Les Bahasa Belanda Gratis

Ada satu fasilitas yang bagus dari Consultatiebureau Groningen (semacam Posyandu, yang fokus dalam kesehatan dan tumbuh kembang anak). Selain menyelenggarakan imunisasi gratis dan pemeriksaan rutin untuk anak-anak, Consultatiebureau juga sangat memperhatikan tumbuh kembang anak, misalnya bagaimana perkembangan si anak dalam berbicara, berkonsentrasi, dan memahami suatu instruksi.

Ada dua orang kawan Runa (orang Indonesia) yang belum lama tinggal di Groningen lalu mendapatkan fasilitas belajar bahasa Belanda lebih lanjut. Mereka berdua berusia 3 dan 4 tahun. Keduanya sudah memasuki usia sekolah (setara playgroup dan TK). Tentunya karena belum lama tinggal di sini, mereka memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dalam bahasa Belanda. Meski sebenarnya untuk mereka bahasa bukanlah kendala dalam bermain di sekolah, tetapi memiliki basic bahasa Belanda akan membantu keseharian mereka.

Fasilitas belajar  bahasa Belanda tersebut ada dua pilihan, menambah jam bermain mereka di sekolah atau mendatangkan fasilitator yang datang ke rumah untuk mengajak si anak mengobrol. Dulu Runa mengambil pilihan pertama, soalnya saya masih kuliah, jadi lumayan kan Runa mendapatkan satu hari tambahan di sekolah (di luar jam wajibnya) tentu tanpa menambah biaya apapun. Continue reading

Advertisements

Me VS Dutch: Scheduling Agenda Appointments (part 2)

Beberapa minggu ini ada hal yang menyentil saya untuk kembali menuliskan mengenai topik ini. Setelah sebelumnya pernah saya ceritakan secara singkat di sini. Dua tahun lebih menetap di Belanda membuat saya semakin banyak disiplin dan latihan mengatur jadwal dan waktu. Terutama jika berhubungan dengan orang lain atau kegiatan yang melibatkan orang lain di dalamnya. Tidak hanya dengan Dutch people juga dengan bangsa sendiri.

Saya dan suami pernah mengalami pengalaman yang agak menggelitik dalam scheduling dengan Dutch ini. Mungkin saya dan suami yang agak sensi, atau memang anggapan Dutch pada Non EU atau Non Dutch atau bahkan pada muslim (saya berjilbab) yang agak meng-underestimate (Mudah-mudahan saja bukan karena alasan ini). Sepengalaman saya sih Dutch itu toleran dan cenderung tidak rasis dan membeda-bedakan. Mungkin saja Kami kurang beruntung bertemu Dutch yang kurang begitu respek.  Continue reading

One Day Trip to Bourtange

Menyambut weekend minggu kemarin, saya diajak Mbak Frita jalan-jalan ke Bourtange, salah satu obyek wisata di Provinsi Groningen. Letaknya sebenarnya cukup jauh dari pusat Kota Groningen, hampir ke perbatasan Jerman, ke arah selatannya Groningen. Saya yang lagi lowong pun mengiyakan saja, lumayan bisa sekalian cek lokasi kalau nanti mau ke sana lagi ngajak Mama dan Runa.

Ada beberapa cara untuk bisa sampai ke Bourtange. Kami memilih untuk naik bus. Kebetulan saat zomer vakantie ini ada promo dari Qbuzz Groningen, dagkaart 10€ (untuk 2 orang), bisa naik bus ke seluruh wilayah Provinsi Groningen seharian! Murah banget itu mah namanya. Kebetulan kami memang ber-4 (saya, Mbak Frita, Mbak Esmi, dan Laras), jadi pas beli tiketnya. Oiya ditambah Muti, anaknya Mbak Frita, tapi anak-anak sih masih gratis bayar transportasinya. Continue reading

Catatan Ramadhan (2) – yang tertunda

Note: Postingan ini berakhir di draft. Tapi sayang dibuang.. Ya udah diselesaikan saja yang sudah dimulai. Sekalian sebagai perekam jejak saya di Ramadhan 2016 kemarin.

Minggu pertama Ramadhan meskipun puasa 19 jam tapi terasa lebih mudah dijalani daripada tahun kemarin. Karena kangen suasana Ramadhan dan masakan di Indonesia, saya mencoba menelurkan beberapa karya yang cukup niat di dapur. Semuanya kebanyakan masakan Padang dan resep Mama, hoho. Ini contohnya:

Karya di Dapur

1. Roti srikaya – ta’jil favorit orang rumah di kopo. Itu berupa roti tawar yang disiram kuah srikaya. Resepnya cuma bikin kuahnya aja kok. Rasanya yang manis cocok untuk berbuka

Bahan: gula merah, kayu manis, telur, santan, daun pandan, garam

Cara membuat: Gula merah direbus dengan air, tambahkan santan, biarkan mendidik. Kocok telur, tuangan sedikit demi sedikit ke rebusan gula merah, aduk-aduk. Tambahkan daun pandan dan serutan kayu manis (sekalian masukan juga kayu manisnya). Tambahkan garam secukupnya. Koreksi rasa. Continue reading

Ramadhan tahun kedua di Groningen

Alhamdulillah bisa ketemu Bulan Ramadhan lagi, bulan mulia, bulan di mana setan-setan dibelenggu dan dilipatgandakannya pahala.

Ini puasa ke-2 saya dan Runa di Belanda. Ramadhan kali ini bertepatan dengan musim panas yang mana siangnya lebih puanjaangg. Dulu pas pertama kali menjalani puasa di sini saya agak khawatir, bisa gak yaa puasa 19-20 jam? Tapi ternyata sebulan itu terlewati juga dengan baik, bolongnya puasa hanya karena lagi ada tamu bulanan aja. Tahun ini? Saya merasa lebih santai.. Yowes jalani saja, pasti selalu ada hikmahnya, disyukuri. Meskipun tetap kangen dengan suasana Ramadhan di Indonesia, ada tarawih di mesjid deket rumah, kalau nunggu buka sambil denger kultum di tv, penjual ta’jil yang melimpah di mana-mana, sampai masakan mama yang lezat. Di sini harus masak-masak sendiri, hiks… *salim sama tukang nasi goreng tektek dan tukang martabak keju* Continue reading

Our Time (Bunda Me time, Runa juga Me time)

Adalah hari Senin, di mana masih hari sambungan dari weekend bagi saya dan Runa. Saya ga ngampus, Runa juga ga sekolah *Maap ya Ayah, pas Ayah berangkat kerja kita masih ngulet-ngulet di kasur wkwk*. Senin adalah hari kerja yang bikin malas kerja. Tidak untuk saya karena saya gak ngampus di hari Senin. Di Belanda juga Senin masih hari pemalasan lho, soalnya beberapa toko di dekat rumah saya maupun di centrum baru buka jam 1 siang *penjaganya pada bangun siang kali ya*, dan tutupnya tetep jam 5 atau jam 6 sore. Enak banget yak jam kerja di hari Senin pendek gitu.

Tadinya saya dan Runa ga punya rencana apa-apa di hari senin ini, yaa.. paling belanja ke winkel, ngasih makan bebek, terus leha-leha di rumah. Kemudian melihat matahari bersinar cerah saya jadi tergoda untuk mengajak Runa main di speeltuin (taman bermain), sekalian saja ke speeltuin yang rada jauh sambil nyepeda. Eh tapi saya baru ingat, sepeda saya kan kemarin di tinggal di rumahnya Mbak Icha, sehabis pengajian anak. Memang kemarin saya dan Runa berangkat naik sepeda, tapi pas pulang ayahnya jemput naik mobil, jadi deh sepeda dititipkan di halamannya Mbak Icha saja. Continue reading

Berbahasa untuk Berkomunikasi

Pernah gak terpikir tentang kok saya sudah belajar Bahasa Inggris dari kecil tapi ketika ngomong pakai Bahasa Inggris balelol (terbata-bata) minta ampun?

Gambar dari sini

Gambar dari sini

Saya pernah. Saya merasa sudah cukup banyak mengenyam dan menelan pendidikan Bahasa Inggris sejak SD sampai kuliah. Sudah ikut toefl dan ielts beberapa kali, sudah menghafal struktur grammar dan punya banyak koleksi vocabulary, tapi begitu saya dihadapkan untuk bercakap-cakap atau presentasi dalam Bahasa Inggris, kok rasanya kemampuan speaking saya malah jongkok, ditambah gak pede untuk ngomong. Padahal dalam hati saya sebenarnya yakin, saya bisa lebih dari itu.

Ternyata akar masalahnya apa? Saya baru sadar, saya menggunakan bahasa bukan untuk berkomunikasi dengan benar, tapi saya lebih memikirkan apakah yang saya sampaikan ini kalimatnya benar atau salah? Apakah saya pakai simple present tense atau pakai past tense, atau pakai future tense. Apakah saya menggunakan vocab yang tepat atau tidak? Dari sanalah saya jadi malah makin lama untuk berbicara dan makin sulit mengutarakan yang saya maksud. Continue reading