Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful, [GJ] – Groningen’s Journal

Berserah pada Jalan Allah

Bagaimana Kabar Ramadan?

Ramadan sudah berlalu dua pertiga jalan, tinggal sepertiga lagi akan kita tempuh Insya Allah. Lalu bagaimana Ramadanmu? Ada rasa mellow juga mengingat Ramadan ini sudah mau habis, tapi rasanya belum banyak yang dilakukan dengan maksimal. Masih ada missed-nya, masih ada kekurangannya, masih belum kenceng doanya. Ya Allah, manusia memang tempatnya salah dan penuh nafsu. Tapi semoga momentum Ramadan ini menjadi momen kita bisa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Saya percaya, pasti ada hal-hal baik yang “nyangkut” dari Ramadan kali ini untuk dibawa jalan ke depan. Meski tertatih, tapi kita tahu kita ada di jalan yang benar, Insya Allah di jalan yang diridoi Allah, aamiin.

Manusia memang lemah. Bahkan untuk mengurus hidupnya sendiri manusia itu tidak mampu, Allahlah yang membimbing dan menunjukkan jalan. Seperti nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah RA untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang. Sebuah nasihat indah yang membuat saya tertegun. Terkadang diri ini merasa sombong, merasa tahu mau melakukan apa-apa, merasa mengerti ini itu, padahal tak ada satupun hal yang kita mampu dan ketahui tanpa bimbingan Allah SWT.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Artinya: Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. (HR Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim).

Jangan engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata, Masya Allah.  Jangan sampai Allah meninggalkan diri ini bersama kelemahan-kelemahan yang ada.

Saat hidup ini terasa sempit, saat dirasa jalan ini sulit ditapaki, bahkan rasanya mustahil apa-apa yang kita usahakan bisa berhasil. Mungkin saatnya kita berhenti sejenak dari kebisingan dunia dan bersujud, memohon ampun pada Allah. Bertawakkal, jalan keluar itu bukan kita yang mengusahakan, tetapi Allah yang memberikan.

Rasanya saat dipikir-pikir, ya Allah berat banget ya mendidik anak di Belanda ini. Rasanya saya lelah gitu harus berusaha lebih kuat untuk mengajari anak salat, mengaji, tauhid. Padahal ya, saya sendiri saja masih berjuang belajar. Masih sedikit sekali ilmu saya untuk bisa saya teruskan pada anak-anak. Untuk belajar sabar dan bersyukur saja masih praktiknya sulit. Padahal kalau saya lirik kawan-kawan di Indonesia, Masya Allah.. senangnya bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam terbaik, bahkan di pesantren. Terbesit rasa iri juga. Saya takut kalau apa-apa yang kami berikan masih kurang untuk bekal anak-anak kelak. Ini kalau curol tentang ini panjang sih, nanti saya khususkan untuk curcol soal pendidikan Islami anak.

Rasanya dipikir-pikir, ya Allah, berat ya jadi Mamak sekolah, kok banyak yang gak kepegang. Padahal list tugas menumpuk, gak cuma dari kampus, tapi juga dari rumah, dari anak-anak. Ngerjain tugas aja ngap-ngapan, terus kapan saya bisa ngerjain hobi saya nulis, bikin buku lagi?

Rasanya dipikir-pikir, ya Allah, sampai kapan kami terdampar di Belanda ini? Rasanya ingin pulang ke Indonesia dan punya kepastian tempat tinggal, pekerjaan, dan pendidikan anak yang baik di sana. Tapi rezeki kami masih di sini … Bahkan kami pun gak tahu sampai kapan di sininya.

Tapi semua yang “dipikir-pikir” itu kan cuma dalam pikiran manusia, kalau kata Allah mah, ini mah gampang. Kamu cuma perlu berserah aja dan berdoa, gak usah pake ribet deh. Salah satu Ustadz menasihati saya ketika saya bertanya tentang mendidik anak di Belanda, katanya: Berdoa saja, saya titipkan anak-anak ini pada Allah. Anak-anak ini milik Allah, Allah yang akan menjaganya. Bukan dari usaha kita, bukan dari kekuatan kita anak-anak ini bisa jadi manusia yang berhasil di dunia dan di akhirat, tetapi dari jalannya Allah.

Saya tertegun. Iya betul. Bukan usaha kami, tetapi kehendak Allah. Allah yang akan menjaganya.

Begitu juga nasib saya sebagai Mamak sekolah dan kelanjutan perjalanan kami di sini. Allah yang akan mengatur. Wallahua’lam

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Ramadan Bercerita bersama DeGromiest

Marhaban Yaa Ramadan..

Alhamdulillah bisa bertemu lagi dengan Ramadan tahun ini. Meski dalam suasana pandemi, tetapi Ramadan tidak berkurang kesyahduannya. Masih berasa sepi juga (tapi Belanda emang sepi sih mau bulan apa juga, haha.. kecuali pas summer kali orang-orang baru kelihatan banyak keluar).

Well, semuanya harus tetap disyukuri. Walaupun kangen berat sama kampung halaman, suasana di Indonesia, panasnya matahari di Bandung, bau kesang, debu-debu intan yang bertebaran di jalanan Bandung, pemandangan dengan banyak manusia familiar, suara-suara dengan bahasa yang akrab di telinga, aaah… sudahlah. Masih jadi angan-angan saja. eniwei tentang bahasa, lucunya sekarang saya sudah bisa menangkap percakapan orang-orang Londo. Kalau dulu ada orang ngobrol, pasti saya gak tahu mereka ngomong apa, tapi sekarang kok bisa ya otomatis paham aja gitu (efek udah kelamaan keles di Londo).

Cukup deh capruknya. Intinya saya ingin berbagi program dari DeGromiest (Himpunan Keluarga Muslim Indonesia di Groningen. Masih ya karena pandemi dan lockdown, gak ada deh kumpul-kumpul, pengajian, apalagi buka puasa bareng dan tarawih ke masjid, kan masih ada pemberlakuan jam malam (mulai pukul 22.00), sedangkan buka puasa aja sekitar pukul 21.00 an, heu.

Nah, jadi untuk tetap semangat di bulan Ramadan, Insya Allah dari tim DeGromiest mengadakan program “DeGromiest Ramadan Bercerita”. Insya allah setiap hari akan ditayangkan kultum bercerita tentang kisah hidup Rasulullah, para sahabat, dan keluarga beliau, ataupun kisah teladan di dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah ini dibawakan oleh teman teman dari DeGromiest dengan semangat berbagi ilmu. Insya Allah video kultum itu akan tayang pada pukul 16.00 CEST / 21.00 WIB .

Kami bukan ustadz/ustadzah lho, tapi kami hanya ingin meneladani sirah Rasulullah dan Al-Qur’an, dan bisa membaginya pada khalayak. Seru juga ternyata prosesnya. Mulai dari memilih kisah yang akan diceritakan, lalu membuat script masing-masing. Baru deh dieksekusi. Biasanya kami mengambil tempat di outdoor. Biar bisa lebih bebas dan fresh juga. Bebas maksudnya kan selama lokdon ini kita gak boleh ngumpul-ngumpul di dalam ruangan. Jadi kami shooting di luar. Dengan bermodal teknik syuting seadanya, jadi juga deh videonya. Oiya ada juga Ramadan bercerita yang khusus disampaikan oleh anak-anak. Kalau itu mah, ortunya sendiri yang nyuting, hehe. Biar anak-anak juga semangat kan.

Selain kami jadi belajar mengenai sirah, kami juga belajar menyampaikan kembali. Biar lidah ini yang biasanya dipakai untuk yang tidak bermakna, bisa jadi bermanfaat dalam menebar kebaikan.

Yuk cek di Youtube DeGromiest: https://www.youtube.com/user/degromiest/videos

Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, [GJ] – Groningen’s Journal

Puasa Runa

Sepulang sekolah Runa cerita dengan antusias, “Runa denger tadi Sara dan Alma ngobrol sekilas, Sara bilang dia udah disuruh Mamanya untuk full puasa tahun ini.”

Sara dan Alma adalah beberapa teman Runa yang beragama Islam, dari sekian banyak temannya dari berbagai latar belakang berbeda.
Menjelang Ramadan memang kami sudah sounding ke Runa, untuk persiapan shaum, sahur, dan lainnya, dalam kondisi Runa sekolah.

Tahun lalu, kondisinya berbeda, saat lockdown pertama, jadi Runa bisa menjalani puasa full di rumah: Sahur pukul 3, buka puasa pukul 10, masih bisa tidur lama setelah subuh, dan gak khawatir dengan padatnya aktivitas sekolah (karena belajarnya masih di rumah aja).

Tahun ini, Runa akan puasa di sekolah. Kami berpesan, puasanya boleh sebiasanya, Runa tetap dibawakan bekal makan siang dan botol minum. Agak sedih sebenernya kalau puasa sendiri, gak ada temannya. Tentu beda banget dengan kondisi saya dulu dan kondisi anak-anak Indonesia sekarang, dari umur 5 tahun saja sudah pada kuat puasa full. Hampir semua anak di kelas berpuasa, ya masa kita enggak? Meski bermula dari perasaan seperti itu, setidaknya ada bentuk “didikan” tidak langsung dari lingkungan.

Namun, setelah mendengar ada satu temannya saja yang juga akan puasa, Runa semakin semangat juga berpuasa. Padahal cuma satu lho. Alhamdulillah. Semoga tantangan-tantangan ini membuat kami menjadi muslim yang semakin istiqomah.

Aa Gym pernah bilang, saat ditanya gimana dengan kesulitan yg dihadapi supaya kita tetap istiqomah? Katanya, ya bagus ada kesulitan malah. Jangan takut pada kesulitan tapi takutlah pada kemudahan, sebab biasanya orang lebih banyak mengingat Allah ketika dalam kesulitan.

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

“Ik vind jouw hoofdoek mooi!”

“Ik vind jouw hoefdoek mooi!”/Jilbabmu bagus!

Di kelas Runa, setiap minggunya ada giliran menjadi ‘kind van de week‘, atau kid of the week. Jadi si anak mendapatkan “perlakuan istimewa” dari guru dan teman-temannya. Apa saja itu? Misalnya si anak boleh duduk di sebelah sang guru saat sesi kringetje (duduk dalam lingkaran), bantu guru mencuci apel untuk dimakan saat istirahat. Kalau di esde saya dulu mungkin bantu hapus papan tulis kali yah, wkwk.. (Semacam piket dong😅).

Tapi yang istimewanya di pekan tsb, anak yang bersangkutan boleh mendapatkan testimoni dari teman-temannya. Guru meminta anak-anak untuk memikirkan dan menuliskan hal baik apa tentang si anak yg menjadi kid of the week. Runa juga pernah mendapatkan kesempatan itu. Suatu kali ia membawa pulang tumpukan kertas berisi tulisan tangan teman-temannya. Runa bilang dia senang banget baca tulisan-tulisan itu, terutama dari Sara, yang bilang “Ik vind jouw hoofdoek mooi” (Kupikir jilbabmu bagus).

Runa memang sering pakai jilbab ke sekolah, kami gak memaksakan, hanya membiasakan. Kalau Runa mau ya bagus.. apalagi pas winter kemarin malah enak pakai jilbab, anget. Kadang Runa juga suka minta pakai jepit rambut atau dikepang dua, ya gakpapa. Setelah, membaca komentar Sara, Runa jadi semangat pakai jilbab ke sekolah, Masya Allah.

Kami belajar banyak hal dari itu:
1. Kami mencoba untuk membuat Runa nyaman dan bangga pada identitasnya sebagai muslimah. Tak disangka, ternyata dari lingkungannya yang heterogen ini, Runa masih bisa mendapatkannya.

2. Banyak hal luar biasa yang terasa kalau kita juga memberikan feedback positif pada anak-anak, salah satunya bisa menumbuhkan rasa pede pada anak. Anak pun belajar untuk memikirkan hal baik mengenai temannya. Saya juga ingin dong jadi ‘kind van de week‘.

3,4,5, dst….

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Sadari, Hal Kecil yang Bisa Berarti Besar.

Ini adalah kisah mengenai seorang Oma di depan jendela

(1)

Sebelum pandemi, biasanya kami mengantar anak-anak ke sekolah naik sepeda. Ketika akhirnya sekolah kembali dibuka, Runa, anak pertema saya, gak lagi bersepeda ke sekolah. Sekolah memang menganjurkan untuk anak-anak yang rumahnya dekat di lingkungan sekolah untuk jalan kaki ke sekolah. Kendaraan hanya diutamakan untuk anak-anak yang rumahnya agak jauh. Hal ini untuk mengurangi gerombolan anak-anak/orang tua yang datang jam masuk dan pulang sekolah.

Kami pun mengantar anak-anak dengan berjalan kaki. Suatu kali, kami berangkat ke sekolah melewati jalan setapak di depan sebuah taman, yang di hadapannya berjajar rumah-rumah mungil. Rumah-rumah Belanda memiliki halaman terbuka dengan tipe jendela yang besar. Jendela tersebut kadang dibiarkan  terawang tanpa ditutup gorden.

Adalah rumah pertama di deretan itu, dihuni seorang Oma yang tinggal seorang diri. Saat melewati rumahnya, kami refleks menengok jendela dapurnya. Sang Oma berdiri di sana, melambaikan tangan sambil tersenyum. Seolah mengucapkan, “Selamat pagi! Selamat menikmati hari ini.” Ternyata ia tidak hanya melakukannya pada kami, tapi pada setiap anak-anak dan ortu yang melewati rumahnya menuju sekolah. Ia seperti sengaja menunggu di depan jendela untuk menyapa orang-orang yang lewat.

Sejak saat itu, kami selalu melewati rute itu untuk bertemu mata dengan sang Oma. Entah mengapa, semangatnya seperti menulari saya. Yang mulanya hari Senin menjadi hari penuh beban untuk memulai pekan, tetapi di pagi itu rasa hati saya menjadi lebih ringan. Hanya karena lambaian tangan dan senyum ramah dari sang Oma.

Oma yang namanya pun kami tak tahu, tapi kami tahu hal kecil yang dilakukannya berarti untuk kami. Ada terselip rasa lapang di tengah kondisi lockdown yang kadang terasa menyesakkan.

One small thing, it’s a good place to start. One small thing leads to more, to the beginning of something big.

Dadah Oma!

(2)

Bagaimana kabar Oma di depan jendela?

Rumah Oma meski mungil, tetapi tertata apik. Di halamannya tampak kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Saat musim semi ke musim panas, rumah Oma sangat cantik dengan berbagai macam kembang dan tanaman menghiasi halamannya.

Continue reading “Sadari, Hal Kecil yang Bisa Berarti Besar.”
Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Melawan Kebatilan

(postingan yang telat diposting, udah dari pekan-pekan lalu, tapi gakpapalah ya, daripada enggak sama sekali)

Baru-baru ini ada kasus tak menyenangkan terjadi di Prancis. Saya singkat aja ya ceritanya. Jadi ada seorang guru di sekolah menengah atas yang memberikan pelajaran mengenai freedom of expression dengan cara memberi contoh kartun Rasulullah SAW. Kartun atau karikatur tersebut kalau tidak salah merupakan karya dari Charlie Hebdo yang heboh sejak 2006 silam, lalu muncul lagi di tahun 2013. Menurut sang guru, kartun yang menggambarkan sosok paling mulia di bumi adalah salah satu contoh kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Padahal ia tahu ada siswa muslim di kelasnya. Tapi ia tetap melakukannya. Tentu hal tersebut menyinggung sang murid. Lalu berikutnya ternyata sang guru ditemukan terbunuh mengenaskan oleh muridnya tersebut.

Sebuah peristiwa yang sangat miris. Miris karena penghinaan yang dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Miris karena penghinaan tersebut dibalas dengan darah. Setelah itu Perdana Menteri Prancis, Macron, mengeluarkan statement yang membuat umat Islam di Prancis semakin terpojok. Katanya kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sah-sah saja sebagai kebebasan berpendapat. Setelahnya kartun tersebut malah dipajang di beberapa tempat, dengan alasan kebebasan tadi. Umat Islam semakin terpojok dengan adanya isu islamphobia.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim di Eropa khususnya? Yang posisinya dekat dengan Prancis. Saya pun mau gak mau jadi merasa takut juga kalau ada islamophobia yang berujung diskriminasi. 

Tapi sebelum ke sana, pertama kita lihat dulu bagaimana dengan adanya penghinaan tersebut? Apa yang kita rasakan jika ada orang yang menghina Rasulullah SAW?

Continue reading “Melawan Kebatilan”
Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents (2)

Suatu kali si Mama cerita, katanya ada anak temannya yang juga di kuliah di Groningen. Teman Mama ini teman sepermainan dulu waktu di Padang. Jadi masih sesama urang awak. Mama bilang kenal gak sama si (sebut saja) Anggrek, anaknya Om (sebut saja) Jati? Saya bilang, kayaknya gak kenal sih, mungkin pernah ketemu, tapi gak pernah mengobrol atau gimana. Maklum kan ya orang Indonesia dan mahasiswa di Groningen ini banyak. Jadi gak selalu setiap sesama orang Indonesia kenal. Apalagi kalau mahasiswa-mahasiswa S1 atau S2 yang “gaul”, udah pasti daku gak masuk lingkaran pergaulan tersebut, haha. Maklum ye, dari dulu mah daku anak cupu.

Intinya Mama dan temannya ini berkomunikasi, ya kali aja sesama anaknya itu di Groningen saling kenal, jadi bisa saling silaturahmi. Namanya orang tua mungkin merasa lega kalau anaknya itu mengenal orang yang dikenal orang tuanya (eh gimana sih, pokoknya gitu).

Tapi memang saya dan Anggrek gak berkomunikasi, seperti yang diharapkan oleh orang tua kami. Ya gimana, gak mungkin juga saya mencari-cari si Anggrek ke mana, dan nanya-nanya. Dia pasti udah besar juga, dan kalau gak merasa butuh orang Indonesia untuk bergaul pasti gak akan nyari juga. Continue reading “Call Your Parents (2)”

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents

“You call your parents everyday?”

“Yes, almost everyday, in irregular times. Sometimes in the morning, so in Indonesia it’s already afternoon.”

“Really? And you talk about …?”

“Anything, well, we can talk about everything. Not in really serious way. Sometimes just what did you do today? What did you cook today? Just simply daily conversation. It isn’t common?”

Jadi waktu ketemu lagi sama teman-teman di kampus, kan kita ngobrol gimana kabar-kabarnya nih selama pandemi, apa ada yang berubah? Ya tentu banyak yang berubah, ritme kerja, jadwal sehari-hari, intensitas komunikasi dengan keluarga (baik keluarga yang di sini atau yang di kampung halaman), dst. Ada teman yang jadi mengagendakan telepon/video call khusus dengan keluarganya, ada yang mamanya jadi lebih sering menelepon nanya kabar, dan ada juga yang biasa aja gak berubah karena biasanya emang jarang telepon/video call.

Kalau saya ya … hubungam dengan keluarga di Indo bisa dibilang gak terlalu banyak berubah. Sebab sebelum pandemi pun saya dan keluarga di Indonesia memang sering teleponan dan video call. Mama kan ibu rumah tangga, jadi gak punya jadwal khusus untuk kerja. Mama biasanya nelepon saya jam berapa aja selowongnya dia. Kalau saya biasanya nelepon Mama di pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, atau malah sore pas pulang. Waktu wiken pasti jadi agenda menelepon yang agak panjang durasinya, kan kita bisanya juga santai. Kalau dengan keluarga suami (mertua), karena bapak dan ibu bekerja, jadi biasanya teleponan dan vid call lebih banyak dilakukan di saat wiken.

Pas pandemi, intensitas menelepon jadi lebih meningkat, soalnya sama-sama di rumah kan kita semua. Jadi bisa nelpon kapan aja. Biasanya ya kami pagi/siang di sana siang/sore (summer time bedanya 6 jam, Indonesia lebih duluan).

Continue reading “Call Your Parents”
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

27 April – Koningsdag, Ulang tahun Raja Belanda.⁣

Kalau Raja Belanda ulang tahun, rakyatnya libur. Bahkan jadi libur nasional se-Belanda. Biasanya kami sangat antusias menyambut ultahnya Raja, sebab banyak event menarik di hari itu.⁣

Ya sebenarnya kami bukan rakyatnya sih, tapi tetep ikutan libur dan merasakan kemeriahan peringatan hari lahir Raja King Willem-Alexander. Kalau Raja/Ratunya berganti, perayaannya juga bergeser lho. Dulu, hari libur nasional ini ada di tanggal 31 Agustus, yaitu hari lahir Queen Wilhelmina. Pernah juga tgl 30 April (Queen Juliana). Sementara Queen Beatrix yang lahir di bulan Januari ternyata tetap ingin merayakan Queen’s Day (Koninginnedag) di tanggal yang sama dengan ibunya, Queen Juliana. ⁣

Kota-kota di Belanda pasti merayakan Koningsdag ini. Setiap sudut kota akan dipenuhi nuansa oranye dan bendera Belanda. Orang-orang akan beramai-ramai memakai baju dan atribut oranye. Di pusat kota akan dibuka vrijmarket (flea market). Di mana setiap orang boleh berjualan apa saja, biasanya sih barang-barang second. Ada mainan anak, baju, jaket, sepatu, peralatan dapur, buku, barang antik, dll. Di sepanjang jalan juga akan ditemukan performance musik, kayak ngamen gitu. Belum lagi ditambah konser di lapangan pusat kota.⁣

Tahun ini Koningsdag sepi-sepi aja. Biasanya Raja akan mengunjungi salah satu kota di Belanda untuk berpawai dan berpidato. Groningen kebagian kunjungan Raja di tahun 2018. Namun, tahun ini visit Raja yang direncanakan ke Maastricht harus dibatalkan karena kondisi pandemik.⁣

Oiya yang bikin seru pas Koningsdag adalah beberapa Mamak Groningen pernah ikutan buka lapak di flea marketnya. Ternyata perjuangan lho, soalnya dari jam 7 pagi sudah harus standby, berebut cari lapak kosong. Terus harus sabar menunggu dagangan. Belum lagi kalau lapar dan kebelet pipis, hmm.. harus cari cara untuk mengatasinya.⁣

Yang pasti 27 April selalu jadi hari seru buat kami. Kalau kamu, apa pengalaman tak terlupakan dalam merayakan ultah Raja ini?⁣

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus

On Monday 6th 2020, Dutch government has released new measure against this pandemic situation. Several of the restriction will be reduced start on May 11th 2020.

It seems that we can feel the air of little freedom. The coronavirus is now under control, the number is still high, but the case reduces per day. I did not know the exact number, to be honest. I am not the one of people who always update with the news. All the information I knew was from my husband, who always keep update with the news, and that is enough for me.

However, the government still emphasize that we have to remain follow the basic rule, it is important!

Schools

Primary schools, including special primary schools, and daycare providers will reopen on 11 May

Runa is so excited about this! She said that she can’t wait to meet again her friends, and do activities at school. Although, everything will not be the same. There are several rules set up by the school. A long list of rules:

All the classes are divided into two small groups. Every day there are two blocks in which the same lessons are given. The morning shift 8:30 am – 10:45 am and the afternoon shift 11:45 am – 2:00 pm. In between of the shift, the school will be cleaned. Runa is in the afternoon shift, which we thought is an advantage, since Runa does sahur and fasting. The duration of fasting in here is quite long, around 17 hours. In this lock down situation, Runa did very well with her first shaum, she can complete several days for full shaum! Barakallahufiik, anak solehah. Continue reading “Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus”