review buku, [GJ] – Groningen’s Journal

Pemesanan Buku Groningen Mom’s Journal dan The Power of PhD Mom

Halo para pembaca! Yang belum sempat membeli dan membaca buku Groningen Mom’s Journal dan The Poewer of PhD Mom, berikut informasi pemesanannya ya.

Groningen Mom’s Journal – terbitan Elexmedia, 2018

Bisa menghubungi:

Shopee Samudra Books shopee.co.id/urfaqurrotaainy atau

web www.samudrabooks.id. IG: https://www.instagram.com/samudra.books/

Samudra Book melayani pengiriman ke seluruh Indonesia, ke beberapa negara lain, seperti Malaysia (via Shopee) 😊.

The Power of PhD Mom – terbitan NEApublishing, 2021

Reposted from @neapublishing SUPER MUSLIMAH

Jadi muslimah sekaligus ibu dan istri bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi dan mengejar cita.

@monikaoktora adalah contohnya. Perempuan muda ini melebarkan langkahnya hingga ke Belanda untuk meraih gelar Doktor sembari menjalani perannya sebagai istri dan ibu bagi dua buah hatinya.

Mau tahu Monika sekolah apa di Belanda?

Monika studi PhD (S3) di Clinical Pharmacy and Pharmacology Dept, University Medical Center Groningen (UMCG) di Groningen, Belanda.

Keren kan?

Insya Allah, kisah seru Monika akan hadir dalam buku THE POWER OF PhD MAMA.

Ini buku baru terbitan @neapublishing.
Info pembelian buku bisa kontak admin NEA Publishing di +62-821-2690-8782
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

“Ik vind jouw hoofdoek mooi!”

“Ik vind jouw hoefdoek mooi!”/Jilbabmu bagus!

Di kelas Runa, setiap minggunya ada giliran menjadi ‘kind van de week‘, atau kid of the week. Jadi si anak mendapatkan “perlakuan istimewa” dari guru dan teman-temannya. Apa saja itu? Misalnya si anak boleh duduk di sebelah sang guru saat sesi kringetje (duduk dalam lingkaran), bantu guru mencuci apel untuk dimakan saat istirahat. Kalau di esde saya dulu mungkin bantu hapus papan tulis kali yah, wkwk.. (Semacam piket dong😅).

Tapi yang istimewanya di pekan tsb, anak yang bersangkutan boleh mendapatkan testimoni dari teman-temannya. Guru meminta anak-anak untuk memikirkan dan menuliskan hal baik apa tentang si anak yg menjadi kid of the week. Runa juga pernah mendapatkan kesempatan itu. Suatu kali ia membawa pulang tumpukan kertas berisi tulisan tangan teman-temannya. Runa bilang dia senang banget baca tulisan-tulisan itu, terutama dari Sara, yang bilang “Ik vind jouw hoofdoek mooi” (Kupikir jilbabmu bagus).

Runa memang sering pakai jilbab ke sekolah, kami gak memaksakan, hanya membiasakan. Kalau Runa mau ya bagus.. apalagi pas winter kemarin malah enak pakai jilbab, anget. Kadang Runa juga suka minta pakai jepit rambut atau dikepang dua, ya gakpapa. Setelah, membaca komentar Sara, Runa jadi semangat pakai jilbab ke sekolah, Masya Allah.

Kami belajar banyak hal dari itu:
1. Kami mencoba untuk membuat Runa nyaman dan bangga pada identitasnya sebagai muslimah. Tak disangka, ternyata dari lingkungannya yang heterogen ini, Runa masih bisa mendapatkannya.

2. Banyak hal luar biasa yang terasa kalau kita juga memberikan feedback positif pada anak-anak, salah satunya bisa menumbuhkan rasa pede pada anak. Anak pun belajar untuk memikirkan hal baik mengenai temannya. Saya juga ingin dong jadi ‘kind van de week‘.

3,4,5, dst….

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Sadari, Hal Kecil yang Bisa Berarti Besar.

Ini adalah kisah mengenai seorang Oma di depan jendela

(1)

Sebelum pandemi, biasanya kami mengantar anak-anak ke sekolah naik sepeda. Ketika akhirnya sekolah kembali dibuka, Runa, anak pertema saya, gak lagi bersepeda ke sekolah. Sekolah memang menganjurkan untuk anak-anak yang rumahnya dekat di lingkungan sekolah untuk jalan kaki ke sekolah. Kendaraan hanya diutamakan untuk anak-anak yang rumahnya agak jauh. Hal ini untuk mengurangi gerombolan anak-anak/orang tua yang datang jam masuk dan pulang sekolah.

Kami pun mengantar anak-anak dengan berjalan kaki. Suatu kali, kami berangkat ke sekolah melewati jalan setapak di depan sebuah taman, yang di hadapannya berjajar rumah-rumah mungil. Rumah-rumah Belanda memiliki halaman terbuka dengan tipe jendela yang besar. Jendela tersebut kadang dibiarkan  terawang tanpa ditutup gorden.

Adalah rumah pertama di deretan itu, dihuni seorang Oma yang tinggal seorang diri. Saat melewati rumahnya, kami refleks menengok jendela dapurnya. Sang Oma berdiri di sana, melambaikan tangan sambil tersenyum. Seolah mengucapkan, “Selamat pagi! Selamat menikmati hari ini.” Ternyata ia tidak hanya melakukannya pada kami, tapi pada setiap anak-anak dan ortu yang melewati rumahnya menuju sekolah. Ia seperti sengaja menunggu di depan jendela untuk menyapa orang-orang yang lewat.

Sejak saat itu, kami selalu melewati rute itu untuk bertemu mata dengan sang Oma. Entah mengapa, semangatnya seperti menulari saya. Yang mulanya hari Senin menjadi hari penuh beban untuk memulai pekan, tetapi di pagi itu rasa hati saya menjadi lebih ringan. Hanya karena lambaian tangan dan senyum ramah dari sang Oma.

Oma yang namanya pun kami tak tahu, tapi kami tahu hal kecil yang dilakukannya berarti untuk kami. Ada terselip rasa lapang di tengah kondisi lockdown yang kadang terasa menyesakkan.

One small thing, it’s a good place to start. One small thing leads to more, to the beginning of something big.

Dadah Oma!

(2)

Bagaimana kabar Oma di depan jendela?

Rumah Oma meski mungil, tetapi tertata apik. Di halamannya tampak kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Saat musim semi ke musim panas, rumah Oma sangat cantik dengan berbagai macam kembang dan tanaman menghiasi halamannya.

Suatu waktu ketika kami belanja ke pasar, Pak Suami membeli 4 buket bunga tulip, karena sedang diskon. Ketika kami letakkan tulip-tulip itu di vas berisi air, Masya Allah mekarnya cantik sekali. Suami lalu punya ide, bagaimana kalau nanti kita ke pasar lagi, kita belikan juga bunga tulip ini untuk Si Oma. Sekalian kenalan. Runa pun semangat ingin segera menjalankan ide ini.

Sabtu lalu, kami membeli buket bunga lagi, kali ini untuk Si Oma. Saya dan Runa yang akan memberikannya pada Si Oma (sambil saya latihan ngomong bahasa Belanda, haha).

Sang Oma tampak surprised melihat kami di depan pintu rumahnya. Runa bilang: “We vinden heel lief om u deze bloemen te geven.” (Kami pikir akan baik kalau memberikan bunga untukmu).
Dengan berseri-seri Oma itu menerima buketnya, “Wat lief! Kenapa kamu kasih ini ke saya?”
Runa bilang: “Karena tiap hari Oma dadahin kami sebelum berangkat sekolah, kami jadi semangat.”
Omanya tersenyum lebar, “Saya memang merasa senang menyapa dan ngedadahin orang-orang di depan jendela saya.”

Saya jadi terharu. Kami pun mengobrol singkat. Ia jadi tahu kalau kami orang Indonesia. Ternyata waktu suaminya masih hidup, ia pernah tinggal di deretan rumah kami, sebelum pindah ke rumah mungil itu.

Setelahnya, Runa bilang pada saya, “Runa suka kalau kita kasih suatu ke orang dan orangnya jadi senang.”
Saya setuju, bahwa kebahagiaan itu dirasakan bukan hanya saat kita mendapatkan hadiah, tetapi kita jauh lebih bahagia saat kita bisa memberikan sesuatu pada orang lain.

Bunga tulip oranye dari kami disimpan Oma di meja ruang tengahnya 🙂

Life is Beautiful, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Tak Ternilai, bagi Seorang Penulis

Di suatu hari yang mendung, hujan rintik-rintik, dingin menusuk, saya memulai kembali pagi saya. Masih hari yang sama dengan pekan-pekan lalu, di hari Senin. Selesai anak-anak sarapan, kami memulai aktivitas masing-masing. Rasanya berat sekali memulai hari. Saya mengumpulkan semangat dengan menarik nafas panjang.

Oke, katanya kalau harimu terasa berat, mulailah dengan pekerjaan yang paling ringan, yaitu… buka email. Shallow works lah ya, balesin email dan ngurusin yang belom-belom. Soal kerjaan utama, engg.. bentar deh kalo jarinya udah panas dikit.

Pas saya buka gmail (bukan email kantor), ada satu pesan dari yang gak saya kenal, dengan subyek email: Salam Kenal dari Indonesia.

Ternyata emailnya cukup panjang. Saya baca pelan-pelan, menikmati setiap kalimat yang tertulis. Masya Allah, ternyata email dari orang yang tidak dikenal bisa membuat semangat saya muncul kembali. Apa isinya? Si Penulis ternyata adalah pembaca buku saya, Groningen Mom’s Journal. Dia bilang bahwa waktu itu dia ke toko buku, dan gak sengaja menemukan buku saya di rak. Saat itu ia merasa dalam kondisi down dan gagal, dia tahu itu buruk, tapi dia gak punya alasan untuk bangkit. Kemudian dia membaca buku saya, dan menemukan secercah semangat untuk kembali membangun cita-citanya. Dia bahkan sudah membaca buku saya lima kali!

Sampai situ saya sudah menahan napas, apakah betul tulisan saya bisa memberikan impact besar untuk pembacanya? Sekonyong-konyong hati dialiri rasa hangat. Seperti mendapat hangat matahari di saat Groningen sedang dingin-dinginnya sekarang ini (kan lagi musim dingin).

Lalu saya teruskan lagi membaca. Dia juga mengucapkan terima kaish karena telah berbagi inspirasi dan mimpi. Ada selipan doa supaya selanjutnya saya bisa menelurkan karya yang bermanfaat lagi (Kapaaan? Doanya ya guys, semoga bulan Februari ada kabar dari penerbit untuk PO). Si Pembaca buku saya ini juga membagi sebuah link podcast, yang bisa didengar melalui spotify, yang sedang dia garap. Nama podcast-nya Librarian Syndrome. Ia membedah buku GMJ pada episode pertama podcast-nya.: https://open.spotify.com/episode/7xNmCI9X35eY8jR9od5myC?si=uNmIe0xBTeCj2izHjENqeA

Huwaa… saya terharu sekali. Sampai cirambay kalo bahasa Sunda-nya mah, berkaca-kaca. Saya tidak pernah menyangka kalau ada orang yang bisa mengambil manfaat dari tulisan saya yang sederhana. Saya sadar GMJ adalah buku solo pertama saya, tentunya masih banyak kekurangan yang ada. Saya ingat, tujuan saya menulis buku GMJ saat itu hanya ingin merangkum momen kehidupan saya di sini, dan membaginya dengan orang lain. Khususnya untuk keluarga kami kelak nanti bisa kilas balik kembali ke momen tersebut, umumnya bagi pembaca supaya bisa mengambil hikmahnya.

Ada pembaca-pembaca lain yang juga mengirimi saya pesan di email, instagram, facebook, bahkan bertemu langsung, dengan tema yang sama, merasa bisa mengambil hikmah dari buku saya. Saya rasa, dari seluruh rasa yang saya dapatkan dari menulis, inilah hal yang tidak akan pernah terbeli. Buku boleh jadi memberikan keuntungan materi, atau kebahagian moral tersendiri buat penulis karena berhasil menerbitkan karyanya, tetapi mendapatkan hal seperti ini … mungkin tak bisa dicari di mana-mana.

Hari itu membuat saya bersemangat kembali menulis. Bahwa saya masih punya cita-cita menjadi seorang penulis yang bisa menuai amal jariyah, aamiin. Mungkin dengan keilmuan saya sekarang, sebagai seorang apoteker dan mahasiswa S3, saya merasa sangat dangkal, ilmu saya belum bisa saya bagi kemana-mana. Untuk mengerjakan riset saja saya jatuh bangun. Iya ada manfaat bagi saya tentunya, untuk aktualisasi diri, menambah knowlegde saya sebagai researcher. Tetapi untuk berbagi dan bermanfaat? Lain lagi ceritanya. Tapi setidaknya selama saya menjalani peran saya ini, saya bisa sambil menuangkan cerita yang saya punya agar bisa dibaca orang lain, yang bisa mengambil manfaatnya. Aamiin.

Hatur nuhun para pembaca sekalian! You’re the writer’s hero

Being a Student Mom, Mumbling

Drama bersama si Ibuk

Lockdown fase 2 masih diperpanjang di Belanda. Terhitung dari 18 Desember 2020 sampai 9 Februari. Tadinya saat peraturan pemerintah Belanda sudah mulai longgar (karena kasus covid mulai tertangani dengan baik), anak-anak sudah bisa kembali ke sekolah, full day, begitu juga dengan daycare. Yang masih harus stay di rumah, ya orang tuanya, terutama yang kerjanya bisa dari rumah. Dianjurkan HARUS KERJA DARI RUMAH.

Saya dan suami bisa bekerja dari rumah, sementara anak-anak pergi ke sekolah dan daycare. Meski situasi kerja di rumah kadang tidak se-kondusif di kantor, tetapi kami bersyukur, masih bisa bekerja dengan baik di rumah. Berbagi tugas, mengantar-jemput anak, menemami Runa pulang sekolah, bermain dengan Senja saat Senja gak ke daycare, dan bahu-membahu mengerjakam tugas domestik rumah tangga. Semua berjalan baik.

Sampai ketika lokdon kedua ini ditetapkan, segalanya berubah, situasi di rumah, ritme kerja, dan kondisi anak-anak. Sebab semuanya full harus di rumah. Runa sekolah dari rumah, dikasih tugas-tugas, dan kita juga harus mendampingi kalau Runa nanya. Untunglah Runa lumayan mandiri, dia bisa kerja sendiri, gak banyak merepotkan. Senja nih yang butuh perhatian khusus, namnya juga anak usia 3 tahun ya, mana bisa main sendiri. Awalnya saya berusaha calm down. Tetap bagi-bagi tugas sama suami untuk menjalani hari demi hari. Meski jam kerja masih gak teratur, tapi bersyukurlah semuanya sehat-sehat. Tuntutan kerjaan di kantor pun saya coba urai satu-satu. Sampai saat meeting pekanan dengan si Ibuk Supervisor pekan lalu, saya merasa agak spanneg, apa ya bahasanya, mumet gitu kali ya. You know-lah, tabiatnya si Ibuk udah pernah saya curcolin di sini dan di sini.

Entah sayanya yang memang rungsing dengan sikon kerja yang gak menentu, atau memang si Ibuk juga yang lagi sedikit tegas dengan rules yang ada. Saya merasa si Ibuk agak menekan saya, intinya dia nyebelin plus rewel. Singkatnya, dia itu orangnya kan sangat lurusss pada aturan dan kadang saklek. Dia tuh minta untuk saya menyimpan data dan dokumen penelitian di folder tertentu (yang gak bisa diakses oleh pihak lain dari server kantor). Jadi data penelitian ini tu kan data pasien, jadi harus diperlakukan hati-hati, sesuai protokol yang ada. Walaupun dia agak lebaaay gitulah ngomongnya (mungkin saya yang tendensius). Saya merasa sudah menyimpannya dengan baik. Tapi dia gak puas, sebab harusnya disimpan di A. Sementara folder A itu gak ada, dan bukan salah saya. Continue reading “Drama bersama si Ibuk”

Lifestyle, Mommy's Abroad

Berlari demi Diri Sendiri

Hari itu, pukul 7 malam, saya baru sampai rumah dari kampus. Rasanya saya langsung ingin menyentuh kasur. Habis mandi air anget, makan, nelen parasetamol, salat Isya, trus langsung blas tidur. Pala pusing, badan remuk.

Bukan, saya bukan habis pulang ospek kok, atau bukan habis lembur ngelab, bukan juga habis kerja rodi membangun jalan Anyer-Panarukan. Tapi saya habis tes mata kuliah olahraga, yaitu lari ngelilingin sabuga 6 putaran, 2.4 km lah kira-kira (lintasan terdalam sabuga 400 m). Tes lari emang selalu jadi momok tersendiri buat saya dari SMP dan SMA. Sejak dulu memang selalu ada yang namanya tes lari di mata pelajaran olahraga. Jangan salah, rekor lari saya gak boyot-boyot amatlah. Saya masih bisa ngekor di belakang atlet sekolah sekaligus teman sebangku saya, SasQ. Tapi masalahnya adalah, saya gak pernah menikmati lari. Menurut saya tes lari itu bagaikan beban. Ada target yang harus dikejar untuk mendapatkan nilai bagus. Misalnya waktu kuliah, kita hrus bisa mengejar target lari sekian menit untuk bisa dapat 6 keliling sabuga. Yang paling saya gak suka adalah, efek habis lari bukannya seger tapi badan malah sakit-sakit ditambah sakit kepala. Aneh yak.

Makanya sampai saya udah punya anak, saya tu males olahraga, khususon olahraga lari. Sampai pada akhirnya di suatu titik, saya merasa butuh untuk meningkatkan stamina dengan jalan atau lari. Suami yang mendorong saya untuk memulai training itu, sedikit-sedikit aja. Titik balik itu adalah waktu kami hendak berangkat haji, di tahun 2016. Dari info yang kami dapatkan mengenai ibadah haji, hampir semuanya bilang bahwa dibutuhkan stamina yang kuat untuk bisa melakukan prosesi haji yang termasuk tawaf, sa’i, lempar jumroh, plus perjalanan yang di tempuh di antaranya. Fisik juga harus disiapkan untuk itu.

Baca Persiapan sebelum Haji, Apa Sajakah?

Wah, ini nih yang saya cemaskan. Stamina saya gak begitu kuat sebenarnya. Meski catatan olahraga saya ketika sekolah dan kuliah termasuk bagus, tetapi saya bukan orang yang sporty dan mahir berolahraga. Catatan bagus itu hanya karena saya berusaha lebih keras aja biar dapat nilai bagus. Kalau habis berolahraga, badan saya bukannya segar malah suka pegal-pegal dan kepala saya pusing. Persis kejadian yang saya ceritakan di atas tadi.

Akhirnya, mau gak mau, saya memulai untuk latihan jalan jauh dan lari. Track lari di dekat lingkungan tempat tinggal kami dulu termasuk enak banget. Sangat deso, pemandangan hijau, banyak pepohonan berjajar yang cantik, bisa melihat peternakan, damai-lah rasanya. Jadi saya lumayan termotivasi.

Track lari di Kardinge

Continue reading “Berlari demi Diri Sendiri”

Groningen's Corner, Random Things

Dompet yang Hilang

Kejadiannya pekan lalu. Maunya langsung ditulis biar fresh, tapi ya apa daya molor. Saya bertekad tetap menuliskannya, biar jadi pengingat untuk saya.

Hari Rabu biasanya saya agak lowong, siangnya saya suka mampir ke winkel (pertokoan) untuk membeli bahan-bahan dapur atau lainnya yang stoknya kosong. Kebetulan Rabu tanggal 18 November kemarin saya muter ke beberapa toko di Paddepoel, ada barang yang harus saya beli di toko yang berbeda. Saya menggendong tas ransel, list belanjaan saya cek di hp, sambil menenteng belanjaan. Rasanya puas soalnya sepertinya semua list belanjaan sudah di tangan. Saya pun pulang dengan hati tenang.

Sore dan malamnya saya masih merasa tak ada yang berkurang dari saya. Besoknya saya sudah siap untuk meeting pekanan dengan Ibuk supervisor. Biasanya pukul 18.00 ke atas, saya sudah jarang cek-cek hp, soalnya sudah prime time dengan keluarga. Kadang masih bisa curi-curi lihat pesan whatsapp. Sosmed sudah tidak disentuh sampai anak-anak tidur.

Kamis pagi, biasanya waktu paling riweuh, meeting dilanjut dengan kajian tafsir online dengan RumTa. Waktunya agak berselisihan, jadi konsentrasi saya suka terpecah antara mengerjakan tugas riset dan mendengarkan kajian. Namun Alhamdulillah, meeting berjalan singkat sehingga saya bisa lanjut online di zoom RumTa. Entah mengapa saya suka iseng buka-buka WA dan sosmed pas kajian (heum jangan ditiru yes, ini kebandelan saya. Suka menyimpang dari deep work, *ciyeh baru belajar deep work nih). Kebetulan lagi saya men-cek DM IG saya yang unlisted (bukan dari orang yang saya follow).

Dahi saya berkerenyit, lha sapa nih ada akun dengan nama Londo mengirimi saya DM, tadi malam, pukul 19.00 dan bertanya:

Goedenavond, bent u portemonne verloren? (Selamat malam, apakah dompetmu hilang?)

Saya kira ini orang iseng kali ya, tanpa mikir panjang langsung saya jawab (dengan bahasa Londo juga, sok gaya kali)

Volgens mij niet, hoezo? (Saya kira tidak, kenapa) Continue reading “Dompet yang Hilang”

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Melawan Kebatilan

(postingan yang telat diposting, udah dari pekan-pekan lalu, tapi gakpapalah ya, daripada enggak sama sekali)

Baru-baru ini ada kasus tak menyenangkan terjadi di Prancis. Saya singkat aja ya ceritanya. Jadi ada seorang guru di sekolah menengah atas yang memberikan pelajaran mengenai freedom of expression dengan cara memberi contoh kartun Rasulullah SAW. Kartun atau karikatur tersebut kalau tidak salah merupakan karya dari Charlie Hebdo yang heboh sejak 2006 silam, lalu muncul lagi di tahun 2013. Menurut sang guru, kartun yang menggambarkan sosok paling mulia di bumi adalah salah satu contoh kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Padahal ia tahu ada siswa muslim di kelasnya. Tapi ia tetap melakukannya. Tentu hal tersebut menyinggung sang murid. Lalu berikutnya ternyata sang guru ditemukan terbunuh mengenaskan oleh muridnya tersebut.

Sebuah peristiwa yang sangat miris. Miris karena penghinaan yang dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Miris karena penghinaan tersebut dibalas dengan darah. Setelah itu Perdana Menteri Prancis, Macron, mengeluarkan statement yang membuat umat Islam di Prancis semakin terpojok. Katanya kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sah-sah saja sebagai kebebasan berpendapat. Setelahnya kartun tersebut malah dipajang di beberapa tempat, dengan alasan kebebasan tadi. Umat Islam semakin terpojok dengan adanya isu islamphobia.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim di Eropa khususnya? Yang posisinya dekat dengan Prancis. Saya pun mau gak mau jadi merasa takut juga kalau ada islamophobia yang berujung diskriminasi. 

Tapi sebelum ke sana, pertama kita lihat dulu bagaimana dengan adanya penghinaan tersebut? Apa yang kita rasakan jika ada orang yang menghina Rasulullah SAW?

Continue reading “Melawan Kebatilan”
Being a Student Mom, Just Learning

Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online

Saya mau sharing sedikit pengalaman selama mengikuti kuliah online di masa pandemi ini. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, mayoritas kegiatan perkuliahan di universitas dilangsungkan secara online. Ada juga yang menggunakan metode  hybrid katanya. Semacam kombinasi aa tatap muka juga, ada online-nya juga. Untuk meminimalisasi adanya kerumunan massa, dan juga untuk tetap memfasilitasi kegiatan perkuliahan yang efektif. Yaa.. tau kan gimana tantangannya kuliah melalui layar laptop. Bagaimanapun tatap muka dan pertemuan fisik tidak bisa digantikan dengan tatap virtual. Banyaklah kekurangan dan kesulitannya.                                                     

1. Koneksi

Namanya koneksi suka stabil dan enggak, tergantung rezeki. Namanya juga semua orang lagi wfh, ya bisa aja satu hari koneksi pet pet pet gitu. Video macet, suara ilang-ilang. Gak cuma dari saya aja, kadang dari dosennya, kadang peserta lain. Kalau udah kayak gitu, apa lagi yang bisa dilakukan coba? Emang pas kebetulan aja gak hoki.

2. Komunikasi satu arah

Dosennya kayak ngomong sendiri ke layar gitu. Dia juga merasa desperate sebenarnya. Kayaknya aneh, dan ga ada aktif interaksi. Dia gak bisa melihat apa muridnya memperhatikan apa enggak, mengerti apa enggak. Ya sama, murid juga merasa gitu. Mau nanya ya kagok juga motong omongan dosen pas lagi ngomong. Ada sih pilihan raise hand (tunjuk tangan) kalau mau “nyela” tiba-tiba nanya. Tapi tetep we kagok. Bisa juga nanya lewat kolom chat. Tapi ya ngetik kadang males, atau bingung memformulasikan ke tulisan.

Continue reading “Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online”
Groningen's Corner, School stuff, [GJ] – Groningen’s Journal

The Paranymph

Itu si Monik ngapain ngikut mejeng orang yang lagi defense?

Oh itu daku lagi jadi paranim.

Paranim apaan tu?

Paranymph bisa dibilang sebagai bridesmaid-nya sang PhD Candidate (Promovendus). Sejak zaman dahulu, meraih gelar PhD dianggap sebagai marriage for university. Upacaranya sakral, sebab sang Promovendus diambil janjinya untuk mengemban gelar doktor sesuai dengan the Netherlands Code of Conduct for Scientific Practice.

Role of paranymph apa? Tentunya mendampingi Promovendus sebelum sidang, selama berlangsungnya sidang, dan selama reception. Plus membantu juga arrange mock-defense (trial defense) dengan kolega, distribusi buku thesis, me-list daftar undangan, dan paling penting juga nyiapin kado dan party buat si calon doktor.

Katanya paranim ini kalau bisa orang yang juga punya latar belakang ilmu pengetahuan yang sama dengan bidang PhD yang didampinginya. Jadi kalau-kalau si calon doktor gak bisa jawab, paranim bisa bantu, but that is not often the case. Gak harus orang dari keilmuan yang sama, dan jarang banget paranim bantuin jawab. Kadang Paranim juga diminta Opponent untuk membacakan propositions dari buku thesis Promovendus.

Terus siapa yang biasanya jadi paranim?
Usually one who knows you well, but also someone you can fall back on if necessary, someone you trust. Like family member, a good friend, or colleagues.

It was my first time to be Paranymph of my best friend and colleauge in crime@sofadewialfian. Along with Mbak @afifah_fam, we were honored to accept the task. Barakallahufiik Doktor Sofa, semoga ilmunya berkah dunia akhirat, aamiin.

📸 @fbprasetyo
#phd #phddefense #studentlife #promovendus #paranymph #bridesmaid #TheNetherlands #Groningen

Menemani Promovendus sebelum masuk ke ruang defense
Ruangan ini khusus untuk Promovendus, keluarga dan rekan-rekannya menunggu sebelum masuk ke ruang defense, dan saat menunggu sebelum penyematan gelar doktoral
Beriringan dipandu oleh Bedel
Memberi hormat pada komite penguji (opponent) dan promotor
Duduk di barisan paling depan, siap sedia jika Promovendus membutuhkan bantuan