Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

My 1-year Assessment as a PhD

Bismillahirrahimaanirrahim..

Harus banget ini nulis, sebelum saya sibuk (sok banget) dan lupa sama apa yang mau ditulis. Sebab, tulisan yang jujur adalah ketika kita sedang on untuk curhat, mwahaha.

Enggak sih, sebenarnya saya juga kangen nulis pakai bahasa kalbu dan bahasa Indonesia (sok banget banyakan nulis pakai bahasa enggres ya kamu Mon?). Bukannya mau, tapi tuntutan profesi, gemana lagi dong, padahal Enggres aku juga cemen sebenernya.

Jadi bulan Maret ini saya resmi sudah menjalani PhD mom selama satu tahun. Mulai dari yang cuma masuk dua hari, lalu dua setengah hari, tiga hari, sampai tiga setengah hari. Gak usah dibayangin gimana saya bisa menyusun jadwalnya deh, di sela-sela mengurus keluarga dan rumah. Menjelang satu tahun assessment go or no go saya ga berhenti berdoa sama Allah. Ya Allah moga yang ini berlangsung lancar, ga separah assessment 6 bulan saya dulu. Satu lagi saya berharap semoga paper saya yang sedang on process di salah satu jurnal bisa accepted. Supaya paling engga ada nilai plus dalam penilaian nanti. Allah Maha Kuasa, dengan pertolonganNya-lah, tiba-tiba 3 hari sebelum hari assessment, saya menerima email yang menggembirakan:

Paper pertama saya akhirnya accepted di salah satu journal Q1

Saya membacanya berulang-ulang sampai yakin, ini beneran accepted

Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…..

Ini beneran bukan semata-mata hasil saya. Ada banyak faktor yang membantu saya bisa menyelesaikan semuanya. Support suami dan anak-anak, bantuan kawan-kawan dan kerabat, doa orang tua, dan tentunya dorongan supervisor tercintah saya, Si Ibuk. Kalau bukan karena dia yang meres-meres saya mungkin saya akan santai-santai. Kalau bukan karena dia yang ngoreksi kerjaan saya dengan detail, mungkin juga kerjaan ini ga akan beres.

Tapi bener ya, pelaut yang hebat itu gak lahir di laut yang tenang. Bukannya saya bilang saya pelaut yang hebat ya (emang bukan pelaut sih), tapi setidaknya saya ada di laut yang ombaknya gede bergulung-gulung. Gimana enggak, tiap minggu saya harus menghadapi si ibu di meeting reguler, duduk sama-sama, diskusi, ngebahas kerjaan satu-satu. Tentunya sebelum meeting saya harus nyiapin bahan, saya udah ngerjain apa aja selama seminggu ini? Gak banyak supervisor kayak gitu, yang bener-bener ngeluangin waktu untuk muridnya. Gak banyak juga orang yang tahan kerja sama kaya Si Ibuk, yang segala aspek dia komentari. Tapi saya merasa, dia kayak gitu karena dia profesional sama kerjaannya, passionnya itu dapet banget. Cuma masalahnya, saya tahan banting apa engga kerja sama dia?

Tapi kalimat pertama ketika assessment bersama kedua supervisor saya membuat saya berlega hati: We think you deserve a go, you have showed improvements …..

Saya berusaha memasang wajah senormal dan secool mungkin, padahal dalam hati udah girang teriak Alhamdulillah….

Oiya, Saat-saat assessment juga supervisor juga kudu dikasih feedback lho. Saya ingin bilang dengan jujur bahwa saya tuh sebenarnya agak gak nyaman sama style coaching-nya beliau. Namanya orang Indonesia ya, susah banget ngomong jujur to the point. Akhirnya saya formulasikan uneg-uneg dengan sehalus mungkin:

At first, there were maybe a cultural and personal differences with me and Pxxxx on how to communicate and discuss some issues. Sometimes it was difficult for me to get along with her style of coaching, that is make me discouraged, and that may seem for her I did not show eagerness on doing my research. But I guess it was the process on learning and how to work together. I learn to keep up and follow her pace, and not to take everything personally.

Intinya mah saya teh banyak makan hati sama Ibuk, (baca curcolan saya sebelumnya). But that’s tough love. Style coaching dia yang ala penjajah, mungkin sulit diterima oleh saya yang berhati hellokitty. Ketika baca komen saya di atas, dia tanya, lalu sekarang gimana, apa sudah lebih baik dengan style saya?

Ya saya bilang, udah mendingan Bu, tapi coba Ibu minum kombantrin dulu yang rutin biar agak lemes gitu, ga usah streng-streng amat (candaa..)

Saya bilang, ya udah oke, toh juga ga akan mengubah style coaching kamu? Saya yang harus lebih berjiwa Rambo kalau menghadapi Si Ibu.

Dia bilang, iya saya memang seperti ini, I won’t change.

Karepmulah Buk. Yang pasti saya memang banyak belajar dari dia, dia bener-bener nge-drill saya untuk melakukan hal-hal di luar kemampuan saya. Meski kadang lelah, tapi saya percaya, semoga ini semua ada berkahnya, ada manfaatnya.

Lain kali saya akan kupas style coaching dia itu kayak apa, siapa tahu bisa menginspirasi anda, haha.

Semoga Si Ibu dapat hidayah, aamiin.

Advertisements
Pharmacisthings

Inheart Resolusi

2019. Pergantian tahun dirasa jadi saat yang tepat untuk sebagian besar orang menuliskan resolusi. Saya setuju, untuk mencapai sebuah cita-cita dan target, diperlukan momentum. Saya pun menuliskan list resolusi 2019, tentu suami juga turut serta, kan satu biduk.

Separuh jalan, sebersit pikiran lewat. List resolusi kebanyakan seputar hal-hal yang bisa diukur, materi, fisik. Misalnya baca 20 buku/th, menambah hafalan, submit paper, menyelesaikan naskah, lari 2x/mnggu dst. Betul, untuk mencapai goals diperlukan plan yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Based). Gak ada yang salah dengan plan dan list tsb. Hanya.. apakah dalam mencapainya saya akan menjadi orang yang bahagia?

Suami bilang, mungkin yang harus diresolusikan adalah diri kita, bukan goalsnya. Tak melulu membuat capaian yang dapat diukur. Kondisi jiwa, moral, hati juga perlu dijadikan parameter.

Saya melongok diri sendiri. Mungkin 10 list sederhana ini bisa membantu (Catet di sini biar inget juga):
1. Bersyukur setiap memulai hari
2. Mengapresiasi diri sendiri
3. Enjoy menjalani setiap pekerjaan
4. Mengurangi ngeluh
5. Positive thinking
6. Banyakin senyum sama orang lain
7. No ghibah
8. Menyediakan porsi telinga lebih daripada mulut
9. Sabar, tarik napas dulu sebelum bertindak gegabah
10. Memaafkan orang lain sblm tidur

Jadi agak lega. Betul, bahagia tidak dapat diukur dengan tercapainya target, tapi bagaimana kita menyikapi perjalanan menempuh target dengan hati yang lapang. Karena kadang kita suka lupa bahagia. Makanya banyak tagline ini seliweran: Jangan lupa bahagia hari ini.

Nb: boleh dong nambahin list di atas.

Summer in Sulaymane Mosque – Istanbul, Turki

#Resolusi2019 #TahunBaru2019#NewYear2019 #GroningenMomsJournal#Groningen #TheNetherlands#MuslimahDiary

Life is Beautiful

A New Start: 2019

Bismillah..

Tadinya mau nulis sedikit (mudah-mudahan emang jadi sedikit, kebiasaan kalo nulis suka kemana-mana ga bisa berhenti). Besok udah mau mulai kerja lagi, kuliah lagi, baca paper lagi, mantengin laptop lagi, duduk di kursi panas lagi, anter-jemput anak lagi, masak kilat lagi, dst dst.. Intinya mamak kudu setrong lagi, setelah liburan “cuma” 2 minggu. Meski kami ga banyak jalan-jalan ke mana gitu. Tapi momen akhir tahun banyak bikin saya kontemplasi. Mulai dari sakit bergiliran sekeluarga, deadline tiba-tiba di akhir tahun (harus disyukuri juga sih), juga kerjaan suami yang nambah. Rasanya pingin loncat indah sambil kayang.

Tapi yaa.. meski rasanya saya awalnya selalu merasa dalam posisi mengasihani diri sendiri dan nelangsa, tapi ternyata setelah mau masuk kerja lagi, saya baru menemukan energi baru, semangat baru, untuk membuang pikiran negatif saya ini. Banyak faktor, banyak ketemu orang (oiya liburan kali ini kami manfaatkan untuk lebih banyak silaturahmi juga), banyak momen, dll. Yang pasti, I’m fed up of being the victim (dari pikiran saya sendiri), yang selalu bikin saya: merasa “gak pantes” untuk jadi mahasiswa S3, merasa bersalah sebagai emak beranak dua tapi sibuk ngampus, dan pikiran jelek lainnya. Gusti Allah, maafkan hamba.

Betul untuk berubah gak butuh perubahan tahun, bisa kapan saja. Tapi untuk berubah butuh momentum juga. Kadang kita menunggu momen untuk berubah. Ya, manfaatkan saja yang ada sekarang. Mungkin ini memang kebetulan.

Utamanya saya ingin lebih menikmati peran saya di semua bidang, jadi mahasiswi, jadi ibu, jadi istri, jadi anak. Cem pria macho yang ada di iklan rokok gitu deh, hidupnya enjoy aja.

Lalu saya ingin lebih mengapresiasi diri saya sendiri. Berhenti mengasihani diri sendiri. Selama ini saya kok saya merasa banyak ngeluh. Sok-sok jadi tokoh drama korea gitu. Jemput anak naik sepeda, sambil hujan-hujanan, sebelumnya baru dibejek sama supervisor, perut melilit belum makan nasi dari pagi, pulang-pulang kudu masak. Terus dalam hati, Ya Allah kok saya kasihan banget ya. Pingin nangis cantik deh. Kalo Song Hye Kyo di Endless Love, sih iya cantik nangisnya, bikin yang nonton ikut terbawa termehek-mehek, menjual beud. Lha gueee.. mau nangis dramatis mengasihani diri sendiri kaga ada guna beib.

Jadiiii… 2019 I’m comiiinnngg!

Bismillahirrahmaanirrahiimm…

I’m happy doing my job and I’m happy being myself!

Mengutip lagu kesukaan Runa sekarang ini: Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanyaa…

Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

A Roller-Coaster Relationship

Tiap hari Kamis, saya pasti gelisah dan deg-degan. Apa pasal, tiap kamis ada agenda merah bertengger di kalender saya: meeting pekanan dengan Ibuk supervisor. Dulu ketika saya masih memproses proposal S3 saya dan lanjut dengan proyek pendahuluan, saya juga sudah sering bertemu beliau secara rutin. Tapi tidak ada hal yang perlu saya cemaskan. Beliau masih manusia biasa, tidak ada tanda-tanda ia punya tanduk di kepalanya atau taring sepanjang galah yang muncul di bulan purnama. Saya juga tidak merasa kalau dia adalah tipe supervisor yang killer. Pokoknya everything went well-lah.

Tapi sudah lebih dari separuh tahun 2018 ini saya berinteraksi intens dengannya, tanduknya mulai keluar kepribadian aslinya baru terasa. Dulu ketika saya mencoba “melamar” beliau sebagai supervisor, feeling saya merasa bahwa dia tidak seperti Dutch pada umumnya, yang dingin dan to the point. Saya pikir supervisor S2 saya sudah cukup membuat saya kapok waktu itu. Gak lagi deh saya bergaul dengan tipe Dutch yang ngomongnya kayak Feni Rose (setajam silet). Tapi ternyata … setelah saya renungi, “silet” supervisor master saya dulu ga ada apa-apanya. Kalau boleh saya bandingkan, saya mau balik lagi dah sama supervisor master saya, daripada sama si Ibuk ini. Tapi roti sudah menjadi basi (berhubung Dutch makannya roti bukan nasi), we can’t turn back the time.

Semakin banyak bergaul dengannya, baru kelihatan ternyata si Ibuk ini kepribadiannya agak bipolar, haha.. Maksudnya kadang di satu meeting dia baik gitu ya, kayak jelmaan Dewi Kwam Im, senyum-senyum aja. Di meeting lain dia kayak streng banget mukanya kayak lagi sembelit. Suatu kali dia pernah memuji kerjaan saya, bahkan bertepuk tangan (untung gak sampai tepuk pramuka). Suatu kali lainnya saya pernah disayat-sayat dengan sembilu dengan perkataannya. Duh…

Lalu ada meeting meeting evaluasi 6 bulanan saya sebagai PhD. Di sanalah batu loncatan di mana tanduk si Ibuk mulai terlihat jelas dan berkilat. Saya cukup shock. Sebab, semua kawan saya yang PhD bilang, evaluasi 6 bulanan itu mah cuma ngobrol-ngobrol doang, santai, ga ada apa-apanya. Ternyata hal itu tidak terjadi pada saya. Mungkin banyak hal yang mempengaruhi juga, saat itu si Ibuk agak spanneng karena sibuk urusan ini itu, ditambah jadwal meeting kita mepet sama acara orasi profesor baru di departemen. Jadilah kayak semuanya seperti diburu-buru, dan yang keluar dari mulutnya adalah rentetan peluru. Saya yang hanya berbekal bambu runcing tentu kewalahan mengatasi serangan Ibuk kompeni. Jenderal Soedirman tolong sayaaahh, di sini ada kompeni ngamuk. 

Hal tersebut cukup menyita pikiran saya selama seminggu. Saya cukup kesal dengan hasilnya. Lalu saya pun menulis email penjelasan yang cukup panjang padanya, sedikit komplen dan negosoisasi. Sampai akhirnya dia menjadwalkan evaluasi ulang. Untunglah dia tipe yang mau menerima masukan ya. Dia kayaknya sadar, sepertinya saat itu ia terlalu on fire (mungkin sedikit pms, haha) dan buru-buru. Akhirnya dia melunak dan lebih memberi banyak masukan positif dan jalan keluar. Alhamdulillah. Dia masih punya hati juga.

Tapi setelah hari itu, semua jadi terasa berbeda. Setiap ada meeting pekanan, saya selalu dirundung cemas: Did I make any mistake in my progress? Did I do wrong? Did I miss something to report to her? Beneran gak sehat, pingin nelen obat penenang rasanya.

Kawan-kawan sesama PhD sering menyemangati saya bahwa saya beruntung bisa diasuh di bawah bimbingan si Ibuk, sebab gak semua PhD bisa diskusi intens sama supervisornya, mereka mah bisa nyium bau parfum si supervisor di koridor aja udah seneng banget. Dalam seminggu aja saya bisa ketemu dia dua-tiga kali di meeting yang berbeda-beda, padahal kawan-kawan PhD saya sampai mohon-mohon ke supervisornya buat ketemu, eh saya mah keseringan. Suami pun tak kalah menyemangati. Katanya saya akan sangat bersyukur bertemu si Ibuk sebab banyak orang yang lost di awal PhD-nya karena supervisor terlalu cuek. Lha ini mah “perhatian” banget. Nanti di tahun ke-dua saya akan terbiasa dengan sikapnya dan malah bikin saya makin kuat.

Kawan-kawan saya bilang, bagus banget kerjaan saya dibahas detail sama dia, dikasih banyak masukan, bahkan dikritik habis-habisan. Mereka bilang, mereka pingin banget dikritik sama supervisornya daripada dianggurin. Yaa.. dikritik sih mau tapi caranya gak pakai bumbu boncabe level 10 juga keles.

Mungkin juga sih yaa.. mungkin.. saya yang terlalu banyak ngambil hati dari perkataan dia. Yah, namanya juga orang Asia, orang Indonesia, full of sugar coating talk dan banyak basa-basi. Tiba-tiba dikasih kultur yang beginian, ampun inang … . Salah satu kawan PhD saya (Dutch) yang juga dibimbing si Ibuk juga bilang, dia mah emang gitu … kalau saya udah tahu sih dia mau ngeritik saya di bagian itu dan saya sadar. Dianya selow-selow aja gitu, mungkin karena sesama Dutch, dia gak ambil pusing dengan kritik yang tajam. Mboh juga sih.

Sampai sekarang saya masih merasa skeptis sama si Ibuk. Sekali waktu dia memberikan compliment karena menurutnya yang saya kerjakan sudah baik (meski tetap dibarengi kritik di belakangnya). Tapi saya gak hirau sama pujiannya. Sebab saya takut, kalau di meeting kali ini saya masih selamat nih, tapi who knows di meeting ke depan, saya bisa kena semprot lagi. Menjalani hubungan dengan si Ibuk seperti laiknya naik roller-coaster. Kadang perut dikocok-kocok karena tegang, kadang ada rasa (sedikit) excited di dalamnya, pernah juga terasa datar seperti di awal laju roller-coaster. Tapi saya masih akan menjalani a roller-coaster relationship ini sampai 3.5 tahun ke depan. Pembaca Budiman … Doakan saya yaaaa …

Just Learning, Life is Beautiful, Trash = Relieved

Belajar Memaafkan dari Anak Kecil

Runa punya banyak teman. Ia senang sekali bermain sama teman-temannya. Tapi namanya juga bermain, kadang ada hal-hal yang bikin anak-anak ini berantem atau marah-marahan. Tipe anak emang beda-beda sih. Ada yang usilnya ga ketulungan, ada yang dominan dan suka ngatur-ngatur, ada juga yang cengeng. Ujungnya satu ada yang ngambek, satu ada yang nangis, atau satunya lagi merasa sebal. Kadang mereka bisa menyelesaikan sendiri masalahnya dan baikan. Kadang butuh orang tua juga yang memediasi mereka, untuk saling minta maaf, salaman, lalu berpelukan. Awalnya sih pada gengsi, tapi lima menit kemudian, eh mereka udah main-main lagi kayak biasa, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Besok-besoknya pun mereka gak ada yang mengungkit-ungkit peristiwa yang bikin mereka berantem.

Saya pun memperhatikan Runa dan kawan-kawannya seperti itu. Runa termasuk anak yang cengeng, kalau adu bodi atau adu mulut, pasti dia yang mewek duluan karena ga bisa ngelawan. Kadang saya gemas sih liat Runa, kok lebih mudah nangis daripada melawan. Tapi kemudian saya berkaca pada saya sendiri, dulu waktu kecil saya lebih parah cengengnya. Bahkan kalau ketemu sama saudara/om/tante yang pernah kenal saya pas kecil, komentar mereka pasti: “Monik nih dulu kecilnya cengeng banget, mangkanya orang seneng banget bikin monik nangis.” Okelah, mungkin gen cengeng itu menurun dari saya. Sampai sekarang saya juga bawaannya mellow dan gampang terhanyut (kaiiin kali hanyuut).

Eniwei, balik lagi pada topik anak-anak, berantem, dan maaf-maafannya. Saya salut lho sama mereka. Sungguh hati mereka benar-benar bersih, masih dijaga oleh Allah. Meski sebelumnya mereka berantem kayak apa, tapi sebentar saja mereka sudah baikan. Lalu gak ada tu dendam mak lampir bergelayut di hati mereka. Seolah gak kapok, besoknya mereka masih main sama-sama lagi. Kalau berantem ya maafan lagi. No left feeling and no unfinished businsess.

Saya jadi malu. Sebab sebagai orang dewasa (yang harusnya) bisa lebih bijak, kalau ada suatu masalah dengan orang lain ya sudah gak usah diperpanjang. Apalagi sampai bikin hati sesak, ruginya dobel-dobel. Ditambah lagi jika yang membuat kita bete, marah, tersinggung juga adalah sesama muslim, saudara kita. Yaa.. sebagai sesama muslim harusnya legowo dan saling memaafkan. Tanpa ada ekor di belakangnya: “tapi kan dia nyinggung saya duluan”, “tapi omongan dia tuh yang nyelekit”, “harusnya dia sadar diri dong sama kesalahan dia dulu.”. Yah no matter what the misatake is.. memaafkan ya tuntas gak pakai “tapi”.

We can’t control ones behaviour, but we can control ours. Terserah deh dia mau gimana-gimana, yang penting kita yang bisa jaga hati. Itu sih yang masih sulit. Kadang emosi kita bisa terpantik dari satu atau dua kalimat seseorang, atau dari tindakan seseorang, (yang mungkin dia gak bermaksud jahat). Tapi kemudian emosi itu yang bikin kita panas dan ingin membalas. Nah.. sebagai manusia yang suka khilaf ini saya belajar dari anak-anak yang masih suci dari dosa.

Ketika ada teman yang usil dan bikin kesal, tentu mereka juga gak bermaksud jahat, wong namanya juga anak-anak. Dan ketika mereka sudah saling memaafkan, clear, sudah. Besoknya mereka bermain lagi.

Mungkin kita harus belajar dari pola pergaulan anak-anak ini. Ketika ada yang menyakiti kita, positive thinking aja dulu, mereka ga bermaksud jahat. Kita yang harus mengontrol reaksi kita ke depannya. Dan ketika sudah sadar akan kesalahan masing-masing, ya sudah maafkan. Jangan sampai memutus tali silaturahmi.

Wallahua’lam

__

Buat sahabatku yang pernah bercerita padaku bahwa ia merasa sangat sakit hati pada omongan/tindakan seseorang/sekelompok orang, I knew what you feel. Iya dirimu, yang lagi baca. Pasti dirimu baca postinganku, haha.. walaupun udah agak lama juga dirimu ga nulis blog. Betewe, saya bukan nulis ini berdasarkan pengalaman kamu sebenarnya, tapi pengalaman pribadi. But I can imagine your position at that time. Don’t waste your time on such issues. Lupain yang bikin sesak hatimu. Ini aku juga sambil monolog haha..

Ada suatu doa yang ketika dibaca, maka hati terhimpit gunung pun, jadi plong..

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ

وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Tiada illah selain Allah, zat yg Maha Agung lagi Maha Lembut..
Tiada illah selain Allah, Rabb –Penguasa ‘Arasy– yg Maha Agung..
Tiada illah selain Allah, Rabb –Penguasa Langit, dan Penguasa Bumi, dan Rabbnya ‘Arasy– yang Maha Mulia..

Kata temannya suami saya (yang menuliskan nasihat itu di laman facebooknya). Doa itu shahih dibaca oleh Rasulullah SAW di kala beliau mengalami masa-masa sulit, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim RA.

Trash = Relieved

Berfokus pada Hal Positif

Sudah lama banget saya gak nulis, jadi mungkin neuron-neuron otak saya dalam menulis bekerja lebih lambat dan gak sistematis.

Sebenarnya saya sediiihh banget udah lama ga cerita di blog. Saya merasa menulis tetap menjadi terapi saya yang utama, selain curhat sama Allah, baca surat cinta Allah, dan yang setelahnya curhat sama suami. Menulis itu bisa mengurai emosi saya, sehingga saya gak terlalu labil dan eksplosif kalau menghadapi masalah.

Terapi saya yang lain tentunya baca. (Jangan bilang baca paper ke saya ya, saya sudah mabok paper). Bacaan yang jadi terapi saya ya.. blog, wattpad, novel dan non fiksi ringan. Saya rindu banget nulis di blog. Rasa rindu saya nulis di blog terobati dengan baca postingan-postingan timeline wordpress saya. Ada cerita dari Mbak Dewi yang selalu seru dan bikin saya ngakak, curcol sederhana mengenai drama korea. Ada cerita sehari-hari dari Ceu Yunyun yang kocak, hanya sesimpel mengenai perjalanan dari Jetinenjer ke Bandung tapi bikin saya happy. Ada Mbak Imel yang selalu update resep dan cerita hariannya di kantor maupun di rumah, sederhana tapi bermakna. Dan terbaru yang baru join wp Teh Ghina yang selalu menyelipkan manfaat di setiap tulisannya. Saya ingin nulis lagi seperti mereka. Menulis yang LUBER, langsung umum bebas dan rahasia (berasa pemilu haha). Langsung karena gak pake mikir banyak tapi ngalir aja. Umum soalnya ye ini kan platform umum. Bebas.. ya lepas gitu ga terhimpit beban. Dan tentunya rahasia, soalnya yang baca postingan saya itu memang orang tertentu aja yang mau baca. Teman di lingkungan sehari-hari, keluarga, follower IG atau temen di FB bahkan sedikiiit yang baca juga.

Akhirnya pagi ini, sebelum saya berkutat dengan tugas saya di kampus, saya menyempatkan dirilah bersihin sarang laba-laba yang udah mulai bersarang di pojok blog saya. Sambil sedikit mau mengadu pada Mamaah Dedeeh, “Curhat dooonngg” hahaha.. *Kangen juga saya sama tontonan tiap subuh itu, dah lama banget ga ngikutin.

Beberapa bulan ini saya merasakan banyak sekali himpitan di pundak dan dada saya. Sampai saya susah bernapas rasanya. Lalu saya kemudian sadar.

Di beberapa akun sosmed selebgram, social influencer, atau apalah namanya. Saya sering membaca caption mereka yang kurang lebih isinya seperti ini:

Be grateful and stay positive.

Just ignore the negativity around me.”

“Gue sih ga peduli omongan dan komentar jelek dari orang lain, fokus aja sama hal positif yang ada.”

Keep the positive energy inside, and throw away the discouraging things.

Haters mah cuekin aja”

And so on.. Well, since I am only rakyat jelata, awalnya saya gak begitu ngerti kenapa mereka sering banget curcol tentang “hal positif” dan “hal negatif” yang melingkupi mereka. Tapi ternyata saya bisa mengerti juga di kemudian hari, alasan mereka bilang gitu. Eh bukan karena saya tiba-tiba jadi seleb ya terus jadi ngerti posisi mereka. Tapi mau kamu seleb atau bukan, rakyat jelata atau kaum kerajaan, dalam kehidupan ini pasti kamu akan menemukan hal-hal positif dan negatif di sekeliling kamu, adanya orang nyinyir dan orang suportif, adanya orang yang menyakiti kamu dan orang yang lembut hatinya padamu. Tapi karena mereka orang terkenal, tentu porsi “ada yang nyinyir dan komen negatif” lebih jelas dan sering terjadi pada mereka.

Himpitan di pundak dan dada yang saya rasakan itu tentunya adalah akumulasi dari hal-hal negatif yang ada di sekitar saya. Tapi kemudian … Setelah saya pikir-pikir, ada berapa banyak sih hal negatif yang mampir pada saya? Bisa dihitung dengan jari mungkin: Sebutlah supervisor dan bos yang seperti jelmaan JP. Coen (yang ga kenal JP. Coen buka lagi buku sejarahnya ye), atau teman yang suka memberikan komentar negatif tanpa mikir dulu dan mengerti kondisi, orang judes yang ditemui di jalan, kolega yang ngenyek banget, atau lainnya.

Lalu berapa banyak sih hal positif yang saya dapatkan? Wah malah gak bisa dihitung dengan jari. Oke ada supervisor atau bos yang berdarah penjajah, tapi saya punya banyak kemudahan, suami yang soleh dan suportif, anak-anak yang sehat dan gak banyak rewel sama bundanya. Oke ada teman yang mulutnya perlu sekolah lagi, tapi itu cuma satu di antara sahabat-sahabat saya yang baik: Ada yang menampung curhatan saya ketika saya stres dan pusing dengan kerjaan kampus, ada yang tanpa saya minta bantuan selalu menawarkan bantuan, ada yang selalu menyemangati saya untuk tetap ngaji dan menambah hapalan, Masya Allah.

Kata-kata mereka tertata dan membuat hangat dada saya: “Ambil positifnya saja”, “Yang sabar ya Mbak Monik, Insya Allah semuanya bernilai ibadah.”, “Semangat, Mbak!” dan lainnya, walau hanya sesimpel kata-kata itu.

Iya ada kolega yang ngenyek banget, tapi itu cuma satu di antara kolega-kolega lain yang warm-hearted dan suka menolong. Iya ada juga orang judes yang saya temui di jalan, bahkan mungkin memandang aneh jilbab dan gamis saya, tapi lebih banyak lagi orang ramah yang saya jumpai. Ada kasir toko, dia muslimah, yang tahu saya berjilbab, menyapa saya dengan: “Assalamu’alaikum”, instead of “Goede Morgen” atau “Hoi”. Ada orang yang tidak saya kenal di jalan, tapi mereka tahu saya muslim, mereka lalu memberikan salam. Ada orang-orang Belanda yang ramahnya juga ngalahin pelayan Pizza Hut Indonesia.

lntinya, kenapa hati saya harus susah dengan hal negatif yang cuma sedikit? Mungkin saya terlalu fokus pada hal-hal negatif tersebut sehingga lupa bahwa lebih buanyaaakk lagi hal baik dan luar biasa yang Allah berikan untuk saya. Allah Maha Adil, tanpa kita minta, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Sometimes pain is not about you, but it’s about something better that you did not know. Indah kan?

Why don’t we just spread the positivism and say good bye to the negativism around us?” –> Udah kayak caption-caption social influencer belom? Haha.

Catatan Haji 1437 Hijriyah, The Holy Makkah Al Mukarramah

Masya’ir Haji

Masya’ir adalah sebutan untuk hari-hari pada puncak  ibadah haji yang meliputi ibadah wukuf di Arafah, mabit di Mudzalifah dan melontar jumrah di Mina.

Saya tulis mengenai masya’ir haji di postingan terpisah dengan Masjidil Haram dan Makkah Al Mukarromah agar dalam postingan tersebut tidak terlalu padat. Sumber informasi dari postingan yang saya tulis di sini sebagian besar diambil dari buku Sejarah Mekah, karangan Muhammad Ilyas Abdul Ghani. Dari sana saya mendapatkan banyak informasi penting mengenai keseluruhan Mekah. Sayangnya saya baru membacanya setelah saya selesai haji. Buku ini saya beli di Mekah, dan berbahasa Indonesia. Meski bukunya kecil tapi padat sekali.

Mina

Mina adalah suatu tempat yang digunakan jamaah haji untuk bermalam (mabit) selama puncak haji 9, 11, dan 12 Dzulhijjah. Mina terletak di antara Makkah dan Muzdalifah, sekitar 7 km dari Masjidil Haram. Dinamakan “Mina” sebab di sanalah tempat manusia berkumpul. Mina adalah tempat di mana Nabi Ibrahim AS melempar jumrah dan menyembelih domba (sebagai ganti anaknya Ismail). Continue reading “Masya’ir Haji”