Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja, Mommy's Abroad, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Menarik dari Pendidikan Anak di Belanda (part 2) – Hikmahnya

Hola-hola Bunda-Bundi, yang ngikutin terus cerita mengenai series pendidikan anak di Belanda, semoga masih setia nongkrong yaah, hehe. Dari yang awalnya cuma mau sharing mengenai pendidikan anak dari SD sampai kuliah di Belanda, eh ternyata postingannya beranak ya Bun. Maklumah emak-emak jarinya suka lemes kalau cerita, jadinya panjang deh. Gapapa ya, daripada lidah yang lemes, saya suka belibet kadang kalau ngejelasin gak pake ditulis dulu, mwahaha. #emakribetdetected.

So, jadi dari bahasan sebelumnya mengenai yang menurut saya menarik dari pola budaya dan pendidikan Londo lalu sampai ke stimulus membaca anak Londo, terus jadi apa dong hikmahnye Bun? Iya sih sistem pendidikan Belanda cakep, seolah tanpa cela. Etapi jan salah Bun, yang namanya sempurna mah cuma milik Allah. Kita mah manusia ilmu terbatas, jadi kalau begini bijaknya adalah bisa mengambil hikmah di balik kisah #tsagh.

Saya gak bilang pendidikan anak di Belanda ini terbaik ya, ada banget kekurangannya mah. Apalagi buat kita yang muslim ya. Kan tetep aja kepengenannya anak tu bisa dapet sekolah yang didikan ilmu agamanya komplit, gak cuma teori tapi sama praktiknya juga. Idealnya mah pendidikan cem Londo yang serba ter-support dengan baik, si anak enjoy, tapi dalam lingkup islami, dan gratis. Yuk ya yuk Bismillah kali aja bisa di masa depan Insya Allah ya, anak cucu kita mana tahu bisa menikmatinya.

Continue reading “Yang Menarik dari Pendidikan Anak di Belanda (part 2) – Hikmahnya”
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja, Groningen's Corner, Mommy's Abroad, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Menarik dari Pendidikan Anak di Belanda

Saya selalu tertarik memperhatikan budaya dan pola pendidikan di Belanda sejak Runa masuk sekolah Belanda. Ada aja hal yang unik dan baru saya temui. Hal berbeda dari yang dulu saya alami saat di bangku sekolah. Mungkin kalau sekarang di Indonesia pendidikan anak sudah berkembang pesat, jadi pendidikan anak tidak selalu konvensional seperti dulu.

Saya sering ditanya, apa sih yang menarik dari budaya dan pola asuh anak di sekolah Belanda? Di postingan kali ini, saya rangkum hal-hal tersebut biar saya gak bingung lagi nanti jawabnya apa. Ini saya susun random aja urutannya berdasarkan pengalaman Runa dan Senja.

Maatje/buddy

Sejak grup 1, saya sering mendengar kata ini dari Runa dan Senja. Maatje (baca: ma[t]ce) itu maksudnya buddy-nya di sekolah. Anak-anak di kelas biasanya dipasangkan oleh gurunya. Tujuannya biar mereka bisa kerja sama dan saling menjaga. Biasanya maatje ini akan bersama-sama di kegiatan tertentu, misalnya ketika jalan beriringan dari kelas ke lapangan, mereka bisa bergandengan tangan (supaya tertib). Tapi di kelas ya gak selalu terus-terusan dengan maatje-nya. Maatje ini juga akan selalu dirolling, mungkin setiap beberapa pekan atau beberapa bulan sekali. Kalau di Indo mungkin kayak teman sebangku yang ke mana-mana berdua kali ya, hehe.

Sistem maatje ini unik sih menurut saya soalnya membuat anak-anak jadi saling menjaga dan bertanggungjawab atas temannya. Selain itu juga membuat anak jadi lebih semakin mengenal teman-temannya, dengan sistem yang dirolling tadi.

Contoh ketika ber-maatje di ekskursi sekolah ke kebun
Maatje berjalan beriringan saat moving dari kelas ke tempat lain (misal ke lapangan olah raga)
Continue reading “Yang Menarik dari Pendidikan Anak di Belanda”
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja, Groningen's Corner

Avond4Daagse – Groningen (Reitdiep)

Registration of Avond4daagse is now open!

That was the slight message that appeared in the school portal. This message attracted me since I am actually already familiar with the activity. However, we never join this event. And there was corona for two years, and we did not really pay attention to the extra activities outside school.

I thought maybe this would be an excellent chance to join. Without any doubt, I enrolled Runa for 5 km walking in Avond4Daagse, organized by the school in the Reitdiep neighborhood.

So, what is actually Avond4Daagse?
Evening4daagse is an initiative event of Koninklijke Wandelbond Nederland ([KWbN], a sports association in the Netherlands). The mission is to persuade the children as much as possible in walking activity. They move through the neighborhood during the evening time, for 4 days in a row. The idea is not only to promote a healthy lifestyle, but also to make them have an unforgettable ‘walking party’. And this event was passed from generation to generation. Almost every region or city in the Netherlands organizes this activity. Children from 4 years old and older can join, and also parents can participate (especially for small children). Older children can walk by themselves.

Continue reading “Avond4Daagse – Groningen (Reitdiep)”
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja

Pesantren Kilat Venuslaan

#Latepost ini tuh. Tapi sayang kalau gak dituliskan. Siapa tahu bisa jadi inspirasi para orang tua muslim yang tinggal di luar negeri.

Berangkat dari kegelisahan saat Ramadan di rantau, saya menyusun agenda kegiatan khusus untuk anak-anak. Semacam pesantren klat (sanlat) lah. Inginnya ya menampung semua anak Pengajian Anak DeGromiest, dari yang usia 4 tahun ke atas (seusia Senja) sampai yang usia 8 tahun ke atas (seusia Runa). Inginnya lagi kegiatannya full seminggu. Tapi apa daya energi dan waktu terbatas untuk bikin semua agenda. Selama Ramadan tetap harus kerja, anak-anak juga masih sekolah biasa. Jadinya bikin pesantren sesuai kapasitas sendiri.

Target anak: Anak usia di atas 8 tahun, yang sudah bisa mandiri, karena agendanya menginap. Kalau anak-anak usia 4-5 mungkin masih agak insecure kalau dilepas menginap gak ada ortunya. Di Groningen, kebetulan anak yang seumuran Runa (dan perempuan) ada dua orang, Khaida dan Lilan. Saya pun menghubungi mamanya, mengabarkan kalau akan ada Sanlat Venuslaan. Khaida dan Lilan bisa ikut serta, gratis dong. Rencana saya disambut antusias oleh ortu keduanya. Saya pun jadi semakin serius menyusun agenda beneran dong.

Continue reading “Pesantren Kilat Venuslaan”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja, Mommy's Abroad

Ramadan dan Runa tahun ini

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Masih ada kesempatan untuk mengumpulkan bekal-bekal pahala yang bertaburan. Masih ada kesempatan untuk memohon ampun untuk dosa-dosa. Padahal dosa selalu nambah aja tiap tahun.

Ramadan ini dimulai dengan suasana mellow. Ya mellow cuacanya (yang sering hujan angin), ya mellow juga perasannya. Ada perasaan, ya Allah pengen saya tu Ramadan lagi di Indonesia, di Bandung, deket keluarga. Udah 7 tahun ya Ramadan di rantau, ternyata ada rasa sedih-sedihnya kerasa sekarang.

Juga tantangan muncul, sebab Runa sudah semakin besar, udah 9 tahun. Sudah harus semakin mengerti Islam, iman, ibadah-ibadah. Bukan maksudnya ngerti gimana banget, tapi ya, terbiasa, dan tahu bahwa ini adalah agama yang jadi pegangan hidup kita sampai mati, yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Terus gimana menerapkannya value-value itu pada Runa? Gak gampang, asli. Dulu saya merasa, saya belajar memahami Islam seperti let it flow, semuanya sudah ada, semuanya serba mudah. Itu gak berlaku untuk Runa. Juga untuk saya sebagai orang tua.

Continue reading “Ramadan dan Runa tahun ini”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Mawar yang Mekar

“Hari ini Juf bilang kalau Euis (bukan nama asli, ya kalik anak Londo namanya Euis) balik lagi ke grup 4,” kata Runa, saat kami sedang makan malam.

“Eh gimana maksudnya?” saya dan suami yang tadinya asyik mengunyah jadi penasaran dengan cerita Runa.

“Tinggal kelas gitu?” lanjut saya, “Kan belum akhir semester, baru juga setengah jalan.”

Runa sekarang ada di grup 5 (setara kelas 3 SD). Kenaikan kelas di sini ditentukan sekitar bulan Juli, yang ditutup dengan libur musim panas. Bulan November/Desember biasanya memang suka ada evaluasi dari guru dari performa anak dari awal semester.

“Emang Juf bilang di depan kelas gitu, kalau Euis gak lanjut di grup 5? Gak papa emang sama Si Euis-nya?” tanya suami.

Orang tuanya Runa nih,dari kecil dididik dengan sistem sekolah dengan ranking dan dengan paham bahwa nilai adalah segalanya. Kami ada sedikit rasa ga enak pasti, ada perasaan bahwa “tinggal kelas” adalah suatu aib (ya gimana atuh, dari dulu doktrinnya gitu). Kami kan jadi kasihan sama si Euis.

Tapi Juf M dan Runa punya pandangan berbeda. Runa ngerasa biasa aja tuh Euis turun kelas, gak pity her atau merasa itu sesuatu yang buruk.

“Juf cerita tentang bunga mawar. Katanya di sebuah taman yang dipenuhi bunga mawar. Setiap tahun bunga-bunga mawar itu selalu mekar dengan cantik. Tapi tahun ini ada bunga mawar yang tidak mekar, sementara bunga-bunga yang lain sudah bermekaran. Si bunga mawar itu ternyata butuh waktu lebih lama untuk mekar dan jadi cantik, waktunya aja yang beda dengan bunga mawar lainnya.”

Continue reading “Mawar yang Mekar”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Pelajaran dari Sekolah

Menginjak usia 4 tahun, Senja sudah mulai masuk grup 1 basisschool (setara TK A). Jadi di sini waktu pertama masuk sekolah itu ditentukan dari H+1 dari hari lahir si anak.

Anyway saya mau cerita lain sebenarnya, soalnya bertepatan dengan Senja masuk sekolah, pas juga dengan adanya oudergespreek (parents meeting dengan gurunya Runa). 

Biasanya di pertemuan itu, guru akan menjelaskan perkembangan si anak di kelas, pelajaran yang diterima apa aja, interaksi di kelas, gak cuma hard skill, tapi juga soft skill. Tapi di pertemuan kali ini, agak berbeda. Jadi sebaliknya, guru yang akan balik bertanya pada si anak. Kamu suka pelajaran apa di sekolah? Apa yang susah, apa yang gampang? Apa yang menurut kamu perlu lebih dipelajari? Bagaimana perasaanmu selama belajar dan bermain di sekolah? dll.

Hanya ada satu pertanyaan menarik, yang mungkin jarang atau gak pernah ditanyakan  guru ke muridnya? At least saya gak pernah ditanya seperti itu.

“Apa di luar sekolah kamu suka bermain bersama dengan teman-teman kamu (di rumahmu, di rumah temanmu, atau playdate di mana)?”, “Dengan siapa saja kamu bermain?”

Saya tangkap bahwa mereka merasa kehidupan sosial dalam berkawan itu juga sangat penting. Memastikan bahwa si anak punya banyak teman, bisa bergaul dengan baik, dan bisa membawa diri. Sekolah bukan cuma tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga untuk sebanyak-banyaknya

Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, [GJ] – Groningen’s Journal

Puasa Runa

Sepulang sekolah Runa cerita dengan antusias, “Runa denger tadi Sara dan Alma ngobrol sekilas, Sara bilang dia udah disuruh Mamanya untuk full puasa tahun ini.”

Sara dan Alma adalah beberapa teman Runa yang beragama Islam, dari sekian banyak temannya dari berbagai latar belakang berbeda.
Menjelang Ramadan memang kami sudah sounding ke Runa, untuk persiapan shaum, sahur, dan lainnya, dalam kondisi Runa sekolah.

Tahun lalu, kondisinya berbeda, saat lockdown pertama, jadi Runa bisa menjalani puasa full di rumah: Sahur pukul 3, buka puasa pukul 10, masih bisa tidur lama setelah subuh, dan gak khawatir dengan padatnya aktivitas sekolah (karena belajarnya masih di rumah aja).

Tahun ini, Runa akan puasa di sekolah. Kami berpesan, puasanya boleh sebiasanya, Runa tetap dibawakan bekal makan siang dan botol minum. Agak sedih sebenernya kalau puasa sendiri, gak ada temannya. Tentu beda banget dengan kondisi saya dulu dan kondisi anak-anak Indonesia sekarang, dari umur 5 tahun saja sudah pada kuat puasa full. Hampir semua anak di kelas berpuasa, ya masa kita enggak? Meski bermula dari perasaan seperti itu, setidaknya ada bentuk “didikan” tidak langsung dari lingkungan.

Namun, setelah mendengar ada satu temannya saja yang juga akan puasa, Runa semakin semangat juga berpuasa. Padahal cuma satu lho. Alhamdulillah. Semoga tantangan-tantangan ini membuat kami menjadi muslim yang semakin istiqomah.

Aa Gym pernah bilang, saat ditanya gimana dengan kesulitan yg dihadapi supaya kita tetap istiqomah? Katanya, ya bagus ada kesulitan malah. Jangan takut pada kesulitan tapi takutlah pada kemudahan, sebab biasanya orang lebih banyak mengingat Allah ketika dalam kesulitan.

Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Playing with friends is just as important as learning

Kadang saya bertanya-tanya, apa sih yang paling penting dalam tangga edukasi anak di usia TK-SD seperti Runa dan Senja?
Pikiran saya melayang saat saya masih berseragam sekolah dulu. Paradigma yang ada adalah: 1. Pilih sekolah terbaik, 2. Jadi yang terbaik di sekolah. Katanya the better you do at school, the further you’ll go in life and be success. Jadi gak heran kalau di Indonesia orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik dan mendorong anaknya untuk berprestasi. Yang tentunya gak salah juga.

Tetapi, saya baru ngeh saat Runa dan Senja mulai sekolah di Belanda, bahwa it isn’t all about getting A grades or scoring > 80, and getting into the UGD (Universitas Gadjah Duduk). Pendidikan seharusnya memiliki tujuan jauh di atas itu. It’s also about the way of children’s well being and their development as an individual.

Yes, being smart is always good, but being survive (di dunia yang makin menantang ini), yet happy is important. Untuk bisa survive, pintar aja gak cukup. Soft skills dan social skills penting untuk ditanamkan di awal usia sekolah anak: How to make friends, be nice to them, menyelesaikan masalah bersama, bergantian saat bermain, berbagi, menjadi mandiri, be patient, be confident, dll.

Tapi tentu saya gak bisa membandingkan begitu saja edukasi di Indo dan di Londo. Sebab di Londo pendidikan bersifat merata, kaya atau miskin, anak seleb atau petani, Londo tulen atau imigran seperti kami, semua bisa dapat fasilitas sama. Sementara di Indo, orang kalangan ekonomi menengah ke bawah harus berusaha lebih keras untuk mengakses pendidikan yg baik. Belum sampai ke arah development berkelanjutan tadi. Namun semoga akan menuju ke arah yang lebih baik, aamin.

Cerita Runa dan Senja, Journey, Motherhood

Ramadan 1441 Project by Runa

Tahun ini adalah tahun kedua Runa mulai belajar puasa lagi. Qadarullah bertepatan dengan adanya corona. Jadi hikmahnya Runa bisa lebih merasakan hawa Ramadan, bisa mencoba sahur dan puasa lebih panjang. Sebab tahun lalu kan meski mencoba sahur, tapi Runa harus bangun pagi untuk sekolah, takutnya ia masih mengantuk. Lalu di sekolah banyak kegiatan outdoor, olahraga, dll, jadi bagi anak-anak rasa lapar dan haus jadi lebih terasa.

Alhamdulillah tahun ini DeGromiest kinderen punya kegiatan Ramadan, untuk membuat anak-anak lebih semangat menyambut Ramadan dan memiliki kegiatan positif untuk dilakukan bersama keluarga di rumah. Cek IG DeGromiest untuk lengkapnya. H-7 ini kegiatannya adalah membuat Proyek Ramadan dan  Ibadah Tracker untuk anak-anak 6 tahun ke atas. Di sini lengkapnya.

Tahun lalu Runa membuat 30 Days Ramadan Project. Tahun ini pun Runa (saya dan suami) membuat program serupa.

 Tujuannya menjaga antusiasme Runa terhadap bulan Ramadan. Ramadan bulan yang spesial untuk umat Islam, sayangnya semaraknya kurang terasa di Belanda. Jadi kami ingin membuat Ramadan ini begitu berkesan bagi Runa, hingga ia bisa mengingat dan mengamalkannya sampai dewasa. Ramadan pun semakin terasa meriah. Masa kalah dengan perayaan event lain di Belanda, seperti Sinterklaas, Natal, Koningsdag, Paskah, dll.

Jadi inilah Ramadan Runa:

30 days project

Alat dan bahan: Continue reading “Ramadan 1441 Project by Runa”