Journey, Life is Beautiful

Terpaksa Nanjak dan Turun

Liburan naik gunung, hiking, trekking, apalah namanya (saya gak tahu bedanya), sambil berburu foto-foto landscape yang cantik mungkin jadi ambisi suami sejak kapan, Qadarullah baru kesampaian summer 2020 ini, trip ke Switzerland (Lauterbrunnen dan sekitarnya, Engelberg dan sekitarnya). Istrinya yang jiwa petualangnya mengkeret setelah punya dua anak agak susah diajak berkoordinasi. Makanya saya bebaskan saja suami untuk menyusun itenerary ke mana, pokoknya saya ngikut aja. Tiba-tiba hari ini trekking 4 km PP, besoknya melewati jembatan dan terowongan air terjun, besoknya naik cable car ke atas gunung, dst.

Pinginnya selalu bisa merangkum trip di blog, tapi apa daya, kadang suka skip. Udah banyak trip-trip yang catatannya tertunda ditulis, sampai sekarang udah lupa jadinya. Tujuannya nulis di blog, ya biar inget, oh dulu pas nge-trip gini dan gitu, kesannya apa, bisa terekam terus jejaknya.

Jadi saya nulis segini dulu aja, sama sedikit foto. Klau mau lihat hasil foto-foto landscape yang bagus selama di Switzerland, bisa dicek di akun IG suami aja: @fbprasetyo.

Selama diajak membolang naik-turun gunung, sebenarnya ada secuil rasa enggan dibalut keterpaksaan. Haduh nanti capek, haduh berat naik ke atas, haduh kasian nanti anak-anak gimana, dan haduh-haduh lainnya. Maap anaknya suka pesimisan dalam situasi yang menantang. Jadinya dalam perjalanan naik dan turun saya banyak berzikir aja, supaya lancar selama hiking, sekaligus memuji keindahan alam yang dilewati selama perjalanan. Dan saya juga jadi (sok-sokan) berfilosofi.

Berikut foto-foto pendakian kami:

Mendaki di Wengen, dengan track yang easy untuk anak-anak
Di Muren
Turun gunung di Wengen

Memang kalau mau lihat pemandangan bagus di atas harus berusaha keras, kalau perlu gas pol, digenjot terus semangatnya, walaupun kaki terasa pegel, dan gak tahu di mana ujung puncaknya. Sudah sampai atas, Masya Allah keindahannya, puas rasanya, rasa capek tadi jadi gak terasa. Dan ketika turun malah ternyata lebih susah daripada naik, soalnya telapak kaki harus bisa menjejak dengan seimbang, diiringi rem yang stabil, supaya badan gak menggelinding begitu saja di jalanan menurun.

Sama halnya seperti hidup. Ketika kita sedang berusaha mencapai cita-cita dan tujuan, diperlukan determinasi tinggi untuk terus maju, walau lelah, ya jangan berhenti di tengah jalan. Keletihan dalam perjalanan akan dibayar lunas saat berhasil meraih impian. Dan saat hidup terasa berada dalam posisi menurun, jangan sampai kita melepaskan kaki kita pasrah pada jalan menurun, bisa-bisa kita nanti terjun bebas. Perlu ada kekuatan dan sabar menahan agar saat turun kita tidak jatuh.

Itu aja sik, sisi hikmah yang bisa saya ambil ketika hiking.

Oiya satu lagi, it’s always nice to have company in our every journeys. So we will not be alone. Untuk kasus saya dan suami, kami belajar untuk saling percaya. Saya percaya aja kalau suami akan menunjukkan jalan yang benar sampai ke tujuan. Beberapa kali saya tanya, ‘masih lama gak?’, ‘masih jauh gak?’, dan dia selalu bilang, ‘bentar lagi kok’, ‘sedikit lagi kok’. Meski dalam hati saya tahu tidak semua ‘bentar’ dan ‘dekat’ yang dia bilang itu benar. Dia bilang gitu biar perasaan saya lebih baik. Sementara suami juga menaruh kepercayaan pada saya dan Runa, bahwa kami mampu berusaha naik dan turun dengan kekuatan kami. Alhamdulillah semuanya lancar.

Info for Motion, Journey, Lomba

Pengalaman Menamatkan Novel dan Mengikuti GWP2020

Alhamdulillah, akhirnyaa beres juga submit naskah untuk ikut event Gramedia Writing Project (GWP2020), The Writer’s Show. Ini naskah fiksi saya yang selesai pertama kalinya lho, *prokprokprok. Sejak zaman saya masih belum baligh, saya udah punya cita-cita pingin bikin buku, hihi.. Dulu pikiran saya bikin buku itu sama dengan bikin cerita fiksi, mungkin karena bacaan saya dulu banyakan cerita-cerita ya. Fast forward setelah saya punya menikah, punya anak, merantau jauh-jauh, baru bisa bikin buku sendiri, Alhamdulillah. Buku pertama yang bisa saya kelarin, buku nonfiksi, semacam jurnal, catatan hati, baca Groningen Mom’s Journal. Menurut pengalaman saya, membuat tulisan nonfiksi rasanya lebih mudah, entah mengapa. Ketika menulis fiksi, kreativitas dan imajinasi saya rasanya dituntut lebih keras.

Udah berapa kali saya nyobain bikin novel, idenya selalu ganti-ganti terus, dan ujungnya gak pernah selesai. Sedih sih. Draft-draft cerpen dan novel saya teronggok gitu aja di laptop, sampai laptop saya yang zaman zebot itu rukzak, dan lenyap semua. Tapi ya sayang gak sayang, soalnya naskahnya gak beres juga. Saya selalu gak pede dengan tulisan fiksi saya. Setelah lama, pake banget, akhirnya ada juga naskah novel yang bisa saya selesaikan melalui event GWP2020 ini.

Tujuan saya ikutan GWP2020 sebenarnya sih gak muluk-muluk. Cuma pingin naskah rampung. Di awal pendaftaran di bulan Juni, kan cuma disuruh upload 3 bab. Dipaksainnn, akhirnya bisa juga upload 5 bab, hihi. Ketika dulu saya masih muda belia dan manis manja, saya pinginnya bikin novel cinta-cintaan gitu, wkwkwk.. tapi tentunya saya tuh takut melanggar batas-batas tertentu, entah gimana, saya selalu merasa punya border sendiri dalam nulis fiksi. Mungkin batasan-batasan tersebut yang membuat saya terus urung menyelesaikan tulisan fiksi saya. Sampai saya pernah mengikuti kelas tausiyah dari Habiburrahman El-Shirazy di bulan Ramadan lalu, saya akhirnya menancapkan dalam hati tujuan saya menulis novel. Waktu itu saya bertanya via kolom chat pada beliau, intinya bagaimana menulis novel yang tetap dalam jalur-jalur Islam, yang selaras dengan aturan agama. Beliau berkata, ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Itu kembali lagi dari apa tujuan Anda menulis cerita tersebut. Hakikatnya menulis cerita itu bisa jadi ladang dakwah dan amal jariyah. Baiklah, bismillah.

Continue reading “Pengalaman Menamatkan Novel dan Mengikuti GWP2020”

Pharmacisthings

Reuni Virtual 10 Tahun FKK06

Praktikum meracik bersama bu lusi
Bikin jurnal praktikum sejak dini hari
Ini reuni bukan reuni sembarang reuni
Reuni virtual FKK di masa pandemi

Masya Allah, tabarakallah, ada hikmahnya pandemi. Selalu ada. Mendekatkan kembali keluarga, merekatkan kembali persaudaraan dan pertemanan. Orang jadi lebih aware tentang hal-hal penting yang sering dianggap remeh.

Dari yang awalnya cuma iseng-iseng mau ngadain reuni virtual, dalam waktu seminggu akhirnya jadi juga.

Rindu sekali sama FKK 2006. Keluarga rumah kedua di masa-masa kuliah. Bersyukur Allah memilihkan saya komunitas komunitas yang kondusif, jadi saya terjaga dari pergaulan anak muda-mudi yang suka mengikuti hawa nafsu ke mana-mana. Sudah 10 tahun sejak kelulusan pertama FKK, di tahun 2010. Setelahnya beberapa dari kami menempun jalannya masing-masing. Kebanyakan dari kami tetap melanjutkan apoteker di ITB, jadi masih sama-sama. Tapi tentu semua berbeda…

Apalagi setelah dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sampai sepuluh tahun setelah kelulusan. Sudah banyak yang berubah. Nasib membawa ke mana kami melangkah.

Alhamdulillah seneng banget akhirnya jadi juga reuni virtual via zoom. Lumayan lengkap personel FKK (ada 34 totalnya), kurang dua orang aja. Kami memang belum pernah mengadakan reuni yang cukup lengkap sebelumnya. Sengaja saya simpen di sini, biar bisa dikenang. Belum tahu kapan bisa kayak gini lagi.

Beberapa orang dari kita ada yang jadi volunteer sebagai panitia reuni, gak disangka seminggu bisa jadi dong nyusun acaranya, tanpa drama berarti, hehe.. Ada sih drama utamanya malah dari penampilan FKK Boys, mereka tampil dengan bikin video gitu, masing-masing ngerekam suara sendiri terus digabungin. Mantap sih ini para FKK boys, juga Zulfan Winda yang jadi PJ videonya.

Rundown:
19.00: opening (monik) yg lain mute
19.03: sambutan Om (yg lain mute)
19.08: Life Update ( teknisnya: pakai comment picker buat milih nama. Monik bacain life update yg dichat ama panitia. Anak2 suruh nebak. Terus yg bersangkutan diminta ngomong)
20.08: Kahoot Quiz (monik play kahoot quiznya yg sudah dibuat panitia)
20.23: FKK Boys Performance (kamel muter videonya)
20.38: Undian doorprize (pake wheel)
20.42: Doa bersama ( dipimpin zulfan)
20.47: Penutupan

Dua jam gak kerasa. Dan semua yang dulu pernah ada terasa flash back. Dan rasanya kembali ke masa-masa dulu. Masa-masa yang beban terberat di dunia itu cuma ujian dan lagi berantem sama gebetan/pacar (ups), ya sudahlah. Meski dulu gak ideal-ideal banget jadi anak muda, gak alim-alim banget, setidaknya masih ada dalam jalur yang (cukup) lurus. Banyak tidaknya dipengaruhi oleh lingkungan di FKK dan di Farmasi ITB. Alhamdulillah alakulli haal.

 

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents

“You call your parents everyday?”

“Yes, almost everyday, in irregular times. Sometimes in the morning, so in Indonesia it’s already afternoon.”

“Really? And you talk about …?”

“Anything, well, we can talk about everything. Not in really serious way. Sometimes just what did you do today? What did you cook today? Just simply daily conversation. It isn’t common?”

Jadi waktu ketemu lagi sama teman-teman di kampus, kan kita ngobrol gimana kabar-kabarnya nih selama pandemi, apa ada yang berubah? Ya tentu banyak yang berubah, ritme kerja, jadwal sehari-hari, intensitas komunikasi dengan keluarga (baik keluarga yang di sini atau yang di kampung halaman), dst. Ada teman yang jadi mengagendakan telepon/video call khusus dengan keluarganya, ada yang mamanya jadi lebih sering menelepon nanya kabar, dan ada juga yang biasa aja gak berubah karena biasanya emang jarang telepon/video call.

Kalau saya ya … hubungam dengan keluarga di Indo bisa dibilang gak terlalu banyak berubah. Sebab sebelum pandemi pun saya dan keluarga di Indonesia memang sering teleponan dan video call. Mama kan ibu rumah tangga, jadi gak punya jadwal khusus untuk kerja. Mama biasanya nelepon saya jam berapa aja selowongnya dia. Kalau saya biasanya nelepon Mama di pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, atau malah sore pas pulang. Waktu wiken pasti jadi agenda menelepon yang agak panjang durasinya, kan kita bisanya juga santai. Kalau dengan keluarga suami (mertua), karena bapak dan ibu bekerja, jadi biasanya teleponan dan vid call lebih banyak dilakukan di saat wiken.

Pas pandemi, intensitas menelepon jadi lebih meningkat, soalnya sama-sama di rumah kan kita semua. Jadi bisa nelpon kapan aja. Biasanya ya kami pagi/siang di sana siang/sore (summer time bedanya 6 jam, Indonesia lebih duluan).

Continue reading “Call Your Parents”

Mommy's Abroad

“Hallo, Bandoeng!”

Dikirimi video berjudul “Hallo, Bandoeng” sama Bapak mertua. Videonya berisi video kilasan Bandung tempo doeloe, dengan lirik berbahasa Belanda. Bapak bilang, coba tanyain sama Runa ini lagunya tentang apa. Jadilah kami pun penasaran lirik dan lagunya tentang apa. Digoogling dan dapatlah.

Tadinya cuma baca dari Wikipedia aja, terus dari lirik berbahasa Belanda tersebut, saya udah bisa agak mengerti artinya. Meski bahasa Belendong eike ngap-ngapan, ye kan? Tapi gapapa sambil belajar. Terus udah feeling nih kayanya ini lagu berbau-bau bawang (maksudnya seudih dan mengundang air mata).

Beneran pas buka youtube yang udah ada arti lirik berbahasa Indonesianya, itu mah air mata langsung mendesak-desak keluar semua. Ngebayangin orang tua, ngebayangin anak, dan tentunya tanah air.

Monggo disimak di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=dT-WFYKhFlI&feature=youtu.be

Lagu itu berlatar tahun 1920an. Ketika orang Belanda banyak yang ke tanah air (mari kita skip bagian penjajahannya. Itu mah memang sejarah kelam yang bikin sedih/kesel). Lagunya bercerita mengenai kerinduan seorang ibu yang sudah tua, pada anak lelakinya yang tinggal di Bandung. Ia menghabiskan uang tabungannya untuk bisa menelepon ke Indonesia melalui sambungan radio di kantor telegraf. Bukan Telegram di zaman mari yaa.. yang ada di ponsel pintar Anda. Jadi si anak entah tinggal di Bandung udah berapa lama. Dia menikah dengan wanita Indonesia, dan udah punya anak-anak. Anaknya bilang kalau setiap hari mereka selalu membicarakan sang Ibu, bersama anak-anaknya. Si anak-anaknya ini belum pernah ketemu Omanya, cuma melihat dari foto aja. Kabayang kaaan.. udah mah zaman baheula gak bisa nelepon tiap saat, mau kirim surat nyampenya seabad, mau pulang-pergi Indo-Belanda juga kudu pake kapal laut berbulan-bulan. Kangennya si Ibu dan Anak ini udah kayak apa.

Ini link Wikipedianya: https://en.wikipedia.org/wiki/Hallo_Bandoeng

Bercucuran air matalah si daku cengeng ini. Posisinya kebalik aja, kita yang di Belendong, ortu yang di Bandung. Terus Suami jadi pingin ikutan berdendang. Akhirnya dia nyanyi dan bikin kolase foto-foto yang ada Ibunya. Eike mo ikut nyanyi kan apa daya ya suara mencar-mencar kek kelereng disebar, hihi. Biarin aja suami nyanyi sendiri, dia pan emang ada sedikit bakatlah ya. Jadilah seperti ini https://www.youtube.com/watch?v=ZT0mKoQD2qs&feature=youtu.be

Tentu sukses bikin Ibu jadi termehek-mehek. Bapak juga. Mamaku juga. Wah beneran ni ratjun juga, bikin semua jadi pada mewek. Hal ini jadi penawar racun yang bisa mengobati kangen. Si aku karena bukan tipe anak romantis (tidak seperti suami dan ibunya), gak bisa tuh berehek-ehek sama si Mama membahas betapa kangen dan berterima kasihnya daku sebagai anak. Nanti deh mungkin kalau ada kesempatan eike nyenyong bole juga.

“Hallo, Bandoeng … Ja moeder hier ben ik …

 

 

Only a Story

Gampang Ingat, Sulit Lupa

Ustadz Adi Hidayat pernah bilang, (kalau saya tidak salah ingat) bahwa ada kategori-kategori orang dalam menghapalkan Al Qur’an

  1. Gampang ingat, gampang lupa
  2. Gampang ingat, sulit lupa
  3. Sulit ingat, gampang lupa
  4. Sulit ingat, sulit lupa

Tentu dari keempat kategori tersebut, kita inginnya ada di nomor 2 ya. Tapi Masya Allah, kalau usia udah semakin bertambah sepertinya daya ingat dan kemampuan menghapal cepat juga semakin menurun. Entah karena banyak hal-hal lain yang dipikirkan dan dikerjakan, atau memang usaha dalam menghapalkannya kurang maksimal.

Muroja’ah. Artinya kita selalu mengulang hapalan surat dalam al-Qur’an setiap hari dan setiap saat, secara konsisten. Anehnya konsisten ini malah sulit diterapkan ketika kita semakin dewasa. Kalau saya berkaca pada anak saya yang berusia 7 tahun. Ia bahkan memiliki jadwal teratur setiap harinya, yang ia sudah tahu itu.

Pulang sekolah, makan siang, solat zuhur, setelah solat ngaji satu halaman dan murojaah surat yang dihapalkannya. Setelah ngaji ia boleh memiliki tontonan untuknya. Tadinya kami membatasi nonton hanya di weekend saja. Tapi melihat peningkatkan kerajinannya mengaji, maka satu tontonan 30 menit won’t really harm. So, it’s okay. Ia sudah punya pemikiran logis, setelah mengerjakan ini ini dan itu, rewardnya adalah nonton. Bukankah kita sebagai orang dewasa juga gitu kan? Ah sudah beres kerja, buka sosmed dulu-lah.. Malah kita kadang lebih meminta banyak reward daripada tugas yang dikerjakan, heuheu. Continue reading “Gampang Ingat, Sulit Lupa”

Mommy's Abroad

“Dirijek, dirijek, dirijek aja”

Beberapa pekan lalu saya mengerjakan review manuskrip yang disupervisi oleh supevisor saya. Jadi dalam hal ini saya bertindak selaku reviewer yang diamanahi sebuah jurnal untuk mengecek “kepantasan” suatu manuskrip untuk layak terbit atau tidak. Jurnal tersebut lumayan ternama, masih Q1 di area medicine, edpidemiology, dan pharmacology.

Merupakan pengalaman yang menarik, sebab saya harus mengkritisi isi paper tersebut. Biasanya kan saya, sebagai PhD student, yang selalu kena kritik. Tentu ketajaman saya mengkritik masih selow, dibandingkan dengan si Ibuk supervisor. Dia bisa melihat dari sisi depan-belakang-kiri-kanan kekurangan dan kelebihan paper tersebut. Di beberapa tempat, si Ibuk juga sepakat pada poin-poin strong and weakness poin yang saya tuliskan di review. Sebagai reviewer, kita hanya berhak memberikan penilaian, tapi pertimbangan untuk rejection dan acceptance itu dari pihak editor jurnal. Jadi ya serah editornya. Editor akan menimbang dari kesimpulan major and minor concern dari beberapa reviewer yang dia tunjuk.

Baru kemarin ternyata saya diforwardkan email dari editor tersebut, bahwa paper tersebut bernasib malang. Ah sayang sekali paper tersebut kena reject. Padahal saya sangat mengapresiasi kerja keras authors dalam menuangkan risetnya ke paper tersebut. Saya membayangkan juga bagaimana dia bisa menghasilkan paper tersebut dengan banyak results, figures, dan tables. Pasti sang PhD tersebut pontang-panting menyelesaikannya (ngaca sendiri). Selain daripada dia juga menyitasi paper saya, ehem.. saya sebenarnya berharap papernya di-accept oleh jurnal tersebut. Menurut pandangan editor, dari dua reviewers, kesimpulannya ada major points yang harus diselesaikan dan nampaknya untuk sekarang mereka menolak dulu. Continue reading ““Dirijek, dirijek, dirijek aja””

Journey, Life is Beautiful

Menyambut Syawal

Selamat Idul Fitri 1441 H.
Taqobbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan batin.

Fajar, Monik, Runa, Senja

Dari ‘Aisyah RA, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, kerjakanlah amalan-amalan yang kalian mampu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling disenangi Allah adalah yang berkesinambungan, walau itu sedikit.” (HR. Bukhari).

Semoga Ramadan yang telah berlalu tidak membuat rutinitas ibadah yang dibangun selama Ramadan ikut pergi. Namun malah menjadi bekal bagi kita untuk menghadapi 11 bulan ke depan, menjadi manusia yang terus memperbaiki diri. Aamiin..

Coba dicatat amalan dan ibadah rutin apa yang selalu dilakukan ketika Ramadan dan kiranya bisa diteruskan di bulan ini, bulan berikutnya, dan seterusnya? Ibadah-ibadah yang terasa mudah dilakukan di bulan Ramadan memang rasanya lebih berat dijalankan di luar Ramadan ya, entah kenapa. Bisa karena memang setan-setan udah bebas berkeliaran, bisa karena tidak ada dukungan komunitas (maksudnya kan kalo Ramadan komintas terdekat kita ya  puasa, tarawih, berlomba-lomba melakukan kebaikan), bisa karena kurangnya strong will di dalam diri sendiri, yang menyebabkan diri ini jadi berleha-leha. 

Bismillah … semoga istiqomahnya tetap terjaga di bulan Syawal dan seterusnya. Meski targetan ibadah tidak se”ambisius” di bulan Ramadan, namun setidaknya bisa meninggalkan jejak keistiqomahan, aamiin.

Info for Motion

Membaca Sirah Nabawiyah

Ustadz Nouman Ali Khan pernah memberi nasihat kurang lebih begini yang saya ingat, kalau bisa kita menamatkan atau membaca sirah nabaiwyah dua kali dalam setahun. Kenapa? Perjalanan manusia paling mulia ini menjadi pelajaran bagi kita, dan tidak akan habis ibrah yang bisa diambil dari sirah ini. Tentu juga ga akan habis-habis kisahnya, kadang kita juga lupa, bisa jadi pengingat lagi. Mungkin tahun ini baca sirah terbitan A dan B, tahun depan bisa dari nonton youtube mengenai ceramah sirah, dll.

Target ini selalu saya tulis tiap tahun (setidaknya dua tahun belakangan ini), walaupun kadang skip. Dengan menulis ini, saya ingin mengazamkan lagi pada diri saya sendiri untuk menjadikan ini agenda reguler tiap tahun.

Ramadan kali ini, saya ingin membaca kembali Sirah Nabawiyag terbitan Magfirah (gambar buku di bawah). Saya mendapatkan rekomendasi yang bagus mengenai buku ini dari kawan. Ternyata benar, isinya enak dibaca, seperti membaca cerita, tidak membosankan, cukup detail, lengkap dari awal mula sejarah bangsa Arab hingga Rasulullah wafat. Niat banget ini buku seberat 1 kilo lebih saya boyong di koper sampai ke negeri Walanda.

Saya sudah pernah baca sekali, lalu saya banyak skip di bagian perang, kecuali perang-perang utama seperti Badar, Uhud, dan Khandaq. Ternyata Rasulullah dulu mengadakan banyak ekspedisi ke beberapa wilayah di Arab, dengan maksud menyebarkan dan memperlebar wilayah Islam. Di bagian ini cukup bikin saya bosan, lalu akhirnya gak selesai deh bukunya.

Kali ini, saya mengulang lagi bacanya dari awal. Benar saja kata Ust. Nouman, manusia itu sering lupa, pas baca lagi dari awal, saya sadar banyak yang udah menguap dari kepala saya mengenai kisah Rasulullah. Makanya saya membaca lagi dengan penuh semangat. Ditambah juga kami sekeluarga sedang mengikuti Omar the Series, terbitan Qatar TV. Menyimak kisah Umar bin Khattab sambil membaca Sirah ini terasa jadi saling relevan dan nyambung semuanya. Jadi lebih tergambar apa yang diceritakan di buku ini.

Insya Allah saya akan meneruskan membaca sirah lagi. Menggali lebih banyak manfaat dan pelajaran di dalamnya. Kalau ada rekomendasi buku sirah atau ceramah ustadz, boleh dishare ke saya.

Buku Sirah Nabawiyah
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

27 April – Koningsdag, Ulang tahun Raja Belanda.⁣

Kalau Raja Belanda ulang tahun, rakyatnya libur. Bahkan jadi libur nasional se-Belanda. Biasanya kami sangat antusias menyambut ultahnya Raja, sebab banyak event menarik di hari itu.⁣

Ya sebenarnya kami bukan rakyatnya sih, tapi tetep ikutan libur dan merasakan kemeriahan peringatan hari lahir Raja King Willem-Alexander. Kalau Raja/Ratunya berganti, perayaannya juga bergeser lho. Dulu, hari libur nasional ini ada di tanggal 31 Agustus, yaitu hari lahir Queen Wilhelmina. Pernah juga tgl 30 April (Queen Juliana). Sementara Queen Beatrix yang lahir di bulan Januari ternyata tetap ingin merayakan Queen’s Day (Koninginnedag) di tanggal yang sama dengan ibunya, Queen Juliana. ⁣

Kota-kota di Belanda pasti merayakan Koningsdag ini. Setiap sudut kota akan dipenuhi nuansa oranye dan bendera Belanda. Orang-orang akan beramai-ramai memakai baju dan atribut oranye. Di pusat kota akan dibuka vrijmarket (flea market). Di mana setiap orang boleh berjualan apa saja, biasanya sih barang-barang second. Ada mainan anak, baju, jaket, sepatu, peralatan dapur, buku, barang antik, dll. Di sepanjang jalan juga akan ditemukan performance musik, kayak ngamen gitu. Belum lagi ditambah konser di lapangan pusat kota.⁣

Tahun ini Koningsdag sepi-sepi aja. Biasanya Raja akan mengunjungi salah satu kota di Belanda untuk berpawai dan berpidato. Groningen kebagian kunjungan Raja di tahun 2018. Namun, tahun ini visit Raja yang direncanakan ke Maastricht harus dibatalkan karena kondisi pandemik.⁣

Oiya yang bikin seru pas Koningsdag adalah beberapa Mamak Groningen pernah ikutan buka lapak di flea marketnya. Ternyata perjuangan lho, soalnya dari jam 7 pagi sudah harus standby, berebut cari lapak kosong. Terus harus sabar menunggu dagangan. Belum lagi kalau lapar dan kebelet pipis, hmm.. harus cari cara untuk mengatasinya.⁣

Yang pasti 27 April selalu jadi hari seru buat kami. Kalau kamu, apa pengalaman tak terlupakan dalam merayakan ultah Raja ini?⁣