandemi melanda. Adanya masa-masa lock down sepertinya malah melegitimasi keberadaan dan watak para introvert. Jadi para introvert malah merasa merdeka ketika ada masa-masa gak boleh kemana-mana dan minim interaksi di dunia nyata. Kalau di dunia maya mah ya lanjut aja, da ga terbatas. Malah saya juga gak sengaja nemu ada akun instagram yang membahas dan membuat postingan dan reels mengenai sifat dan tingkah laku introvert secara khusus. Misalnya orang introvert itu kalau habis ngumpul-ngumpul, mereka merasa drained atau capek banget karena energinya dipakai semua untuk berinteraksi. Atau fakta bahwa orang introvert memiliki circle pertemanan yang sedikit tapi erat, mereka sangat effort untuk menjalin hubungan dengan orang baru. Which is gapapa sih, namanya juga postingan.

Saya iseng aja nih search di instagram mengenai akun atau hastag introvert dan extrovert. Lucunya, saya banyak menemukan akun dan postingan mengenai introvert, misal ada akun ‘thefunnyintervert’, ‘introvertgaul’, ‘interovertcasual’, etc, yang isinya tentang itu tadi. Tapi berbeda ketika saya search dengan kata extrovert, akun setipe itu gak lebih banyak.

Sejalan dengan adanya postingan mengenai introvert tersebut, saya juga jadi sering melihat beberapa orang yang juga jadi lebih sering mendeklarasikan ke-introvert-an mereka, dengan re-share postingan mengaminkan bahwa fakta tersebut benar adanya, atau dengan curhat mengenai ‘ya beginilah gue si introvert mah, so just you know‘, baik secara tulisan di medsos atau dengan lisan (langsung ke saya, bisa dipastikan yang ngomong ke saya berarti sudah dalam taraf introvert yang dianggap dekat, karena orang introvert gak ada juga yang ujug-ujug ngaku gitu ke orang yang ga deket amat).

Emang kenapa sih Nik? Kamu mo bahas apaan? Gak ada sih, ini postingan geje aja.

Saya cuma agak jengah aja lama-lama dengan seringnya orang memvalidasi dirinya seorang introvert. Well, saya sendiri juga bisa dibilang orang yang tergolong dalam introvert, kalau ketika ngumpul banyak orang rasanya drained, beda sama suami saya yang jadi makin semangat setelah bertemu banyak orang. Saya juga lebih menikmati waktu di rumah daripada di luar. Saya lebih menikmati kesendirian daripada keramaian. Saya juga banyak membenarkan fakta mengenai introvert di postingan-postingan yang ada. Cuma saya gak ingin aja mendeklarasikan diri sebagai introvert ke publik. Saya pikir ya buat apa toh? Semakin kita membuat validasi itu semakin jelas, orang juga jadi semakin sungkan gak sih ke kita? Sebagai introvert kita pun senang di reach out duluan. Kalau dalam mindset orang di sekeliling kita sudah terbentuk paradigma: “Oh si orang ini introvert nih, nanti dia bakal diem aja”, atau “Nanti dia bakal ga suka ngobrol sama saya karena energinya habis”, atau bahkan yang ga enaknya lagi, “Percuma mendekati dia, toh dia nanti gak bakal nganggep kita jadi temennya, karena dia udah punya circle dia sendiri”. Bukankah itu malah mengurangi kesempatan kita jadi dekat sama orang? atau mengurangi chance untuk menambah teman?

Iya orang introvert merasa cukup dan nyaman dengan dirinya dan circle-nya yang terbatas, kadang males nyari teman baru. Saya juga kadang gitu. Tapi we never know guys, pintu silaturahmi itu terbuka di mana-mana. Dan ada silaturahmi ada rezeki, ada berkah di dalamnya. Asli, saya juga susah membuka diri pada orang baru, tapi bukan berarti saya menutupnya. Maka saya berusaha untuk tidak mendeklarasikan ke-introvert-an saya baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Saya ingin orang mengenal saya secara generik. Monik yang bisa jadi tertutup, tetapi ternyata seru juga ya kalau diajak ngobrol. Memang butuh waktu, tapi I’ll let the time show it. Apalagi semakin dewasa circle pertemanan semakin terbatas. Adanya kesamaan dari tiap individu yang biasanya bikin orang jadi nyambung. Maka, saya berusaha mencari kesamaan yang ada dan menerima perbedaan yang ada.

So, buat saya, there’s no point on declaring your introvert side, it won’t make the world better. Malah membuat orang jadi segan. Ketika saya membaca postingan seseorang dan tahu dia introvert, saya malah mundur, ya udah susah ntar membuat dia nyaman, karena dia (mirip saya ternyata), jadi saya juga gak berusaha untuk mendekati lebih lanjut kalau gak perlu banget. Namun, saya banyak belajar dari suami saya yang 75% watak bergaulnya berbeda, bagaimana menempatkan diri dalam pergaulan, sosialiasi, dan pertemanan. Walaupun saya juga suka lelah mengikuti pace suami yang loncat sana dan sini, ini oke itu yes. Tapi I’ll try my best sebagai introvert yang friendly and open. Cheers!

Advertisement

2 thoughts on “Kenapa dengan Introvert?”

  1. Haha. Interesting nih point soal gak usah declare-declare. Eventhough mengaku “kurang mau bergaul”, ternyata malah introvert yg kedengaran lebih sering declare ttg dirinya ya. Semacam megaloman gitu ya.
    Point lain soal topik introvert lebih banyak yang mengulik daripada topik ekstrovert ada benarnya. Dari saya sendiri bahkan bikin tag khusus soal introvert ini. https://ikhwanalim.com/tag/introvert/ Bagian dari cara saya mengenali diri sendiri dengan lebih dalam juga, sih.

    1. Ternyata Ka Ikhwan punya tag di blognya khusus introvert ini, haha. Iya dulu tu sebenarnya ga ada label-label ekstrovert vs introvert. Ya bergaul, gaul aja. Si ini emang pendiam, tapi ya gapapa. Si itu emang dikenal supel, ya udah gitu. Tapi makin ke sini kayak dibikin jelas aja gitu, emang kenapa yak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s