Life is Beautiful, Project

Resolusi oh Resolusi

Apa kabar 2020? Yes, I know, banyak yang mengungkapkan bahwa 2020 adalah tahun penuh tantangan, penuh perjuangan. Banyak kehilangan, banyak kesulitan, banyak penyesuaian. Saya pun masih berjuang untuk itu. Namun, 2020 pun patut diingat sebagai tahun di mana kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih toleran dari sebelumnya. Insya Allah.

Tiap tahun biasanya kami bikin resolusi. Yaa.. resolusi singkat aja. Tadinya mikir, 2021 gak usah muluk-muluk, bisa menyelesaikan 2020 dengan baik saja sudah Alhamdulillah. Tahun lalu, saya dan suami menempel kertas Resolusi 2020 di depan lemari pakaian. Otomatis hampir tiap hari kami membacanya. Ya kalau gak ngebaca banget paling gak selintas tahu ada kertas resolusi dipajang di sana.

Saya bukan orang yang selalu membagi-bagikan cita-cita saya di khalayak ramai, suami saya sebaliknya. Saya introver, suami ekstrover. List resolusi ini kami simpan baik-baik untuk kami berdua saja. Tapi di penghujung 2020, saya mau nulis ini di blog saya. Sebagai pengingat, bahwa ketika kita punya keberanian untuk menuliskannya, dan kemudian kita baca hampir setiap hari, hal itu seperti memberikan motivasi yang tidak saya sadari. Bahkan seperti menjadi doa, menjadi semangat, dalam menjalani hari. Seperti batu yang ditetesi oleh air sedikit demi sedikit, lama-lama akan lunak juga. Seperti cita-cita yang setiap harinya ditiup oleh doa dan semangat, ada titik di mana ternyata hal tersebut dapat tercapai, Qadarullah.

Tadinya di pertengahan tahun saya baru ngeh, lho ini list yang tercentang baru beberapa poin saja. Lalu tiba-tiba pandemi, banyak rencana berubah, dan sepertinya semakin mustahil untuk menyelesaikan list tersebut sampai di akhir tahun. Gak kebayang gitu, ini belum itu belum, kokkk yaa..

Meski sempat pesimis, tapi masa-masa pandemi ini juga akhirnya bisa terlewati juga. Well ya belum lewat sih, tetapi sudah bisa berdamai dan bersyukur dengan kondisi. Sebelum penghujung tahun, saya cukup surprised bahwa hampir 100% list tersebut bisa saya centang juga. Masya Allah, karena izin Allah.

Oleh karena itu, tahun ini saya akan kembali menuliskan Resolusi 2021. Optimis adalah bagian dari izzah kita sebagai muslim. Insya Allah bisa! Semangat karena Allah, mengejar cita-cita demi kemuliaan dunia dan akhirat, aamiin

Listnya udah dicorat-coret Runa karena dia penasaran ini apaan sih

Tahun ini kertas Resolusi 2021 kami tempel juga di lemari pakaian, masing-masing milik saya dan suami. Menariknya, Runa juga kami ajak untuk menuliskan resoulsinya. Eh Runa malah semangat. Resolusi Runa juga ditempel di lemari baju di kamarnya.

Bismillahirrahmaanirrahiim semoga dimudahkan. Semangat 2021!

review buku

Review buku Deep Work – Cal Newport

Buku pertama yang saya selesaikan di 2021. Saya sebenarnya gak banyak baca buku self-development, tapi di satu titik, saya rasa saya perlu ilmu untuk bisa bekerja lebih efektif. Terlebih lagi di dunia yang saat ini penuh distraksi: revolusi digital network, arus informasi yang deras (entah benar atau hoax), dan tentunya godaan sosial media.

Buku ini mengupas secara gamblang kunci untuk bisa bekerja fokus dengan efektif dan efisien, tanpa tekanan, dengan hasil yang luar biasa. Di bagian satu, Newport menceritakan hipotesis dari deep work, mengapa deep work itu jarang tetapi sangat berharga. Apalagi di tengah persaingan ekonomi global yang kompetitif. Kasarnya mah kalau kita gak punya ‘skill mumpuni’ ya kita bakal digantikan aja sama mesin/komputer, kan sekarang zamannya artificial intelligence ya. Di bagian dua, penulis memberikan langkah-langkah untuk melatih deep work, bagaimana work habits yg mendukung, serta mengoptimalkan waktu dan potensi diri untuk kehidupan profesional kita.

Profesi seperti apa yang akan masih terpakai dan kompetitif di era ekonomi ini? Yang pertama adalah the high-skilled workers. Yaitu mereka yang memiliki kemampuan spesifik dengan output kerja yang valuable. Mereka yang pekerjaannya tidak bisa digantikan oleh fungsi mesin/komputer, tetapi mereka yang mengendalikannya. Misal orang-orang yang bekerja di bidang aritificial intellegent, data visualization, high speed communication, etc. (yang demand-nya tinggi ya sekarang ini) Atau mereka yang bekerja sampai meraih pendidikan spesifik di jenjang PhD. Kelompok kedua adalah the superstars. Yaitu mereka yang kemampuannya terbaik di bidangnya. Misal kamu adalah dokter, maka kamu harus menjadi dokter yang terbaik di antara dokter lainnya. Kamu adalah guru, programmer, koki, pemusik. Banyak orang dengan profesi seperti itu, tetapi jika kamu outstanding di bidangmu, maka kamu akan tetap terpakai. Yang ketiga adalah the owners. Jika kamu bukan ahli di bidangmu atau menjadi yang terbaik, maka kamu bisa menjadi orang yang punya kapital besar untuk menjalankan bisnis. Mereka yang berinvestasi dalam pengembangan ekonomi dan kemudian memperluas lapangan kerja.

Dalam buku Deep Work ini, bahasan akan fokus pada grup pertama dan kedua. Sebab kedua grup itu yang masih bisa dikejar dengan metode deep work. Kecuali kamu turunan orang kaya-berpunya kapital, maka yaa.. lanjutlah untuk di grup ketiga.

Oke, bagi saya pribadi, saya bisa mengejar grup kedua dan ketiga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S3 yang cukup spesifik, ya, diharapkan bisa menjadi ahli di bidangnya. Atau jika saya gak berkembang di sana, saya ingin menjadi yang terbaik, apapun profesi saya kelak. Metode Deep work dijelaskan lebih detail di The Rules. Apa saja rulesnya:

  1. Work deeply; fokus, definisikan goal yang paling utama, dan ukur bagaimana menempuh tujuan tersebut, disiplin.
  2. Embrace boredom; konsentrasi pada pekerjaan yang ada, jangan biasakan pindah-pindah kegiatan dalam satu waktu kerja, nanti akan ada residual yang terbawa. Hindari distraksi.
  3. Quit social media; sudah jelas sih ini mah, sumber distraksi terbesar di zaman sekarang haha.
  4. Drain the shallows; pekerjaan itu ada yang shallows ada yang butuh deep. Kalau lagi punya target untuk deep work, eliminasi pekerjaan-pekerjaan “ringan”, seperti membalas email, browsing, atau pekeraan “spontan” lain yang gak berhubungan dengan goal utama kita.

Yang bisa saya rangkum singkat, kalau mau berhasil, kuncinya mah dua aja, gak muluk:

1. Komitmen dan khusyuk;

2. Berusaha mengivestasikan waktu dan tenaga dengan bijak.

Itu juga sudah disebutkan di Al Qur’an jauh sebelum ada era digital ini. Training untuk khusyuk udah 5x sehari melalui salat. Investasi waktu? Semua pasti udah pada hafal surat Al Ashr, demi masa … Harusnya mah deep work gini bukan urusan sulit buat para muslim (yang benar-benar bisa mengimplementasikan isi Al Qur’an). Bismillah, semoga dimudahkan!

Matur nuwun Mas @ario_muhammad87 yang sudah merekomendasikan buku ini.

Nb: Setelah baca buku ini, saya jadi tertantang nih untuk bisa kerja produktif dan menyingkirkan distraksi yang gak relevan sama pekerjaan dan tujuan saya. Apakah tantangannya: Saya mau log off dulu dari IG dan FB. Sampai kapan? Mau saya coba sampai buku Groningen Mom’s Journal 2 terbit. Bismillah. Eh iya, di buku ini sebenernya penulis bilang, kalau mau log off sosmed jangan pengumuman, tapi untuk kalian pembaca mah saya bisikin aja, hehe. Kali aja ada yang mau ikutan tantangan ini.

Mumbling

Quality Time bersama Suami – Nonton Drakor

Tadinya mau mengulas di feed IG atau di story IG. Tapi saya pikir tetap lebih enak curcol di blog, karena bisa panjaaang dan gak usah bolak-balik cek komen dari orang, mwahaha. Walaupun saya senang komen-komenan di IG story, tapi rasanya lebih bebas kalau mau curcol geje di blog, ya gak sih? Biar gak terlalu lama ngabisin waktu maenan IG wae.

Postingan ini bakal cemen banget, monggo di-skip aja. Kalau mau lanjut, please bear with me. Dua minggu libur natal dan tahun baru, kami memang merencanakan untuk quality time nonton apa gitu. Drakor pilihan kami tak lain dan tak bukan adalah: START-UP. Udah dari kapan banyak banget seliweran tentang Start-Up di medsos, dari circle pertemanan kami. Tapi ya sayangnya mah kami tak tergerak juga buat nonton. Sampai ada di Netflix, dan ada teman kami yang bikin review-nya serius, tapi malah bermanfaat. Review yang bener lihat di sini aja. Soalnya saya mah cuma mau bahas capruknya aja.

Temanya kan kekinian banget ya, Start-Up, bisnis anak muda jaman sekarang. Di 10 menit awal episode saya sebenarnya gak terlalu kecantol. Tapi begitu udah bergeser ke bagian keluarga, yang ayahnya sangat family man, kerja keras, pontang-panting, barulah eike mewek srot-srot. Belum lagi pas adegan Han Ji-Pyeong (HJP) muda yang gak punya siapa-siapa ditolong sama neneknya. Untung sedihnya gak lama-lama ya pas ke adegan HJP udah jadi sukses, eh kok ternyata ni orang ganteng uga, mwahaha. Jiwa fangirling yang udah lama menguap kok muncul lagi.

Akhirnya bela-belain deh kami nonton ini tiap malem habis anak-anak bobo, jadi semacam quality time bersama, ciyeh.. Meski kami berbeda tim. Daku tentunya tim HJP, suami tim Nam Do San. Kami jadi heboh we sendiri ngelihat scene-scene yang menggemaskan.

Suami: Karakter Do San itu lebih relatable. Dia itu tulus, polos, mau bekerja keras, orang kayak gini suka diremehkan orang lain, padahal dia punya kemampuan besar, semacam underdog gitu. Perasaannya juga halus ke Dal Mi, dia tipe orang baik.

Istri: Orang-orang tu cuma lihat HJP pas udah sukses aja kali. Padahal dia juga dulu pasti berjuang keras, mana dia anak yatim. Sekarang aja kelihatannya udah sukses dan tajir. Sayang gak dilihatin perjuangan dia dulu. Hidupnya yang keras itu yang bikin dia jadi lebih dingin sama orang lain. Tambah lagi dia tu kalau senyum kok gemanaa gituuu.

Suami: Tu kan perempuan mah senengnya sama cowok asal ganteng dan tajir aja.

Istri: Yah, yang penting mah soleh, kayak suamiku.

Ihikhikihk … biar suami ga jealous sama HJP.

Sumber gambar dari sini

Continue reading “Quality Time bersama Suami – Nonton Drakor”

Lifestyle, Mommy's Abroad

Berlari demi Diri Sendiri

Hari itu, pukul 7 malam, saya baru sampai rumah dari kampus. Rasanya saya langsung ingin menyentuh kasur. Habis mandi air anget, makan, nelen parasetamol, salat Isya, trus langsung blas tidur. Pala pusing, badan remuk.

Bukan, saya bukan habis pulang ospek kok, atau bukan habis lembur ngelab, bukan juga habis kerja rodi membangun jalan Anyer-Panarukan. Tapi saya habis tes mata kuliah olahraga, yaitu lari ngelilingin sabuga 6 putaran, 2.4 km lah kira-kira (lintasan terdalam sabuga 400 m). Tes lari emang selalu jadi momok tersendiri buat saya dari SMP dan SMA. Sejak dulu memang selalu ada yang namanya tes lari di mata pelajaran olahraga. Jangan salah, rekor lari saya gak boyot-boyot amatlah. Saya masih bisa ngekor di belakang atlet sekolah sekaligus teman sebangku saya, SasQ. Tapi masalahnya adalah, saya gak pernah menikmati lari. Menurut saya tes lari itu bagaikan beban. Ada target yang harus dikejar untuk mendapatkan nilai bagus. Misalnya waktu kuliah, kita hrus bisa mengejar target lari sekian menit untuk bisa dapat 6 keliling sabuga. Yang paling saya gak suka adalah, efek habis lari bukannya seger tapi badan malah sakit-sakit ditambah sakit kepala. Aneh yak.

Makanya sampai saya udah punya anak, saya tu males olahraga, khususon olahraga lari. Sampai pada akhirnya di suatu titik, saya merasa butuh untuk meningkatkan stamina dengan jalan atau lari. Suami yang mendorong saya untuk memulai training itu, sedikit-sedikit aja. Titik balik itu adalah waktu kami hendak berangkat haji, di tahun 2016. Dari info yang kami dapatkan mengenai ibadah haji, hampir semuanya bilang bahwa dibutuhkan stamina yang kuat untuk bisa melakukan prosesi haji yang termasuk tawaf, sa’i, lempar jumroh, plus perjalanan yang di tempuh di antaranya. Fisik juga harus disiapkan untuk itu.

Baca Persiapan sebelum Haji, Apa Sajakah?

Wah, ini nih yang saya cemaskan. Stamina saya gak begitu kuat sebenarnya. Meski catatan olahraga saya ketika sekolah dan kuliah termasuk bagus, tetapi saya bukan orang yang sporty dan mahir berolahraga. Catatan bagus itu hanya karena saya berusaha lebih keras aja biar dapat nilai bagus. Kalau habis berolahraga, badan saya bukannya segar malah suka pegal-pegal dan kepala saya pusing. Persis kejadian yang saya ceritakan di atas tadi.

Akhirnya, mau gak mau, saya memulai untuk latihan jalan jauh dan lari. Track lari di dekat lingkungan tempat tinggal kami dulu termasuk enak banget. Sangat deso, pemandangan hijau, banyak pepohonan berjajar yang cantik, bisa melihat peternakan, damai-lah rasanya. Jadi saya lumayan termotivasi.

Track lari di Kardinge

Continue reading “Berlari demi Diri Sendiri”

review buku

Review buku Freelance 101

Review buku Freelance 101, by Ikhwan Alim @zakki.wakif

Freelance. Dulu, waktu saya baru punya anak, saya gak kepikiran untuk bekerja kantoran, apalagi di Jakarta. Pikiran saya saat itu, pokoknya ribet kerja fix time sambil ngurus anak. Pekerjaan paling ideal yang bisa saya pikirkan adalah menjadi pekerja freelance. Padahal saya gak tahu juga pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan freelance😅. Akhirnya gak pernah nyobain deh.

Coba aja saya baca buku ini pada saat itu, pasti saya akan kebayang mengenai seluk-beluk freelance. Buku ini mengupas hal-hal dasar yang wajib dipahami oleh setiap freelancer: cara memulainya, bidang-bidang pilihan freelance, bagaimana proses operasional seorang freelancer, trik meningkatkan produktivitas dan kreativitas freelancer, sampai pada titik apakah freelance hendak dijadikan profesi permanen.

Yang menarik adalah penulis menekankan freelance itu bukanlah suatu pekerjaan yang “asal jadi”, yang penting bisa kerja sesuai hobi dan dapat duit secukupnya. Tidak, freelance juga membutuhkan profesionalitas plus passion. Profesi yang bersifat lepasan ini sangat menantang dan perlu nafas panjang.

Freelance bukan hanya cocok bagi para mahasiswa yang ingin mencari penghasilan tambahan, atau bagi para wanita yang memutuskan bekerja dari rumah. Tetapi freelance juga bisa dilakukan seorang karyawan kantoran, staf tetap, atau seorang yang ingin mengamplifikasi hobinya. Kuncinya ya tadi, be professional, nothing is impossible.

Buku ini ditulis oleh senior saya di farmasi dan di himpunan dulu. Selalu banyak belajar dari beliau. Kalau dulu berdiskusi dengannya, saya suka ngawang sebab bahasan sama beliau gak terjangkau pikiran saya, haha. Ide-ide dan pilihan karir Kak Ikhwan sangat unik. Terima kasih Kak Ikhwan sudah menulis buku ini dan membagi pengalamannya. Sukses selalu👍

#BacaBuku2020 #freelancer #freelance101 #ReviewBuku #pekerjalepas #DreamJob

 
Groningen's Corner, Random Things

Dompet yang Hilang

Kejadiannya pekan lalu. Maunya langsung ditulis biar fresh, tapi ya apa daya molor. Saya bertekad tetap menuliskannya, biar jadi pengingat untuk saya.

Hari Rabu biasanya saya agak lowong, siangnya saya suka mampir ke winkel (pertokoan) untuk membeli bahan-bahan dapur atau lainnya yang stoknya kosong. Kebetulan Rabu tanggal 18 November kemarin saya muter ke beberapa toko di Paddepoel, ada barang yang harus saya beli di toko yang berbeda. Saya menggendong tas ransel, list belanjaan saya cek di hp, sambil menenteng belanjaan. Rasanya puas soalnya sepertinya semua list belanjaan sudah di tangan. Saya pun pulang dengan hati tenang.

Sore dan malamnya saya masih merasa tak ada yang berkurang dari saya. Besoknya saya sudah siap untuk meeting pekanan dengan Ibuk supervisor. Biasanya pukul 18.00 ke atas, saya sudah jarang cek-cek hp, soalnya sudah prime time dengan keluarga. Kadang masih bisa curi-curi lihat pesan whatsapp. Sosmed sudah tidak disentuh sampai anak-anak tidur.

Kamis pagi, biasanya waktu paling riweuh, meeting dilanjut dengan kajian tafsir online dengan RumTa. Waktunya agak berselisihan, jadi konsentrasi saya suka terpecah antara mengerjakan tugas riset dan mendengarkan kajian. Namun Alhamdulillah, meeting berjalan singkat sehingga saya bisa lanjut online di zoom RumTa. Entah mengapa saya suka iseng buka-buka WA dan sosmed pas kajian (heum jangan ditiru yes, ini kebandelan saya. Suka menyimpang dari deep work, *ciyeh baru belajar deep work nih). Kebetulan lagi saya men-cek DM IG saya yang unlisted (bukan dari orang yang saya follow).

Dahi saya berkerenyit, lha sapa nih ada akun dengan nama Londo mengirimi saya DM, tadi malam, pukul 19.00 dan bertanya:

Goedenavond, bent u portemonne verloren? (Selamat malam, apakah dompetmu hilang?)

Saya kira ini orang iseng kali ya, tanpa mikir panjang langsung saya jawab (dengan bahasa Londo juga, sok gaya kali)

Volgens mij niet, hoezo? (Saya kira tidak, kenapa) Continue reading “Dompet yang Hilang”

review buku

Review singkat buku Metode Inovatif dalam Menghafal Al-Qur’an

“Dan sungguh telah kami mudahkan Al Qur’an untuk diingat, apakah ada yang mau mengingatnya?” (Al Qamar:17)

Menjadi penghafal Al Qur’an pastilah menjadi cita-cita banyak orang. Siapa yang tidak ingin bertemu Allah dengan bekal firman-firmanNya yang terpatri di hati dan pikirannya.

Buku ini mengupas langkah inovatif dalam menghafal Al Qur’an dalam 3 langkah:
1. Mendengarkan murattal di waktu luang, sebelum tidur, dan setelah bangun tidur.
2. Tahap memahami, mentadaburi maknanya. Caranya dengan membagi per tema/kisah.
3. Tahap memperkuat hafalan dengan membaca dari mushaf. Tentu dengan mengulang-ulangnya.

Buku ini juga menjabarkan lebih detail bagaimana mengimplementasikan langkah-langkah tsb, beserta bagaimana cara murajaah terbaik, sesuai dengan pengalaman penulis, Abdel Daim Kaheel, yang merupakan peneliti tentang kemukjizatan ilmiah Al Qur’an.

Saya melihat secercah cahaya setelah membacanya. Meski perjalanan menghafal masih panjang, tapi nasihat-nasihat emas dalam buku ini membuat saya lebih optimis.

Barakallah Gurunda Ustadz @hartanto_saryono dan tim @rumahtajwid.id sudah mencetak kembali buku ini. Insya Allah banyak sekali manfaatnya.

#BacaBuku2020 #MenghafalAlQuran #Murojaah #RumahTajwid

Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Playing with friends is just as important as learning

Kadang saya bertanya-tanya, apa sih yang paling penting dalam tangga edukasi anak di usia TK-SD seperti Runa dan Senja?
Pikiran saya melayang saat saya masih berseragam sekolah dulu. Paradigma yang ada adalah: 1. Pilih sekolah terbaik, 2. Jadi yang terbaik di sekolah. Katanya the better you do at school, the further you’ll go in life and be success. Jadi gak heran kalau di Indonesia orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik dan mendorong anaknya untuk berprestasi. Yang tentunya gak salah juga.

Tetapi, saya baru ngeh saat Runa dan Senja mulai sekolah di Belanda, bahwa it isn’t all about getting A grades or scoring > 80, and getting into the UGD (Universitas Gadjah Duduk). Pendidikan seharusnya memiliki tujuan jauh di atas itu. It’s also about the way of children’s well being and their development as an individual.

Yes, being smart is always good, but being survive (di dunia yang makin menantang ini), yet happy is important. Untuk bisa survive, pintar aja gak cukup. Soft skills dan social skills penting untuk ditanamkan di awal usia sekolah anak: How to make friends, be nice to them, menyelesaikan masalah bersama, bergantian saat bermain, berbagi, menjadi mandiri, be patient, be confident, dll.

Tapi tentu saya gak bisa membandingkan begitu saja edukasi di Indo dan di Londo. Sebab di Londo pendidikan bersifat merata, kaya atau miskin, anak seleb atau petani, Londo tulen atau imigran seperti kami, semua bisa dapat fasilitas sama. Sementara di Indo, orang kalangan ekonomi menengah ke bawah harus berusaha lebih keras untuk mengakses pendidikan yg baik. Belum sampai ke arah development berkelanjutan tadi. Namun semoga akan menuju ke arah yang lebih baik, aamin.

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Melawan Kebatilan

(postingan yang telat diposting, udah dari pekan-pekan lalu, tapi gakpapalah ya, daripada enggak sama sekali)

Baru-baru ini ada kasus tak menyenangkan terjadi di Prancis. Saya singkat aja ya ceritanya. Jadi ada seorang guru di sekolah menengah atas yang memberikan pelajaran mengenai freedom of expression dengan cara memberi contoh kartun Rasulullah SAW. Kartun atau karikatur tersebut kalau tidak salah merupakan karya dari Charlie Hebdo yang heboh sejak 2006 silam, lalu muncul lagi di tahun 2013. Menurut sang guru, kartun yang menggambarkan sosok paling mulia di bumi adalah salah satu contoh kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Padahal ia tahu ada siswa muslim di kelasnya. Tapi ia tetap melakukannya. Tentu hal tersebut menyinggung sang murid. Lalu berikutnya ternyata sang guru ditemukan terbunuh mengenaskan oleh muridnya tersebut.

Sebuah peristiwa yang sangat miris. Miris karena penghinaan yang dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Miris karena penghinaan tersebut dibalas dengan darah. Setelah itu Perdana Menteri Prancis, Macron, mengeluarkan statement yang membuat umat Islam di Prancis semakin terpojok. Katanya kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sah-sah saja sebagai kebebasan berpendapat. Setelahnya kartun tersebut malah dipajang di beberapa tempat, dengan alasan kebebasan tadi. Umat Islam semakin terpojok dengan adanya isu islamphobia.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim di Eropa khususnya? Yang posisinya dekat dengan Prancis. Saya pun mau gak mau jadi merasa takut juga kalau ada islamophobia yang berujung diskriminasi. 

Tapi sebelum ke sana, pertama kita lihat dulu bagaimana dengan adanya penghinaan tersebut? Apa yang kita rasakan jika ada orang yang menghina Rasulullah SAW?

Continue reading “Melawan Kebatilan”
Being a Student Mom, Just Learning

Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online

Saya mau sharing sedikit pengalaman selama mengikuti kuliah online di masa pandemi ini. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, mayoritas kegiatan perkuliahan di universitas dilangsungkan secara online. Ada juga yang menggunakan metode  hybrid katanya. Semacam kombinasi aa tatap muka juga, ada online-nya juga. Untuk meminimalisasi adanya kerumunan massa, dan juga untuk tetap memfasilitasi kegiatan perkuliahan yang efektif. Yaa.. tau kan gimana tantangannya kuliah melalui layar laptop. Bagaimanapun tatap muka dan pertemuan fisik tidak bisa digantikan dengan tatap virtual. Banyaklah kekurangan dan kesulitannya.                                                     

1. Koneksi

Namanya koneksi suka stabil dan enggak, tergantung rezeki. Namanya juga semua orang lagi wfh, ya bisa aja satu hari koneksi pet pet pet gitu. Video macet, suara ilang-ilang. Gak cuma dari saya aja, kadang dari dosennya, kadang peserta lain. Kalau udah kayak gitu, apa lagi yang bisa dilakukan coba? Emang pas kebetulan aja gak hoki.

2. Komunikasi satu arah

Dosennya kayak ngomong sendiri ke layar gitu. Dia juga merasa desperate sebenarnya. Kayaknya aneh, dan ga ada aktif interaksi. Dia gak bisa melihat apa muridnya memperhatikan apa enggak, mengerti apa enggak. Ya sama, murid juga merasa gitu. Mau nanya ya kagok juga motong omongan dosen pas lagi ngomong. Ada sih pilihan raise hand (tunjuk tangan) kalau mau “nyela” tiba-tiba nanya. Tapi tetep we kagok. Bisa juga nanya lewat kolom chat. Tapi ya ngetik kadang males, atau bingung memformulasikan ke tulisan.

Continue reading “Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online”