Catatan Hati

Marah itu Gampang, Tapi …

Manusia dibekali oleh nafsu, salah satunya emosi. Emosi yang kerap menghinggapi kita sehari-hari adalah emosi bernama marah. Semua orang pernah kesal, terus marah. Melampiaskan marah dengan bermacam-macam cara. Ada yang ngomel, ngambek, merutuk, bahkan menangis, atau menyimpan marah dalam hati. Tapi emosi itu katanya harus dikeluarkan, kalau tidak nanti tubuh kita sakit, jiwa kita sakit.

Tapi bagaimana mengeluarkan emosi marah yang benar biar gak merugikan diri sendiri dan orang lain?

Aslinya, saya juga gak tahu jawabannya. Saya masih perlu banyak belajar. Saya akui, saya termasuk orang yang mudah tersulut emosi. Rasanya kalau ada yang ngejentik saraf emosi saya, saya pengen segera menyalurkannya ke luar, ga pengen lama-lama di badan sendiri. Memang paling gampang nyalahin orang, dan marah-marah sama orang, apalagi kalau kita dalam posisi yang benar. Makin ada legitimasi untuk menyalurkan marahnya.

Continue reading “Marah itu Gampang, Tapi …”
Indonesia, etc, Travelling time!

Cerita Mudik di Kala Pandemi – Belanda to Indonesia

Nulis ini biar inget aja, kalau pernah mengalami pulang kampung ke Indonesia di masa pandemi. Melalui keribetan administrasi dan cek ini itu demi bisa menembus Indonesia.

2020 was not easy, 2021 was not easy either. Both years were struggle for everyone. Kami sudah menjadwalkan untuk pulang ke Indonesia sejak summer 2020 (Juni-Juli). Selain untuk mengunjungi keluarga, juga untuk kepentingan penelitian. Qadarullah pandemi corona melanda. Jadi dua kali niatan ini tertunda. Akhirnya di akhir tahun 2021, sepertinya harus “dipaksakan” dengan segala konsekuensinya.

Jadwal karantina yang berganti-ganti dalam dua minggu

Dari Desember 2021, pemerintah Negara Ki Sanak senang banget ngeganti aturan karantina. Dari 5-7-3-10 hari, ah pokoknya saya sampe lupa urutannya gimana. Selama Bapak Lumut berkuasa mah Negara Ki Sanak diobrak-abrik aja sama dia. Wallahu’alam juga sih kan katanya memang omicron melanda, jadi kudu hati-hati sama orang LN yang mau datang. Tapi tuh kebijakan dibuat kayak mainan aja. Bayar hotel itu kayak ngerampok aja. Daku kan jadi kesel. Mana pake drama untuk booking hotel pula. Udah > 20 hotel kami hubungi, masa semuanya penuh. Trus kami mau ke mana dong? Ke Wisma bisa aja sih. Tapi mempertimbangkan dua anak dan jadwal kerja kami (kami gak cuti selama karantina), tampaknya sangat tricky untuk ke Wisma.

Akhirnya dengan bantuan Papa, bisa juga booking hotel Me*cur*. Itu kami harus booking dua kamar pula. Karena ga memungkinkan untuk ber-4 dalam satu kamar selam 10 hari. Bisa stres. Dan hotel juga bilang gak boleh dengan kapasitas kamar deluxe untuk ber 4. Ya udah bismillah aja.

Continue reading “Cerita Mudik di Kala Pandemi – Belanda to Indonesia”
review buku

Review Buku Ancika – Dia yang Bersamaku 1995

Karena penasaran dari blooper-nya. Jadi aja buku ini yang pertama ditamatin di tahun 2022.

Selalu seneng baca kalimat-kalimat khas @pidibaiq yang sederhana namun unik. Tentu di Ancika ini pun kerasa banget.

Dari pertama baca deskripsi karakter Ancika, saya memang lebih jatuh hati sama Ancika Mehrunissa Rabu, dibandingkan dengan Milea Adnan Husain. Mungkin karena karakter Ancika lebih kuat, tegas, bukan tipe cewe mehe, mandiri, gak manja, rajin belajar, fokus. Sebenernya tipe cewe mediokor aja, buka cewe populer dan girly kayak Milea. Jadi saya sih ngerti aja Dilan akhirnya jadi sama Ancika, yang kayaknya lebih bisa nyambung sama Dilan (soktoy mode on, gakpapalah ya komentar pembaca mah bebas).

Walaupun secara keseluruhan cerita, saya lebih menikmati Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Tiga cerita tersebut lebih nendang aja rasanya. Kalau kisah Ancika ada rasa hambarnya. Meski tentu tertolong dengan gaya cerita Pidi Baiq yang detail menceritakan suasana Bandung tempo doeloe. Itu yang benar-benar saya nikmati. Karena saya juga jadi ikut bertamasya ke tempat-tempat tersebut. Plus bodoran-bodorannya yang sangat out of the box, gak tau dari box belah mana dari pikiran Ayah @pidibaiq 😂.

Nb: Jadi inget ejek-ejekan jaman dulu kalo ada anak kuliahan punya gandengan anak SMA, artinya dia tu pasti gak laku di kampusnya, jadi nyarinya anak bawang ke bawah😅. Apakah Dilan di ITB gak laku sampai akhirnya nge-pdkt-in nya ponakan temennya sendiri? 🤔

Catatan Hati, Motherhood

Freedom

Sering banyak yang berkomentar ke saya

“Gak kebayang punya anak sambil PhD, gimana repotnya.”

“Aku aja yang single repot ngurus ini itu, apa lagi kamu yang buntutnya dua, pastilah lebih banyak yang diurus.”

Couldn’t agree more sebenernya, saya manggut-manggut.

Saya ngerti sih dengan pandangan seperti itu. Dan saya merasakan juga ada hal-hal yang jadi terbatas setelah kita berkeluarga dan punya anak. Ada yang membatasi kebebasan kita untuk beraktivitas, berkarya, melakukan banyak hal, dan pilihan untuk bersenang-senang.

Tapi ketika kita tilik lagi lebih lanjut, kenyataan gak seperti yang terlihat secara kasat mata. Lihat dengan teropong yang lebih luas, jangan dengan dari bolongan sedotan aja, nanti mindset kita jadi sempit.

Terasa gak ketika kita sedang diamanahi banyak hal, malah kita jadi lebih produktif menyelesaikan amanah kita? Ustadz Hartanto malah pernah bilang orang yang sibuk malah lebih bisa menghapal Al-Qur’an dibandingkan orang yang kurang kerjaan. Karena orang yang sibuk akan memiliki manajemen waktu yang efektif untuk menghapal Al Qur’an sedangkan orang yang kurang kerjaan malah akan sibuk mencari-cari kerjaan (yang kadang gak penting).

Continue reading “Freedom”
Groningen's Corner

Surat dari Oma di Depan Jendela

Masih ingat cerita Oma di depan jendela? (Baca ini kalau belum https://monikaoktora.com/2021/03/09/sadari-hal-kecil-yang-bisa-berarti-besar/)

Kami masih secara konsisten ngedadahin Oma ketika lewat depan rumahnya. Begitupun si Oma. Kalau pagi itu gak semangat, rasanya habis lihat senyum lebar Oma, ada rasa hangat nyelip di hati, dan saya bergumam, bisa, bisa, hari ini bisa dilalui.

Pekan lalu adalah hari terakhir Senja ke sekolah daycare. Senja udah 4 tahun, artinya Senja akan masuk basisschool. Senja masuk sekolah yang sama dengan Runa. Arah sekolahnya berbeda dengan rute yang biasa kita lewati kalau ke sekolah daycare. Artinya setiap pagi, kami tidak akan melewati rumah si Oma lagi. Ada rasa sedikit janggal eeeh iya ya gak akan dadah-dadah lagi sama Oma tiap pagi.

Nah hari terakhir Senja ke sekolah, Senja bawa traktatie (traktiran) berupa bolu kukus cantik warna-warni buatan Mbak Septi (bukan akulaaah… mana sempat aku tuu bebikinan), dan bawa pembatas buku yang dibuat sendiri.

Terus kami sengaja mampir ke rumah Oma untuk ngasih bolu kukus dan pembatas bukunya juga. Omanya seneng banget. Dan dia bilang kalo sedih juga gak bisa lihat kamu lagi dadah-dadah di depan jendela, tapi seneng juga karena Senja sudah besar dan ke bassisschool. Kalau lewat-lewat lagi pokonya jangan lupa dadah ya..

Continue reading “Surat dari Oma di Depan Jendela”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Mawar yang Mekar

“Hari ini Juf bilang kalau Euis (bukan nama asli, ya kalik anak Londo namanya Euis) balik lagi ke grup 4,” kata Runa, saat kami sedang makan malam.

“Eh gimana maksudnya?” saya dan suami yang tadinya asyik mengunyah jadi penasaran dengan cerita Runa.

“Tinggal kelas gitu?” lanjut saya, “Kan belum akhir semester, baru juga setengah jalan.”

Runa sekarang ada di grup 5 (setara kelas 3 SD). Kenaikan kelas di sini ditentukan sekitar bulan Juli, yang ditutup dengan libur musim panas. Bulan November/Desember biasanya memang suka ada evaluasi dari guru dari performa anak dari awal semester.

“Emang Juf bilang di depan kelas gitu, kalau Euis gak lanjut di grup 5? Gak papa emang sama Si Euis-nya?” tanya suami.

Orang tuanya Runa nih,dari kecil dididik dengan sistem sekolah dengan ranking dan dengan paham bahwa nilai adalah segalanya. Kami ada sedikit rasa ga enak pasti, ada perasaan bahwa “tinggal kelas” adalah suatu aib (ya gimana atuh, dari dulu doktrinnya gitu). Kami kan jadi kasihan sama si Euis.

Tapi Juf M dan Runa punya pandangan berbeda. Runa ngerasa biasa aja tuh Euis turun kelas, gak pity her atau merasa itu sesuatu yang buruk.

“Juf cerita tentang bunga mawar. Katanya di sebuah taman yang dipenuhi bunga mawar. Setiap tahun bunga-bunga mawar itu selalu mekar dengan cantik. Tapi tahun ini ada bunga mawar yang tidak mekar, sementara bunga-bunga yang lain sudah bermekaran. Si bunga mawar itu ternyata butuh waktu lebih lama untuk mekar dan jadi cantik, waktunya aja yang beda dengan bunga mawar lainnya.”

Continue reading “Mawar yang Mekar”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Pelajaran dari Sekolah

Menginjak usia 4 tahun, Senja sudah mulai masuk grup 1 basisschool (setara TK A). Jadi di sini waktu pertama masuk sekolah itu ditentukan dari H+1 dari hari lahir si anak.

Anyway saya mau cerita lain sebenarnya, soalnya bertepatan dengan Senja masuk sekolah, pas juga dengan adanya oudergespreek (parents meeting dengan gurunya Runa). 

Biasanya di pertemuan itu, guru akan menjelaskan perkembangan si anak di kelas, pelajaran yang diterima apa aja, interaksi di kelas, gak cuma hard skill, tapi juga soft skill. Tapi di pertemuan kali ini, agak berbeda. Jadi sebaliknya, guru yang akan balik bertanya pada si anak. Kamu suka pelajaran apa di sekolah? Apa yang susah, apa yang gampang? Apa yang menurut kamu perlu lebih dipelajari? Bagaimana perasaanmu selama belajar dan bermain di sekolah? dll.

Hanya ada satu pertanyaan menarik, yang mungkin jarang atau gak pernah ditanyakan  guru ke muridnya? At least saya gak pernah ditanya seperti itu.

“Apa di luar sekolah kamu suka bermain bersama dengan teman-teman kamu (di rumahmu, di rumah temanmu, atau playdate di mana)?”, “Dengan siapa saja kamu bermain?”

Saya tangkap bahwa mereka merasa kehidupan sosial dalam berkawan itu juga sangat penting. Memastikan bahwa si anak punya banyak teman, bisa bergaul dengan baik, dan bisa membawa diri. Sekolah bukan cuma tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga untuk sebanyak-banyaknya

Catatan Hati, Mommy's Abroad, School stuff

Inferior

Tiga tahun lalu, saya memulai perjalanan PhD ini dengan rasa inferior parah. Merasa salah tempat, gak bisa membawa diri dan membaur dalam kelompok, takut salah, takut dianggap gak kompeten. Bahasa Inggris belepotan, bahasa Belanda apa lagi. Kalau mau ngejawab pake bahasa Inggris, untuk percakapan sederhana sekalipun, saya suka takut salah. Apalagi untuk obrolan saintifik, untuk ngejawab pertanyaan supervisor pas diskusi tangan saya aja sampe dingin. Pikiran saya mengulang-ulang kalimat apa yang mau saya lontarkan. Sambil pikiran lain berbicara: gimana kalau balelol, salah grammar, atau orang gak ngerti apa yang saya omongin. Padahal sebenarnya bahasa Inggris saya gak parah amat kok. Dulu IELTS sekali tes langsung lulus band 7, kelas bahasa Inggris zaman kuliah pun masuk ke kelas A (kelas writing), yang artinya cukup di atas rata-rata. Cuma tuh emang bodohnya saya, rasa pede saya aja yang emang tiarap. Rasa inferior yang menggerogoti.

Tak ada hari tanpa beban bergelayut di pundak dan di hati. Saya selalu merasa berbeda dengan yang lain, dan saya takut dijudge karenanya.

Tahun berlalu, eh saya masih di sini. Qadarullah sebenarnya semuanya gak seburuk yang saya pikirkan. Alhamdulillah Allah sayang, dan terus membuka mata saya. Bahwa rasa inferior itu harus dibuang jauh-jauh. Hei, seorang ibu juga punya aktualisasi diri. Student Indonesia juga gak kalah smartnya dengan orang Eropa lho, biasanya malah lebih punya daya juang tinggi. Cuma memang kekurangan kita sebagai orang Indonesia itu (kebanyakan ya), suka merasa rendah diri, dan menganggap kalau bule-bule itu tuh wah banget, pinter, superior, dll. Padahal asli enggak, bule-bule juga sama ae kayak kita, kadang lebih parah, udah mah gak tahu, tapi suka sok tahu, haha.. tapi mereka pede aja gitu. Kalau salah ya ngaku aja biasa, minta maaf, dan gak ada rasa minder karena malu.

Continue reading “Inferior”
Catatan Hati, review buku

Resensi Buku Atomic Habits – James Clear

Buku ini yang beli suami, tadinya saya gak terlalu minat baca karena saya udah baca buku tentang habit juga sebelumnya, The Power of Habit oleh Charless Duhigg. Saya iseng aja baca introduction-nya, bagian My Story. Eh kok seru ya. Dapet nih pitch point-nya untukmengundang terus baca. Akhirnya saya lanjut. Dan ternyata banyak banget dagingnya, trik, tips, dan cara untuk membuat hidup lebih produktif dan terarah (ciyeh). Tentu seperti biasa, biar gak lupa, saya catat ulang bagian pentingnya di sini. Hal pertama yang membuat saya tertarik lanjut adalah fakta bahwa meskipun progres yang kita lakukan sedikit, tetapi akan berdampak besar di depan, tanpa kita sadari. Nampar kan buat saya yang suka banget bilang: pengen cepet-cepet beres ini, pengen cepetan kelar itu, sementara lupa sama detail kecil yang menyertai prosesnya.

Time magnifies the margin between success and failure. It will multiply whatever you feed it. Good habits make time your ally. Bad habits make time your enemy. Habits are double-edged sword. bad habits can cut you down just as easily as good habits can build you up, which is why understanding the details is crucial. Asli najong nih kalimatnya. Menurut saya mirip sih dengan hadits tentang waktu adalah pedang, bisa bermata dua. Waktu sebagai bahan bakar yang kita pakai dalam kebiasaan kita.

James Clear memperkenalkan istilah the plateau of latent potential (people call it an overnight success). Ini penting buat kita yang sering menganggap bahwa keberhasilan orang kok kayanya gampang, dia kok bisa cepat suksesnya, apalagi di dunia digital yang serba instan ni. Sementara kok kita lambat banget mau sukses. Aslinya kita aja yang gak tahu. Gak ada kesuksesan yang melalui proses instan, kecuali sukses bikin mie instan enak. The outside world only sees the most dramatic event rather than all that preceded it. But you know, that it’s the work you did long ago−when it seemed that you weren’t making progress−that makes the jump today possible. Jadi kudu sabar dalam berproses. Kayak kalau bikin candi dalam semalam mah bisa berujung kegagalan, apalagi kalau buat kita yang gak punya ilmu sakti mandraguna.

Continue reading “Resensi Buku Atomic Habits – James Clear”
review buku

Review Buku: Semangat, Tante Sasa!

Semangat, Tante Sasa! Dibaca dari Gramedia Digital

Buku ini saya tamatkan kurang dari tiga hari, itu pun karena disela aktivitas lainnya. Kalau dilanjut terus, buku ini bisa selesai dalam sekali duduk, soalnya penasaraannn. Saya sampai lupa kalau baca buku ini lewat layar ponsel, dari aplikasi Gramedia Online. Biasanya saya gak betah baca buku dari ponsel, tapi untuk buku ini sepertinya pengecualian, hehe.

Ketika baca blurp-nya, saya sudah dibikin penasaran aja dengan cerita lengkapnya. Mengapa harus Tante Sasa yang menjaga ponakannya, Velisa, saat Mamanya (nenek ponakannya) naik haji? Apa yang terjadi pada Mamanya Velisa ya? Gimana nih seorang Sasa yang suka hura-hura bisa menjaga anak kecil? Satu-persatu rasa penasaran saya terjawab melalui bab-bab cerita yang disusun dengan apik oleh Thessalivia, penulisnya.

Ide cerita yang tidak biasa

Continue reading “Review Buku: Semangat, Tante Sasa!”