Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja, Mommy's Abroad

Ramadan dan Runa tahun ini

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Masih ada kesempatan untuk mengumpulkan bekal-bekal pahala yang bertaburan. Masih ada kesempatan untuk memohon ampun untuk dosa-dosa. Padahal dosa selalu nambah aja tiap tahun.

Ramadan ini dimulai dengan suasana mellow. Ya mellow cuacanya (yang sering hujan angin), ya mellow juga perasannya. Ada perasaan, ya Allah pengen saya tu Ramadan lagi di Indonesia, di Bandung, deket keluarga. Udah 7 tahun ya Ramadan di rantau, ternyata ada rasa sedih-sedihnya kerasa sekarang.

Juga tantangan muncul, sebab Runa sudah semakin besar, udah 9 tahun. Sudah harus semakin mengerti Islam, iman, ibadah-ibadah. Bukan maksudnya ngerti gimana banget, tapi ya, terbiasa, dan tahu bahwa ini adalah agama yang jadi pegangan hidup kita sampai mati, yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Terus gimana menerapkannya value-value itu pada Runa? Gak gampang, asli. Dulu saya merasa, saya belajar memahami Islam seperti let it flow, semuanya sudah ada, semuanya serba mudah. Itu gak berlaku untuk Runa. Juga untuk saya sebagai orang tua.

Continue reading “Ramadan dan Runa tahun ini”
Indonesia, etc

Catatan Mudik di Kala Pandemi (1)

Tadinya mau ngelanjutin postingan: https://monikaoktora.com/2022/01/20/cerita-mudik-di-kala-pandemi-belanda-to-indonesia/ tentang mudik di Indonesia pas lagi pandemi. Tapi yah, baru ketulis judulnya aja, terus kesimpen aja ini di draft blog, gak sempet ketulis-tulis. Penyakit kalo udah nunda nulis tuh ujungnya malah gak jadi nulis. Emang kuduna dipaksakan gitu, walaupun terasa waktu mepet di antara huru-hara kerjaan kampus dan rumah tangga?

Yah sudahlah, saya kasihan juga sama si draft ini yang menunggu ditulis, daripada ujung-ujungnya berakhir trash.

Intinya, waktu kami mudik di 11 Desember 2021-16 Januari 2022, banyak sekali perasaan tercampur-campur. Dari mulai karantina menggila 10 hari, berurusan sama birokrasi Indonesia yang, biasalah, ribet. Lalu sampai di Bandung bertemu keluarga, pokoknya agenda khusus untuk keluarga. Boro-boro ketemu teman, janjian sana-sini. Pokoknya family time full, keluarga Mama Papa, Ibu Bapak, sama Kakak-Mbak-Mas-dan adik, tante-tante, om-om. Alhamdulillah masih sempat juga ketemu sahabat baik, itupun kebanyakan mereka yang nyamperin kita.

Continue reading “Catatan Mudik di Kala Pandemi (1)”
Being Indonesian in the Netherlands

Di Balik Perang Ukraina Rusia

“Bun, boleh gak Runa minta 2 euro untuk nyumbang ke sekolah untuk bantuan ke Ukraina?” Tanya Runa minggu lalu.

“Oiya minggu sebelumnya kan Runa udah kasih 5 euro ya? Juga Runa sama Lola udah ngumpulin botol-botol bekas untuk ditukarkan dengan uang ke supermarket.”

Sejak serangan Rusia ke Ukraina 24 Februari lalu, Belanda memang banyak menggalang dana bantuan untuk para refugee Ukraina, melalui organisasi sosial Giro555. Penggalangan ini juga ditampung oleh sekolah. Kayak ada semacam ‘kencleng’ gitu di tiap kelas. Luar biasa memang, fund raising ini mencapai 100 juta euro dalam dua pekan saja. Mereka juga bisa menukarkan botol-botol plastik bekas minuman ke supermarket untuk ditukarkan dengan sejumlah uang.

“Iya, Runa udah nyumbang, tapi teman-teman yang lain banyak yang masih nyumbang. Lola juga ngasih 20 euro dari orang tuanya.”

Sebentar, sebentar. Harus diluruskan dulu ni.

Continue reading “Di Balik Perang Ukraina Rusia”
Lifestyle

Daya pikat buku bekas

Saya masih ingat sewaktu saya masih SD, banyak pedagang buku bekas berjejer di Jalan Dewi Sartika Bandung. Mereka berjualan di trotoar. Buku-bukunya digelar di atas alas entah papan atau kain, saya lupa persisnya. Entah berdasarkan para pedagangnya menyusun buku-buku tersebut, ditumpuk-tumpuk, berderet-deret, dengan batas beberapa jengkal antara lapak satu pedangang dengan pedagang lainnya. Kalau hujan turun, para pedagang akan buru-buru menutupi dagangannya dengan terpal.

Saya juga masih ingat, ketika saya berhasil membeli buku cerita atau komik dari pedagang tersebut dengan harga murah, mungkin dulu seharga beberapa ribu saja. Saya sangat puas. Rasanya seperti memenangkan sesuatu. Meski bukunya sudah ada ditandai nama pemilik sebelumnya, dalam kondisi bekas, dan tentunya tidak ada aroma khas buku baru yang bisa saya hirup). Tapi saya senang, makanya memori itu masih terkenang sampai sekarang.

Jauh-jauh ke Groningen, ternyata saya masih punya perasaan terpikat pada buku bekas. Bedanya, tidak banyak buku yang bisa saya beli, karena kebanyakan berbahasa Belanda. Maka, saya coba mengajak anak-anak menyambangi toko buku bekas juga. Bedanya lagi, toko buku bekas saja level bagusnya sudah sama seperti toko buku biasa. Harga buku anak-anak juga hanya berkisar antara 50 sen sampai 2 euro. Kondisi buku-bukunya juga masih sangat layak, hampir seperti baru.

Rasanya kalau buku-buku ini berbahasa Inggris atau Indonesia pingin saya beli dan dikirim ke Indonesia, dibagi-bagi ke anak-anak yang memerlukan.

Untuk sekarang, saya sudah cukup senang bisa mengenalkan budaya membeli buku bekas pada Runa dan Senja. Semoga mereka juga nanti punya rasa keterpikatan danpenghargaan pada buku-buku bekas sampai besar nanti.

Being Indonesian in the Netherlands

Ramadan, will be tough?

Oh yes, next week is Ramadan. It will be tough for you

It will be hard to not eating and drinking for a whole day

I have respect for a person who is doing Ramadan, it may be challenging.

Itu kata beberapa teman, tetangga, kolega saya yang orang Belanda/ non muslim di sini ketika ngetahui bahwa kami akan melakukan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Yaa.. saya sebenarnya mau bilang, kalau puasa itu gak berat, gak tough seperti yang mereka bayangkan. Bahkan Ramadan itu bulan yang sangat istimewa dalam satu tahun ini. Di mana banyak sekali rahmat dan pahala yang dilipatkgandakan, serta dosa-dosa diampuni. Saat di mana setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka. Ramadan juga bulan saat diturunkan Al Qur’an. Bahkan nikmat yang Allah janjikan pada orang berpuasa ada dua, nikmat saat berbuka, dan nikmat saat berjumpa dengan Allah di Hari Akhir kelak.

Tapi mau ngomong panjang lebar gitu mah buat orang yang gak percaya agama, pasti gak kesampean. Manalagi aku gak pinter menjelaskan. Intinya Ramadan itu membahagiakan. Bahagia yang tidak bisa mereka mengerti. Gak papalah … Semoga suatu hari nanti mereka akan mendapatkan jawaban dari keheranan mereka tentang Ramadan dan tentang sulitnya berpuasa seharian.

Ya sulit terlihatnya. Tapi ketika Ramadan sampai, beneran Masya Allah, seperti Allah itu menguatkan dan memampukan kita untuk bisa berpuasa sebulan.

Dan memang kebahagiaan berbuka itu luar biasa nikmatnya. Meski baru mereguk teh manis hangat dan kurma saja. Membayangkan orang-orang yang mungkin sering menahan lapar karena memang gak ada makanan, membuat kita jadi manusia yang lebih peka dan berempati. Sedangkan kita menahan lapar seharian karena puasa, Alhamdulillah masih bisa berbuka dengan hidangan yang macam-macam.

Masya Allah, berkahilah puasa dan ibadah kami di bulan Ramadan, aamiin.

review buku

Di Balik Tirai Aroma Karsa – Review

Di Balik Tirai Aroma Karsa ~ @deelestari

Saya membaca buku nonfiksi pertama karya Dee Lestari ini karena rasa penasaran. Lebih penasaran ketimbang saat mulai membaca Novel Aroma Karsa sendiri. Penasarannya gara-gara ngedengerin podcast Dee Lestari dengan @gwirjawan di End Game. Dee bercerita mengenai proses kreatif menulisnya, salah satunya saat menulis Aroma Karsa. Aroma Karsa, buku yang kaya akan unsur petualangan, misteri, dan imajinasi. Tentunya juga kaya akan riset.

Riset. Menulis fiksi juga perlu porsi penelitian lho. Studi pustaka, cek referensi, praktikum, observasi ke lapangan, konfirmasi ke pakarnya, wow wow. Saya rasa setiap Dee menelurkan buku, ia sepertinya sudah menyelesaikan satu jenjang PhD sendiri😂. Seru yaah nulis buku fiksi kayak bikin buku thesis.

Kagum banget saya dengan proses riset Dee yang begitu niatttt, dari awal sampai akhir naskah, gak boleh ada celah yang terlewat. Saya juga jadi belajar lebih banyak mengenai proses editing, design cover, dan (yang baru saya tahu) proses terbit digital Aroma Karsa di @bookslifeco dengan Digitribe-nya.

Tapi bagian paling relevan dan menyentuh buat saya adalah kejujuran Dee menuliskan sisi gelap dari keberhasilan Aroma Karsa, yang tentu gak banyak orang tahu. Sebab orang selalu melihat hasil akhirnya saja, yang terlihat sempurna. Padahal ada kulminasi dari titik-titik perjuangan dan kelelahan dalam prosesnya. Butuh ada break, recovery, sebelum lanjut berlari.
Terima kasih Mbak Dee untuk menuliskan bagian tersebut❤️.

#BacaBuku2022#AromaKarsa#DeeLestari#ResensiBuku#DiBalikTiraiAromaKarsa#BentangPustaka

Catatan Hati

My 3-Minute-Thesis Competition in RUG

Public speaking is not really my thing.

Lho, terus apa yang saya pikirkan ketika memasukkan abstrak thesis saya ke kompetisi ini?
Ada suatu misi tersembunyi di dalamnya. Bahkan ketika malam itu saya memberanikan diri untuk menekan klik tombol ‘send’ di laman aplikasi 3MT @universityofgroningen, saya tidak pernah memberitahu suami saya (my no.1 supporter), dan supervisor saya (my no.1 mentor). I thought, let’s Allah shows His way, if He will.

Saat melihat pengumuman ada kompetisi 3MT yang bergengsi itu, rasa ambis saya bergejolak (Well, ambis selalu dikaitkan dengan konotasi negatif, bahwa orang punya rasa nafsu besar untuk pencapaian tertentu. Saya juga awalnya berpikir demikian, tapi hal itu berubah kemudian). Seorang Monik sebenarnya gak akan tertarik ikut-ikutan yang seperti itu, boro-boro bahasa Sundanya mah. Dulu waktu tahun pertama PhD, saya pernah dibilangin sama postdoc di departmen saya. “Istri saya ikutin ini nih, 3 minute thesis competition dia ngirimin abstrak, kamu gak mau ikutan?”

Continue reading “My 3-Minute-Thesis Competition in RUG”
review buku

Buku Besar Peminum Kopi – Andrea Hirata

“Beri aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar.” Begitulah prinsip hidup yang dipegang Nong Maryamah, wanita paruh baya pendulang timah.

Baru dua bab saya baca buku ini, hati rasanya langsung terenyuh, kenapa hidup begitu tragis. Saya jadi harus menguatkan hati untuk melanjutkan baca.

Adalah Nong, wanita asli kelahiran Ketumbi, Desa di pedalaman Belitong. Tak pernah ia menamatkan SMP, meski ia adalah murid terpandai saat itu. Kondisi ekonomi keluarganya memaksanya menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan tiga adiknya yang masih kecil-kecil. Ia menjadi perempuan penambang timah pertama di Belitong. Kerasnya usaha dan tekad Nong membuatnya bertahan hidup.

Ikal, Sang Alumni Laskar Pelangi, yang baru saja menyandang gelar magister of economy dari universitas ternama Eropa, pulang kembali ke tanah air dengan harapan meluap-luap, namun ia tersandung krisis moneter 1998. Tak ada pekerjaan di ibu kota, membuatnya kembali ke kampung halaman. Kata Ibunya jadi orang itu harus berguna, tak peduli apapun kerjanya. Ikal-pun bekerja di warung kopi Paman L.

Di sana ia bertemu Nong, bersama sekawannya yang lain, mereka memiliki misi mulia, membuat Nong menjadi juara catur pertama di kampung mereka. Bagi Nong, catur bukanlah permainan biasa. Ada harmoni dan ambisi di dalamnya, hanya Nong yang paham.

Ada haru, komedi, petualangan, permainan, cinta, semangat, diaduk-aduk di Buku Besar Peminum Kopi. Cuma @hirataandrea yang bisa meraciknya. Benang merah dari semua karya Andrea Hirata rasanya selalu sama, mengenai kerja keras dan harapan. Ketika keduanya bertemu, maka tak ada yang tak mungkin untuk tercapai. Meski untuk wanita terpinggirkan seperti Nong.

#BacaBuku2022#ReviewBuku#Resensibuku#AndreaHirata#LaskarPelangi

review buku

Umar bin Abdul Aziz – komik kisah teladan

The Great Salafusshalih – Umar bin Abdul Aziz, komik kisah teladan oleh @vbi_djenggotten

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang salafusshalih di masa tabi’in yang menjadi amirul mukminin, pemimpin negara yang Masya Allah sangat amanah. Beliau mengambil jalan Khalifah seperti kakek buyutnya, Umar bin Khattab.

Pemimpin mana yang ketika diangkat menjadi “presiden” malah mengucap Innalillahi wa innailaihi raji’un? Seakan jabatan kepemimpinan bukanlah hadiah, tetapi adalah ujian yang besar.

Pemimpin mana yang ketika menjadi rakyat ia adalah seorang yang kaya raya, tetapi ketika ia menjabat, hampir seluruh kekayaannya diserahkan pada negara untuk kesejahteraan rakyat?

Pemimpin mana yang saking hati-hatinya mengelola harta milik negara, lalu ia membedakan antara pemakaian lilin dinas dan lilin pribadi (untuk meneranginya) saat rapat menjawab urusan negara dan urusan pribadi?

Di zamannya bahkan penduduk sampai bingung membayar zakat karena tak ada lagi fakir miskin. Sementara dirinya hidup sederhana, ajudan tak punya, istana tak ada, kendaraannya hanya keledai, dan rumahnya hanya beralaskan tikar keras.

Beliaulah pemimpin yang dirindukan surga.
=====
Waktu membaca komik ini bersama-sama Runa, Runa sampai bengong, “Masa iya sih kayak gitu? Kenapa?” Seperti gak percaya, memang ada pemimpin seperti itu.

Iya emang sih, zaman sekarang mau nemu pemimpin seperti beliau cem nyari kutu di lautan manusia. Kalau ada, nyes adem banget mungkin hidup ini. Semoga akan ada pemimpin dengan ilmu seperti beliau, kebijakan dijalankan sesuai syariat, hak-hak rakyat dipenuhi tanpa kecuali, keadilan tegak, rakyat sejahtera. Masya Allah, aamiin.

#BacaBuku2022#KomikIslam#KomikAnak#umarbinabdulaziz#umarbinkhattab#Khalifah#KomikMuslim

Catatan Hati

Marah itu Gampang, Tapi …

Manusia dibekali oleh nafsu, salah satunya emosi. Emosi yang kerap menghinggapi kita sehari-hari adalah emosi bernama marah. Semua orang pernah kesal, terus marah. Melampiaskan marah dengan bermacam-macam cara. Ada yang ngomel, ngambek, merutuk, bahkan menangis, atau menyimpan marah dalam hati. Tapi emosi itu katanya harus dikeluarkan, kalau tidak nanti tubuh kita sakit, jiwa kita sakit.

Tapi bagaimana mengeluarkan emosi marah yang benar biar gak merugikan diri sendiri dan orang lain?

Aslinya, saya juga gak tahu jawabannya. Saya masih perlu banyak belajar. Saya akui, saya termasuk orang yang mudah tersulut emosi. Rasanya kalau ada yang ngejentik saraf emosi saya, saya pengen segera menyalurkannya ke luar, ga pengen lama-lama di badan sendiri. Memang paling gampang nyalahin orang, dan marah-marah sama orang, apalagi kalau kita dalam posisi yang benar. Makin ada legitimasi untuk menyalurkan marahnya.

Continue reading “Marah itu Gampang, Tapi …”