Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Tough love. Zwaaien naar Mama

“Kom Senja, we gaan zwaaien naar Mama.” (Yuk Senja, kita dadah-dadah ke Bunda). Zizi, staf pengasuh Senja di daycare menggendong Senja sambil mengantar saya sampai pintu kaca kelas Senja. Ia mengajak Senja mengucapkan perpisahan pada saya yang hendak berangkat ke kampus. Selalu seperti seperti itu.

Wajah Senja terlihat happy, seraya melambaikan tangannya lalu kiss bye. Saya jadi merasa tenang melihat Senja baik-baik saja. Insya Allah Senja ada di tangan yang terpercaya.

Memang butuh lebih agak lama untuk Senja bisa beradaptasi seperti di atas. Ketika Senja sudah bisa mengenali mana ayah bundanya, tentu lebih sulit meninggalkannya di daycare. Sebab ia pasti akan menangis ketika ditinggal. Tapi ada satu hal yang menarik dari kebiasaan daycare Senja saat “perpisahan” menitipkan anak.

Sudah pasti anak akan merasa agak insecure ketika ditinggal, wajahnya akan terlihat sedih, bahkan menangis. Namun, bukannya mengalihkan perhatian si anak untuk tidak menangis saat berpisah dengan orang tuanya, pengasuh akan mengajak si anak untuk menghadapi “perpisahan” dengan ceria dan berani. Malah kadang saya yang jadi gak tega.

Mungkin karena sejak dulu sampai punya anak pertama, saya selalu melihat contoh bahwa … ketika ada hal yang tidak disukai atau membuat sedih, kita akan cenderung mengalihkan diri kita dari hal tersebut.
Misal..
“Yuk lihat burung yuk.. eh mana yaa?” Kata pengasuh ketika ada anak yang mau ditinggal mamanya pergi. Mamanya pun mengendap-endap pergi.
“Adek ga suka ngerjain ini ya? Susah ya? Ya udah bikin yang lain aja deh..”

Tough love. Salah satu style parenting orang Londo. Dutch parents are less protective, and worry less as well. Mereka membiarkan anak bersepeda ke sekolah meski hujan turun. Mereka tidak menjadi helicopter-parents. Ketika anak jatuh, mereka tidak serta merta langsung mengangkatnya, jika anak bisa berdiri sendiri ya mereka cukup melihat dari jauh dulu.

Life is already tough. So, children must be taught about resilince and independence. Dalam hidup mungkin banyak hal yang tidak kita sukai, tapi bukan berarti kita harus menghindarinya. Menghadapinya adalah salah satu cara untuk menyelesaikannya.

Runa dan Senja setrong
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Senja, Groningen's Corner

What to Do after Giving Birth in Netherlands (1)

Sudah pasti pasca kelahiran bayi ada banyak hak yang harus diurus. Tetek bengek perihal bayi dari mulai urusan administrasi, kesehatan dan imunisasi, sampai asuransi. Kalau dulu pengalaman saya di anak pertama, lahiran di Indonesia, gak terlalu banyak sih yang diurus. Akte kelahiran? yaa bisa belakangan. KTP? Bayi mah ga perlu KTP. Imunisasi? diurus ke RS yang diinginkan, tapi kitanya yang harus proaktif. Kalau misalnya gak pengen imunisasi ya wes, loss gitu aja. Asuransi? Wah enggak kayanya.

Administrasi Kelahiran Bayi

Berbeda dengan sekarang, ternyata melahirkan di negeri orang banyak juga hal yang harus diurus. Namanya juga pendatang, urusan administrasi tentunya akan lebih panjang. Pertama dari mengurus akta kelahiran (geboorteakte), akhirnya papsor dan verblijf (KTP) untuk si bayi. Tapi ternyata kalau hanya mengurus akte kelahiran sih gampang banget. Di rumah sakit tempat Senja lahir, Martini Ziekenhuis, ternyata ada layanan khusus untuk pencatatan kelahiran bayi. Jadwalnya Senin-Jumat pada jam kerja. Jadi ketika Senja baru lahir, suami langsung ke loket tersebut, hanya bawa paspor dan verblijf ortu, beres deh. Anak juga bisa langsung mendapat BSN (burger service nummer). Ini Bisa diurus maksimal tiga hari setelah kelahiran bayi. Kalau tidak bisa diurus ketika di rumah sakit, bisa juga diurus ke kantor Gementee. Jangan lupa meminta akte kelahiran dengan bahasa internasional juga ya.

Setelah punya akte ini, baru deh bisa urus-urus paspor dan verblijf. Teman saya sudah menuliskan prosesnya dengan lengkap di blognya ini. http://www.amalinaghaisani.com/2017/12/mengurus-pencatatan-kelahiran-anak-di.html

Kebetulan saya dan suami belum sempet terus mengurus paspor ke KBRI di Den Haag Belanda, heu. Maklum Groningen jauuhh.. butuh 3 jam perjalanan ke Den Haag dengan kereta atau mobil. Sementara loket KBRI untuk pelayanan paspor cuma pukul 9-12, heu. Otomatis harus berangkat dari pagi banget kalau mau ke Den Haag.

Akte kelahiran dari Gementee Belanda dan sertifikat kelahiran dari Martini Ziekenhuis

Asuransi

Selanjutnya adalah mengurus asuransi. Yang ini juga simpel, tinggal telepon atau daftar ke website perusahaan asuransi yang dituju. Anak sampai 18 tahun tidak perlu bayar premi lagi, asuransinya sudah sekalian dibayar oleh premi ortunya, Alhamdulillah. Kartu asuransinya pun tak lama datang ke rumah setelah anak didaftarkan Continue reading “What to Do after Giving Birth in Netherlands (1)”

Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Senja

Checklist Babyuitzet

Sebelum bayi lahir, pasti nih ibu-ibu udah mulai hunting perlengkapan baby segala rupa demi menyambut babyborn. Kalau dulu pas lahiran anak pertama saya di Indonesia, list perlengkapan yang saya siapkan gak terlalu banyak. Soalnya banyak yang ngasih kado juga mwahaha.. Kayak stroller, baby box, bouncer, car seat, Alhamdulillah ada yang ngasih kado. Perlengkapan inti lainnya kayak baju, selimut, topi, sarung tangan, itu sudah pasti nyiapin sendiri, di samping ada yang ngasih kado juga. Cuma rasanya gak ada barang yang “wajib” banget harus punya gitu. Soalnya baby box pun malah ujungnya hanya kepake sebentar banget, bayi jadinya tidur sekasur sama emaknya. Stroller juga jaraang banget dipake. Masa iya make stroller kalau cuma nge-mall doang, heu.

Kalau di sini? Ternyata ada list barang inti yang memang harus dimiliki ketika bayi lahir. List-nya sendiri malah sudah diberikan jauh-jauh hari oleh pihak Kraamzorg. Lengkapnya bisa dilihat di sini: Checklist babyuitzet. Sedangkan perlengkapan untuk ibu, seperti pembalut nifas berbagai ukuran, alas tidur untuk jaga-jaga kalau tembus air ketuban/nifasnya, kain kasa dan alkohol untuk membersihkan bekas luka sudah disiapkan dari kraampakket dari asuransi. Continue reading “Checklist Babyuitzet”

Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Menanti Kelahiran Senja (3)

Selasa, 21 November 2017, pagi hari, Martini Ziekenhuis

Pagi itu, setelah saya sudah siuman dan bertemu dengan bayi saya, saya lalu dibawa ke ruang rawat inap. Semua perawat dan petugas medis yang ke ruangan saya selalu bertanya: “How are you doing? How is your feeling?”. Mereka tidak hanya memastikan kondisi si bayi baik-baik saja, tapi juga sangat memperhatikan kondisi si ibu. Soalnya kadang kondisi dan perasaan si ibu setelah melahirkan suka terpinggirkan karena bayi yang jadi fokus utama. Alhamdulillah semua perawatnya baik dan ramah. Kondisi saya masih terbaring di tempat tidur dengan gerak yang terbatas, soalnya di tangan masih terpasang infus dan juga kateter. Tugas utama saya hanya menyusui bayi saja. Perawatlah yang menangani bayi untuk ganti popok dan menidurkannya. Suami juga yang pertama kali diajarkan perawat untuk memegang bayi ganti popok, dll.

Suami menemani saya sampai pukul  10 pagi, ia mau beres-beres rumah dulu dan menjemput Runa di sekolah. Pagi hari tadi Runa tetap ke sekolah. Runa siap-siap di rumah dan diantar ke sekolah dengan bantuan tetangga-tetangga saya yang soleh dan solehah, ada Mbak Atika dan Mas Ris. Runa harusnya pulang sekolah pukul 15.00, tetapi suami ingin menjemput Runa lebih cepat, di waktu jam makan siang, pukul 12. Kami pikir pasti Runa sudah tidak sabar mau ketemu sama adiknya :).

Sorenya, Runa diantar lagi ke rumah oleh Ayahnya. Untung Runa solehah, malamnya dia tidur ditemani lagi oleh Sofa dan Yudi, sementara suami kembali lagi ke RS untuk menemani saya dan bayi. Istirahat saya sangat cukup, saya gak banyak begadang. Kalau bayi nangis, ya ada perawat dan suami yang mengurusnya. Saya cuma mimikin aja.

begini posisi bayi dan ibunya selama di RS. Enak sih, kalau bayi nangis mau nyusu, tinggal diambil dan hap mimik deh

Rabu, 22 November 2017

Continue reading “Menanti Kelahiran Senja (3)”

Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Menanti Kelahiran Senja (2)

Tanggal 24 November 2017 adalah jadwal yang ditetapkan dokter untuk operasi sesar.

Dua minggu sebelum lahiran

Selama ini kami pikir bahwa mau tak mau saya harus melalui proses kelahiran normal, sebab di Belanda angka kelahiran secara normal cukup tinggi. Para profesional kesehatan di sini memang sangat mendorong untuk ibu melahirkan normal. Tapi saya memiliki riwayat komplikasi dan juga kelahiran sc pada kehamilan pertama, jadi ternyata kami bisa memilih untuk melahirkan dengan cara normal atau sc.

Dua minggu sebelum lahiran, keputusan tersebut kami berikan pada obgyn. Obgyn tentunya memberikan preferensi untuk kami untuk melakukan VBAC (vaginal birth after C-section). Tapi tetap keputusan ada di tangan kami. Ia bilang, kalian yang akan menjalaninya, jadi kalian yang lebih tahu kondisinya dan tentu berhak menentukan. Setelah istikharah dan juga diskusi dengan suami, Mama-Papa dan Ibu-Bapak mertua, keputusan kami adalah menjalani sc. Bismillah.. Continue reading “Menanti Kelahiran Senja (2)”

Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Menanti Kelahiran Senja (1)

Setelah hampir dua bulan berlalu, baru saya sempat menuliskan kisah kelahiran puteri kedua saya, Humaira Senja Medina. Eniwei, banyak yang bilang namanya puitis amat, Senja. Berhubung saya bukan orang yang puitis, jadi tahu dong dari siapa ide nama ‘Senja’ ini berasal.. Iya ayahnya lah. Ayahnya memang punya bakat romantis, meski sekarang romantisnya sudah terkikis usia, haha. Dulu aje pas masih baru pedekate en baru nikah kadar romantisnya masih kenceng.

Jadi ceritanya dari dulu Pak Suami memang ingin punya nama anak yang “Indonesia” banget. Tapi gak mau Ani, Tuti, dan Budi, soalnya udah sering dipakai di buku belajar membaca untuk SD, haha. Terus akhirnya nama Senja pun dipilih, ceritanya biar sepasang sama Ayah dan Kakaknya. Suami kan namanya Fajar, kalau Runa itu dari Aruna (Sansekerta) yang artinya pagi. Jadi saling melengkapi lah ya, waktu pagi dan petangnya. Biar makin rajin zikir Al Matsurat pagi dan petang (teu nyambung, tapi aminin aja).

Beberapa minggu sebelum due date, saya sudah mendeklarasikan bahwa saya akan memasuki fase  minggu tenang (kayak ujian akhir nasional aja ya ada minggu tenang segala). Artinya saya lagi gak mau direcokin untuk ini itu. Saya mau lebih konsen merasakan kalau tiba-tiba kontraksi itu tiba. Ingin lebih rileks maksudnya dan lebih tawakal mendekatkan diri pada Allah. Continue reading “Menanti Kelahiran Senja (1)”