Pharmacisthings

Planet Omar Book Review

My daughter insisted me to read these books (she always does that when she thinks the book is super cool), turned out that, she was right! I loooooveee these books! I would recommend parents and kids to read Planet Omar.

It’s funny and hilarious, it’s unique (compared to other children’s books I have read), and really relatable for us: moslem, minority, living far away from our hometown, should raise children in this kind of situation.

The story is about Omar, a boy with a big heart, yet have a huge imagination in his daily live. Omar is a great character for a young moslem, how to overcome being different (religion, race, culture). He just normal kids who doesn’t always have the easiest time, he has to face bullies, unfriendly neighbour, difficult situation, etc. But he always believe that Allah is there to support him, in a simple and joyful way.

@zanibmian put the educative and religious touch in a clever way, about fasting, Ramadan, mosque, community, being nice to people, how to encounter bullies and problems as kids. And the sketches @synasaya throughout are really lovely to keep entertained.

I can understand that my daughter laughed a lot when reading it, I did it too. I had good discussion with my daughter about things that we found similar with our situation, about friends, school, about Islam. Even we argued which chapter is the funniest, and which book is the best. I like the first book, ‘Accidental Trouble Magnet’, and my daugther picks ‘Unexpected Super Spy’ as her favorite.

#BacaBuku2021

Pharmacisthings

Duizen-en-èen paarse djellaba’s (Seribu-an abaya ungu)

Buku ini Runa yang search dan order sendiri di bibliotheek online @biblionetgn. Katanya bukunya sempat dibacakan di kelas waktu bulan Ramadan. Jufnya bilang dia ketemu cerita yang lucu tentang muslim. Terus Runa pingin Bundanya juga ikut tahu serunya si buku ini (sekalian ngasih Bunda pe-er untuk belajar baca bahasa Belanda gitu maksudnya ya, Run?) Sebenarnya ceritanya gak khusus tentang Ramadan sih. Tapi sebagai imigran muslim yang tinggal di Belanda, ceritanya emang relatable banget, dan kocak.

Esmaa dan keluarganya berasal dari Maroko. Liburan panjang ini mereka mau mudik ke Marrakech. Koper-koper mereka lalu diisi berbagai macam barang untuk oleh-oleh keluarga besarnya. Yaitu barang-barang biasanya di Maroko harganya mahal atau susah didapat. Sebaliknya ketika mereka sampai di kampung halamannya, koper mereka pun terisi penuh dengan berbagai macam oleh-oleh untuk mereka, barang yang tidak ada di Belanda, atau mahal harganya. Hmm.. sounds familiar kan ya? Kayak orang Indonesia di NL kalo mudik juga gitu hahaha…

Di Marrakech Esmaa diajak Tante dan Mamanya ke pasar tradisional. Yang mana pasarnya itu padaaat banget, ada segala macam toko, ada pengamen yang beratraksi dengan ular, monyet, akrobat. Eh tiba-tiba di pasar yang rame itu Esmaa kehilangan Mamanya. Dia mengikuti wanita yang memakai djellaba (semacam abaya khas Afrika) warna ungu, seperti yang dipakai Mamanya. Ternyata Esmaa salah orang! Dia pun panik karena di pasar ada sekitar seribu orang yang memakai djellaba ungu (lebaynya mah gitu saking ini pasar rame orang).

Lalu gimana dong akhirnya Esmaa bisa menemukan Mamanya di tengah kerumunan pasar? Itulah keseruannya. Yang pasti pas baca daku jadi pingin mudik, tentunya bukan ke Marrakech yaa.. ke Bandung 🇮🇩tercinta dong😆

#BacaBuku2021

Life is Beautiful, Mumbling

Arti Mimpi Saya Menurut Pak Suami

Pernah ngerasa gak kalau setelah bangun tidur, kok rasanya tadi bermimpi, dan mimpinya masih terasa jelas alurnya. Atau mungkin bukan alurnya tapi tokoh-tokoh yang masuk ke dalam mimpi dan kejadian garis besarnya seperti apa. Saya pernah lho, beberapa kali.

Kalau lagi inget, saya suka iseng cerita ke suami tentang mimpi tersebut. Kadang mimpinya itu suka absurd dan gak nyambung gitu. Apalagi pas diceritain ke orang lain makin terasa ke-absurd-annya, alur dan kelogisannya gak ada (namanya juga mimpi ye, bebass).

Di dalam mimpi saya pernah ingat ada dua orang yang suka mampir cukup sering. Bukan mantan lho yaa, hush! Gak ada mantan juga soalnya, wkwkwk. Keduanya adalah sahabat masa kecil saya (sampai sekarang). Kami masih lumayan sering kontak-kontak, walaupun gak intens banget, dan bukan percakapan yang mendalam. Hanya saling berkabar singkat aja. Tapi entah kenapa ya mereka yang mampir. Sahabat yang pertama adalah sahabat dekat saya yang dari dulu zaman SD sampai kuliah jadi tempat curhatan saya, yang tahu banget kelakuan saya kayak apa. Sahabat saya yang kedua adalah juga sahabat saya di masa kecil, saingan berat di kelas balap-balapan ngejar ranking, dan sekarang dia punya karir bagus di luar negeri.

Waktu saya cerita ke suami, dia malah mulai (dengan sotoyna) menafsirkan arti mimpi saya ini ada sebabnya. Suami menceritakan hipotesisnya, dan saya agak mengakui mungkin dia ada benarnya. Dia bilang, “Ayah tuh udah semakin kenal Bunda itu kayak gimana, kebaca.” Weiss.. inikah kalau soulmate ternyata lebih paham isi pikiran pasangannya?

Continue reading “Arti Mimpi Saya Menurut Pak Suami”

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful, [GJ] – Groningen’s Journal

Berserah pada Jalan Allah

Bagaimana Kabar Ramadan?

Ramadan sudah berlalu dua pertiga jalan, tinggal sepertiga lagi akan kita tempuh Insya Allah. Lalu bagaimana Ramadanmu? Ada rasa mellow juga mengingat Ramadan ini sudah mau habis, tapi rasanya belum banyak yang dilakukan dengan maksimal. Masih ada missed-nya, masih ada kekurangannya, masih belum kenceng doanya. Ya Allah, manusia memang tempatnya salah dan penuh nafsu. Tapi semoga momentum Ramadan ini menjadi momen kita bisa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Saya percaya, pasti ada hal-hal baik yang “nyangkut” dari Ramadan kali ini untuk dibawa jalan ke depan. Meski tertatih, tapi kita tahu kita ada di jalan yang benar, Insya Allah di jalan yang diridoi Allah, aamiin.

Manusia memang lemah. Bahkan untuk mengurus hidupnya sendiri manusia itu tidak mampu, Allahlah yang membimbing dan menunjukkan jalan. Seperti nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah RA untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang. Sebuah nasihat indah yang membuat saya tertegun. Terkadang diri ini merasa sombong, merasa tahu mau melakukan apa-apa, merasa mengerti ini itu, padahal tak ada satupun hal yang kita mampu dan ketahui tanpa bimbingan Allah SWT.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Artinya: Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. (HR Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim).

Jangan engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata, Masya Allah.  Jangan sampai Allah meninggalkan diri ini bersama kelemahan-kelemahan yang ada.

Saat hidup ini terasa sempit, saat dirasa jalan ini sulit ditapaki, bahkan rasanya mustahil apa-apa yang kita usahakan bisa berhasil. Mungkin saatnya kita berhenti sejenak dari kebisingan dunia dan bersujud, memohon ampun pada Allah. Bertawakkal, jalan keluar itu bukan kita yang mengusahakan, tetapi Allah yang memberikan.

Rasanya saat dipikir-pikir, ya Allah berat banget ya mendidik anak di Belanda ini. Rasanya saya lelah gitu harus berusaha lebih kuat untuk mengajari anak salat, mengaji, tauhid. Padahal ya, saya sendiri saja masih berjuang belajar. Masih sedikit sekali ilmu saya untuk bisa saya teruskan pada anak-anak. Untuk belajar sabar dan bersyukur saja masih praktiknya sulit. Padahal kalau saya lirik kawan-kawan di Indonesia, Masya Allah.. senangnya bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam terbaik, bahkan di pesantren. Terbesit rasa iri juga. Saya takut kalau apa-apa yang kami berikan masih kurang untuk bekal anak-anak kelak. Ini kalau curol tentang ini panjang sih, nanti saya khususkan untuk curcol soal pendidikan Islami anak.

Rasanya dipikir-pikir, ya Allah, berat ya jadi Mamak sekolah, kok banyak yang gak kepegang. Padahal list tugas menumpuk, gak cuma dari kampus, tapi juga dari rumah, dari anak-anak. Ngerjain tugas aja ngap-ngapan, terus kapan saya bisa ngerjain hobi saya nulis, bikin buku lagi?

Rasanya dipikir-pikir, ya Allah, sampai kapan kami terdampar di Belanda ini? Rasanya ingin pulang ke Indonesia dan punya kepastian tempat tinggal, pekerjaan, dan pendidikan anak yang baik di sana. Tapi rezeki kami masih di sini … Bahkan kami pun gak tahu sampai kapan di sininya.

Tapi semua yang “dipikir-pikir” itu kan cuma dalam pikiran manusia, kalau kata Allah mah, ini mah gampang. Kamu cuma perlu berserah aja dan berdoa, gak usah pake ribet deh. Salah satu Ustadz menasihati saya ketika saya bertanya tentang mendidik anak di Belanda, katanya: Berdoa saja, saya titipkan anak-anak ini pada Allah. Anak-anak ini milik Allah, Allah yang akan menjaganya. Bukan dari usaha kita, bukan dari kekuatan kita anak-anak ini bisa jadi manusia yang berhasil di dunia dan di akhirat, tetapi dari jalannya Allah.

Saya tertegun. Iya betul. Bukan usaha kami, tetapi kehendak Allah. Allah yang akan menjaganya.

Begitu juga nasib saya sebagai Mamak sekolah dan kelanjutan perjalanan kami di sini. Allah yang akan mengatur. Wallahua’lam

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Ramadan Bercerita bersama DeGromiest

Marhaban Yaa Ramadan..

Alhamdulillah bisa bertemu lagi dengan Ramadan tahun ini. Meski dalam suasana pandemi, tetapi Ramadan tidak berkurang kesyahduannya. Masih berasa sepi juga (tapi Belanda emang sepi sih mau bulan apa juga, haha.. kecuali pas summer kali orang-orang baru kelihatan banyak keluar).

Well, semuanya harus tetap disyukuri. Walaupun kangen berat sama kampung halaman, suasana di Indonesia, panasnya matahari di Bandung, bau kesang, debu-debu intan yang bertebaran di jalanan Bandung, pemandangan dengan banyak manusia familiar, suara-suara dengan bahasa yang akrab di telinga, aaah… sudahlah. Masih jadi angan-angan saja. eniwei tentang bahasa, lucunya sekarang saya sudah bisa menangkap percakapan orang-orang Londo. Kalau dulu ada orang ngobrol, pasti saya gak tahu mereka ngomong apa, tapi sekarang kok bisa ya otomatis paham aja gitu (efek udah kelamaan keles di Londo).

Cukup deh capruknya. Intinya saya ingin berbagi program dari DeGromiest (Himpunan Keluarga Muslim Indonesia di Groningen. Masih ya karena pandemi dan lockdown, gak ada deh kumpul-kumpul, pengajian, apalagi buka puasa bareng dan tarawih ke masjid, kan masih ada pemberlakuan jam malam (mulai pukul 22.00), sedangkan buka puasa aja sekitar pukul 21.00 an, heu.

Nah, jadi untuk tetap semangat di bulan Ramadan, Insya Allah dari tim DeGromiest mengadakan program “DeGromiest Ramadan Bercerita”. Insya allah setiap hari akan ditayangkan kultum bercerita tentang kisah hidup Rasulullah, para sahabat, dan keluarga beliau, ataupun kisah teladan di dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah ini dibawakan oleh teman teman dari DeGromiest dengan semangat berbagi ilmu. Insya Allah video kultum itu akan tayang pada pukul 16.00 CEST / 21.00 WIB .

Kami bukan ustadz/ustadzah lho, tapi kami hanya ingin meneladani sirah Rasulullah dan Al-Qur’an, dan bisa membaginya pada khalayak. Seru juga ternyata prosesnya. Mulai dari memilih kisah yang akan diceritakan, lalu membuat script masing-masing. Baru deh dieksekusi. Biasanya kami mengambil tempat di outdoor. Biar bisa lebih bebas dan fresh juga. Bebas maksudnya kan selama lokdon ini kita gak boleh ngumpul-ngumpul di dalam ruangan. Jadi kami shooting di luar. Dengan bermodal teknik syuting seadanya, jadi juga deh videonya. Oiya ada juga Ramadan bercerita yang khusus disampaikan oleh anak-anak. Kalau itu mah, ortunya sendiri yang nyuting, hehe. Biar anak-anak juga semangat kan.

Selain kami jadi belajar mengenai sirah, kami juga belajar menyampaikan kembali. Biar lidah ini yang biasanya dipakai untuk yang tidak bermakna, bisa jadi bermanfaat dalam menebar kebaikan.

Yuk cek di Youtube DeGromiest: https://www.youtube.com/user/degromiest/videos

Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, [GJ] – Groningen’s Journal

Puasa Runa

Sepulang sekolah Runa cerita dengan antusias, “Runa denger tadi Sara dan Alma ngobrol sekilas, Sara bilang dia udah disuruh Mamanya untuk full puasa tahun ini.”

Sara dan Alma adalah beberapa teman Runa yang beragama Islam, dari sekian banyak temannya dari berbagai latar belakang berbeda.
Menjelang Ramadan memang kami sudah sounding ke Runa, untuk persiapan shaum, sahur, dan lainnya, dalam kondisi Runa sekolah.

Tahun lalu, kondisinya berbeda, saat lockdown pertama, jadi Runa bisa menjalani puasa full di rumah: Sahur pukul 3, buka puasa pukul 10, masih bisa tidur lama setelah subuh, dan gak khawatir dengan padatnya aktivitas sekolah (karena belajarnya masih di rumah aja).

Tahun ini, Runa akan puasa di sekolah. Kami berpesan, puasanya boleh sebiasanya, Runa tetap dibawakan bekal makan siang dan botol minum. Agak sedih sebenernya kalau puasa sendiri, gak ada temannya. Tentu beda banget dengan kondisi saya dulu dan kondisi anak-anak Indonesia sekarang, dari umur 5 tahun saja sudah pada kuat puasa full. Hampir semua anak di kelas berpuasa, ya masa kita enggak? Meski bermula dari perasaan seperti itu, setidaknya ada bentuk “didikan” tidak langsung dari lingkungan.

Namun, setelah mendengar ada satu temannya saja yang juga akan puasa, Runa semakin semangat juga berpuasa. Padahal cuma satu lho. Alhamdulillah. Semoga tantangan-tantangan ini membuat kami menjadi muslim yang semakin istiqomah.

Aa Gym pernah bilang, saat ditanya gimana dengan kesulitan yg dihadapi supaya kita tetap istiqomah? Katanya, ya bagus ada kesulitan malah. Jangan takut pada kesulitan tapi takutlah pada kemudahan, sebab biasanya orang lebih banyak mengingat Allah ketika dalam kesulitan.

review buku

Review Buku The Power of Habit – Charless Duhigg

All our life has it definite form, a mass of habits“. Kita mungkin mengira kalau kebanyakan dari keputusan yang kita ambil sehari-hari merupakan hasil dari pertimbangan yang matang, padahal bukan, keputusan-keputusan tersebut datang dari habit (kebiasaan), misalnya makanan yang kita pesan, apa yang kita ucapkan pada anak-anak sebelum tidur, apa saja yang kita beli di supermarket, berapa lama kita berolahraga, bagaimana kita mengatur pikiran dan work routines kita, dll. Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut tak disangka bisa memiliki efek yang besar bagi kesehatan kita, produktivitas, finansial, dan tentunya kebahagiaan. Kok bisa? Buku ini mengupasnya dengan lengkap.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama fokus pada bagaimana habits bisa muncul di kehidupan seseorang, hal ini melibatkan kerja neurologi sampai pada transformasi habit. Lalu ada juga penjelasan mengenai bagaimana membangun kebiasaan baru dan menggantin kebiasaan lama, apa saja metodenya, dan polanya. Bagian kedua memaparkan bagaimana habits dari perusahaan dan organisasi yang sukses di dunia. Contohnya, bagaimana seorang CEO bisa mengubah perusahaan manufaktur yang sedang struggling menjadi top-performer company. Dan sebaliknya, bagaimana kumpulan-kumpulan dokter bedah bertalenta tetapi malah membuat kesalahan katastropik dengan adanya habits yang salah. Bagian ketiga menjelaskan bagaimana habits yang ada di masyarakt bisa mengubah dunia.

Setiap babnya memiliki pesan yang seragam, bahwa habits can be changed, if we understand how they work

Dalam buku ini dijelaskan mengenai habit loop: cue, routine, and reward. Sinyal, rutinitas, dan hadiah. Tiga hal itulah yang membangun habit.

Change might not be fast and it isn’t always easy. But with time and effort, almost any habits can be reshaped

Continue reading “Review Buku The Power of Habit – Charless Duhigg”
review buku, [GJ] – Groningen’s Journal

Pemesanan Buku Groningen Mom’s Journal dan The Power of PhD Mom

Halo para pembaca! Yang belum sempat membeli dan membaca buku Groningen Mom’s Journal dan The Poewer of PhD Mom, berikut informasi pemesanannya ya.

Groningen Mom’s Journal – terbitan Elexmedia, 2018

Bisa menghubungi:

Shopee Samudra Books shopee.co.id/urfaqurrotaainy atau

web www.samudrabooks.id. IG: https://www.instagram.com/samudra.books/

Samudra Book melayani pengiriman ke seluruh Indonesia, ke beberapa negara lain, seperti Malaysia (via Shopee) 😊.

The Power of PhD Mom – terbitan NEApublishing, 2021

Reposted from @neapublishing SUPER MUSLIMAH

Jadi muslimah sekaligus ibu dan istri bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi dan mengejar cita.

@monikaoktora adalah contohnya. Perempuan muda ini melebarkan langkahnya hingga ke Belanda untuk meraih gelar Doktor sembari menjalani perannya sebagai istri dan ibu bagi dua buah hatinya.

Mau tahu Monika sekolah apa di Belanda?

Monika studi PhD (S3) di Clinical Pharmacy and Pharmacology Dept, University Medical Center Groningen (UMCG) di Groningen, Belanda.

Keren kan?

Insya Allah, kisah seru Monika akan hadir dalam buku THE POWER OF PhD MAMA.

Ini buku baru terbitan @neapublishing.
Info pembelian buku bisa kontak admin NEA Publishing di +62-821-2690-8782
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

“Ik vind jouw hoofdoek mooi!”

“Ik vind jouw hoefdoek mooi!”/Jilbabmu bagus!

Di kelas Runa, setiap minggunya ada giliran menjadi ‘kind van de week‘, atau kid of the week. Jadi si anak mendapatkan “perlakuan istimewa” dari guru dan teman-temannya. Apa saja itu? Misalnya si anak boleh duduk di sebelah sang guru saat sesi kringetje (duduk dalam lingkaran), bantu guru mencuci apel untuk dimakan saat istirahat. Kalau di esde saya dulu mungkin bantu hapus papan tulis kali yah, wkwk.. (Semacam piket dong😅).

Tapi yang istimewanya di pekan tsb, anak yang bersangkutan boleh mendapatkan testimoni dari teman-temannya. Guru meminta anak-anak untuk memikirkan dan menuliskan hal baik apa tentang si anak yg menjadi kid of the week. Runa juga pernah mendapatkan kesempatan itu. Suatu kali ia membawa pulang tumpukan kertas berisi tulisan tangan teman-temannya. Runa bilang dia senang banget baca tulisan-tulisan itu, terutama dari Sara, yang bilang “Ik vind jouw hoofdoek mooi” (Kupikir jilbabmu bagus).

Runa memang sering pakai jilbab ke sekolah, kami gak memaksakan, hanya membiasakan. Kalau Runa mau ya bagus.. apalagi pas winter kemarin malah enak pakai jilbab, anget. Kadang Runa juga suka minta pakai jepit rambut atau dikepang dua, ya gakpapa. Setelah, membaca komentar Sara, Runa jadi semangat pakai jilbab ke sekolah, Masya Allah.

Kami belajar banyak hal dari itu:
1. Kami mencoba untuk membuat Runa nyaman dan bangga pada identitasnya sebagai muslimah. Tak disangka, ternyata dari lingkungannya yang heterogen ini, Runa masih bisa mendapatkannya.

2. Banyak hal luar biasa yang terasa kalau kita juga memberikan feedback positif pada anak-anak, salah satunya bisa menumbuhkan rasa pede pada anak. Anak pun belajar untuk memikirkan hal baik mengenai temannya. Saya juga ingin dong jadi ‘kind van de week‘.

3,4,5, dst….

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Sadari, Hal Kecil yang Bisa Berarti Besar.

Ini adalah kisah mengenai seorang Oma di depan jendela

(1)

Sebelum pandemi, biasanya kami mengantar anak-anak ke sekolah naik sepeda. Ketika akhirnya sekolah kembali dibuka, Runa, anak pertema saya, gak lagi bersepeda ke sekolah. Sekolah memang menganjurkan untuk anak-anak yang rumahnya dekat di lingkungan sekolah untuk jalan kaki ke sekolah. Kendaraan hanya diutamakan untuk anak-anak yang rumahnya agak jauh. Hal ini untuk mengurangi gerombolan anak-anak/orang tua yang datang jam masuk dan pulang sekolah.

Kami pun mengantar anak-anak dengan berjalan kaki. Suatu kali, kami berangkat ke sekolah melewati jalan setapak di depan sebuah taman, yang di hadapannya berjajar rumah-rumah mungil. Rumah-rumah Belanda memiliki halaman terbuka dengan tipe jendela yang besar. Jendela tersebut kadang dibiarkan  terawang tanpa ditutup gorden.

Adalah rumah pertama di deretan itu, dihuni seorang Oma yang tinggal seorang diri. Saat melewati rumahnya, kami refleks menengok jendela dapurnya. Sang Oma berdiri di sana, melambaikan tangan sambil tersenyum. Seolah mengucapkan, “Selamat pagi! Selamat menikmati hari ini.” Ternyata ia tidak hanya melakukannya pada kami, tapi pada setiap anak-anak dan ortu yang melewati rumahnya menuju sekolah. Ia seperti sengaja menunggu di depan jendela untuk menyapa orang-orang yang lewat.

Sejak saat itu, kami selalu melewati rute itu untuk bertemu mata dengan sang Oma. Entah mengapa, semangatnya seperti menulari saya. Yang mulanya hari Senin menjadi hari penuh beban untuk memulai pekan, tetapi di pagi itu rasa hati saya menjadi lebih ringan. Hanya karena lambaian tangan dan senyum ramah dari sang Oma.

Oma yang namanya pun kami tak tahu, tapi kami tahu hal kecil yang dilakukannya berarti untuk kami. Ada terselip rasa lapang di tengah kondisi lockdown yang kadang terasa menyesakkan.

One small thing, it’s a good place to start. One small thing leads to more, to the beginning of something big.

Dadah Oma!

(2)

Bagaimana kabar Oma di depan jendela?

Rumah Oma meski mungil, tetapi tertata apik. Di halamannya tampak kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Saat musim semi ke musim panas, rumah Oma sangat cantik dengan berbagai macam kembang dan tanaman menghiasi halamannya.

Continue reading “Sadari, Hal Kecil yang Bisa Berarti Besar.”