Groningen's Corner, School stuff, [GJ] – Groningen’s Journal

The Paranymph

Itu si Monik ngapain ngikut mejeng orang yang lagi defense?

Oh itu daku lagi jadi paranim.

Paranim apaan tu?

Paranymph bisa dibilang sebagai bridesmaid-nya sang PhD Candidate (Promovendus). Sejak zaman dahulu, meraih gelar PhD dianggap sebagai marriage for university. Upacaranya sakral, sebab sang Promovendus diambil janjinya untuk mengemban gelar doktor sesuai dengan the Netherlands Code of Conduct for Scientific Practice.

Role of paranymph apa? Tentunya mendampingi Promovendus sebelum sidang, selama berlangsungnya sidang, dan selama reception. Plus membantu juga arrange mock-defense (trial defense) dengan kolega, distribusi buku thesis, me-list daftar undangan, dan paling penting juga nyiapin kado dan party buat si calon doktor.

Katanya paranim ini kalau bisa orang yang juga punya latar belakang ilmu pengetahuan yang sama dengan bidang PhD yang didampinginya. Jadi kalau-kalau si calon doktor gak bisa jawab, paranim bisa bantu, but that is not often the case. Gak harus orang dari keilmuan yang sama, dan jarang banget paranim bantuin jawab. Kadang Paranim juga diminta Opponent untuk membacakan propositions dari buku thesis Promovendus.

Terus siapa yang biasanya jadi paranim?
Usually one who knows you well, but also someone you can fall back on if necessary, someone you trust. Like family member, a good friend, or colleagues.

It was my first time to be Paranymph of my best friend and colleauge in crime@sofadewialfian. Along with Mbak @afifah_fam, we were honored to accept the task. Barakallahufiik Doktor Sofa, semoga ilmunya berkah dunia akhirat, aamiin.

📸 @fbprasetyo
#phd #phddefense #studentlife #promovendus #paranymph #bridesmaid #TheNetherlands #Groningen

Menemani Promovendus sebelum masuk ke ruang defense
Ruangan ini khusus untuk Promovendus, keluarga dan rekan-rekannya menunggu sebelum masuk ke ruang defense, dan saat menunggu sebelum penyematan gelar doktoral
Beriringan dipandu oleh Bedel
Memberi hormat pada komite penguji (opponent) dan promotor
Duduk di barisan paling depan, siap sedia jika Promovendus membutuhkan bantuan

 

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents (2)

Suatu kali si Mama cerita, katanya ada anak temannya yang juga di kuliah di Groningen. Teman Mama ini teman sepermainan dulu waktu di Padang. Jadi masih sesama urang awak. Mama bilang kenal gak sama si (sebut saja) Anggrek, anaknya Om (sebut saja) Jati? Saya bilang, kayaknya gak kenal sih, mungkin pernah ketemu, tapi gak pernah mengobrol atau gimana. Maklum kan ya orang Indonesia dan mahasiswa di Groningen ini banyak. Jadi gak selalu setiap sesama orang Indonesia kenal. Apalagi kalau mahasiswa-mahasiswa S1 atau S2 yang “gaul”, udah pasti daku gak masuk lingkaran pergaulan tersebut, haha. Maklum ye, dari dulu mah daku anak cupu.

Intinya Mama dan temannya ini berkomunikasi, ya kali aja sesama anaknya itu di Groningen saling kenal, jadi bisa saling silaturahmi. Namanya orang tua mungkin merasa lega kalau anaknya itu mengenal orang yang dikenal orang tuanya (eh gimana sih, pokoknya gitu).

Tapi memang saya dan Anggrek gak berkomunikasi, seperti yang diharapkan oleh orang tua kami. Ya gimana, gak mungkin juga saya mencari-cari si Anggrek ke mana, dan nanya-nanya. Dia pasti udah besar juga, dan kalau gak merasa butuh orang Indonesia untuk bergaul pasti gak akan nyari juga. Continue reading “Call Your Parents (2)”

Being a Student Mom, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Paling Dirindukan

Setelah berbulan-bulan ga ke kampus, akhirnya saya berkesempatan juga ngampus lagi. Sekalian ngambil barang yang diperlukan sih. Tapi kan udah di sana mah ya gawe lah sekalian. Kayaknya terakhir ke kampus itu habis lebaran, tapi lupa kapan juga. Sekarang udah boleh ke kampus sekali seminggu, dengan aturan dalam ruangan saya, max cuma boleh 3 orang (seruangan ada 6).

Saya ke kampus dengan bersepeda. Biasalah, kendaraan rakyat, siapa saja punya. Sampai di kampus memang cuma ada saya temui segelintir orang. Salah satunya kawan seruangan saya, seorang post-doc dari Venezuela. Dia termasuk baru di departemen, baru bergabung bulan Juli.

Ternyata saya cukup menikmati space saya di kampus, di office, di room saya. Bisa mengakses kembali desktop tanpa repot harus connect ke sistem citrix, tanpa harus ribet ada waktu diskonek. Saya bisa dengan leluasa bekerja dengan layar yang cukup besar dan internet yang kencang (yah di rumah juga kenceng sih). Padahal saya pikir sebelumnya saya sangat menikmati work from home (wfh) dan mungkin gak ingin balik lagi ngantor.

Ternyata saya juga cukup menikmati interaksi dengan kolega saya, meski saya baru berkenalan dengannya. Ada rasa-rasa kalau saya menikmati percakapan dengan orang baru, tanpa canggung. Dengan bahasa Inggris percakapan yang sudah lama tidak saya pakai. Padahal saya pikir sebelumnya saya gak kehilangan tuh interaksi dengan kolega, haha.. maaf rada ansos.

Ternyata saya juga cukup menikmati kopi dari mesin kopi di departemen. Yang kata orang bilang kopinya rasanya gak enak. Saya memang bukan penikmat kopi sejati, yang tahu kopi mana yang enak dan yang gak enak. Asal bisa memberikan rasa pahit-pahit manis aja udah cukup, dan bikin adrenalin saya cukup terpacu ketika bekerja.

Dan ternyata lebih dari itu, ada hal yang sangat saya rindukan selama hampir 6 bulan wfh ini.

My desk. Standar ketika kerja, ada kopi, ada air putih (itu botol minum lucu dari Kamel, lhoo.. hihi seneng banget ketemu si botol lagi), kertas biasanya berserakan, catatan, pulpen, note, sticky notes.

My room @ UMCG. Empty office

Yang ternyata saya rindukan bukanlah suasana kerja, bukan kolega, bukan space di kantor, tetapi rutinitas naik sepeda ketika pulang dan pergi ke kampus. Waktu-waktu saya di sepeda ternyata begitu berharga. Saya kehilangan hal tersebut.

Ketika di sepeda, biasanya pikiran saya bebas berkelana ke mana saja. Di waktu pulang ke rumah saya kadang memikirkan to do list di rumah, termasuk mikirin mau masak apa nanti kalau sudah sampai rumah. Kadang saya juga merenungkan pembicaraan saya dengan si Ibuk Supervisor setelah meeting. Sementara di waktu berangkat ke kampus biasanya saya memikirkan kerjaan di kantor, eh paper mana yang harus dibaca, manuskrip ini nanti mau ditulis gimana, dst.  Kadang saya juga menyiapkan sedikit kalimat yang akan saya lontarkan sebelum meeting dengan si Ibuk nanti. Pikiran saya sepertinya sangat produktif. Sehingga saat sampai di kantor, saya tahu mau apa, dan ketika sampai ke rumah saya juga tahu mau ngapain. Walaupun sampai rumah biasanya perut keroncongan. Selain itu kadang saya juga memikirkan ide tulisan, naskah, dll.. sehingga lahirnya ide-ide juga tak lepas dari momen nyepeda.

Atau kebiasaan lainnya. Biasanya saya memutar playlist di hp saya, yang lagu-lagunya tidak pernah di-update. Saya gak mengikuti perkembangan musik sih, jadi di playlist ya lagunya itu-itu aja. Dan saya tidak pernah merasa bosan, meski ketinggalan zaman. Kalau lagi soleh, biasanya saya memutar murottal, sekalian menghapal, diulang-ulang terus aja beberapa ayat. Kalau lagi ingin siraman kalbu, saya memutar spotify-nya Ustadz Nouman Ali Khan, Adi Hidayat, atau Abdul Somad.

Momen berada di atas sepeda yang hanya berkisar 15 menit menjadi momen berharga bagi saya. Momen komtemplasi yang hanya ada saya dan pikiran saya yang berbicara. Dan itulah yang ternyata saya paling rindukan. Momen rutinitas bersepeda ke kampus.

Bersepeda di Groningen. Sepeda saya, sepeda suami, dan sepeda Runa.

Sepeda kesayanganku. Saya baru ganti sepeda 2x selama di Groningen. Sepeda pertama saya Gazzelle hijau, yang sudah sempoyongan rodanya. Sepeda kedua saya ini hadiah dari suami biar saya semangat menyelesaikan PhD hihi.. Gazelle juga tapi seri Esprit, dengan warna tosca lembut, yang saya bangettss.

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents

“You call your parents everyday?”

“Yes, almost everyday, in irregular times. Sometimes in the morning, so in Indonesia it’s already afternoon.”

“Really? And you talk about …?”

“Anything, well, we can talk about everything. Not in really serious way. Sometimes just what did you do today? What did you cook today? Just simply daily conversation. It isn’t common?”

Jadi waktu ketemu lagi sama teman-teman di kampus, kan kita ngobrol gimana kabar-kabarnya nih selama pandemi, apa ada yang berubah? Ya tentu banyak yang berubah, ritme kerja, jadwal sehari-hari, intensitas komunikasi dengan keluarga (baik keluarga yang di sini atau yang di kampung halaman), dst. Ada teman yang jadi mengagendakan telepon/video call khusus dengan keluarganya, ada yang mamanya jadi lebih sering menelepon nanya kabar, dan ada juga yang biasa aja gak berubah karena biasanya emang jarang telepon/video call.

Kalau saya ya … hubungam dengan keluarga di Indo bisa dibilang gak terlalu banyak berubah. Sebab sebelum pandemi pun saya dan keluarga di Indonesia memang sering teleponan dan video call. Mama kan ibu rumah tangga, jadi gak punya jadwal khusus untuk kerja. Mama biasanya nelepon saya jam berapa aja selowongnya dia. Kalau saya biasanya nelepon Mama di pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, atau malah sore pas pulang. Waktu wiken pasti jadi agenda menelepon yang agak panjang durasinya, kan kita bisanya juga santai. Kalau dengan keluarga suami (mertua), karena bapak dan ibu bekerja, jadi biasanya teleponan dan vid call lebih banyak dilakukan di saat wiken.

Pas pandemi, intensitas menelepon jadi lebih meningkat, soalnya sama-sama di rumah kan kita semua. Jadi bisa nelpon kapan aja. Biasanya ya kami pagi/siang di sana siang/sore (summer time bedanya 6 jam, Indonesia lebih duluan).

Continue reading “Call Your Parents”

Mommy's Abroad

“Hallo, Bandoeng!”

Dikirimi video berjudul “Hallo, Bandoeng” sama Bapak mertua. Videonya berisi video kilasan Bandung tempo doeloe, dengan lirik berbahasa Belanda. Bapak bilang, coba tanyain sama Runa ini lagunya tentang apa. Jadilah kami pun penasaran lirik dan lagunya tentang apa. Digoogling dan dapatlah.

Tadinya cuma baca dari Wikipedia aja, terus dari lirik berbahasa Belanda tersebut, saya udah bisa agak mengerti artinya. Meski bahasa Belendong eike ngap-ngapan, ye kan? Tapi gapapa sambil belajar. Terus udah feeling nih kayanya ini lagu berbau-bau bawang (maksudnya seudih dan mengundang air mata).

Beneran pas buka youtube yang udah ada arti lirik berbahasa Indonesianya, itu mah air mata langsung mendesak-desak keluar semua. Ngebayangin orang tua, ngebayangin anak, dan tentunya tanah air.

Monggo disimak di link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=dT-WFYKhFlI&feature=youtu.be

Lagu itu berlatar tahun 1920an. Ketika orang Belanda banyak yang ke tanah air (mari kita skip bagian penjajahannya. Itu mah memang sejarah kelam yang bikin sedih/kesel). Lagunya bercerita mengenai kerinduan seorang ibu yang sudah tua, pada anak lelakinya yang tinggal di Bandung. Ia menghabiskan uang tabungannya untuk bisa menelepon ke Indonesia melalui sambungan radio di kantor telegraf. Bukan Telegram di zaman mari yaa.. yang ada di ponsel pintar Anda. Jadi si anak entah tinggal di Bandung udah berapa lama. Dia menikah dengan wanita Indonesia, dan udah punya anak-anak. Anaknya bilang kalau setiap hari mereka selalu membicarakan sang Ibu, bersama anak-anaknya. Si anak-anaknya ini belum pernah ketemu Omanya, cuma melihat dari foto aja. Kabayang kaaan.. udah mah zaman baheula gak bisa nelepon tiap saat, mau kirim surat nyampenya seabad, mau pulang-pergi Indo-Belanda juga kudu pake kapal laut berbulan-bulan. Kangennya si Ibu dan Anak ini udah kayak apa.

Ini link Wikipedianya: https://en.wikipedia.org/wiki/Hallo_Bandoeng

Bercucuran air matalah si daku cengeng ini. Posisinya kebalik aja, kita yang di Belendong, ortu yang di Bandung. Terus Suami jadi pingin ikutan berdendang. Akhirnya dia nyanyi dan bikin kolase foto-foto yang ada Ibunya. Eike mo ikut nyanyi kan apa daya ya suara mencar-mencar kek kelereng disebar, hihi. Biarin aja suami nyanyi sendiri, dia pan emang ada sedikit bakatlah ya. Jadilah seperti ini https://www.youtube.com/watch?v=ZT0mKoQD2qs&feature=youtu.be

Tentu sukses bikin Ibu jadi termehek-mehek. Bapak juga. Mamaku juga. Wah beneran ni ratjun juga, bikin semua jadi pada mewek. Hal ini jadi penawar racun yang bisa mengobati kangen. Si aku karena bukan tipe anak romantis (tidak seperti suami dan ibunya), gak bisa tuh berehek-ehek sama si Mama membahas betapa kangen dan berterima kasihnya daku sebagai anak. Nanti deh mungkin kalau ada kesempatan eike nyenyong bole juga.

“Hallo, Bandoeng … Ja moeder hier ben ik …

 

 

Mommy's Abroad

“Dirijek, dirijek, dirijek aja”

Beberapa pekan lalu saya mengerjakan review manuskrip yang disupervisi oleh supevisor saya. Jadi dalam hal ini saya bertindak selaku reviewer yang diamanahi sebuah jurnal untuk mengecek “kepantasan” suatu manuskrip untuk layak terbit atau tidak. Jurnal tersebut lumayan ternama, masih Q1 di area medicine, edpidemiology, dan pharmacology.

Merupakan pengalaman yang menarik, sebab saya harus mengkritisi isi paper tersebut. Biasanya kan saya, sebagai PhD student, yang selalu kena kritik. Tentu ketajaman saya mengkritik masih selow, dibandingkan dengan si Ibuk supervisor. Dia bisa melihat dari sisi depan-belakang-kiri-kanan kekurangan dan kelebihan paper tersebut. Di beberapa tempat, si Ibuk juga sepakat pada poin-poin strong and weakness poin yang saya tuliskan di review. Sebagai reviewer, kita hanya berhak memberikan penilaian, tapi pertimbangan untuk rejection dan acceptance itu dari pihak editor jurnal. Jadi ya serah editornya. Editor akan menimbang dari kesimpulan major and minor concern dari beberapa reviewer yang dia tunjuk.

Baru kemarin ternyata saya diforwardkan email dari editor tersebut, bahwa paper tersebut bernasib malang. Ah sayang sekali paper tersebut kena reject. Padahal saya sangat mengapresiasi kerja keras authors dalam menuangkan risetnya ke paper tersebut. Saya membayangkan juga bagaimana dia bisa menghasilkan paper tersebut dengan banyak results, figures, dan tables. Pasti sang PhD tersebut pontang-panting menyelesaikannya (ngaca sendiri). Selain daripada dia juga menyitasi paper saya, ehem.. saya sebenarnya berharap papernya di-accept oleh jurnal tersebut. Menurut pandangan editor, dari dua reviewers, kesimpulannya ada major points yang harus diselesaikan dan nampaknya untuk sekarang mereka menolak dulu. Continue reading ““Dirijek, dirijek, dirijek aja””

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

27 April – Koningsdag, Ulang tahun Raja Belanda.⁣

Kalau Raja Belanda ulang tahun, rakyatnya libur. Bahkan jadi libur nasional se-Belanda. Biasanya kami sangat antusias menyambut ultahnya Raja, sebab banyak event menarik di hari itu.⁣

Ya sebenarnya kami bukan rakyatnya sih, tapi tetep ikutan libur dan merasakan kemeriahan peringatan hari lahir Raja King Willem-Alexander. Kalau Raja/Ratunya berganti, perayaannya juga bergeser lho. Dulu, hari libur nasional ini ada di tanggal 31 Agustus, yaitu hari lahir Queen Wilhelmina. Pernah juga tgl 30 April (Queen Juliana). Sementara Queen Beatrix yang lahir di bulan Januari ternyata tetap ingin merayakan Queen’s Day (Koninginnedag) di tanggal yang sama dengan ibunya, Queen Juliana. ⁣

Kota-kota di Belanda pasti merayakan Koningsdag ini. Setiap sudut kota akan dipenuhi nuansa oranye dan bendera Belanda. Orang-orang akan beramai-ramai memakai baju dan atribut oranye. Di pusat kota akan dibuka vrijmarket (flea market). Di mana setiap orang boleh berjualan apa saja, biasanya sih barang-barang second. Ada mainan anak, baju, jaket, sepatu, peralatan dapur, buku, barang antik, dll. Di sepanjang jalan juga akan ditemukan performance musik, kayak ngamen gitu. Belum lagi ditambah konser di lapangan pusat kota.⁣

Tahun ini Koningsdag sepi-sepi aja. Biasanya Raja akan mengunjungi salah satu kota di Belanda untuk berpawai dan berpidato. Groningen kebagian kunjungan Raja di tahun 2018. Namun, tahun ini visit Raja yang direncanakan ke Maastricht harus dibatalkan karena kondisi pandemik.⁣

Oiya yang bikin seru pas Koningsdag adalah beberapa Mamak Groningen pernah ikutan buka lapak di flea marketnya. Ternyata perjuangan lho, soalnya dari jam 7 pagi sudah harus standby, berebut cari lapak kosong. Terus harus sabar menunggu dagangan. Belum lagi kalau lapar dan kebelet pipis, hmm.. harus cari cara untuk mengatasinya.⁣

Yang pasti 27 April selalu jadi hari seru buat kami. Kalau kamu, apa pengalaman tak terlupakan dalam merayakan ultah Raja ini?⁣

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus

On Monday 6th 2020, Dutch government has released new measure against this pandemic situation. Several of the restriction will be reduced start on May 11th 2020.

It seems that we can feel the air of little freedom. The coronavirus is now under control, the number is still high, but the case reduces per day. I did not know the exact number, to be honest. I am not the one of people who always update with the news. All the information I knew was from my husband, who always keep update with the news, and that is enough for me.

However, the government still emphasize that we have to remain follow the basic rule, it is important!

Schools

Primary schools, including special primary schools, and daycare providers will reopen on 11 May

Runa is so excited about this! She said that she can’t wait to meet again her friends, and do activities at school. Although, everything will not be the same. There are several rules set up by the school. A long list of rules:

All the classes are divided into two small groups. Every day there are two blocks in which the same lessons are given. The morning shift 8:30 am – 10:45 am and the afternoon shift 11:45 am – 2:00 pm. In between of the shift, the school will be cleaned. Runa is in the afternoon shift, which we thought is an advantage, since Runa does sahur and fasting. The duration of fasting in here is quite long, around 17 hours. In this lock down situation, Runa did very well with her first shaum, she can complete several days for full shaum! Barakallahufiik, anak solehah. Continue reading “Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Celengan Kebaikan – #RamadanBerkarya

Waktu tahu ada #ResepKarya ini di #RamadanBerkarya bersama DeGromiest Kinderen, Runa langsung semangat ingin bikin-bikin sesuatu. Tapi Runa pinginnya Senja juga ikutan. Jadilah kami bikin dua celengan kaca. Runa yang punya idenya, Senja yang ikutan menghias dan bikin hebohnya, hihi..

Celengan ini nanti akan diisi koin-koin bergambar Elsa dan Anna. Maklumlah ya anak-anak cewe. Tokoh princess yang terdiri dari kakak-adik👸🏻👸🏼 ya Frozen ini. Bunda mencetak gambar Elsa dan Anna yang Runa dan Senja suka. Setelah itu Runa yang menggunting bulatan koin Elsa untuknya. Sementara Bunda yang menggunting bulatan koin Anna untuk Senja.

Celengannya terbuat dari toples kaca bekas saus pasta yang dicat. Runa memilih warna biru dan Senja memilih warna merah. Mencat-nya sih sebentar, tapi belepotannya lumayan juga. Celengannya ditutup (tapi gak ditutup permanen) dan diberi nama masing-masing anak.

Bagaimana cara mendapatkan koin?
Koin-koin ini bisa didapatkan kalau Runa dan Senja berbuat baik. Runa pun menyusun apa saja list kebaikan yang kira-kira bisa ditukarkan dengan koin. Tapi tentunya bukan perbuatan baik yang sudah jadi kebiasaan, seperti salat dan mengaji. Harus berupa kebaikan yang kadang dikerjakan kadang tidak, misalnya membantu Bunda memasak, membacakan buku buat Senja, dll.

Tantangannya adalah: Koin-koin yang sudah dimasukkan ke dalam celengan bisa diambil lagi, kalauuu… Runa dan Senja melakukan perbuatan kurang baik, contohnya kalau dua bersaudara ini berantem. Ternyata cukup ampuh juga bikin Runa jadi bersabar.
List untuk Senja? Tentu saja dibuatkan kakaknya. Senjanya tinggal terima jadi. Runa yang bagian jadi polisi, mengingatkan Bunda kalau Senja boleh ditambahkan atau dikurangi koinnya.

Yang menarik adalah dalam penyusunan list ini adalah proses diskusinya. Kami membiarkan Runa mengusulkan setiap perbuatan baik dan kurang baik. Kalau kami setuju, Runa akan menuliskannya. Setiap perbuatan baik dan kurang baik memiliki nilai koin sendiri-sendiri, sesuai yang kami sepakati. Dalam hal ini terjadi tawar-menawar yang cukup ketat antara Runa dan ayah-bunda, disertai argumen yang mendukung opini masing-masing pihak, haha.

1 koin setara dengan 1 euro💰. Jumlah koin akan dihitung di akhir bulan Ramadan. Akan diuangkan untuk disedekahkan kemudian. Untuk Runa dan Senja, hadiahnya🎁 tentu bukan berupa uang dong. Ada deh, kejutan buat nanti!

Celengan kebaikan ala Runa dan Senja

Behind the scenes

List kebaikan yang disusun Runa

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Mamak van Groningen

Gak sengaja akhirnya lahir juga perkumpulan IG Mamak van Groningen. Monggo difollow

Foto dan caption pertama – kedua, Mamak ini yang bikin. Dishare di sini yaa..

Mamak van Groningen

Perpaduan antara sapaan ibu yang Indonesia banget (Mamak) dan kata penunjukkan asal yang Belanda banget (van, terjemahan: dari). Menunjukkan bahwa kami adalah ibu-ibu dari Groningen.
Maksudnya kami pernah mencicipi tinggal di Groningen, hidup di Groningen, atau masih berdomisili di Groningen sampai saat ini.
Persamaan kami adalah, kami begitu terikat pada magnet Groningen.

Mulanya, begitu mencicipi hawa kulkas Groningen, kami berjengit kedinginan. Begitu merasakan jauhnya Groningen dari kota-kota lain di Belanda, kami mengeluh sampai bosan. Begitu menyadari monotonnya Groningen, kami berbisik ingin perubahan.

Lambat laun, ternyata kami terhanyut dalam denyut Groningen.
Ikut terpaut pada kotanya yang bersahaja.
Berteman dengan tiap sisi dan sudutnya dengan bersepeda dan berjalan kaki.
Merasakan makna dari kekeluargaan dan persahabatan yang ditawarkan.

Berbagai alasan membawa kami bertolak dari tanah air ke tanah datar ini.
Berbeda tujuan bukan berarti membuat kami berjarak.
Ternyata malah membuat kami berkelindan dalam lipatan waktu.
Hanya Martini Toren, ikon Groningen, yang cukup jadi saksi, perjalanan kami selama di sini.

Kreasi. Resep. Cerita. Curhat. Traveling. Aktivitas. Studi. Kenangan. Ilustrasi. Akan ditemukan di sini. Enjoy! Selamat menikmati! Geniet er van!
.
.
Logo illustrated by: @thecrafterhours

Mamak van Groningen

=========

Diorama Musim Semi

Tahun ini Ramadan menyapa di musim semi.
Mekarnya bunga, terbangnya serbuk sari, bercampur aroma pupuk ikut menghiasi pergantian hari.
Groningen di musim semi masih sama.
Angin sepoi dengan mentari yang seirama.

Berkah Ramadan tidak berkurang.
Musim semi di Groningen masih berulang.
Hanya situasinya saja yang berbeda sekarang.
Tak apa, kami tak gamang.
Kami ada dengan semangat membentang.

Meski tangan kami tak saling menggenggam.
Meski bibir tak bisa saling mengucap salam.
Tapi hati-hati kami terpaut dalam doa yang tersulam.
Sebab doa terbaik adalah saat sahabatmu bermunajat untukmu dalam diam.

Salam dari kami yang saling merindukan,
Mamak van Groningen