review buku

Review Buku The Power of Habit – Charless Duhigg

All our life has it definite form, a mass of habits“. Kita mungkin mengira kalau kebanyakan dari keputusan yang kita ambil sehari-hari merupakan hasil dari pertimbangan yang matang, padahal bukan, keputusan-keputusan tersebut datang dari habit (kebiasaan), misalnya makanan yang kita pesan, apa yang kita ucapkan pada anak-anak sebelum tidur, apa saja yang kita beli di supermarket, berapa lama kita berolahraga, bagaimana kita mengatur pikiran dan work routines kita, dll. Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut tak disangka bisa memiliki efek yang besar bagi kesehatan kita, produktivitas, finansial, dan tentunya kebahagiaan. Kok bisa? Buku ini mengupasnya dengan lengkap.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama fokus pada bagaimana habits bisa muncul di kehidupan seseorang, hal ini melibatkan kerja neurologi sampai pada transformasi habit. Lalu ada juga penjelasan mengenai bagaimana membangun kebiasaan baru dan menggantin kebiasaan lama, apa saja metodenya, dan polanya. Bagian kedua memaparkan bagaimana habits dari perusahaan dan organisasi yang sukses di dunia. Contohnya, bagaimana seorang CEO bisa mengubah perusahaan manufaktur yang sedang struggling menjadi top-performer company. Dan sebaliknya, bagaimana kumpulan-kumpulan dokter bedah bertalenta tetapi malah membuat kesalahan katastropik dengan adanya habits yang salah. Bagian ketiga menjelaskan bagaimana habits yang ada di masyarakt bisa mengubah dunia.

Setiap babnya memiliki pesan yang seragam, bahwa habits can be changed, if we understand how they work

Dalam buku ini dijelaskan mengenai habit loop: cue, routine, and reward. Sinyal, rutinitas, dan hadiah. Tiga hal itulah yang membangun habit.

Change might not be fast and it isn’t always easy. But with time and effort, almost any habits can be reshaped

Continue reading “Review Buku The Power of Habit – Charless Duhigg”
review buku, [GJ] – Groningen’s Journal

Pemesanan Buku Groningen Mom’s Journal dan The Power of PhD Mom

Halo para pembaca! Yang belum sempat membeli dan membaca buku Groningen Mom’s Journal dan The Poewer of PhD Mom, berikut informasi pemesanannya ya.

Groningen Mom’s Journal – terbitan Elexmedia, 2018

Bisa menghubungi:

Shopee Samudra Books shopee.co.id/urfaqurrotaainy atau

web www.samudrabooks.id. IG: https://www.instagram.com/samudra.books/

Samudra Book melayani pengiriman ke seluruh Indonesia, ke beberapa negara lain, seperti Malaysia (via Shopee) 😊.

The Power of PhD Mom – terbitan NEApublishing, 2021

Reposted from @neapublishing SUPER MUSLIMAH

Jadi muslimah sekaligus ibu dan istri bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi dan mengejar cita.

@monikaoktora adalah contohnya. Perempuan muda ini melebarkan langkahnya hingga ke Belanda untuk meraih gelar Doktor sembari menjalani perannya sebagai istri dan ibu bagi dua buah hatinya.

Mau tahu Monika sekolah apa di Belanda?

Monika studi PhD (S3) di Clinical Pharmacy and Pharmacology Dept, University Medical Center Groningen (UMCG) di Groningen, Belanda.

Keren kan?

Insya Allah, kisah seru Monika akan hadir dalam buku THE POWER OF PhD MAMA.

Ini buku baru terbitan @neapublishing.
Info pembelian buku bisa kontak admin NEA Publishing di +62-821-2690-8782
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

“Ik vind jouw hoofdoek mooi!”

“Ik vind jouw hoefdoek mooi!”/Jilbabmu bagus!

Di kelas Runa, setiap minggunya ada giliran menjadi ‘kind van de week‘, atau kid of the week. Jadi si anak mendapatkan “perlakuan istimewa” dari guru dan teman-temannya. Apa saja itu? Misalnya si anak boleh duduk di sebelah sang guru saat sesi kringetje (duduk dalam lingkaran), bantu guru mencuci apel untuk dimakan saat istirahat. Kalau di esde saya dulu mungkin bantu hapus papan tulis kali yah, wkwk.. (Semacam piket dong😅).

Tapi yang istimewanya di pekan tsb, anak yang bersangkutan boleh mendapatkan testimoni dari teman-temannya. Guru meminta anak-anak untuk memikirkan dan menuliskan hal baik apa tentang si anak yg menjadi kid of the week. Runa juga pernah mendapatkan kesempatan itu. Suatu kali ia membawa pulang tumpukan kertas berisi tulisan tangan teman-temannya. Runa bilang dia senang banget baca tulisan-tulisan itu, terutama dari Sara, yang bilang “Ik vind jouw hoofdoek mooi” (Kupikir jilbabmu bagus).

Runa memang sering pakai jilbab ke sekolah, kami gak memaksakan, hanya membiasakan. Kalau Runa mau ya bagus.. apalagi pas winter kemarin malah enak pakai jilbab, anget. Kadang Runa juga suka minta pakai jepit rambut atau dikepang dua, ya gakpapa. Setelah, membaca komentar Sara, Runa jadi semangat pakai jilbab ke sekolah, Masya Allah.

Kami belajar banyak hal dari itu:
1. Kami mencoba untuk membuat Runa nyaman dan bangga pada identitasnya sebagai muslimah. Tak disangka, ternyata dari lingkungannya yang heterogen ini, Runa masih bisa mendapatkannya.

2. Banyak hal luar biasa yang terasa kalau kita juga memberikan feedback positif pada anak-anak, salah satunya bisa menumbuhkan rasa pede pada anak. Anak pun belajar untuk memikirkan hal baik mengenai temannya. Saya juga ingin dong jadi ‘kind van de week‘.

3,4,5, dst….

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Sadari, Hal Kecil yang Bisa Berarti Besar.

Ini adalah kisah mengenai seorang Oma di depan jendela

(1)

Sebelum pandemi, biasanya kami mengantar anak-anak ke sekolah naik sepeda. Ketika akhirnya sekolah kembali dibuka, Runa, anak pertema saya, gak lagi bersepeda ke sekolah. Sekolah memang menganjurkan untuk anak-anak yang rumahnya dekat di lingkungan sekolah untuk jalan kaki ke sekolah. Kendaraan hanya diutamakan untuk anak-anak yang rumahnya agak jauh. Hal ini untuk mengurangi gerombolan anak-anak/orang tua yang datang jam masuk dan pulang sekolah.

Kami pun mengantar anak-anak dengan berjalan kaki. Suatu kali, kami berangkat ke sekolah melewati jalan setapak di depan sebuah taman, yang di hadapannya berjajar rumah-rumah mungil. Rumah-rumah Belanda memiliki halaman terbuka dengan tipe jendela yang besar. Jendela tersebut kadang dibiarkan  terawang tanpa ditutup gorden.

Adalah rumah pertama di deretan itu, dihuni seorang Oma yang tinggal seorang diri. Saat melewati rumahnya, kami refleks menengok jendela dapurnya. Sang Oma berdiri di sana, melambaikan tangan sambil tersenyum. Seolah mengucapkan, “Selamat pagi! Selamat menikmati hari ini.” Ternyata ia tidak hanya melakukannya pada kami, tapi pada setiap anak-anak dan ortu yang melewati rumahnya menuju sekolah. Ia seperti sengaja menunggu di depan jendela untuk menyapa orang-orang yang lewat.

Sejak saat itu, kami selalu melewati rute itu untuk bertemu mata dengan sang Oma. Entah mengapa, semangatnya seperti menulari saya. Yang mulanya hari Senin menjadi hari penuh beban untuk memulai pekan, tetapi di pagi itu rasa hati saya menjadi lebih ringan. Hanya karena lambaian tangan dan senyum ramah dari sang Oma.

Oma yang namanya pun kami tak tahu, tapi kami tahu hal kecil yang dilakukannya berarti untuk kami. Ada terselip rasa lapang di tengah kondisi lockdown yang kadang terasa menyesakkan.

One small thing, it’s a good place to start. One small thing leads to more, to the beginning of something big.

Dadah Oma!

(2)

Bagaimana kabar Oma di depan jendela?

Rumah Oma meski mungil, tetapi tertata apik. Di halamannya tampak kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Saat musim semi ke musim panas, rumah Oma sangat cantik dengan berbagai macam kembang dan tanaman menghiasi halamannya.

Suatu waktu ketika kami belanja ke pasar, Pak Suami membeli 4 buket bunga tulip, karena sedang diskon. Ketika kami letakkan tulip-tulip itu di vas berisi air, Masya Allah mekarnya cantik sekali. Suami lalu punya ide, bagaimana kalau nanti kita ke pasar lagi, kita belikan juga bunga tulip ini untuk Si Oma. Sekalian kenalan. Runa pun semangat ingin segera menjalankan ide ini.

Sabtu lalu, kami membeli buket bunga lagi, kali ini untuk Si Oma. Saya dan Runa yang akan memberikannya pada Si Oma (sambil saya latihan ngomong bahasa Belanda, haha).

Sang Oma tampak surprised melihat kami di depan pintu rumahnya. Runa bilang: “We vinden heel lief om u deze bloemen te geven.” (Kami pikir akan baik kalau memberikan bunga untukmu).
Dengan berseri-seri Oma itu menerima buketnya, “Wat lief! Kenapa kamu kasih ini ke saya?”
Runa bilang: “Karena tiap hari Oma dadahin kami sebelum berangkat sekolah, kami jadi semangat.”
Omanya tersenyum lebar, “Saya memang merasa senang menyapa dan ngedadahin orang-orang di depan jendela saya.”

Saya jadi terharu. Kami pun mengobrol singkat. Ia jadi tahu kalau kami orang Indonesia. Ternyata waktu suaminya masih hidup, ia pernah tinggal di deretan rumah kami, sebelum pindah ke rumah mungil itu.

Setelahnya, Runa bilang pada saya, “Runa suka kalau kita kasih suatu ke orang dan orangnya jadi senang.”
Saya setuju, bahwa kebahagiaan itu dirasakan bukan hanya saat kita mendapatkan hadiah, tetapi kita jauh lebih bahagia saat kita bisa memberikan sesuatu pada orang lain.

Bunga tulip oranye dari kami disimpan Oma di meja ruang tengahnya 🙂

Just Learning, review buku

Review Buku Peak, Secrets from the New Science of Expertise – Anders Ericsson dan Robert Pool

Saya mencatat apa-apa yang penting dari buku ini di blog, supaya saya gak lupa. Bahwa semangat saya terpantik setelah membaca buku ini. Jadi bismillah, semoga bisa bermanfaat.

Kadang kita suka bertanya-tanya kalau melihat ada orang yang kok kayanya berbakat banget dalam suatu hal: ada orang yang kelihatannya dengan sedikit effott tapi kok bisa mengerjakan sesuatu dengan maksimal. Misal ada teman yang kelihatannya gak belajar banyak Matematika, tapi tiap ujian nilainya paling tinggi, bahkan bisa sampai ikut olimpiade Matematika. Wah ini pasti otaknya encer, dan kita yang lemot dalam urusan logika dan angka. Lalu ada orang yang jago banget nih olah raganya, padahal latihannya kayaknya sama-sama aja. Ada orang yang sepertinya gifted dalam hal seni, main gitar bisa, piano jago, sementara kita kok bersin aja fals.

Pertanyaanya, apakah benar kalau orang-orang tersebut memang terlahir dengan sesuatu yang exceptional, yang kita sebut bakat, atau kelebihan di bidang tertentu? Buku ini menjawab rahasia tersebut, dari sisi ilmiah, dari riset, studi literatur, dan data-data sejarah. Boring dong? Sama sekali enggak, serius. Bacanya kayak lagi diceritakan suatu rahasia dari kemampuan manusia, yang kadang kita anggap gak mungkin atau gak penting.

Buku ini bermula dari cerita sang Maestro Musik, Mozart, yang terkenal sangat jenius, memiliki perfect pitch, yaitu keahlian mengidentifikasi nada dari instrumen musik, manapun. Mozart bisa secara langsung membedakan mana A-sharp di oktaf kedua, atau E-flat di bawah middle C, dst.. (Saya juga ga terbayang, haha). Semua orang percaya bahwa Mozart lahir dengan bakat musik yang luar biasa, udah dari sononya gitu. Tapi benarkah begitu? Hal ini kemudian dibahas detail di buku ini. Bagaimana potensi manusia itu sebenarnya luar biasa, even we can create our potential. Yang jadi masalah adalah, kita sendiri yang suka membatasi diri, kalau: “Saya mah gak bisa”, “Saya gak bakat”, “Otak saya cuma segini-gininya”, “Emang dari sananya kemampuan aku gini aja”, WRONG!

Kemampuan manusia yang luar biasa ini bisa dibentuk, dilatih, dan dikembangkan, dengan yang namanya DELIBERATE PRACTICE.

Apa itu deliberate practice? Ini bukan proses biasa, tetapi memiliki TUJUAN yang jelas dengan POLA tertentu. A purposeful practice has well-defined specific goal, more thoughtful, and focus/full attention.  Continue reading “Review Buku Peak, Secrets from the New Science of Expertise – Anders Ericsson dan Robert Pool”

Tentang Menulis

Menjadi Penulis? Apa saja Kuncinya?

Kamu suka menulis, merasa menulis adalah bagian dari hidupmu, dan ingin sekali menerbitkan buku?

Tapi kok rasanya..

”Saya sibuk”, “Gak punya waktu”, “Gak pede dengan tulisan sendiri”, daaan berjuta alasan lainnya?

Awalnya saya pun seperti itu. Sejak masih berseragam SMP saya ingin sekali punya buku sendiri, setiap membaca buku karya orang lain, saya berpikir, kapan saya bisa menerbitkan sendiri? Setelah berabad purnama barulah mimpi itu terlaksana, alhamdulillah.

Apa yang bisa saya ambil dari pengalaman saya tersebut? Dan mungkin bisa dibagikan pada orang lain?

1. Menulis adalah mengenai jam terbang

Bohong kalau ada yang namanya penulis yang hanya sekali menulis lalu karyanya langsung bagus. Sama seperti seorang atlet profesional, yang membedakan ia dengan amatir adalah jam terbangnya, waktu latihannya. Semakin sering ia mengasah kemampuannya, semakin ia menjadi kompeten di bidangnya.

Bagaimana cara mengasah kemampuan menulis? Caranya mudah, hanya dua langkah:

Pertama, banyak membaca dan banyak menulis

Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Semakin banyak membaca, semakin banyak kita mengisi bahan bakar kita untuk menulis. Bahan bakar tersebut ya dibutuhkan untuk bekerja, eksekusi langsung, menulislah!

Tadinya untuk menulis satu halaman saja kita membutuhkan waktu seminggu. Setelah latihan menulis terus-menerus, waktu menulis kita terasa lebih singkat. Kita jadi lebih terbiasa dan hal tersebut mengalir saja. Yang mulanya seminggu satu halaman, eh bisa jadi sehari satu halaman, bahkan satu jam satu halaman. Itu sangat mungkin!

2. Menulis adalah mengenai konsistensi

First drafts don’t have to be perfect, they just have to be written

Tulisan kita tidak harus bagus, yang penting dia ada. Kadang kita sering mencemaskan, apakah tulisan kita cukup baik untuk diterbitkan? Tanya dulu, memangnya tulisan kita yang ingin diterbitkan itu sudah tuntas?

Naskah yang baik bukan naskah yang bagus secara isi, tetapi adalah naskah yang bisa tuntas dari awal sampai akhir!

Ketika kita sudah merasakan menulis sebagai suatu habit, langkah berikutnya adalah menjaga habit tersebut, konsisten! Istiqomah..

Contohnya, berhubung sudah mau dekat Ramadhan nih.. Kenapa ketika bulan Ramadhan kita bisa istiqomah puasa selama satu bulan? Karena tekad kita kuad, tekad yang kuad membuat kita menjadi konsisten dengan tujuan awal kita.

Tipsnya dalam langkah kedua ini: do not overthink! Just do it. Terserah deh bentuk naskah kita akan seperti apa, yang penting selesaikan dulu, mengedit itu utusan belakangan. Yang penting pekerjaan utama dan tersulitnya sudah rampung: menyelesaikan naskah Continue reading “Menjadi Penulis? Apa saja Kuncinya?”

Just Learning, Life is Beautiful

It’s Time to be Awesome

Salah satu film favorit anak saya Runa adalah My Little Pony. Pasti yang punya anak cewe tahu tuh. Itu lho kuda-kuda  kecil warna-warni yang saling bersahabat dengan karakter yang unik berbeda-beda. Kalo suami saya komen, “Apa bagusnya lihat film tentang kuda-kuda?”. Yang selanjutnya dicemberutin Runa, haha..

Karena saya sering nemenin Runa nonton, mau gak mau saya hapal juga tuh karakter si poni-poni yang ada enam: Twilight Sparkle, leader-nya, yang bijaksana, penuh pertimbangan, suka banget baca dan belajar. Rainbow Dash, yang percaya diri, berani, jago terbang, loyal pada sahabat-sahabatnya. Pinky Pie, yang ceria, lucu, menggemaskan, suka bikin kejutan dan pesta untuk teman-temannya. Apple Jack, yang jujur, kuat, si pekerja keras yang mengelola punya perkebunan apel dengan keluarganya. Fluttershy, si pemalu, penyayang binatang, dan yang paling lembut pada orang lain. Lalu Rarity, si pemurah, selalu berbagi dengan teman-temannya, stylish dan pintar menata busana/gaya.

Seru juga nonton kuda-kuda lucu tersebut. Kadang ada pelajaran yang bisa diambil dari mereka. Kalau dipikir-pikir mungkin karakter saya ini lebih banyak seperti Twilight Sparkle yang hobinya baca buku dan ngendon di perpustakaan. Saya juga suka terlalu banyak pertimbangan ini itu. Kalau saya belajar dari para poni tersebut, saya ingin bisa memiliki sedikit karakter Rainbow Dash yang percaya diri. Ia tidak pernah meragukan kemampuannya untuk berkompetisi, terlebih ketika ia mendaftar ke Akademi Penerbang ternama di Negeri Poni, Wonderbolt nama akademinya. Ia berani men-challenge dirinya untuk hal-hal yang lebih menantang. Si Optimis yang berani. Beda banget sama saya yang kebanyakan pesimis dan melihat segala sesuatu dari lubang sulitnya dulu, instead of dari kelebihan yang ada.

Di Little Pony the Movie, Rainbow Dash punya theme song sendiri. Ia menyanyikan lagu tersebut untuk menyemangati para awak kapal yang merasa terpuruk dengan kondisi mereka saat itu. Mereka merasa kalau mereka tidak bisa apa-apa, ya sudahlah kerjakan saya apa yang ada, tanpa berjuang lebih untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Padahal aslinya mereka memiliki mimpi yang besar dan punya kemampuan untuk mewujudkan mimpinya. Rainbow Dash, melihat itu. Dan menyemangati mereka dengan lagu ini;

It’s Time to be Awesome 

I know the world can get you down
Things don’t work out quite the way that you thought
Feeling like all your best days are done
Your fears and doubts are all you’ve got

But there’s a light shining deep inside
Beneath those fears and doubts, so just squash ’em
And let it shine for all the world to see
That it is time, yeah, time to be awesome

Ah, ah, ah-ah, awesome!I
t’s time to be so awesome!
Ah, ah, ah-ah, awesome!
It’s time to be so awesome!

You’ve no idea how hard it’s been
This dull routine we’ve been forced to do
Don’t let them rob you of who you are
Be awesome, it’s all up to you
I feel the light stirring deep inside

It’s like a tale still yet to be told
And now it’s time to break the shackles free
And start living like the brave and the bold!
It’s time to be awesome!

We used to soar through the clouds in the skies
Elaborate schemes we would love to devise
We rescued our treasure and stored it away
Saving those gemstones for a rainy day

We see that light filling up our skies
So take the Storm King’s orders and toss ’em
Cause it’s the time to let our colors fly

Bisa cek movie clipnya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=2gUFZCRHHvE

Ternyata bukan hanya para awak kapal itu saja yang merasa terpantik semangatnya. Saya yang ikutan nonton dan mendengar lagunya jadi ikutan semangat. It’s time to rise and shine! Jadilah lagu itu jadi theme song saya juga setiap saya merasa gak semangat. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang percaya diri dan optimis, thank you Rainbow Dash!

 

Journey

Fokus yang Berbeda

Pukul 22.00, suami saya tiba-tiba menerima telepon dari kawannya, Mas Abu, sebut saja. Memang sudah lama sebenarnya suami saja mau menelponnya, tetapi sayangnya beliau sibuk. Kalau dikirimi pesan whatsapp, biasanya di atas jam 22.00 baru beliau balas. Kadang pukul segitu kami sudah tidur, atau tidak melirik ponsel lagi. Jadi begitu tahu saat itu ada waktu yang pas untuk mengobrol, akhirnya Mas Abu ini menelpon. Seru ternyata mendengarkan cerita Mas Abu. Dia ini memiliki restoran Indonesia, take away. Dia yang mengelolanya, memasak menunya, mengurus dari A sampai Z urusan tokonya, walaupun tentu dibantu juga dengan karyawannya. Mas Abu memang pekerja keras. Ia adalah wirausahawan tulen. Dia bilang, dia memang bukan tipe orang yang betah kerja kantoran. “Saya ini orang lapangan”, begitu katanya. Ia bilang, “Yaa … bisa saja saya buka toko ini lima hari, tapi saya punya cita-cita besar, saya memang memaksimalkan tujuh hari dalam seminggu untuk mengoperasikan tokonya.”

Memang apa sih cita-citanya Mas Abu ini? Dia dan istrinya, perantau dari Makassar. Mereka sudah tinggal di Belanda mungkin sekitar 15 tahun-an. Mas Abu ini punya mimpi untuk mempekerjakan orang Belanda dalam menjalankan bisnisnya. Gak main-main, dia gak cuma ingin berbisnis, tetapi ia ingin bule-bule Belanda ini yang nanti bekerja padanya. Mungkin semacam cita-cita ambisius yang absurd. Mas Abu dan istrinya ingin membangun rumah panti jompo dan menjadi pengelolanya. Panti jompo? Iya betul, kebutuhan akan panti jompo di Belanda cukup tinggi lho. Pertama, orang-orang Belanda ini kan usia harapan hidupnya tinggi, bisa sampai 80 tahun lebih. Kedua, kalau sudah tua dan tidak mampu mengurus rumah sendiri (dan anaknya gak bisa mengurus), biasanya mereka ya ke panti jompo, dengan biaya pensiunan dari pemerintah. Ide yang luar biasa dari Mas Abu ini. Untuk memulai bisnisnya ini, ya tentu butuh modal yang besar, dan ia gak mau berhutang ke bank Belanda. Jadinya ia mengumpulkan modal ini dari tokonya itu yang sudah dikelolanya cukup lama.

Continue reading “Fokus yang Berbeda”

Life is Beautiful, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Tak Ternilai, bagi Seorang Penulis

Di suatu hari yang mendung, hujan rintik-rintik, dingin menusuk, saya memulai kembali pagi saya. Masih hari yang sama dengan pekan-pekan lalu, di hari Senin. Selesai anak-anak sarapan, kami memulai aktivitas masing-masing. Rasanya berat sekali memulai hari. Saya mengumpulkan semangat dengan menarik nafas panjang.

Oke, katanya kalau harimu terasa berat, mulailah dengan pekerjaan yang paling ringan, yaitu… buka email. Shallow works lah ya, balesin email dan ngurusin yang belom-belom. Soal kerjaan utama, engg.. bentar deh kalo jarinya udah panas dikit.

Pas saya buka gmail (bukan email kantor), ada satu pesan dari yang gak saya kenal, dengan subyek email: Salam Kenal dari Indonesia.

Ternyata emailnya cukup panjang. Saya baca pelan-pelan, menikmati setiap kalimat yang tertulis. Masya Allah, ternyata email dari orang yang tidak dikenal bisa membuat semangat saya muncul kembali. Apa isinya? Si Penulis ternyata adalah pembaca buku saya, Groningen Mom’s Journal. Dia bilang bahwa waktu itu dia ke toko buku, dan gak sengaja menemukan buku saya di rak. Saat itu ia merasa dalam kondisi down dan gagal, dia tahu itu buruk, tapi dia gak punya alasan untuk bangkit. Kemudian dia membaca buku saya, dan menemukan secercah semangat untuk kembali membangun cita-citanya. Dia bahkan sudah membaca buku saya lima kali!

Sampai situ saya sudah menahan napas, apakah betul tulisan saya bisa memberikan impact besar untuk pembacanya? Sekonyong-konyong hati dialiri rasa hangat. Seperti mendapat hangat matahari di saat Groningen sedang dingin-dinginnya sekarang ini (kan lagi musim dingin).

Lalu saya teruskan lagi membaca. Dia juga mengucapkan terima kaish karena telah berbagi inspirasi dan mimpi. Ada selipan doa supaya selanjutnya saya bisa menelurkan karya yang bermanfaat lagi (Kapaaan? Doanya ya guys, semoga bulan Februari ada kabar dari penerbit untuk PO). Si Pembaca buku saya ini juga membagi sebuah link podcast, yang bisa didengar melalui spotify, yang sedang dia garap. Nama podcast-nya Librarian Syndrome. Ia membedah buku GMJ pada episode pertama podcast-nya.: https://open.spotify.com/episode/7xNmCI9X35eY8jR9od5myC?si=uNmIe0xBTeCj2izHjENqeA

Huwaa… saya terharu sekali. Sampai cirambay kalo bahasa Sunda-nya mah, berkaca-kaca. Saya tidak pernah menyangka kalau ada orang yang bisa mengambil manfaat dari tulisan saya yang sederhana. Saya sadar GMJ adalah buku solo pertama saya, tentunya masih banyak kekurangan yang ada. Saya ingat, tujuan saya menulis buku GMJ saat itu hanya ingin merangkum momen kehidupan saya di sini, dan membaginya dengan orang lain. Khususnya untuk keluarga kami kelak nanti bisa kilas balik kembali ke momen tersebut, umumnya bagi pembaca supaya bisa mengambil hikmahnya.

Ada pembaca-pembaca lain yang juga mengirimi saya pesan di email, instagram, facebook, bahkan bertemu langsung, dengan tema yang sama, merasa bisa mengambil hikmah dari buku saya. Saya rasa, dari seluruh rasa yang saya dapatkan dari menulis, inilah hal yang tidak akan pernah terbeli. Buku boleh jadi memberikan keuntungan materi, atau kebahagian moral tersendiri buat penulis karena berhasil menerbitkan karyanya, tetapi mendapatkan hal seperti ini … mungkin tak bisa dicari di mana-mana.

Hari itu membuat saya bersemangat kembali menulis. Bahwa saya masih punya cita-cita menjadi seorang penulis yang bisa menuai amal jariyah, aamiin. Mungkin dengan keilmuan saya sekarang, sebagai seorang apoteker dan mahasiswa S3, saya merasa sangat dangkal, ilmu saya belum bisa saya bagi kemana-mana. Untuk mengerjakan riset saja saya jatuh bangun. Iya ada manfaat bagi saya tentunya, untuk aktualisasi diri, menambah knowlegde saya sebagai researcher. Tetapi untuk berbagi dan bermanfaat? Lain lagi ceritanya. Tapi setidaknya selama saya menjalani peran saya ini, saya bisa sambil menuangkan cerita yang saya punya agar bisa dibaca orang lain, yang bisa mengambil manfaatnya. Aamiin.

Hatur nuhun para pembaca sekalian! You’re the writer’s hero

Being a Student Mom, Mumbling

Drama bersama si Ibuk

Lockdown fase 2 masih diperpanjang di Belanda. Terhitung dari 18 Desember 2020 sampai 9 Februari. Tadinya saat peraturan pemerintah Belanda sudah mulai longgar (karena kasus covid mulai tertangani dengan baik), anak-anak sudah bisa kembali ke sekolah, full day, begitu juga dengan daycare. Yang masih harus stay di rumah, ya orang tuanya, terutama yang kerjanya bisa dari rumah. Dianjurkan HARUS KERJA DARI RUMAH.

Saya dan suami bisa bekerja dari rumah, sementara anak-anak pergi ke sekolah dan daycare. Meski situasi kerja di rumah kadang tidak se-kondusif di kantor, tetapi kami bersyukur, masih bisa bekerja dengan baik di rumah. Berbagi tugas, mengantar-jemput anak, menemami Runa pulang sekolah, bermain dengan Senja saat Senja gak ke daycare, dan bahu-membahu mengerjakam tugas domestik rumah tangga. Semua berjalan baik.

Sampai ketika lokdon kedua ini ditetapkan, segalanya berubah, situasi di rumah, ritme kerja, dan kondisi anak-anak. Sebab semuanya full harus di rumah. Runa sekolah dari rumah, dikasih tugas-tugas, dan kita juga harus mendampingi kalau Runa nanya. Untunglah Runa lumayan mandiri, dia bisa kerja sendiri, gak banyak merepotkan. Senja nih yang butuh perhatian khusus, namnya juga anak usia 3 tahun ya, mana bisa main sendiri. Awalnya saya berusaha calm down. Tetap bagi-bagi tugas sama suami untuk menjalani hari demi hari. Meski jam kerja masih gak teratur, tapi bersyukurlah semuanya sehat-sehat. Tuntutan kerjaan di kantor pun saya coba urai satu-satu. Sampai saat meeting pekanan dengan si Ibuk Supervisor pekan lalu, saya merasa agak spanneg, apa ya bahasanya, mumet gitu kali ya. You know-lah, tabiatnya si Ibuk udah pernah saya curcolin di sini dan di sini.

Entah sayanya yang memang rungsing dengan sikon kerja yang gak menentu, atau memang si Ibuk juga yang lagi sedikit tegas dengan rules yang ada. Saya merasa si Ibuk agak menekan saya, intinya dia nyebelin plus rewel. Singkatnya, dia itu orangnya kan sangat lurusss pada aturan dan kadang saklek. Dia tuh minta untuk saya menyimpan data dan dokumen penelitian di folder tertentu (yang gak bisa diakses oleh pihak lain dari server kantor). Jadi data penelitian ini tu kan data pasien, jadi harus diperlakukan hati-hati, sesuai protokol yang ada. Walaupun dia agak lebaaay gitulah ngomongnya (mungkin saya yang tendensius). Saya merasa sudah menyimpannya dengan baik. Tapi dia gak puas, sebab harusnya disimpan di A. Sementara folder A itu gak ada, dan bukan salah saya. Continue reading “Drama bersama si Ibuk”