Being a Student Mom, Just Learning

Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online

Saya mau sharing sedikit pengalaman selama mengikuti kuliah online di masa pandemi ini. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, mayoritas kegiatan perkuliahan di universitas dilangsungkan secara online. Ada juga yang menggunakan metode  hybrid katanya. Semacam kombinasi aa tatap muka juga, ada online-nya juga. Untuk meminimalisasi adanya kerumunan massa, dan juga untuk tetap memfasilitasi kegiatan perkuliahan yang efektif. Yaa.. tau kan gimana tantangannya kuliah melalui layar laptop. Bagaimanapun tatap muka dan pertemuan fisik tidak bisa digantikan dengan tatap virtual. Banyaklah kekurangan dan kesulitannya.                                                     

1. Koneksi

Namanya koneksi suka stabil dan enggak, tergantung rezeki. Namanya juga semua orang lagi wfh, ya bisa aja satu hari koneksi pet pet pet gitu. Video macet, suara ilang-ilang. Gak cuma dari saya aja, kadang dari dosennya, kadang peserta lain. Kalau udah kayak gitu, apa lagi yang bisa dilakukan coba? Emang pas kebetulan aja gak hoki.

2. Komunikasi satu arah

Dosennya kayak ngomong sendiri ke layar gitu. Dia juga merasa desperate sebenarnya. Kayaknya aneh, dan ga ada aktif interaksi. Dia gak bisa melihat apa muridnya memperhatikan apa enggak, mengerti apa enggak. Ya sama, murid juga merasa gitu. Mau nanya ya kagok juga motong omongan dosen pas lagi ngomong. Ada sih pilihan raise hand (tunjuk tangan) kalau mau “nyela” tiba-tiba nanya. Tapi tetep we kagok. Bisa juga nanya lewat kolom chat. Tapi ya ngetik kadang males, atau bingung memformulasikan ke tulisan.

Continue reading “Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online”
Groningen's Corner, School stuff, [GJ] – Groningen’s Journal

The Paranymph

Itu si Monik ngapain ngikut mejeng orang yang lagi defense?

Oh itu daku lagi jadi paranim.

Paranim apaan tu?

Paranymph bisa dibilang sebagai bridesmaid-nya sang PhD Candidate (Promovendus). Sejak zaman dahulu, meraih gelar PhD dianggap sebagai marriage for university. Upacaranya sakral, sebab sang Promovendus diambil janjinya untuk mengemban gelar doktor sesuai dengan the Netherlands Code of Conduct for Scientific Practice.

Role of paranymph apa? Tentunya mendampingi Promovendus sebelum sidang, selama berlangsungnya sidang, dan selama reception. Plus membantu juga arrange mock-defense (trial defense) dengan kolega, distribusi buku thesis, me-list daftar undangan, dan paling penting juga nyiapin kado dan party buat si calon doktor.

Katanya paranim ini kalau bisa orang yang juga punya latar belakang ilmu pengetahuan yang sama dengan bidang PhD yang didampinginya. Jadi kalau-kalau si calon doktor gak bisa jawab, paranim bisa bantu, but that is not often the case. Gak harus orang dari keilmuan yang sama, dan jarang banget paranim bantuin jawab. Kadang Paranim juga diminta Opponent untuk membacakan propositions dari buku thesis Promovendus.

Terus siapa yang biasanya jadi paranim?
Usually one who knows you well, but also someone you can fall back on if necessary, someone you trust. Like family member, a good friend, or colleagues.

It was my first time to be Paranymph of my best friend and colleauge in crime@sofadewialfian. Along with Mbak @afifah_fam, we were honored to accept the task. Barakallahufiik Doktor Sofa, semoga ilmunya berkah dunia akhirat, aamiin.

📸 @fbprasetyo
#phd #phddefense #studentlife #promovendus #paranymph #bridesmaid #TheNetherlands #Groningen

Menemani Promovendus sebelum masuk ke ruang defense
Ruangan ini khusus untuk Promovendus, keluarga dan rekan-rekannya menunggu sebelum masuk ke ruang defense, dan saat menunggu sebelum penyematan gelar doktoral
Beriringan dipandu oleh Bedel
Memberi hormat pada komite penguji (opponent) dan promotor
Duduk di barisan paling depan, siap sedia jika Promovendus membutuhkan bantuan

 

Pharmacisthings

Deprescribing pada pasien diabetes tipe-2

Bismillah.

Saya mencoba memaparkan sedikit pendahuluan dari riset kami mengenai deprescribing pada terapi diabetes tipe-2 secara sederhana, dalam bahasa Indonesia. Mudah-mudahan para pembaca bisa lebih mendapatkan informasi mengenai topik ini. Untuk paper lengkapnya bisa dibaca di tautan berikut: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/dme.14408 (Published: 23 September 2020, open access).

Deprescribing adalah sebuah proses terencana yang meliputi penurunan dosis, penghentian, atau pengubahan terapi obat. Tujuan dari proses tersebut adalah mengurangi risiko terapi (seperti efek samping obat), juga untuk meningkatkan hasil terapi sesuai dengan tujuan terapi dan preferensi pasien. Proses ini biasanya ditujukan untuk mencegah polifarmasi dan potensi pengobatan yang tidak tepat (polypharmacy and potentially inappropriate medication). Istilah deprescribing ini mungkin belum umum dikenal dalam bahasa Indonesia, belum ada padanan kata yang tersedia untuk kata ini. Sederhananya deprescribing mungkin lebih dikenal dengan proses de-eskalasi (de-escalation), de-intensifikasi (de-intensification), titrasi dosis (titration/tapering), atau penghentian obat (cessation/discontinuation).

Istilah deprescribing pertama kali dalam bahasa Inggris di tahun 2003, di salah satu artikel penelitian dari farmasi rumah sakit di Australia. Tahun 2014, sebuah systematic review menyimpulkan istilah deprescribing agar istilah ini diakui secara internasional, dan ada kesepakatan definisi.

Deprescribing is the process of withdrawal of an inappropriate medication, supervised by a health care professional with the goal of managing polypharmacy and improving outcomes’. (Reeve, 2014). Continue reading “Deprescribing pada pasien diabetes tipe-2”

Lifestyle, Mumbling

Kapankah kita boleh bersantai?

Tulisan ini murni curhat aja

Saat hari Senin sudah di depan mata, saya suka menghela napas panjang. Mulai lagi nih pekan ini. Ingin rasanya memperpanjang weekend, tapi tentu saja tidak mungkin. Senin adalah waktunya kembali memulai rutinitas, bakbukbakbuk untuk mengerjakan semua amanah, tugas, to-do-list di depan mata. Biasanya saya mulai bernapas sedikit di hari Rabu. Hari Rabu tidak ada jadwal daycare untuk Senja. Jadi biasanya saya bermain dengan Senja sepuasnya. Siang hari baru saya colongan buka email, saat suami sedang istirahat siang. Oiya, Runa sekolah sampai pukul 14.00, dan dia gak harus ditemani terus. Biasanya habis makan siang, dia akan sibuk sendiri, entah baca buku atau main di kamarnya. Jadi hari-hari biasa, Runa gak terlalu banyak menyita perhatian lagi.

Lanjut di hari Rabu tadi, kalau ada tugas penting untuk diselesaikan Kamis atau Jumat, Rabu malam saya paksakan untuk kembali menatap layar laptop. Hari Kamis adalah hari paling “dinanti” sepanjang pekan. Sebab di hari itu adalah jadwal meeting rutin saya dan supervisor. Saya sudah harus siap dengan segala bahan diskusi, jangan sampai meleng. Biasanya bahan meeting sudah saya kirimkan beberapa hari sebelumnya. Jumat pekan sebelumnya (kalau rajin), Senin, atau Selasa di pekan yang sama.

Kamis, pukul 11.00, ketika meeting sudah usai, rasanya setengah dari beban di pundak saya terangkat. Lalu saya cenderung sedikit bersantai, bisa sambil menyimak kajian tafsir Ustadz Hartanto Saryono via zoom. Sambil mengerjakan tugas yang ada. Lalu mulai deh buka-buka godaan baca blog, sosmed, twitter, hehe, sampai jam makan siang. Setelahnya baru nyadar, ya ampun tadi udah buang-buang waktu, harusnya bisa lebih efektif kerjanya. Langsung buru-buru bikin to-do-list baru biar lega dan gak merasa bersalah. Jumat tuh hari random, kalau saya lagi gak ada kerjaan yang mepet, biasanya saya loss aja tu seharian. Senja juga gak ke daycare. Jadi saya puas-puasin main sama Senja, buka email juga enggak. Tapi kadang Jumat suka ada jadwal meeting, di jam-jam tertentu, jadi saya minta suami atau adik saya megangin Senja selama 2 jam-an.

Saya pernah bilang sama Suami, Ini kayaknya saya semingguan itu, hidup untuk melewati hari Kamis. Kalau Kamis sudah terlewati, rasanya lega.

Sebenarnya gak selebay itu juga sih. Bisa jadi karena meeting sama supervisor yang membuat hari itu jadi terasa penting. Bisa jadi juga karena Kamis itu sudah mendekati weekend. Tapi tak apa, bismillah, diniatkan ibadah. Kalau gak punya kesibukan nanti bingung lagi. Terus kapan dong kita boleh bersantai? Kan urusan kerjaan itu gak kelar-kelar, urusan dunia juga terus berputar, sampai pada akhirnya ada waktu finish masing-masing.

Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, nikmat sehat dan waktu luang (HR Bukhari). Sedang sehat, tapi tidak punya waktu luang karena sibuk dengan urusan dunia. Kalau sedang punya waktu lowong, malah kondisi sedang tidak sehat. Sedangkan ketika punya keduanya, manusia malah dihinggapi rasa malas. Itulah manusia yang tertipu.

Makanya santai-santainya tetap harus yang bermanfaat dong yah. Gimana sih santai-santai yang bermanfaat? Kalau buat saya:

  1. Nulis
  2. Baca buku
  3. Baca blog/web yang bermanfaat
  4. Nonton youtube/denger podcast kajian ustadz
  5. Bikin konten untuk post IG (jatohnya nulis juga maksudnya sih)
  6. Masak-masak, bikin kue

Maunya sih nonton K-drama, menggoda banget. Tapi aku kapok. Gara-gara banyak yang bilang Reply 1988 seru jadi we aku nonton di Netflix. Daaan.. benar seru dan tak bisa berhenti. Akhirnya malah kebanyakan nontonnya, begadang demi memuaskan dahaga penasaran, besok paginya bangun malah gak fit, migren karena kurang tidur, kerjaan pun tak beres. Kapok udah. Saya stop dulu nonton yang bikin candu gitu. Nanti aja kalau beneran emang libur panjang.

Gimana santai-santai yang bermanfaat menurut kamu?

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents (2)

Suatu kali si Mama cerita, katanya ada anak temannya yang juga di kuliah di Groningen. Teman Mama ini teman sepermainan dulu waktu di Padang. Jadi masih sesama urang awak. Mama bilang kenal gak sama si (sebut saja) Anggrek, anaknya Om (sebut saja) Jati? Saya bilang, kayaknya gak kenal sih, mungkin pernah ketemu, tapi gak pernah mengobrol atau gimana. Maklum kan ya orang Indonesia dan mahasiswa di Groningen ini banyak. Jadi gak selalu setiap sesama orang Indonesia kenal. Apalagi kalau mahasiswa-mahasiswa S1 atau S2 yang “gaul”, udah pasti daku gak masuk lingkaran pergaulan tersebut, haha. Maklum ye, dari dulu mah daku anak cupu.

Intinya Mama dan temannya ini berkomunikasi, ya kali aja sesama anaknya itu di Groningen saling kenal, jadi bisa saling silaturahmi. Namanya orang tua mungkin merasa lega kalau anaknya itu mengenal orang yang dikenal orang tuanya (eh gimana sih, pokoknya gitu).

Tapi memang saya dan Anggrek gak berkomunikasi, seperti yang diharapkan oleh orang tua kami. Ya gimana, gak mungkin juga saya mencari-cari si Anggrek ke mana, dan nanya-nanya. Dia pasti udah besar juga, dan kalau gak merasa butuh orang Indonesia untuk bergaul pasti gak akan nyari juga. Continue reading “Call Your Parents (2)”

review buku

Review Buku Helen dan Sukanta – Pidi Baiq

Dari semua buku Pidi Baiq yang pernah ditulis dan saya baca, ini yang menjadi favorit saya, Helen dan Sukanta. Dahulu saya pernah dibuat ngakak-ngakak pas baca serial Drunken-nya, dan dibuat termehe-mehe pas baca kisah Dilan-Milea, tapi kisah Helen dan Sukanta ini lain. Begitu dalam sekaligus menyayat. Begitu tulus dan romantis tapi tidak picisan. Dibalut dengan latar sejarah di era kolonialisme Belanda di Indonesia tahun 1930-1945. Lengkap dengan penuturan deskripsi tempat yang cukup detail di kawasan Ciwidey-Bandung-Lembang, di masa tersebut. Pikiran saya langsung melayang membayangkan Bandung tempo doeloe yang dingin dan berkabut di pagi hari, dengan tempat-tempat yang mengundang rasa rindu.

Saya masih terpikir apakah kisah Helen ini fiksi atau nyata. Rasanya terlalu nyata untuk fiksi, tetapi terlalu tragis jika ini nyata. Tadinya di awal-awal bab, saya mengira kisah cinta antara Helen dan Sukanta (Ukan) akan serupa Dilan-Milea, khas kisah cinta anak muda yang berapi-api. Tetapi tidak, kisah mereka tumbuh dari persahabatan anak-anak yang senang bermain dan mengeksplorasi alam. Tentu percakapan unik khas Pidi Baiq yang jenaka tetap terasa.

Helen Maria Eleonora adalah Noni Belanda yang lahir dan dibesarkan di Tjiwidey, ayahnya bekerja di perkebunan di sana. sementara Sukanta adalah pribumi biasa yang tinggal di daerah lingkungan Helen. Helen yang tidak punya teman karena keluarganya tertutup dari lingkungan luar selalu merasa kesepian. Dari Ukan-lah Helen menemukan kesenangan yang bebas, bermain di sungai, mencari belut, menjelajahi Situ Cileunca, diajari makan dengan tangan dengan menu khas rakyat. Sudah bisa ditebak tentu kisah cinta mereka mendapat pertentangan kuat dari pihak keluarga Helen. Namun, pada akhirnya bukan keluarganyalah yang memisahkan mereka, tetapi kondisi keji peperangan dan kekejaman pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Aku ingin segera mengatakan bahwa sebuah perang selalu tidak menyenangkan, yang ada hanyalah penderitaan, terutama bagi warga sipil.” (Halaman 351).

Dari sosok Helen saya merasakan bahwa tidak semua orang Belanda di masa penjajahan adalah sosok antagonis, tidak semua bersalah atas penderitaan rakyat Indonesia. Dari sosok Ukan saya mendapatkan ketulusan dan keramahan orang Indonesia, yang pada zaman sekarang ini semakin memudar.

“Orang Hindia dalam banyak hal lebih punya simpati dan perhatian daripada orang Belanda. Mereka lebih banyak memberi penghormatan yang bisa dirasakan oleh setiap orang Belanda. Oleh karena itu, harus aku katakan, orang Hindia hanya ingin mengambil persahabatan, tetapi kita membalasnya dengan kaki di atas kepala mereka.” (Helen, Halaman 236)

Saya yakin Helen adalah orang Belanda yang lebih mencintai tanah Bandung dan Indonesia melebihi orang Indonesia sendiri atau melebihi tanah nenek moyangnya, Belanda. Belanda baginya adalah tanah asing, yang tidak pernah ia rasakan kedekatan batinnya. Saya jadi mengerti mengapa orang-orang yang merantau jauh ke luar negeri, tetapi dalam lubuk hatinya nama Indonesia masih saja terpancang kuat. Meski coreng-moreng membayangi wajah Ibu Pertiwi.

Penuturan situasi alam Ciwidey, Bandung, dan Lembang pada jaman kolonialisme digambarkan dengan apik oleh Pidi Baiq. Ada lembah-lembah, sungai, kebun teh, perumahan, suasana Bandung, dan jalan-jalannya yang masih diikuti dengan weg (jalan, dalam bahasa Belanda). Saya seperti diberi kemampuan untuk bernostalgia dan menjelajahi kehidupan di tahun tersebut tanpa pernah ada di sana.

“Waktu akan membuat kita lupa, tapi yang kita tulis akan membuat kita ingat.” —Pidi Baiq

Helen dan Sukanta – Pidi Baiq
Mumbling, review buku

Membaca Kembali Groningen Mom’s Journal

Ceritanya saya ingin segera menuntaskan naskah Groningen Mom’s Journal part 2, yang sudah lama mendekam di laptop. Ingin rasanya segera menyerahkannya ke editor, disunting, lay-out, cover, dicetak, beres deh. Tapi beberapa pekan ini saya lagi agak sibuk, entah sibuk apa, haha. Yang pasti di antaranya ngerjain tugas riset, yang memang gakan beres-beres, heuheu.

Wiken ini saya memaksa diri saya untuk mantengin laptop untuk urusan naskah. Ya Allah kayaknya saya udah lama meninggalkan si naskah ini huhu. Terus saya malah jadi ingin baca lagi buku pertama saya. Ingin tahu dulu saya nulis apaan sih? Sebagai referensi dan pembanding dengan naskah yang sedang GMJ part 2 ini.

Groningen Mom’s Journal

Jujur sejak buku saya terbit, saya memang gak pernah membacanya lagi, bisi malu, haha.. aneh yak sama tulisan sendiri kok malu. Ya begitu deh sifat minder saya suka gengges emang. Saya paksain deh baca dari awal sampai akhir, saya ingin tahu bagaimana gaya nulis saya, apa informasi yang dulu saya tulis, menarik/membosankan gak, dll. Saya juga bingung yak, dulu bisa aja menyelesaikan naskah lengkap itu, hebat ey. Tapi di sisi lain ternyata saya sadar tulisan saya masih banyak kurangnya juga di sana-sini. Masih ada bagian yang “apaan sih?” (menurut saya), dan juga kalimat-kalimat yang gak enakeun. Atau bahkan alur yang mboseni (mungkin karena saya udah pernah ngalamin apa yang ditulis kali ya).

Yah gakpapa lah ya, namanya juga buku pertama, banyak yang harus di-improve. Yang pasti saya harus memberikan apresiasi pada diri saya untuk karya saya yang satu ini. Meski bukan best seller dan tidak cetak ulang, setidaknya pernah mampir di toko buku besar di Indonesia, dipajang di rak buku, dan dinikmati oleh banyak pembaca di Indonesia, Alhamdulillah.

Buku tersebut menjadi refleksi kehidupan saya dan keluarga selama dua tahun pertama tinggal di Groningen. Kayaknya di dalam buku tersebut terasa masih setetes aja yang saya pahami dari kehidupan merantau di Groningen. Masih sedikit yang saya tahu tentang Belanda dan apa-apa yang ada di dalamnya. Sekarang sudah enam tahun berselang dari 2014 lalu, rasanya banyak yang berbeda. Banyak hal-hal baru yang ternyata oh begini dan oh begitu. Yang tadinya ada hal-hal menakjubkan sekarang jadi biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal sulit sekarang ya biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal biasa aja eh malah jadi sesuatu yang penting. Ada hal-hal yang bergesar dan bergerak. Begitu deh kehidupan.

Maaf saya mah cuma numprang ngecapruk aja ini mah.

Random Things

(Jangan) Alergi Bangun Pagi

Setelah subuh enaknya itu bobo lagi, godaannya besar. Tapi tentu lebih utama gak tidur lagi, tapi kok prakteknya susah ya. Manalagi karena waktu subuh di Belanda (atau CET/CEST, central european summer time) ini berubah-ubah mengikuti pergerakan matahari.

Kalau dihitung-hitung dalam seminggu ini, setelah subuh, saya lebih banyak lanjut tidurnya daripada lanjut aktivitas. Bangun-bangun udah 7.30. Hitungannya belum telat sih untuk memulai aktivitas. Soalnya di sini kan anak-anak sekolah jam 8.30, ngantor juga jam 9. Tapi rasanya memang lebih puas kalau bangun lebih pagi dalam memulai hari.

Dulu waktu masih kecil-kecil, teringat Mama dan Papa saya selepas subuh gak pernah tidur lagi. Papa sibuk beres-beres, sementara Mama udah di dapur aja. Dari jam 4.30, bahkan sebelum subuh mereka sudah bangun, siap-siap. Jam 6, udah deh pada berangkat semua ke sekolah/ngantor. Maklum rumah kami jauh.

Saya jadi malu, selama ini saya sepertinya lebih sering menghabiskan waktu tak bermanfaat untuk kembali menarik selimut. Alergi rasanya bangkit dari tempat tidur. Padahal ini belum winter lho. Kalau winter wahhh.. perjuangannya untuk keluar dari tempat tidur luar biasa banget. Udah kayak jihad aja. Butuh obat anti-alergi bangun pagi yang kuat nih, alias motivasi besar. Idealnya maaaah yaaa, kalau jadi orang soleh banget, habis solat subuh tu ngaji, kalau perlu hapalan Qur’an. Soalnya pikiran kan jernih pas bangun pagi. Jadi bisa banyak masuk hapalannya.

Semoga gak alergi bangun pagi lagi! Bismillah

review buku

Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata

Sepertinya cuma buku Andrea Hirata yang bikin saya gak akan menutup buku sekali membuka lembar pertama ceritanya.

Akhir minggu. Saya buka bukunya di pagi hari, pikiran saya terpaku pada kisahnya, gak mau pergi. Siang hari saya baca di sembari menemani anak-anak bermain. Malam hari, saya tamatkan tanpa jeda. Seperti ingin mengikuti terus ke mana langkah kaki Aini dan Guru Desi di cerita tersebut.

Andrea Hirata selalu bisa mengangkat topik orang-orang marginal menjadi sesuatu yang mencengangkan. Cerita Andrea Hirata meniupkan motivasi, mengembangkan mimpi, dan memperkaya jiwa. Sama seperti dulu saat saya membaca dua karya pertamanya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi 15 tahun yang lalu. Yang membuat saya ingin bermimpi ingin mengejar cita-cita ke negeri asing, dan meyakini bahwa tak ada yang mustahil bagi siapa yang berusaha keras. Dan buku Guru Aini ini telah melecutkan semangat yang sama pada saya dengan kedua buku pendahulunya.

Guru Aini, Andrea Hirata

Melalui sosok Aini, saya temukan berlian di balik timbunan lumpur. Berlian yang akan menampakkan kilaunya ketika ditempa dengan alat yang tepat, dan cara yang benar. Bahwa kebodohan bukanlah sesuatu yang absolut, tapi kemalasanlah sumber kebodohan. Bodoh atau tidak itu terletak pada keinginan untuk mengubah nasib. Dan keinginan itu akan ada ketika kita memiliki motivasi yang kuat. Motivasi Aini, si anak peraih angka biner 0 1 0 setiap ulangan Matematika, adalah ia ingin menjadi dokter ahli. Padahal ia sendiri tidak tahu apa itu dokter ahli, pokoknya ia ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan penyakit ayahnya. Ayahnya yang hanya berjualan mainan anak-anak kaki lima di pelabuhan tiba-tiba kolaps, perawat di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Kabupaten tak ada yang bisa mengobati. Mustahil pula keluarga Aini bisa membawa ayahnya berobat ke dokter ahli.  kota Palembang. Kata Tabib di Selat Garam, tabib kesekian belas yang didatangi, penyakit model Ayah Aini hanya bisa disembuhkan dengan sekolah, dengan ilmu kedokteran modern, oleh dokter ahli.

“Ada keindahan yang sangat besar pada seseorang yang sangat ingin tahu, Laila, keindahan yang terlukisakan kata-kata” (Guru Desi pada Guru Laila, hal  198).

Tak ayal sesekali dia gembira, gembira karena keluarga dan sahabat setia, namun memahami suatu ilmu memberinya bentuk gembira yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Kegembiraan yang sulit dilukiskannya dengan kata-kata (Aini, hal 206).

“Jika Ibu ikuti dengan pensil, lambang ini takkan pernah berakhir. Inilah lambang infinity, Bu, suatu lambang yang bagi kemungkinan tak berhingga. Kata Guru Desi, kemungkinan tak berhingga bagi mereka yang ingin belajar, bagi mereka yang punya niat baik, bagi mereka yang berani bermimpi.” (Aini pada Ibunya, hal 212).

Continue reading “Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata”
Being a Student Mom, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Paling Dirindukan

Setelah berbulan-bulan ga ke kampus, akhirnya saya berkesempatan juga ngampus lagi. Sekalian ngambil barang yang diperlukan sih. Tapi kan udah di sana mah ya gawe lah sekalian. Kayaknya terakhir ke kampus itu habis lebaran, tapi lupa kapan juga. Sekarang udah boleh ke kampus sekali seminggu, dengan aturan dalam ruangan saya, max cuma boleh 3 orang (seruangan ada 6).

Saya ke kampus dengan bersepeda. Biasalah, kendaraan rakyat, siapa saja punya. Sampai di kampus memang cuma ada saya temui segelintir orang. Salah satunya kawan seruangan saya, seorang post-doc dari Venezuela. Dia termasuk baru di departemen, baru bergabung bulan Juli.

Ternyata saya cukup menikmati space saya di kampus, di office, di room saya. Bisa mengakses kembali desktop tanpa repot harus connect ke sistem citrix, tanpa harus ribet ada waktu diskonek. Saya bisa dengan leluasa bekerja dengan layar yang cukup besar dan internet yang kencang (yah di rumah juga kenceng sih). Padahal saya pikir sebelumnya saya sangat menikmati work from home (wfh) dan mungkin gak ingin balik lagi ngantor.

Ternyata saya juga cukup menikmati interaksi dengan kolega saya, meski saya baru berkenalan dengannya. Ada rasa-rasa kalau saya menikmati percakapan dengan orang baru, tanpa canggung. Dengan bahasa Inggris percakapan yang sudah lama tidak saya pakai. Padahal saya pikir sebelumnya saya gak kehilangan tuh interaksi dengan kolega, haha.. maaf rada ansos.

Ternyata saya juga cukup menikmati kopi dari mesin kopi di departemen. Yang kata orang bilang kopinya rasanya gak enak. Saya memang bukan penikmat kopi sejati, yang tahu kopi mana yang enak dan yang gak enak. Asal bisa memberikan rasa pahit-pahit manis aja udah cukup, dan bikin adrenalin saya cukup terpacu ketika bekerja.

Dan ternyata lebih dari itu, ada hal yang sangat saya rindukan selama hampir 6 bulan wfh ini.

My desk. Standar ketika kerja, ada kopi, ada air putih (itu botol minum lucu dari Kamel, lhoo.. hihi seneng banget ketemu si botol lagi), kertas biasanya berserakan, catatan, pulpen, note, sticky notes.
My room @ UMCG. Empty office

Yang ternyata saya rindukan bukanlah suasana kerja, bukan kolega, bukan space di kantor, tetapi rutinitas naik sepeda ketika pulang dan pergi ke kampus. Waktu-waktu saya di sepeda ternyata begitu berharga. Saya kehilangan hal tersebut.

Ketika di sepeda, biasanya pikiran saya bebas berkelana ke mana saja. Di waktu pulang ke rumah saya kadang memikirkan to do list di rumah, termasuk mikirin mau masak apa nanti kalau sudah sampai rumah. Kadang saya juga merenungkan pembicaraan saya dengan si Ibuk Supervisor setelah meeting. Sementara di waktu berangkat ke kampus biasanya saya memikirkan kerjaan di kantor, eh paper mana yang harus dibaca, manuskrip ini nanti mau ditulis gimana, dst.  Kadang saya juga menyiapkan sedikit kalimat yang akan saya lontarkan sebelum meeting dengan si Ibuk nanti. Pikiran saya sepertinya sangat produktif. Sehingga saat sampai di kantor, saya tahu mau apa, dan ketika sampai ke rumah saya juga tahu mau ngapain. Walaupun sampai rumah biasanya perut keroncongan. Selain itu kadang saya juga memikirkan ide tulisan, naskah, dll.. sehingga lahirnya ide-ide juga tak lepas dari momen nyepeda.

Atau kebiasaan lainnya. Biasanya saya memutar playlist di hp saya, yang lagu-lagunya tidak pernah di-update. Saya gak mengikuti perkembangan musik sih, jadi di playlist ya lagunya itu-itu aja. Dan saya tidak pernah merasa bosan, meski ketinggalan zaman. Kalau lagi soleh, biasanya saya memutar murottal, sekalian menghapal, diulang-ulang terus aja beberapa ayat. Kalau lagi ingin siraman kalbu, saya memutar spotify-nya Ustadz Nouman Ali Khan, Adi Hidayat, atau Abdul Somad.

Momen berada di atas sepeda yang hanya berkisar 15 menit menjadi momen berharga bagi saya. Momen komtemplasi yang hanya ada saya dan pikiran saya yang berbicara. Dan itulah yang ternyata saya paling rindukan. Momen rutinitas bersepeda ke kampus.

Bersepeda di Groningen. Sepeda saya, sepeda suami, dan sepeda Runa.
Sepeda kesayanganku. Saya baru ganti sepeda 2x selama di Groningen. Sepeda pertama saya Gazzelle hijau, yang sudah sempoyongan rodanya. Sepeda kedua saya ini hadiah dari suami biar saya semangat menyelesaikan PhD hihi.. Gazelle juga tapi seri Esprit, dengan warna tosca lembut, yang saya bangettss.