Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

Kontras

Friday drinks after work?”

Ajakan rutin di grup whatsapp kantor mendekati jam 5 sore.

Ya keles ikutan drinks, Jumat sebelom jam 5 aja eike dah di rumah.

Mungkin di saat kolega-kolega saya melepaskan penat setelah bekerja dengan kongkow di bar, saya sedang melepaskan penat saya dengan nonton kartun Netflix bersama keluarga, atau bahkan sudah kruntelan di kasur.

Sabtu paginya, mungkin di saat mereka masih bobo habis hangout semalam, saya malah sudah nongkrong syantik di IKEA untuk sarapan pagi atau bahkan sudah siap-siap pergi belanja mingguan, muter dari Oriental (toko Asia), Nazar (Toko daging halal), supermarket, atau ke pasar.

Banyak kontras yang saya hadapi di lingkungan kerja saya sebagai PhDmama. Saya sadar, saya sangat berbeda. Bukan hanya dari kultur, latar belakang, kepercayaan, tapi juga dari segi situasi kondisi harian.

Dari penampilan saja saya sudah terlihat berbeda. Belum lagi soal “menghilang” di jam-jam salat, tidak makan/minum di musim panas alias puasa Ramadan (yang mereka anggap sangat berat), dan tidak pernah ikut Friday drinks after work.

Dari sisi sikon: kalau kolega saya biasanya masih stay di atas jam 5 sore jika ada deadline, saya mah kalau bisa jam 5 kurang udah siap pulang (apapun kondisinya), biar bisa cepat-cepat jemput anak-anak. Kalau ada jadwal sekolah anak libur, saya juga ikut libur. Jika terpaksa ngantor ya harus cari akal gantian jadwal sama suami, bahkan minta bantuan sahabat kami untuk “menitip” Runa. Lalu ada juga saat-saat genting, pas sedang sibuk di kampus, tiba-tiba dapat telepon dari daycare: “Senja kayaknya kurang enak badan, mungkin lebih baik dijemput lebih cepat”. Mau gak mau ya tutup semua kerjaan dan cus pulang.

Sometimes being minority feels quite difficult. Menjadi berbeda membuat saya sedikit berkecil hati dan merasa terasing. Tapi teringat salah satu ceramah Ust. NAK menjadi kontras di antara mayoritas bukan berarti sesuatu yang salah. Islam pun datang dari keadaan yang asing dan akan kembali menjadi asing (HR. Muslim), berbahagialah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran.

Hal itu sangat menghibur saya. Paling tidak, saya tidak segan menunjukkan identitas saya sebagai muslimah dan seorang ibu. I’m adapting, but I’m not trying to fit in such community, I’m just enough to have my family and Allah by my side, Insya Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakil.

*kali2 emak curcol gapapa yes.. biar variatif ga ngomongin anak mulu, hehe

Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Tough love. Zwaaien naar Mama

“Kom Senja, we gaan zwaaien naar Mama.” (Yuk Senja, kita dadah-dadah ke Bunda). Zizi, staf pengasuh Senja di daycare menggendong Senja sambil mengantar saya sampai pintu kaca kelas Senja. Ia mengajak Senja mengucapkan perpisahan pada saya yang hendak berangkat ke kampus. Selalu seperti seperti itu.

Wajah Senja terlihat happy, seraya melambaikan tangannya lalu kiss bye. Saya jadi merasa tenang melihat Senja baik-baik saja. Insya Allah Senja ada di tangan yang terpercaya.

Memang butuh lebih agak lama untuk Senja bisa beradaptasi seperti di atas. Ketika Senja sudah bisa mengenali mana ayah bundanya, tentu lebih sulit meninggalkannya di daycare. Sebab ia pasti akan menangis ketika ditinggal. Tapi ada satu hal yang menarik dari kebiasaan daycare Senja saat “perpisahan” menitipkan anak.

Sudah pasti anak akan merasa agak insecure ketika ditinggal, wajahnya akan terlihat sedih, bahkan menangis. Namun, bukannya mengalihkan perhatian si anak untuk tidak menangis saat berpisah dengan orang tuanya, pengasuh akan mengajak si anak untuk menghadapi “perpisahan” dengan ceria dan berani. Malah kadang saya yang jadi gak tega.

Mungkin karena sejak dulu sampai punya anak pertama, saya selalu melihat contoh bahwa … ketika ada hal yang tidak disukai atau membuat sedih, kita akan cenderung mengalihkan diri kita dari hal tersebut.
Misal..
“Yuk lihat burung yuk.. eh mana yaa?” Kata pengasuh ketika ada anak yang mau ditinggal mamanya pergi. Mamanya pun mengendap-endap pergi.
“Adek ga suka ngerjain ini ya? Susah ya? Ya udah bikin yang lain aja deh..”

Tough love. Salah satu style parenting orang Londo. Dutch parents are less protective, and worry less as well. Mereka membiarkan anak bersepeda ke sekolah meski hujan turun. Mereka tidak menjadi helicopter-parents. Ketika anak jatuh, mereka tidak serta merta langsung mengangkatnya, jika anak bisa berdiri sendiri ya mereka cukup melihat dari jauh dulu.

Life is already tough. So, children must be taught about resilince and independence. Dalam hidup mungkin banyak hal yang tidak kita sukai, tapi bukan berarti kita harus menghindarinya. Menghadapinya adalah salah satu cara untuk menyelesaikannya.

Runa dan Senja setrong
Info for Motion, Travelling time!

Halo Bali!

Orang Londo (OL): “So, you’re from Indonesia?”

Saya: “Yes, have you ever visited Indonesia?”

(OL): “Yes, we went to Bali for vacation. It was the best place we ever visited!”

Percakapan di atas sudah beberapa kali terjadi pada saya ketika saya berbicara dengan beberapa orang Belanda, di antaranya kolega di kampus, huisart (dokter keluarga) yang memeriksa anak saya, pasangan muda yang membeli stroller kami, oma-opa yang tinggal di apartmen kami, dan masih banyak lagi. Mata mereka berbinar-binar ketika menyebutkan kata ‘Bali’. Siapa yang tidak? Bagi kami yang orang Indonesia asli saja Bali merupakan pilihan wisata utama, apalagi bagi orang Belanda yang tidak pernah melihat Maha Karya Tuhan yang seindah ini? Maklumlah kondisi alam Belanda memang cenderung datar dan kaku. Sekaku orang Belanda pada umumnya, hehe. Tidak ada lekuk liku dari gunung dan lembah, dan tidak ada pantai dengan pemandangan sunset/sunrise yang cantik. Pantas saja orang Belanda begitu sampai di Bali merasa begitu takjub. Mereka selalu berkomentar, best destination ever!  Ya iyalah, Bukan cuma alamnya yang bisa dinikmati, tetapi juga keberadaan cuaca tropis plus angin sepoi-sepoi yang membuai, plus kuliner yang kaya.

Ngomongin Bali memang selalu bikin mellow, bawaannya jadi ingin liburan aja … Soalnya di Belanda sudah mulai mendekati libur panjang musim dingin. Biasanya sebagian besar orang di sini sudah merencanakan libur panjang untuk menghabiskan natal dan tahun baru, sekalian escape winter, menghindari udara dingin yang menggigit dan langit yang senantiasa berwarna kelabu sepanjang hari.

Merencanakan libur ke Bali memang bukan kemewahan yang bisa direncanakan oleh setiap orang. Namun, Bali selalu menjadi wishlist hampir semua orang.

Saya sudah tiga kali mengunjungi Bali, Alhamdulillah. Pertama waktu berlibur bareng Mama dan Kakak (sekitar tahun 2005 mungkin, waktu saya SMA, agak lupa). Yang kedua, waktu babymoon anak pertama, tahun 2012, pas kebetulan suami ada dinas dari kantornya juga. Dan yang ketiga, waktu babymoon anak kedua, tahun 2017. Waduh ternyata dua kali pas saya sedang hamil ternyata, padahal gak direncanakan khusus untuk babymoon sih. Tempat yang saya kunjungi beda-beda di tiga kali liburan tersebut, tapi tentu saja semuanya berkesan.

Garuda Wisnu Kencana (GWK)

Sepertinya GWK adalah tempat yang saya kunjungi setiap saya ke Bali. Bukan karena ini tempat wisata favorit saya sih, murni karena ada di dalam list tour yang saya ikuti. Saya juga gak terlalu menikmati melihat hasil karya seni berupa patung. Aslinya saya juga sebenarnya gak terlalu mengerti apa sih GWK itu? Kenapa begitu populer ya? Yang saya ingat ada patung kepala-badan orang yang gede banget dan patung kepala burung. Waktu tahun 2017 saya ke sana, saya baru ngeh, ternyata patung sepotong badan itu belum selesai. Potongan bagian patung yang lain sudah ada dan akan digabungkan. Jadi patung itu akan berdiri kokoh setinggi hampir 120 meter. Desain jadinya adalah patung Dewa Wisnu (dalam agama Hindu) yang sedang menaiki Garuda. Ohhh.. pantesan namanya Garuda Wisnu Kencana … ya ampuun, baru tahu … kemana ajaa? Tapi memang pembangunan GWK sendiri sudah memakan waktu 28 tahun lebih. Hampir seumur saya dong, jadi, dimaafkanlah ya ketidaktahuan saya.

Salah satu spot di kawasan GWK Cultural Park, yang luasnya sampai 60 hektar

Pura Uluwatu

Menurut saya, Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pusat wisata yang unik, perpaduan dari karya seni manusia dan lukisan alam Allah. Mungkin tadinya pura ini dibangun memang untuk beribadah karena lokasinya yang memberikan suasana sakral. Pura ini terletak di bukit karang dengan ketinggian hampir 100 meter dari permukaan laut. Dinamakan Uluwatu sebab lokasi pura ini berada di atas tebing karang (Uluwatu = puncak batu karang; Sanksekerta).

Yang menarik perhatian saya bukan pura-nya, tetapi dahsyatnya hamparan Samudera Hindia dengan anak-anak ombaknya yang menghantam kaki tebing. Ditambah dengan pemandangan rona matahari terbenam yang cantik. Saat saya ke sana, kebetulan sudah mau masuk waktu sunset. Suami langsung sibuk dengan kameranya merekam lukisan alam yang tidak akan kami temui di Belanda. Masya Allah.

Oiya, ada dua hal lagi yang unik di Uluwatu. Pertama adalah keberadaan monyet atau kera yang cukup banyak, dari jalan masuk sampai masuk pintu utama pura, Di sekitar sana ada hutan rimbun, yang merupakan habitat para kera ini. Kera-kera ini agak iseng lho, hati-hati saja. Beberapa pemandu atau staf di Uluwatu meningatkan agar kita tidak memegang atau menggantungkan barang-barang (berharga) di tangan dan di badan, seperti kalung, kacamata kamera, handphone, dll. Bisa-bisa kera akan mengambilnya secara tiba-tiba dari tangan kita. Bahkan saya terpaksa melepas kacamata minus saya, daripada dicuri oleh si Kera.

Hal lain yang menarik adalah adanya pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu. Kami mendapatkan selebaran untuk menonton pentas, yang akan dimulai setelah matahari terbenam, sekitar pukul 18-19. Saya ingin sekali menontonnya, terbayang suara “cak,cak, cak” bersahut-sahutan dari sekitar 50-100 penari. Tapi sayangnya, kondisi waktu itu tidak memungkinkan, jadi kesempatan tersebut kami lewatkan deh.

Pemandangan di Uluwatu menjelang sunset

Pantai Seminyak

Dari sekian banyak pantai di Bali, pantai ini merupakan salah satu favorit saya. Pantai ini terletak di sebelah utara Pantai Kuta. Tapi pantai ini tidak seramai dan sepadat Kuta, jadi kesannya lebih eksklusif. Di sepanjang Pantai Seminyak, ada tempat duduk plus payung besar yang disewakan untuk wisatawan. Saya lupa tarifnya, tapi bisa disewa misal sampai setengah hari atau beberapa jam.

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di Pantai Seminyak, berenang, berselancar, berjemur (khususnya buat para bule, kita mah udah cukup menikmati banyak sinar matahari), dan tentunya menikmati matahari terbenam.

Pemandangan sunset di Seminyak

Satu hal yang penting ketika liburan di Bali tentu mencari penginapan yang cocok dan pastinya harganya juga pas. Tiga kali ke Bali, saya menginap di beberapa tempat berbeda. Pernah di hotal kelas Melati, di hotel berbintang, maupun di villa (suami nyari di airbnb). Saya paling terkesan ketika menginap di villa (soalnya ramai-ramai juga dengan tante dan sepupu). Memang ada beberapa pilihan tempat menginap di Bali, mencari villa murah di Bali memang takes time, tapi demi liburan yang nyaman, effort dikit gak masalah dong. Salah satu pilihan untuk mencari penginapan di Bali, baik hotel maupun villa, bisa dilakukan di Pegipegi. Fitur pencarian di Pegipegi sangat user friendly. Kamu bisa mencari lokasi mana yang kamu inginkan, tipe penginapan yang seperti apa (hotel, villa, guest house, bungalow, dst), tarif yang sesuai kantong, sampai fasilitas apa saja yang kamu inginkan di penginapan tersebut. Misal kalau saya sih mencari hotel atau villa yang sudah include dengan kolam renang, soalnya anak-anak pasti happy banget. Nah, cuma klik-klik aja bisa deh nemu penginapan mana yang sesuai, mudah dan nyaman!

Pharmacisthings, Random Things

Menertawakan Kebodohan di Masa Lalu

Beberapa waktu lalu saya melihat pengumuman calon rektor Institut Gadjah Duduk (IGD) tahun 2019. Eh ada wajah yang familiar. Bapak dengan ekspresi datar, namun terkesan ramah. Panggil saja Bapak D Pikiran saya melayang ke lebih dari satu dekade silam. Saya lupa saya saat itu saya sedang tingkat berapa dan semester berapa, yang pasti saya masih imut dan polos, haha.

Meski masih imut dan polos, saya sebenarnya bukan mahasiswa yang lurus tanpa dosa, yang selalu rajin belajar dan memperhatikan dosen, yang taat aturan dan bersih dari kotoran akademik.

Setiap saya ingat si Bapak tersebut, yang selalu terbayang adalah keisengan bodoh saya dan kebandelan saya dulu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya, dan semoga anak-anak saya menjadi murid yang lebih baik dari emaknya ini.

Yunow, menjadi mahasiswa farmasi IGD artinya dituntut untuk rajin belajar dan bekerja. Belum lagi persaingan sengit dari para mahasiswa farmasi ambisus (MFA) yang bikin nyali sering ciut. Saya ikut kebawa juga, jadi berusaha untuk mengikuti pace mereka, meski banyak terengah-engah, hadeh. Kenapa sih orang-orang ini rajin mandraguna?

Dosa yang sering saya lakukan terhadap Si Bapak adalah, saya selalu tidak bisa menahan kantuk ketika beliau mengajar. Saya gak paham satupun isi kuliah beliau, bahkan nama mata kuliahnya saja (sekarang ini) saya gak ingat. Artinya apa yang beliau sampaikan di kelas gak sampai ke memori saya, sudah menguap duluan entah di mana. Saya memang gak begitu mengerti dan tertarik dengan bidang farmasi Si Bapak. Kalau tidak salah berhubungan dengan kimia analisis, kimia organik, atau apa deh. Beda cerita kalau menyangkut farmakologi dan farmasi klinik otak saya masih bisa diajak bekerja sama (ternyata ada efeknya juga ya sampai sekarang, bidang saya sekarang gak jauh-jauh dari Clinical Pharmacy and Pharmacology).

Saya berusaha untuk memahami mata kuliah tersebut, saya bolak-balik buku diktat, saya ikutan belajar kelompok, tapi hasilnya nihil. Ketika ujian, tentu saja saya mati kutu. Gak ngerti apa yang ditanyakan apa dan harus menjawab apa. Saya cuma bisa menjawab hal-hal yang berbau hapalan saja (itupun kalau benar). Saya mulai kasak-kusuk pas ujian, yaa.. kali aja ada kawan yang bisa memberikan pertolongan. Ya Allah, malu aku malu pada semut merah kalau inget itu. Habisnya, bayangan dapat nilai jelek dan dipandang bodoh oleh MFA lain bikin saya putus asa. Jadi deh, kebaikan dalam diri dikalahkan oleh pemikiran cetek itu. Saya lupa akhirnya apa saya dapat jawaban atau tidak dari kawan lain, tapi intinya saya sempat menarik perhatian Si Bapak ketika ujian, dan Si Bapak bolak-balik mendekat ke arah saya dan kawan-kawan. Jangan dicontoh ya guys. Itu hanya kekhilafan sesaat kok, serius. Di ujian lainnya saya lurus-lurus aja.

Itu satu.

Cerita lainnya.

Continue reading “Menertawakan Kebodohan di Masa Lalu”

Being Indonesian in the Netherlands

Lebih Baik Hujan Batu di Negeri Sendiri…

#Latepost #MulaiRutinNulisLagi

Alhamdulillah summer tahun ini bisa liburan ke Indonesia. Pertama kali untuk Senja pulang kampung nih, sejak lahir. Sebelum Senja bayar pesawat full pas usia 2 tahun, maka lebih baik disempatkan saja.

Untuk Runa juga tidak kalah excitednya, sebab… kata Runa: “Horeee.. Runa bisa makan bubur!” Cita-citamu sungguh sederhana, Nak.

Meski sering dibikinin bubur lezis karya Bapak-Ibu Asmoro di Groningen, tapi Runa ternyata tetap terbayang-bayang bubur Bandung, entah kenapa. Micinnya kali ya?

Terakhir kali kami ke Indonesia, summer 2017. Waktu itu saya lagi hamil trimester kedua, lagi enak-enaknya makan hahay. Mumpung waktu itu saya juga sedang menganggur, jadi ga terikat waktu. Saya ingat waktu 2016 lalu, meski saya senang pulang ke Indonesia, tapi saya suka mendongkol sendiri dalam hati. Kalau udah ketemu macet, panas, regulasi pemerintah yang lieur, kemiskinan yang memprihatinkan, ditambah lagi waktu itu saya sedang mengurus dokumen tertentu (terus birokrasinya alamakjang banget bikin pengen gigit karpet). Saya begitu memuja fasilitas dan kenyamanan yang ada di Belanda, sampai terpikir nanti kalau saya pulang for good ke Indonesia harus banyak berlapang dada dan sabar.

Banyak pun yang komentar ke saya: Gak usah pulang aja kali Mon, kalau udah dapat kerjaan tetap dan kehidupan pasti di sana mah. Ngapainlah di Indonesia, nanti makan hati.

Pulang kampung 2019 ini saya sudah mempersiapkan mental untuk menikmati saja apa yang ada di depan mata (terutama makanan, mwahahaha). Tapi ternyata setelah tiba di Bandung, menghabiskan beberapa pekan di Indonesia, pikiran saya tidak senyinyir dulu. Macet mah pasti ada dan makin parah, panas yaa emang gitu, keribetan ala Indonesia ya tetap jalan. Tapi ternyata di lubuk hati saya yang dalam, saya tetap berpikir, inilah rumah saja. Saya ga akan kemana-mana. Keluarga saya di sini. Meski saya dan suami belum tahu kalau pulang for good mau kerja apa dan tinggal di mana. Mungkin setelah #gantipresiden baru saya pulang habis

Saya jadi ingat peribahasa bijak ini:

Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri

Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

Walaupun emang lebih enak lagi kalau bisa hujan emas di negeri sendiri sih, tul kan? Tapi namanya hidup kadang hari ini kita dapat emas, mungkin besok dapat batu. Yang pasti ya harus tetap berusaha, dan semoga tetap ikhlas dapat apa saja yang terbaik dari Allah. Aamiin..

Kelapa muda dan pantai… Aaahh.. heaven van java
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa

Runa 30 Days Ramadan’s project

#Latepost #MulaiRutinNulisLagi

Assalamu’alaikum!

Ramadan 2019 lalu, saya dan suami bikin program kecil-kecilan untuk Runa. Biar Runa semangat dan merasakan meriahnya Ramadan. Meski suasana Ramadan di Belanda terasa sepi-sepi aja, tapi kami berusaha menggaungkan bahwa Ramadan itu seru, merupakan bulan istimewa, dan bulan yang ditunggu-tunggu.

Agak susah memang membiasakan Runa untuk mulai latihan puasa. Sebab durasi siang yang panjang, dan tidak ada lingkungan yang mendukungnya untuk terpacu puasa (di sekolah). Seperti kita kan dulu dari TK udah mulai latihan puasa setengah hari ya, paling gak bangun sahur dan makan lagi jam 8 pagi. Pas SD, mulai deh ingin menjajal sehari penuh. Meski perut lapar, tapi ditahan, demi gengsi sama teman yekan? Yaaa.. namanya juga anak-anak, kan motivasinya sederhana aja. Bisa latihan aja udah alhamdulillah. Nanti deh saya cerita di postingan lain mengenai perjalanan belajar puasa Runa.

Postingan kali ini kheuseus membahas proyek ini aja. Kebetulan beberapa kawan di IG bertanya pada saya ketika saya posting foto Ramadan project Runa di IG story. “Apa tuh proyeknya?” Saya kan puasa IG ya selama Ramadan, hehe. Niatnya pas selesai Ramadan mau posting di IG untuk menjawab pertanyaan kawan-kawan. Tapi detoksifikasi sebulan ampuh juga untuk ga banyak buka IG, jadi aja males posting. Memang paling pas itu cerita panjang tanpa batas di blog yes, haha.

So, here it is…

Tadinya saya mau bikin kalender Ramadan 30 hari, yang dipajang di tengah ruangan, sebagai check list bahwa hari ini udah hari ke berapa Ramadan. Tapi boring deh. Terus saya googling-googling lagi, eh nemu deh gambar Ramadan activity yang cantik-cantik, dan DIY (Do it yourself) pula. Ya ampun bukan mamak banget, karena kalau dulu ada prakarya semodel DIY, pasti dibikinin Kakak dan Mama, mwahaha.. Jiwa seni-nya emang agak minus.

Akhirnya berbekal gambar-gambar cantik itu, saya dan suami mulai mengekseskusi board Runa 30 Days Ramadan’s project.

Alat dan bahan:

  1. Spidol
  2. Kertas warna-warni
  3. Papan/board/karton besar
  4. Benang
  5. Jepitan

Karena ga dapat karton besar, jadinya kami pakai board aja. Kertas Di bagian dalam kertas warna-warninya ditulisin “proyek” hari itu. Kemudian kertasnya dilipat, dan diberi angka di depannya. Terakhir digantungin deh kayak mantan jemuran. Setiap pagi, biasanya pas sahur (atau kalau gak kebangun sahur ya sebelum berangkat sekolah), kertasnya dibuka. Runa baca petunjuk di dalamnya. Lalu apa yang tertulis di sana harus Runa kerjakan atau Runa dapatkan.

Apa isi di dalamnya? Simpel aja. Sebenarnya terserah para moms nih mau bikin proyek apa. Idenya suami waktu itu kita bikin 3 list aja, ga usah banyak-banyak.

  1. Asmaul Husna. Ada satu nama Allah setiap harinya. Ini sebenarnya tugas orang tuanya sih untuk menjelaskan sifat-sifat Allah. Misal Al Bashiir (Maha Melihat), As Samii’ (Maha Mendengar). Gimana Allah itu Maha Melihat dan Mendengar? Agak susah kadang-kadang menjelaskannya. Tapi yah dicoba saja. Bagus juga anak jadi familiar dengan Asmaul Husna kan sejak dini
  2. Kisah Nabi/Sahabat Nabi/Cerita Ramadan. Misalnya saya tulis Kisah Nabi Ismail. Nanti saya cerita tentang itu. Ini sekaligus mengulang kisah-kisah Nabi/Sahabat yang sudah pernah Runa dapat. Atau contoh lain dari Cerita Ramadan, saya tulis: 10 hari pertama Ramadan, Nuzulul Qur’an, zakat fitrah, dll. Jadi Runa juga ngeh dengan apa saja keutamaan Ramadan.
  3. Reminder atau tugas ringan. Misal: hari ini hapalan 3 surat ya, atau jangan lupa bantu Bunda di dapur yuk, atau sayang adik.

Oiya biasanya poin 1 dan 2 dilaksanakan sebelum tidur atau kalau Runa sudah pulang sekolah. Waktunya bebas kapan aja.

Nah kalau proyek hari itu sudah selesai/sudah didapatkan, Runa akan mendapatkan stiker untuk ditempelkan di belakang kertas, sambil menandakan bahwa Ramadan hari itu sudah terlewati.

Runa 30 days Ramadan’s project
Stikernya sudah hampir penuh terisi
Alhamdulillah dapat rewards! Nah di akhir bulan Ramadan, ketika Idul Fitri, ketika stikernya sudah penuh terisi, Runa dapat hadiah dari Ayah Bunda. Biar tetap semangat, meski bukan THR ya (Dulu mah kan kita seneng kalau dapat uang kertas yang masih rapiii dan wangii dari nenek, kakek, om, tante, dan saudara-saudara.
Inside the cards

Begitu deh ceritanya. Semoga bermanfaat ya..

Semoga masih bisa bertemu Ramadan tahun depan, eh udah tahun ini ya kan udah Muharram 1441.

Journey, Just Learning

Selamat Jalan, Kawan

23 Agustus 2019, hari Jumat, kami tiba di Bandara Schiphol. Antara senang dan lelah rasanya. Senang karena bisa kembali ke rumah (ya, mau tak mau Belanda sudah jadi “rumah” kami), dan lelah setelah menempuh perjalanan hampir 20 jam dari Indonesia ke Belanda. Liburan musim panas ini kami habiskan di Indonesia, Bandung tepatnya. Alhamdulillah bisa berkumpul dengan keluarga besar di Bandung.

Hal yang kemudian dilakukan setelah melewati imigrasi dan menunggu bagasi adalah mulai mengecek ponsel. Tentunya juga mengabari keluarga di Indonesia bahwa kami sudah sampai dengan selamat. Tapi sebelum sempat saya menulis pesan di whatsapp, saya terkesiap membaca salah satu pesan dari kawan saya. Seperti tidak percaya, saya langsung memeriksa pesan yang menumpuk di grup whatsapp alumni SMA3. Biasanya kan pesan di grup-grup whatsapp selalu dibaca belakangan. Saya susuri pesannya satu-satu, masih tak percaya. Saya dan suami berpandangan (kami ada di grup whatsapp yang sama), mengucap Innalillahi wa innailahi ra’jiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu’anhu. 

Telah berpulang sahabat kami semasa SMA dan sesama alumni ITB, Ridlo… Seperti masih tidak percaya. Tapi Allah pasti mempunyai rencana. Kami hanya manusia yang tidak tahu apa-apa.

Rasa lelah dari perjalanan panjang Bandung-Schiphol langsung terasa tidak ada artinya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat terasa senyap.

Rencana ini itu yang akan dilakukan setelah sampai di Belanda, langsung terasa hambar. Hilang sesaat rasa “keduniawian”. Yang terpikir adalah akhirat, akhirat. Sedih, kaget, dan tentunya takut.

Siapa yang tidak sedih dan kaget mendengar kabar kematian yang begitu mendadak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuanya, terlebih lagi.. istri yang ditinggalkannya? Bukankah mereka baru saja menikah? Foto-foto pernikahan mereka pun masih hangat di media sosial. Takut, takut.. kalau beliau saja yang (dalam pikiran kita) sehat, kuat, dan masih muda, bukan tidak mungkin kita yang berikutnya dipanggil? Subhanallah. Bekal belum cukup, apa yang harus dipersembahkan untuk melewati akhirat nanti? Kalau tiba-tiba dipanggil, apakah malaikat maut akan berbaik hati mencabutnya dengan perlahan?

Tapi saya yakin, Ridlo adalah orang yang baik, super baik. Insya Allah. Hari Jumat adalah hari berpulang yang terbaik untuknya. Insya Allah husnul khotimah. Kami mendoakan.. Al Fatihah.

Saya dan Ridlo mungkin tidak banyak berinteraksi selama SMA atau kuliah. Tetapi saya selalu ingat ia adalah orang yang ramah dan pintar. Salah satu interaksi intens saya dan Ridlo adalah ketika ia sedang studi S2 di Adelaide, Australia. Ia pernah menjabat sebagai ketua PPI Adelaide. Ketika itu saya baru saja merampungkan naskah pertama saya, Groningen’s Journal. Atas usul suami saya waktu itu saya mengontak Ridlo dan beberapa kawan lain untuk mereview buku saja dan memberikan testimoni. Ridlo cukup punya pengaruh di kalangan mahasiswa Adelaide, profilnya baik. Akan sangat bagus jika ia bisa memberikan beberapa kalimat untuk buku saya kelak.

Benar saja, ia tidak menolak. Responnya baik, ia membaca naskah saya dan memberikan pandangannya terhadap naskah saya. Sampai akhirnya naskah saya tembus ke Elexmedia, testimoni dari Ridlo masih terpampang di sana. Itu kenangan saya yang paling lekat pada Ridlo. Saya bersaksi bahwa ia adalah orang yang hanif. Semoga apa yang telah Ridlo lakukan untuk naskah saya sehingga menjadi buku, menjadi amal jariyah, Insya Allah, Insya Allah. Terima kasih RIdlo..

Lalu untuk kita yang ditinggalkan, amal jariyah apa yang bisa dikumpulkan selama di dunia?

Sesungguhnya ketika mendengar kabar mengenai kematian. Kita tidak merasa berduka bagi yang dipanggil, sebab mereka yang dipanggil telah bebas bebannya dari penjara dunia dan bersiap bertemu Rabb-nya. Tapi kita berduka untuk diri sendiri, Ya Allah.. akankah kematian untuk kita menjadi jalan ke surga?