Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

Kontras

Friday drinks after work?”

Ajakan rutin di grup whatsapp kantor mendekati jam 5 sore.

Ya keles ikutan drinks, Jumat sebelom jam 5 aja eike dah di rumah.

Mungkin di saat kolega-kolega saya melepaskan penat setelah bekerja dengan kongkow di bar, saya sedang melepaskan penat saya dengan nonton kartun Netflix bersama keluarga, atau bahkan sudah kruntelan di kasur.

Sabtu paginya, mungkin di saat mereka masih bobo habis hangout semalam, saya malah sudah nongkrong syantik di IKEA untuk sarapan pagi atau bahkan sudah siap-siap pergi belanja mingguan, muter dari Oriental (toko Asia), Nazar (Toko daging halal), supermarket, atau ke pasar.

Banyak kontras yang saya hadapi di lingkungan kerja saya sebagai PhDmama. Saya sadar, saya sangat berbeda. Bukan hanya dari kultur, latar belakang, kepercayaan, tapi juga dari segi situasi kondisi harian.

Dari penampilan saja saya sudah terlihat berbeda. Belum lagi soal “menghilang” di jam-jam salat, tidak makan/minum di musim panas alias puasa Ramadan (yang mereka anggap sangat berat), dan tidak pernah ikut Friday drinks after work.

Dari sisi sikon: kalau kolega saya biasanya masih stay di atas jam 5 sore jika ada deadline, saya mah kalau bisa jam 5 kurang udah siap pulang (apapun kondisinya), biar bisa cepat-cepat jemput anak-anak. Kalau ada jadwal sekolah anak libur, saya juga ikut libur. Jika terpaksa ngantor ya harus cari akal gantian jadwal sama suami, bahkan minta bantuan sahabat kami untuk “menitip” Runa. Lalu ada juga saat-saat genting, pas sedang sibuk di kampus, tiba-tiba dapat telepon dari daycare: “Senja kayaknya kurang enak badan, mungkin lebih baik dijemput lebih cepat”. Mau gak mau ya tutup semua kerjaan dan cus pulang.

Sometimes being minority feels quite difficult. Menjadi berbeda membuat saya sedikit berkecil hati dan merasa terasing. Tapi teringat salah satu ceramah Ust. NAK menjadi kontras di antara mayoritas bukan berarti sesuatu yang salah. Islam pun datang dari keadaan yang asing dan akan kembali menjadi asing (HR. Muslim), berbahagialah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran.

Hal itu sangat menghibur saya. Paling tidak, saya tidak segan menunjukkan identitas saya sebagai muslimah dan seorang ibu. I’m adapting, but I’m not trying to fit in such community, I’m just enough to have my family and Allah by my side, Insya Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakil.

*kali2 emak curcol gapapa yes.. biar variatif ga ngomongin anak mulu, hehe

Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

My 1-year Assessment as a PhD

Bismillahirrahimaanirrahim..

Harus banget ini nulis, sebelum saya sibuk (sok banget) dan lupa sama apa yang mau ditulis. Sebab, tulisan yang jujur adalah ketika kita sedang on untuk curhat, mwahaha.

Enggak sih, sebenarnya saya juga kangen nulis pakai bahasa kalbu dan bahasa Indonesia (sok banget banyakan nulis pakai bahasa enggres ya kamu Mon?). Bukannya mau, tapi tuntutan profesi, gemana lagi dong, padahal Enggres aku juga cemen sebenernya.

Jadi bulan Maret ini saya resmi sudah menjalani PhD mom selama satu tahun. Mulai dari yang cuma masuk dua hari, lalu dua setengah hari, tiga hari, sampai tiga setengah hari. Gak usah dibayangin gimana saya bisa menyusun jadwalnya deh, di sela-sela mengurus keluarga dan rumah. Menjelang satu tahun assessment go or no go saya ga berhenti berdoa sama Allah. Ya Allah moga yang ini berlangsung lancar, ga separah assessment 6 bulan saya dulu. Satu lagi saya berharap semoga paper saya yang sedang on process di salah satu jurnal bisa accepted. Supaya paling engga ada nilai plus dalam penilaian nanti. Allah Maha Kuasa, dengan pertolonganNya-lah, tiba-tiba 3 hari sebelum hari assessment, saya menerima email yang menggembirakan:

Paper pertama saya akhirnya accepted di salah satu journal Q1

Saya membacanya berulang-ulang sampai yakin, ini beneran accepted

Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…..

Ini beneran bukan semata-mata hasil saya. Ada banyak faktor yang membantu saya bisa menyelesaikan semuanya. Support suami dan anak-anak, bantuan kawan-kawan dan kerabat, doa orang tua, dan tentunya dorongan supervisor tercintah saya, Si Ibuk. Kalau bukan karena dia yang meres-meres saya mungkin saya akan santai-santai. Kalau bukan karena dia yang ngoreksi kerjaan saya dengan detail, mungkin juga kerjaan ini ga akan beres.

Tapi bener ya, pelaut yang hebat itu gak lahir di laut yang tenang. Bukannya saya bilang saya pelaut yang hebat ya (emang bukan pelaut sih), tapi setidaknya saya ada di laut yang ombaknya gede bergulung-gulung. Gimana enggak, tiap minggu saya harus menghadapi si ibu di meeting reguler, duduk sama-sama, diskusi, ngebahas kerjaan satu-satu. Tentunya sebelum meeting saya harus nyiapin bahan, saya udah ngerjain apa aja selama seminggu ini? Gak banyak supervisor kayak gitu, yang bener-bener ngeluangin waktu untuk muridnya. Gak banyak juga orang yang tahan kerja sama kaya Si Ibuk, yang segala aspek dia komentari. Tapi saya merasa, dia kayak gitu karena dia profesional sama kerjaannya, passionnya itu dapet banget. Cuma masalahnya, saya tahan banting apa engga kerja sama dia?

Tapi kalimat pertama ketika assessment bersama kedua supervisor saya membuat saya berlega hati: We think you deserve a go, you have showed improvements …..

Saya berusaha memasang wajah senormal dan secool mungkin, padahal dalam hati udah girang teriak Alhamdulillah….

Oiya, Saat-saat assessment juga supervisor juga kudu dikasih feedback lho. Saya ingin bilang dengan jujur bahwa saya tuh sebenarnya agak gak nyaman sama style coaching-nya beliau. Namanya orang Indonesia ya, susah banget ngomong jujur to the point. Akhirnya saya formulasikan uneg-uneg dengan sehalus mungkin:

At first, there were maybe a cultural and personal differences with me and Pxxxx on how to communicate and discuss some issues. Sometimes it was difficult for me to get along with her style of coaching, that is make me discouraged, and that may seem for her I did not show eagerness on doing my research. But I guess it was the process on learning and how to work together. I learn to keep up and follow her pace, and not to take everything personally.

Intinya mah saya teh banyak makan hati sama Ibuk, (baca curcolan saya sebelumnya). But that’s tough love. Style coaching dia yang ala penjajah, mungkin sulit diterima oleh saya yang berhati hellokitty. Ketika baca komen saya di atas, dia tanya, lalu sekarang gimana, apa sudah lebih baik dengan style saya?

Ya saya bilang, udah mendingan Bu, tapi coba Ibu minum kombantrin dulu yang rutin biar agak lemes gitu, ga usah streng-streng amat (candaa..)

Saya bilang, ya udah oke, toh juga ga akan mengubah style coaching kamu? Saya yang harus lebih berjiwa Rambo kalau menghadapi Si Ibu.

Dia bilang, iya saya memang seperti ini, I won’t change.

Karepmulah Buk. Yang pasti saya memang banyak belajar dari dia, dia bener-bener nge-drill saya untuk melakukan hal-hal di luar kemampuan saya. Meski kadang lelah, tapi saya percaya, semoga ini semua ada berkahnya, ada manfaatnya.

Lain kali saya akan kupas style coaching dia itu kayak apa, siapa tahu bisa menginspirasi anda, haha.

Semoga Si Ibu dapat hidayah, aamiin.

Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

A Roller-Coaster Relationship

Tiap hari Kamis, saya pasti gelisah dan deg-degan. Apa pasal, tiap kamis ada agenda merah bertengger di kalender saya: meeting pekanan dengan Ibuk supervisor. Dulu ketika saya masih memproses proposal S3 saya dan lanjut dengan proyek pendahuluan, saya juga sudah sering bertemu beliau secara rutin. Tapi tidak ada hal yang perlu saya cemaskan. Beliau masih manusia biasa, tidak ada tanda-tanda ia punya tanduk di kepalanya atau taring sepanjang galah yang muncul di bulan purnama. Saya juga tidak merasa kalau dia adalah tipe supervisor yang killer. Pokoknya everything went well-lah.

Tapi sudah lebih dari separuh tahun 2018 ini saya berinteraksi intens dengannya, tanduknya mulai keluar kepribadian aslinya baru terasa. Dulu ketika saya mencoba “melamar” beliau sebagai supervisor, feeling saya merasa bahwa dia tidak seperti Dutch pada umumnya, yang dingin dan to the point. Saya pikir supervisor S2 saya sudah cukup membuat saya kapok waktu itu. Gak lagi deh saya bergaul dengan tipe Dutch yang ngomongnya kayak Feni Rose (setajam silet). Tapi ternyata … setelah saya renungi, “silet” supervisor master saya dulu ga ada apa-apanya. Kalau boleh saya bandingkan, saya mau balik lagi dah sama supervisor master saya, daripada sama si Ibuk ini. Tapi roti sudah menjadi basi (berhubung Dutch makannya roti bukan nasi), we can’t turn back the time.

Semakin banyak bergaul dengannya, baru kelihatan ternyata si Ibuk ini kepribadiannya agak bipolar, haha.. Maksudnya kadang di satu meeting dia baik gitu ya, kayak jelmaan Dewi Kwam Im, senyum-senyum aja. Di meeting lain dia kayak streng banget mukanya kayak lagi sembelit. Suatu kali dia pernah memuji kerjaan saya, bahkan bertepuk tangan (untung gak sampai tepuk pramuka). Suatu kali lainnya saya pernah disayat-sayat dengan sembilu dengan perkataannya. Duh…

Lalu ada meeting meeting evaluasi 6 bulanan saya sebagai PhD. Di sanalah batu loncatan di mana tanduk si Ibuk mulai terlihat jelas dan berkilat. Saya cukup shock. Sebab, semua kawan saya yang PhD bilang, evaluasi 6 bulanan itu mah cuma ngobrol-ngobrol doang, santai, ga ada apa-apanya. Ternyata hal itu tidak terjadi pada saya. Mungkin banyak hal yang mempengaruhi juga, saat itu si Ibuk agak spanneng karena sibuk urusan ini itu, ditambah jadwal meeting kita mepet sama acara orasi profesor baru di departemen. Jadilah kayak semuanya seperti diburu-buru, dan yang keluar dari mulutnya adalah rentetan peluru. Saya yang hanya berbekal bambu runcing tentu kewalahan mengatasi serangan Ibuk kompeni. Jenderal Soedirman tolong sayaaahh, di sini ada kompeni ngamuk. 

Hal tersebut cukup menyita pikiran saya selama seminggu. Saya cukup kesal dengan hasilnya. Lalu saya pun menulis email penjelasan yang cukup panjang padanya, sedikit komplen dan negosoisasi. Sampai akhirnya dia menjadwalkan evaluasi ulang. Untunglah dia tipe yang mau menerima masukan ya. Dia kayaknya sadar, sepertinya saat itu ia terlalu on fire (mungkin sedikit pms, haha) dan buru-buru. Akhirnya dia melunak dan lebih memberi banyak masukan positif dan jalan keluar. Alhamdulillah. Dia masih punya hati juga.

Tapi setelah hari itu, semua jadi terasa berbeda. Setiap ada meeting pekanan, saya selalu dirundung cemas: Did I make any mistake in my progress? Did I do wrong? Did I miss something to report to her? Beneran gak sehat, pingin nelen obat penenang rasanya.

Kawan-kawan sesama PhD sering menyemangati saya bahwa saya beruntung bisa diasuh di bawah bimbingan si Ibuk, sebab gak semua PhD bisa diskusi intens sama supervisornya, mereka mah bisa nyium bau parfum si supervisor di koridor aja udah seneng banget. Dalam seminggu aja saya bisa ketemu dia dua-tiga kali di meeting yang berbeda-beda, padahal kawan-kawan PhD saya sampai mohon-mohon ke supervisornya buat ketemu, eh saya mah keseringan. Suami pun tak kalah menyemangati. Katanya saya akan sangat bersyukur bertemu si Ibuk sebab banyak orang yang lost di awal PhD-nya karena supervisor terlalu cuek. Lha ini mah “perhatian” banget. Nanti di tahun ke-dua saya akan terbiasa dengan sikapnya dan malah bikin saya makin kuat.

Kawan-kawan saya bilang, bagus banget kerjaan saya dibahas detail sama dia, dikasih banyak masukan, bahkan dikritik habis-habisan. Mereka bilang, mereka pingin banget dikritik sama supervisornya daripada dianggurin. Yaa.. dikritik sih mau tapi caranya gak pakai bumbu boncabe level 10 juga keles.

Mungkin juga sih yaa.. mungkin.. saya yang terlalu banyak ngambil hati dari perkataan dia. Yah, namanya juga orang Asia, orang Indonesia, full of sugar coating talk dan banyak basa-basi. Tiba-tiba dikasih kultur yang beginian, ampun inang … . Salah satu kawan PhD saya (Dutch) yang juga dibimbing si Ibuk juga bilang, dia mah emang gitu … kalau saya udah tahu sih dia mau ngeritik saya di bagian itu dan saya sadar. Dianya selow-selow aja gitu, mungkin karena sesama Dutch, dia gak ambil pusing dengan kritik yang tajam. Mboh juga sih.

Sampai sekarang saya masih merasa skeptis sama si Ibuk. Sekali waktu dia memberikan compliment karena menurutnya yang saya kerjakan sudah baik (meski tetap dibarengi kritik di belakangnya). Tapi saya gak hirau sama pujiannya. Sebab saya takut, kalau di meeting kali ini saya masih selamat nih, tapi who knows di meeting ke depan, saya bisa kena semprot lagi. Menjalani hubungan dengan si Ibuk seperti laiknya naik roller-coaster. Kadang perut dikocok-kocok karena tegang, kadang ada rasa (sedikit) excited di dalamnya, pernah juga terasa datar seperti di awal laju roller-coaster. Tapi saya masih akan menjalani a roller-coaster relationship ini sampai 3.5 tahun ke depan. Pembaca Budiman … Doakan saya yaaaa …