Pharmacisthings, Random Things

Menertawakan Kebodohan di Masa Lalu

Beberapa waktu lalu saya melihat pengumuman calon rektor Institut Gadjah Duduk (IGD) tahun 2019. Eh ada wajah yang familiar. Bapak dengan ekspresi datar, namun terkesan ramah. Panggil saja Bapak D Pikiran saya melayang ke lebih dari satu dekade silam. Saya lupa saya saat itu saya sedang tingkat berapa dan semester berapa, yang pasti saya masih imut dan polos, haha.

Meski masih imut dan polos, saya sebenarnya bukan mahasiswa yang lurus tanpa dosa, yang selalu rajin belajar dan memperhatikan dosen, yang taat aturan dan bersih dari kotoran akademik.

Setiap saya ingat si Bapak tersebut, yang selalu terbayang adalah keisengan bodoh saya dan kebandelan saya dulu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya, dan semoga anak-anak saya menjadi murid yang lebih baik dari emaknya ini.

Yunow, menjadi mahasiswa farmasi IGD artinya dituntut untuk rajin belajar dan bekerja. Belum lagi persaingan sengit dari para mahasiswa farmasi ambisus (MFA) yang bikin nyali sering ciut. Saya ikut kebawa juga, jadi berusaha untuk mengikuti pace mereka, meski banyak terengah-engah, hadeh. Kenapa sih orang-orang ini rajin mandraguna?

Dosa yang sering saya lakukan terhadap Si Bapak adalah, saya selalu tidak bisa menahan kantuk ketika beliau mengajar. Saya gak paham satupun isi kuliah beliau, bahkan nama mata kuliahnya saja (sekarang ini) saya gak ingat. Artinya apa yang beliau sampaikan di kelas gak sampai ke memori saya, sudah menguap duluan entah di mana. Saya memang gak begitu mengerti dan tertarik dengan bidang farmasi Si Bapak. Kalau tidak salah berhubungan dengan kimia analisis, kimia organik, atau apa deh. Beda cerita kalau menyangkut farmakologi dan farmasi klinik otak saya masih bisa diajak bekerja sama (ternyata ada efeknya juga ya sampai sekarang, bidang saya sekarang gak jauh-jauh dari Clinical Pharmacy and Pharmacology).

Saya berusaha untuk memahami mata kuliah tersebut, saya bolak-balik buku diktat, saya ikutan belajar kelompok, tapi hasilnya nihil. Ketika ujian, tentu saja saya mati kutu. Gak ngerti apa yang ditanyakan apa dan harus menjawab apa. Saya cuma bisa menjawab hal-hal yang berbau hapalan saja (itupun kalau benar). Saya mulai kasak-kusuk pas ujian, yaa.. kali aja ada kawan yang bisa memberikan pertolongan. Ya Allah, malu aku malu pada semut merah kalau inget itu. Habisnya, bayangan dapat nilai jelek dan dipandang bodoh oleh MFA lain bikin saya putus asa. Jadi deh, kebaikan dalam diri dikalahkan oleh pemikiran cetek itu. Saya lupa akhirnya apa saya dapat jawaban atau tidak dari kawan lain, tapi intinya saya sempat menarik perhatian Si Bapak ketika ujian, dan Si Bapak bolak-balik mendekat ke arah saya dan kawan-kawan. Jangan dicontoh ya guys. Itu hanya kekhilafan sesaat kok, serius. Di ujian lainnya saya lurus-lurus aja.

Itu satu.

Cerita lainnya.

Continue reading “Menertawakan Kebodohan di Masa Lalu”

Advertisements
Being Indonesian in the Netherlands

Lebih Baik Hujan Batu di Negeri Sendiri…

#Latepost #MulaiRutinNulisLagi

Alhamdulillah summer tahun ini bisa liburan ke Indonesia. Pertama kali untuk Senja pulang kampung nih, sejak lahir. Sebelum Senja bayar pesawat full pas usia 2 tahun, maka lebih baik disempatkan saja.

Untuk Runa juga tidak kalah excitednya, sebab… kata Runa: “Horeee.. Runa bisa makan bubur!” Cita-citamu sungguh sederhana, Nak.

Meski sering dibikinin bubur lezis karya Bapak-Ibu Asmoro di Groningen, tapi Runa ternyata tetap terbayang-bayang bubur Bandung, entah kenapa. Micinnya kali ya?

Terakhir kali kami ke Indonesia, summer 2017. Waktu itu saya lagi hamil trimester kedua, lagi enak-enaknya makan hahay. Mumpung waktu itu saya juga sedang menganggur, jadi ga terikat waktu. Saya ingat waktu 2016 lalu, meski saya senang pulang ke Indonesia, tapi saya suka mendongkol sendiri dalam hati. Kalau udah ketemu macet, panas, regulasi pemerintah yang lieur, kemiskinan yang memprihatinkan, ditambah lagi waktu itu saya sedang mengurus dokumen tertentu (terus birokrasinya alamakjang banget bikin pengen gigit karpet). Saya begitu memuja fasilitas dan kenyamanan yang ada di Belanda, sampai terpikir nanti kalau saya pulang for good ke Indonesia harus banyak berlapang dada dan sabar.

Banyak pun yang komentar ke saya: Gak usah pulang aja kali Mon, kalau udah dapat kerjaan tetap dan kehidupan pasti di sana mah. Ngapainlah di Indonesia, nanti makan hati.

Pulang kampung 2019 ini saya sudah mempersiapkan mental untuk menikmati saja apa yang ada di depan mata (terutama makanan, mwahahaha). Tapi ternyata setelah tiba di Bandung, menghabiskan beberapa pekan di Indonesia, pikiran saya tidak senyinyir dulu. Macet mah pasti ada dan makin parah, panas yaa emang gitu, keribetan ala Indonesia ya tetap jalan. Tapi ternyata di lubuk hati saya yang dalam, saya tetap berpikir, inilah rumah saja. Saya ga akan kemana-mana. Keluarga saya di sini. Meski saya dan suami belum tahu kalau pulang for good mau kerja apa dan tinggal di mana. Mungkin setelah #gantipresiden baru saya pulang habis

Saya jadi ingat peribahasa bijak ini:

Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri

Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

Walaupun emang lebih enak lagi kalau bisa hujan emas di negeri sendiri sih, tul kan? Tapi namanya hidup kadang hari ini kita dapat emas, mungkin besok dapat batu. Yang pasti ya harus tetap berusaha, dan semoga tetap ikhlas dapat apa saja yang terbaik dari Allah. Aamiin..

Kelapa muda dan pantai… Aaahh.. heaven van java
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa

Runa 30 Days Ramadan’s project

#Latepost #MulaiRutinNulisLagi

Assalamu’alaikum!

Ramadan 2019 lalu, saya dan suami bikin program kecil-kecilan untuk Runa. Biar Runa semangat dan merasakan meriahnya Ramadan. Meski suasana Ramadan di Belanda terasa sepi-sepi aja, tapi kami berusaha menggaungkan bahwa Ramadan itu seru, merupakan bulan istimewa, dan bulan yang ditunggu-tunggu.

Agak susah memang membiasakan Runa untuk mulai latihan puasa. Sebab durasi siang yang panjang, dan tidak ada lingkungan yang mendukungnya untuk terpacu puasa (di sekolah). Seperti kita kan dulu dari TK udah mulai latihan puasa setengah hari ya, paling gak bangun sahur dan makan lagi jam 8 pagi. Pas SD, mulai deh ingin menjajal sehari penuh. Meski perut lapar, tapi ditahan, demi gengsi sama teman yekan? Yaaa.. namanya juga anak-anak, kan motivasinya sederhana aja. Bisa latihan aja udah alhamdulillah. Nanti deh saya cerita di postingan lain mengenai perjalanan belajar puasa Runa.

Postingan kali ini kheuseus membahas proyek ini aja. Kebetulan beberapa kawan di IG bertanya pada saya ketika saya posting foto Ramadan project Runa di IG story. “Apa tuh proyeknya?” Saya kan puasa IG ya selama Ramadan, hehe. Niatnya pas selesai Ramadan mau posting di IG untuk menjawab pertanyaan kawan-kawan. Tapi detoksifikasi sebulan ampuh juga untuk ga banyak buka IG, jadi aja males posting. Memang paling pas itu cerita panjang tanpa batas di blog yes, haha.

So, here it is…

Tadinya saya mau bikin kalender Ramadan 30 hari, yang dipajang di tengah ruangan, sebagai check list bahwa hari ini udah hari ke berapa Ramadan. Tapi boring deh. Terus saya googling-googling lagi, eh nemu deh gambar Ramadan activity yang cantik-cantik, dan DIY (Do it yourself) pula. Ya ampun bukan mamak banget, karena kalau dulu ada prakarya semodel DIY, pasti dibikinin Kakak dan Mama, mwahaha.. Jiwa seni-nya emang agak minus.

Akhirnya berbekal gambar-gambar cantik itu, saya dan suami mulai mengekseskusi board Runa 30 Days Ramadan’s project.

Alat dan bahan:

  1. Spidol
  2. Kertas warna-warni
  3. Papan/board/karton besar
  4. Benang
  5. Jepitan

Karena ga dapat karton besar, jadinya kami pakai board aja. Kertas Di bagian dalam kertas warna-warninya ditulisin “proyek” hari itu. Kemudian kertasnya dilipat, dan diberi angka di depannya. Terakhir digantungin deh kayak mantan jemuran. Setiap pagi, biasanya pas sahur (atau kalau gak kebangun sahur ya sebelum berangkat sekolah), kertasnya dibuka. Runa baca petunjuk di dalamnya. Lalu apa yang tertulis di sana harus Runa kerjakan atau Runa dapatkan.

Apa isi di dalamnya? Simpel aja. Sebenarnya terserah para moms nih mau bikin proyek apa. Idenya suami waktu itu kita bikin 3 list aja, ga usah banyak-banyak.

  1. Asmaul Husna. Ada satu nama Allah setiap harinya. Ini sebenarnya tugas orang tuanya sih untuk menjelaskan sifat-sifat Allah. Misal Al Bashiir (Maha Melihat), As Samii’ (Maha Mendengar). Gimana Allah itu Maha Melihat dan Mendengar? Agak susah kadang-kadang menjelaskannya. Tapi yah dicoba saja. Bagus juga anak jadi familiar dengan Asmaul Husna kan sejak dini
  2. Kisah Nabi/Sahabat Nabi/Cerita Ramadan. Misalnya saya tulis Kisah Nabi Ismail. Nanti saya cerita tentang itu. Ini sekaligus mengulang kisah-kisah Nabi/Sahabat yang sudah pernah Runa dapat. Atau contoh lain dari Cerita Ramadan, saya tulis: 10 hari pertama Ramadan, Nuzulul Qur’an, zakat fitrah, dll. Jadi Runa juga ngeh dengan apa saja keutamaan Ramadan.
  3. Reminder atau tugas ringan. Misal: hari ini hapalan 3 surat ya, atau jangan lupa bantu Bunda di dapur yuk, atau sayang adik.

Oiya biasanya poin 1 dan 2 dilaksanakan sebelum tidur atau kalau Runa sudah pulang sekolah. Waktunya bebas kapan aja.

Nah kalau proyek hari itu sudah selesai/sudah didapatkan, Runa akan mendapatkan stiker untuk ditempelkan di belakang kertas, sambil menandakan bahwa Ramadan hari itu sudah terlewati.

Runa 30 days Ramadan’s project
Stikernya sudah hampir penuh terisi
Alhamdulillah dapat rewards! Nah di akhir bulan Ramadan, ketika Idul Fitri, ketika stikernya sudah penuh terisi, Runa dapat hadiah dari Ayah Bunda. Biar tetap semangat, meski bukan THR ya (Dulu mah kan kita seneng kalau dapat uang kertas yang masih rapiii dan wangii dari nenek, kakek, om, tante, dan saudara-saudara.
Inside the cards

Begitu deh ceritanya. Semoga bermanfaat ya..

Semoga masih bisa bertemu Ramadan tahun depan, eh udah tahun ini ya kan udah Muharram 1441.

Journey, Just Learning

Selamat Jalan, Kawan

23 Agustus 2019, hari Jumat, kami tiba di Bandara Schiphol. Antara senang dan lelah rasanya. Senang karena bisa kembali ke rumah (ya, mau tak mau Belanda sudah jadi “rumah” kami), dan lelah setelah menempuh perjalanan hampir 20 jam dari Indonesia ke Belanda. Liburan musim panas ini kami habiskan di Indonesia, Bandung tepatnya. Alhamdulillah bisa berkumpul dengan keluarga besar di Bandung.

Hal yang kemudian dilakukan setelah melewati imigrasi dan menunggu bagasi adalah mulai mengecek ponsel. Tentunya juga mengabari keluarga di Indonesia bahwa kami sudah sampai dengan selamat. Tapi sebelum sempat saya menulis pesan di whatsapp, saya terkesiap membaca salah satu pesan dari kawan saya. Seperti tidak percaya, saya langsung memeriksa pesan yang menumpuk di grup whatsapp alumni SMA3. Biasanya kan pesan di grup-grup whatsapp selalu dibaca belakangan. Saya susuri pesannya satu-satu, masih tak percaya. Saya dan suami berpandangan (kami ada di grup whatsapp yang sama), mengucap Innalillahi wa innailahi ra’jiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu’anhu. 

Telah berpulang sahabat kami semasa SMA dan sesama alumni ITB, Ridlo… Seperti masih tidak percaya. Tapi Allah pasti mempunyai rencana. Kami hanya manusia yang tidak tahu apa-apa.

Rasa lelah dari perjalanan panjang Bandung-Schiphol langsung terasa tidak ada artinya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat terasa senyap.

Rencana ini itu yang akan dilakukan setelah sampai di Belanda, langsung terasa hambar. Hilang sesaat rasa “keduniawian”. Yang terpikir adalah akhirat, akhirat. Sedih, kaget, dan tentunya takut.

Siapa yang tidak sedih dan kaget mendengar kabar kematian yang begitu mendadak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuanya, terlebih lagi.. istri yang ditinggalkannya? Bukankah mereka baru saja menikah? Foto-foto pernikahan mereka pun masih hangat di media sosial. Takut, takut.. kalau beliau saja yang (dalam pikiran kita) sehat, kuat, dan masih muda, bukan tidak mungkin kita yang berikutnya dipanggil? Subhanallah. Bekal belum cukup, apa yang harus dipersembahkan untuk melewati akhirat nanti? Kalau tiba-tiba dipanggil, apakah malaikat maut akan berbaik hati mencabutnya dengan perlahan?

Tapi saya yakin, Ridlo adalah orang yang baik, super baik. Insya Allah. Hari Jumat adalah hari berpulang yang terbaik untuknya. Insya Allah husnul khotimah. Kami mendoakan.. Al Fatihah.

Saya dan Ridlo mungkin tidak banyak berinteraksi selama SMA atau kuliah. Tetapi saya selalu ingat ia adalah orang yang ramah dan pintar. Salah satu interaksi intens saya dan Ridlo adalah ketika ia sedang studi S2 di Adelaide, Australia. Ia pernah menjabat sebagai ketua PPI Adelaide. Ketika itu saya baru saja merampungkan naskah pertama saya, Groningen’s Journal. Atas usul suami saya waktu itu saya mengontak Ridlo dan beberapa kawan lain untuk mereview buku saja dan memberikan testimoni. Ridlo cukup punya pengaruh di kalangan mahasiswa Adelaide, profilnya baik. Akan sangat bagus jika ia bisa memberikan beberapa kalimat untuk buku saya kelak.

Benar saja, ia tidak menolak. Responnya baik, ia membaca naskah saya dan memberikan pandangannya terhadap naskah saya. Sampai akhirnya naskah saya tembus ke Elexmedia, testimoni dari Ridlo masih terpampang di sana. Itu kenangan saya yang paling lekat pada Ridlo. Saya bersaksi bahwa ia adalah orang yang hanif. Semoga apa yang telah Ridlo lakukan untuk naskah saya sehingga menjadi buku, menjadi amal jariyah, Insya Allah, Insya Allah. Terima kasih RIdlo..

Lalu untuk kita yang ditinggalkan, amal jariyah apa yang bisa dikumpulkan selama di dunia?

Sesungguhnya ketika mendengar kabar mengenai kematian. Kita tidak merasa berduka bagi yang dipanggil, sebab mereka yang dipanggil telah bebas bebannya dari penjara dunia dan bersiap bertemu Rabb-nya. Tapi kita berduka untuk diri sendiri, Ya Allah.. akankah kematian untuk kita menjadi jalan ke surga?

Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

My 1-year Assessment as a PhD

Bismillahirrahimaanirrahim..

Harus banget ini nulis, sebelum saya sibuk (sok banget) dan lupa sama apa yang mau ditulis. Sebab, tulisan yang jujur adalah ketika kita sedang on untuk curhat, mwahaha.

Enggak sih, sebenarnya saya juga kangen nulis pakai bahasa kalbu dan bahasa Indonesia (sok banget banyakan nulis pakai bahasa enggres ya kamu Mon?). Bukannya mau, tapi tuntutan profesi, gemana lagi dong, padahal Enggres aku juga cemen sebenernya.

Jadi bulan Maret ini saya resmi sudah menjalani PhD mom selama satu tahun. Mulai dari yang cuma masuk dua hari, lalu dua setengah hari, tiga hari, sampai tiga setengah hari. Gak usah dibayangin gimana saya bisa menyusun jadwalnya deh, di sela-sela mengurus keluarga dan rumah. Menjelang satu tahun assessment go or no go saya ga berhenti berdoa sama Allah. Ya Allah moga yang ini berlangsung lancar, ga separah assessment 6 bulan saya dulu. Satu lagi saya berharap semoga paper saya yang sedang on process di salah satu jurnal bisa accepted. Supaya paling engga ada nilai plus dalam penilaian nanti. Allah Maha Kuasa, dengan pertolonganNya-lah, tiba-tiba 3 hari sebelum hari assessment, saya menerima email yang menggembirakan:

Paper pertama saya akhirnya accepted di salah satu journal Q1

Saya membacanya berulang-ulang sampai yakin, ini beneran accepted

Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…..

Ini beneran bukan semata-mata hasil saya. Ada banyak faktor yang membantu saya bisa menyelesaikan semuanya. Support suami dan anak-anak, bantuan kawan-kawan dan kerabat, doa orang tua, dan tentunya dorongan supervisor tercintah saya, Si Ibuk. Kalau bukan karena dia yang meres-meres saya mungkin saya akan santai-santai. Kalau bukan karena dia yang ngoreksi kerjaan saya dengan detail, mungkin juga kerjaan ini ga akan beres.

Tapi bener ya, pelaut yang hebat itu gak lahir di laut yang tenang. Bukannya saya bilang saya pelaut yang hebat ya (emang bukan pelaut sih), tapi setidaknya saya ada di laut yang ombaknya gede bergulung-gulung. Gimana enggak, tiap minggu saya harus menghadapi si ibu di meeting reguler, duduk sama-sama, diskusi, ngebahas kerjaan satu-satu. Tentunya sebelum meeting saya harus nyiapin bahan, saya udah ngerjain apa aja selama seminggu ini? Gak banyak supervisor kayak gitu, yang bener-bener ngeluangin waktu untuk muridnya. Gak banyak juga orang yang tahan kerja sama kaya Si Ibuk, yang segala aspek dia komentari. Tapi saya merasa, dia kayak gitu karena dia profesional sama kerjaannya, passionnya itu dapet banget. Cuma masalahnya, saya tahan banting apa engga kerja sama dia?

Tapi kalimat pertama ketika assessment bersama kedua supervisor saya membuat saya berlega hati: We think you deserve a go, you have showed improvements …..

Saya berusaha memasang wajah senormal dan secool mungkin, padahal dalam hati udah girang teriak Alhamdulillah….

Oiya, Saat-saat assessment juga supervisor juga kudu dikasih feedback lho. Saya ingin bilang dengan jujur bahwa saya tuh sebenarnya agak gak nyaman sama style coaching-nya beliau. Namanya orang Indonesia ya, susah banget ngomong jujur to the point. Akhirnya saya formulasikan uneg-uneg dengan sehalus mungkin:

At first, there were maybe a cultural and personal differences with me and Pxxxx on how to communicate and discuss some issues. Sometimes it was difficult for me to get along with her style of coaching, that is make me discouraged, and that may seem for her I did not show eagerness on doing my research. But I guess it was the process on learning and how to work together. I learn to keep up and follow her pace, and not to take everything personally.

Intinya mah saya teh banyak makan hati sama Ibuk, (baca curcolan saya sebelumnya). But that’s tough love. Style coaching dia yang ala penjajah, mungkin sulit diterima oleh saya yang berhati hellokitty. Ketika baca komen saya di atas, dia tanya, lalu sekarang gimana, apa sudah lebih baik dengan style saya?

Ya saya bilang, udah mendingan Bu, tapi coba Ibu minum kombantrin dulu yang rutin biar agak lemes gitu, ga usah streng-streng amat (candaa..)

Saya bilang, ya udah oke, toh juga ga akan mengubah style coaching kamu? Saya yang harus lebih berjiwa Rambo kalau menghadapi Si Ibu.

Dia bilang, iya saya memang seperti ini, I won’t change.

Karepmulah Buk. Yang pasti saya memang banyak belajar dari dia, dia bener-bener nge-drill saya untuk melakukan hal-hal di luar kemampuan saya. Meski kadang lelah, tapi saya percaya, semoga ini semua ada berkahnya, ada manfaatnya.

Lain kali saya akan kupas style coaching dia itu kayak apa, siapa tahu bisa menginspirasi anda, haha.

Semoga Si Ibu dapat hidayah, aamiin.

Pharmacisthings, Project

Inheart Resolusi

2019. Pergantian tahun dirasa jadi saat yang tepat untuk sebagian besar orang menuliskan resolusi. Saya setuju, untuk mencapai sebuah cita-cita dan target, diperlukan momentum. Saya pun menuliskan list resolusi 2019, tentu suami juga turut serta, kan satu biduk.

Separuh jalan, sebersit pikiran lewat. List resolusi kebanyakan seputar hal-hal yang bisa diukur, materi, fisik. Misalnya baca 20 buku/th, menambah hafalan, submit paper, menyelesaikan naskah, lari 2x/mnggu dst. Betul, untuk mencapai goals diperlukan plan yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Based). Gak ada yang salah dengan plan dan list tsb. Hanya.. apakah dalam mencapainya saya akan menjadi orang yang bahagia?

Suami bilang, mungkin yang harus diresolusikan adalah diri kita, bukan goalsnya. Tak melulu membuat capaian yang dapat diukur. Kondisi jiwa, moral, hati juga perlu dijadikan parameter.

Saya melongok diri sendiri. Mungkin 10 list sederhana ini bisa membantu (Catet di sini biar inget juga):
1. Bersyukur setiap memulai hari
2. Mengapresiasi diri sendiri
3. Enjoy menjalani setiap pekerjaan
4. Mengurangi ngeluh
5. Positive thinking
6. Banyakin senyum sama orang lain
7. No ghibah
8. Menyediakan porsi telinga lebih daripada mulut
9. Sabar, tarik napas dulu sebelum bertindak gegabah
10. Memaafkan orang lain sblm tidur

Jadi agak lega. Betul, bahagia tidak dapat diukur dengan tercapainya target, tapi bagaimana kita menyikapi perjalanan menempuh target dengan hati yang lapang. Karena kadang kita suka lupa bahagia. Makanya banyak tagline ini seliweran: Jangan lupa bahagia hari ini.

Nb: boleh dong nambahin list di atas.

Summer in Sulaymane Mosque – Istanbul, Turki

#Resolusi2019 #TahunBaru2019#NewYear2019 #GroningenMomsJournal#Groningen #TheNetherlands#MuslimahDiary

Life is Beautiful

A New Start: 2019

Bismillah..

Tadinya mau nulis sedikit (mudah-mudahan emang jadi sedikit, kebiasaan kalo nulis suka kemana-mana ga bisa berhenti). Besok udah mau mulai kerja lagi, kuliah lagi, baca paper lagi, mantengin laptop lagi, duduk di kursi panas lagi, anter-jemput anak lagi, masak kilat lagi, dst dst.. Intinya mamak kudu setrong lagi, setelah liburan “cuma” 2 minggu. Meski kami ga banyak jalan-jalan ke mana gitu. Tapi momen akhir tahun banyak bikin saya kontemplasi. Mulai dari sakit bergiliran sekeluarga, deadline tiba-tiba di akhir tahun (harus disyukuri juga sih), juga kerjaan suami yang nambah. Rasanya pingin loncat indah sambil kayang.

Tapi yaa.. meski rasanya saya awalnya selalu merasa dalam posisi mengasihani diri sendiri dan nelangsa, tapi ternyata setelah mau masuk kerja lagi, saya baru menemukan energi baru, semangat baru, untuk membuang pikiran negatif saya ini. Banyak faktor, banyak ketemu orang (oiya liburan kali ini kami manfaatkan untuk lebih banyak silaturahmi juga), banyak momen, dll. Yang pasti, I’m fed up of being the victim (dari pikiran saya sendiri), yang selalu bikin saya: merasa “gak pantes” untuk jadi mahasiswa S3, merasa bersalah sebagai emak beranak dua tapi sibuk ngampus, dan pikiran jelek lainnya. Gusti Allah, maafkan hamba.

Betul untuk berubah gak butuh perubahan tahun, bisa kapan saja. Tapi untuk berubah butuh momentum juga. Kadang kita menunggu momen untuk berubah. Ya, manfaatkan saja yang ada sekarang. Mungkin ini memang kebetulan.

Utamanya saya ingin lebih menikmati peran saya di semua bidang, jadi mahasiswi, jadi ibu, jadi istri, jadi anak. Cem pria macho yang ada di iklan rokok gitu deh, hidupnya enjoy aja.

Lalu saya ingin lebih mengapresiasi diri saya sendiri. Berhenti mengasihani diri sendiri. Selama ini saya kok saya merasa banyak ngeluh. Sok-sok jadi tokoh drama korea gitu. Jemput anak naik sepeda, sambil hujan-hujanan, sebelumnya baru dibejek sama supervisor, perut melilit belum makan nasi dari pagi, pulang-pulang kudu masak. Terus dalam hati, Ya Allah kok saya kasihan banget ya. Pingin nangis cantik deh. Kalo Song Hye Kyo di Endless Love, sih iya cantik nangisnya, bikin yang nonton ikut terbawa termehek-mehek, menjual beud. Lha gueee.. mau nangis dramatis mengasihani diri sendiri kaga ada guna beib.

Jadiiii… 2019 I’m comiiinnngg!

Bismillahirrahmaanirrahiimm…

I’m happy doing my job and I’m happy being myself!

Mengutip lagu kesukaan Runa sekarang ini: Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanyaa…