Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Melawan Kebatilan

(postingan yang telat diposting, udah dari pekan-pekan lalu, tapi gakpapalah ya, daripada enggak sama sekali)

Baru-baru ini ada kasus tak menyenangkan terjadi di Prancis. Saya singkat aja ya ceritanya. Jadi ada seorang guru di sekolah menengah atas yang memberikan pelajaran mengenai freedom of expression dengan cara memberi contoh kartun Rasulullah SAW. Kartun atau karikatur tersebut kalau tidak salah merupakan karya dari Charlie Hebdo yang heboh sejak 2006 silam, lalu muncul lagi di tahun 2013. Menurut sang guru, kartun yang menggambarkan sosok paling mulia di bumi adalah salah satu contoh kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Padahal ia tahu ada siswa muslim di kelasnya. Tapi ia tetap melakukannya. Tentu hal tersebut menyinggung sang murid. Lalu berikutnya ternyata sang guru ditemukan terbunuh mengenaskan oleh muridnya tersebut.

Sebuah peristiwa yang sangat miris. Miris karena penghinaan yang dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Miris karena penghinaan tersebut dibalas dengan darah. Setelah itu Perdana Menteri Prancis, Macron, mengeluarkan statement yang membuat umat Islam di Prancis semakin terpojok. Katanya kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sah-sah saja sebagai kebebasan berpendapat. Setelahnya kartun tersebut malah dipajang di beberapa tempat, dengan alasan kebebasan tadi. Umat Islam semakin terpojok dengan adanya isu islamphobia.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim di Eropa khususnya? Yang posisinya dekat dengan Prancis. Saya pun mau gak mau jadi merasa takut juga kalau ada islamophobia yang berujung diskriminasi. 

Tapi sebelum ke sana, pertama kita lihat dulu bagaimana dengan adanya penghinaan tersebut? Apa yang kita rasakan jika ada orang yang menghina Rasulullah SAW?

Continue reading “Melawan Kebatilan”
Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents (2)

Suatu kali si Mama cerita, katanya ada anak temannya yang juga di kuliah di Groningen. Teman Mama ini teman sepermainan dulu waktu di Padang. Jadi masih sesama urang awak. Mama bilang kenal gak sama si (sebut saja) Anggrek, anaknya Om (sebut saja) Jati? Saya bilang, kayaknya gak kenal sih, mungkin pernah ketemu, tapi gak pernah mengobrol atau gimana. Maklum kan ya orang Indonesia dan mahasiswa di Groningen ini banyak. Jadi gak selalu setiap sesama orang Indonesia kenal. Apalagi kalau mahasiswa-mahasiswa S1 atau S2 yang “gaul”, udah pasti daku gak masuk lingkaran pergaulan tersebut, haha. Maklum ye, dari dulu mah daku anak cupu.

Intinya Mama dan temannya ini berkomunikasi, ya kali aja sesama anaknya itu di Groningen saling kenal, jadi bisa saling silaturahmi. Namanya orang tua mungkin merasa lega kalau anaknya itu mengenal orang yang dikenal orang tuanya (eh gimana sih, pokoknya gitu).

Tapi memang saya dan Anggrek gak berkomunikasi, seperti yang diharapkan oleh orang tua kami. Ya gimana, gak mungkin juga saya mencari-cari si Anggrek ke mana, dan nanya-nanya. Dia pasti udah besar juga, dan kalau gak merasa butuh orang Indonesia untuk bergaul pasti gak akan nyari juga. Continue reading “Call Your Parents (2)”

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents

“You call your parents everyday?”

“Yes, almost everyday, in irregular times. Sometimes in the morning, so in Indonesia it’s already afternoon.”

“Really? And you talk about …?”

“Anything, well, we can talk about everything. Not in really serious way. Sometimes just what did you do today? What did you cook today? Just simply daily conversation. It isn’t common?”

Jadi waktu ketemu lagi sama teman-teman di kampus, kan kita ngobrol gimana kabar-kabarnya nih selama pandemi, apa ada yang berubah? Ya tentu banyak yang berubah, ritme kerja, jadwal sehari-hari, intensitas komunikasi dengan keluarga (baik keluarga yang di sini atau yang di kampung halaman), dst. Ada teman yang jadi mengagendakan telepon/video call khusus dengan keluarganya, ada yang mamanya jadi lebih sering menelepon nanya kabar, dan ada juga yang biasa aja gak berubah karena biasanya emang jarang telepon/video call.

Kalau saya ya … hubungam dengan keluarga di Indo bisa dibilang gak terlalu banyak berubah. Sebab sebelum pandemi pun saya dan keluarga di Indonesia memang sering teleponan dan video call. Mama kan ibu rumah tangga, jadi gak punya jadwal khusus untuk kerja. Mama biasanya nelepon saya jam berapa aja selowongnya dia. Kalau saya biasanya nelepon Mama di pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, atau malah sore pas pulang. Waktu wiken pasti jadi agenda menelepon yang agak panjang durasinya, kan kita bisanya juga santai. Kalau dengan keluarga suami (mertua), karena bapak dan ibu bekerja, jadi biasanya teleponan dan vid call lebih banyak dilakukan di saat wiken.

Pas pandemi, intensitas menelepon jadi lebih meningkat, soalnya sama-sama di rumah kan kita semua. Jadi bisa nelpon kapan aja. Biasanya ya kami pagi/siang di sana siang/sore (summer time bedanya 6 jam, Indonesia lebih duluan).

Continue reading “Call Your Parents”
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

27 April – Koningsdag, Ulang tahun Raja Belanda.⁣

Kalau Raja Belanda ulang tahun, rakyatnya libur. Bahkan jadi libur nasional se-Belanda. Biasanya kami sangat antusias menyambut ultahnya Raja, sebab banyak event menarik di hari itu.⁣

Ya sebenarnya kami bukan rakyatnya sih, tapi tetep ikutan libur dan merasakan kemeriahan peringatan hari lahir Raja King Willem-Alexander. Kalau Raja/Ratunya berganti, perayaannya juga bergeser lho. Dulu, hari libur nasional ini ada di tanggal 31 Agustus, yaitu hari lahir Queen Wilhelmina. Pernah juga tgl 30 April (Queen Juliana). Sementara Queen Beatrix yang lahir di bulan Januari ternyata tetap ingin merayakan Queen’s Day (Koninginnedag) di tanggal yang sama dengan ibunya, Queen Juliana. ⁣

Kota-kota di Belanda pasti merayakan Koningsdag ini. Setiap sudut kota akan dipenuhi nuansa oranye dan bendera Belanda. Orang-orang akan beramai-ramai memakai baju dan atribut oranye. Di pusat kota akan dibuka vrijmarket (flea market). Di mana setiap orang boleh berjualan apa saja, biasanya sih barang-barang second. Ada mainan anak, baju, jaket, sepatu, peralatan dapur, buku, barang antik, dll. Di sepanjang jalan juga akan ditemukan performance musik, kayak ngamen gitu. Belum lagi ditambah konser di lapangan pusat kota.⁣

Tahun ini Koningsdag sepi-sepi aja. Biasanya Raja akan mengunjungi salah satu kota di Belanda untuk berpawai dan berpidato. Groningen kebagian kunjungan Raja di tahun 2018. Namun, tahun ini visit Raja yang direncanakan ke Maastricht harus dibatalkan karena kondisi pandemik.⁣

Oiya yang bikin seru pas Koningsdag adalah beberapa Mamak Groningen pernah ikutan buka lapak di flea marketnya. Ternyata perjuangan lho, soalnya dari jam 7 pagi sudah harus standby, berebut cari lapak kosong. Terus harus sabar menunggu dagangan. Belum lagi kalau lapar dan kebelet pipis, hmm.. harus cari cara untuk mengatasinya.⁣

Yang pasti 27 April selalu jadi hari seru buat kami. Kalau kamu, apa pengalaman tak terlupakan dalam merayakan ultah Raja ini?⁣

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus

On Monday 6th 2020, Dutch government has released new measure against this pandemic situation. Several of the restriction will be reduced start on May 11th 2020.

It seems that we can feel the air of little freedom. The coronavirus is now under control, the number is still high, but the case reduces per day. I did not know the exact number, to be honest. I am not the one of people who always update with the news. All the information I knew was from my husband, who always keep update with the news, and that is enough for me.

However, the government still emphasize that we have to remain follow the basic rule, it is important!

Schools

Primary schools, including special primary schools, and daycare providers will reopen on 11 May

Runa is so excited about this! She said that she can’t wait to meet again her friends, and do activities at school. Although, everything will not be the same. There are several rules set up by the school. A long list of rules:

All the classes are divided into two small groups. Every day there are two blocks in which the same lessons are given. The morning shift 8:30 am – 10:45 am and the afternoon shift 11:45 am – 2:00 pm. In between of the shift, the school will be cleaned. Runa is in the afternoon shift, which we thought is an advantage, since Runa does sahur and fasting. The duration of fasting in here is quite long, around 17 hours. In this lock down situation, Runa did very well with her first shaum, she can complete several days for full shaum! Barakallahufiik, anak solehah. Continue reading “Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Celengan Kebaikan – #RamadanBerkarya

Waktu tahu ada #ResepKarya ini di #RamadanBerkarya bersama DeGromiest Kinderen, Runa langsung semangat ingin bikin-bikin sesuatu. Tapi Runa pinginnya Senja juga ikutan. Jadilah kami bikin dua celengan kaca. Runa yang punya idenya, Senja yang ikutan menghias dan bikin hebohnya, hihi..

Celengan ini nanti akan diisi koin-koin bergambar Elsa dan Anna. Maklumlah ya anak-anak cewe. Tokoh princess yang terdiri dari kakak-adik👸🏻👸🏼 ya Frozen ini. Bunda mencetak gambar Elsa dan Anna yang Runa dan Senja suka. Setelah itu Runa yang menggunting bulatan koin Elsa untuknya. Sementara Bunda yang menggunting bulatan koin Anna untuk Senja.

Celengannya terbuat dari toples kaca bekas saus pasta yang dicat. Runa memilih warna biru dan Senja memilih warna merah. Mencat-nya sih sebentar, tapi belepotannya lumayan juga. Celengannya ditutup (tapi gak ditutup permanen) dan diberi nama masing-masing anak.

Bagaimana cara mendapatkan koin?
Koin-koin ini bisa didapatkan kalau Runa dan Senja berbuat baik. Runa pun menyusun apa saja list kebaikan yang kira-kira bisa ditukarkan dengan koin. Tapi tentunya bukan perbuatan baik yang sudah jadi kebiasaan, seperti salat dan mengaji. Harus berupa kebaikan yang kadang dikerjakan kadang tidak, misalnya membantu Bunda memasak, membacakan buku buat Senja, dll.

Tantangannya adalah: Koin-koin yang sudah dimasukkan ke dalam celengan bisa diambil lagi, kalauuu… Runa dan Senja melakukan perbuatan kurang baik, contohnya kalau dua bersaudara ini berantem. Ternyata cukup ampuh juga bikin Runa jadi bersabar.
List untuk Senja? Tentu saja dibuatkan kakaknya. Senjanya tinggal terima jadi. Runa yang bagian jadi polisi, mengingatkan Bunda kalau Senja boleh ditambahkan atau dikurangi koinnya.

Yang menarik adalah dalam penyusunan list ini adalah proses diskusinya. Kami membiarkan Runa mengusulkan setiap perbuatan baik dan kurang baik. Kalau kami setuju, Runa akan menuliskannya. Setiap perbuatan baik dan kurang baik memiliki nilai koin sendiri-sendiri, sesuai yang kami sepakati. Dalam hal ini terjadi tawar-menawar yang cukup ketat antara Runa dan ayah-bunda, disertai argumen yang mendukung opini masing-masing pihak, haha.

1 koin setara dengan 1 euro💰. Jumlah koin akan dihitung di akhir bulan Ramadan. Akan diuangkan untuk disedekahkan kemudian. Untuk Runa dan Senja, hadiahnya🎁 tentu bukan berupa uang dong. Ada deh, kejutan buat nanti!

Celengan kebaikan ala Runa dan Senja

Behind the scenes

List kebaikan yang disusun Runa

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Mamak van Groningen

Gak sengaja akhirnya lahir juga perkumpulan IG Mamak van Groningen. Monggo difollow

Foto dan caption pertama – kedua, Mamak ini yang bikin. Dishare di sini yaa..

Mamak van Groningen

Perpaduan antara sapaan ibu yang Indonesia banget (Mamak) dan kata penunjukkan asal yang Belanda banget (van, terjemahan: dari). Menunjukkan bahwa kami adalah ibu-ibu dari Groningen.
Maksudnya kami pernah mencicipi tinggal di Groningen, hidup di Groningen, atau masih berdomisili di Groningen sampai saat ini.
Persamaan kami adalah, kami begitu terikat pada magnet Groningen.

Mulanya, begitu mencicipi hawa kulkas Groningen, kami berjengit kedinginan. Begitu merasakan jauhnya Groningen dari kota-kota lain di Belanda, kami mengeluh sampai bosan. Begitu menyadari monotonnya Groningen, kami berbisik ingin perubahan.

Lambat laun, ternyata kami terhanyut dalam denyut Groningen.
Ikut terpaut pada kotanya yang bersahaja.
Berteman dengan tiap sisi dan sudutnya dengan bersepeda dan berjalan kaki.
Merasakan makna dari kekeluargaan dan persahabatan yang ditawarkan.

Berbagai alasan membawa kami bertolak dari tanah air ke tanah datar ini.
Berbeda tujuan bukan berarti membuat kami berjarak.
Ternyata malah membuat kami berkelindan dalam lipatan waktu.
Hanya Martini Toren, ikon Groningen, yang cukup jadi saksi, perjalanan kami selama di sini.

Kreasi. Resep. Cerita. Curhat. Traveling. Aktivitas. Studi. Kenangan. Ilustrasi. Akan ditemukan di sini. Enjoy! Selamat menikmati! Geniet er van!
.
.
Logo illustrated by: @thecrafterhours

Mamak van Groningen

=========

Diorama Musim Semi

Tahun ini Ramadan menyapa di musim semi.
Mekarnya bunga, terbangnya serbuk sari, bercampur aroma pupuk ikut menghiasi pergantian hari.
Groningen di musim semi masih sama.
Angin sepoi dengan mentari yang seirama.

Berkah Ramadan tidak berkurang.
Musim semi di Groningen masih berulang.
Hanya situasinya saja yang berbeda sekarang.
Tak apa, kami tak gamang.
Kami ada dengan semangat membentang.

Meski tangan kami tak saling menggenggam.
Meski bibir tak bisa saling mengucap salam.
Tapi hati-hati kami terpaut dalam doa yang tersulam.
Sebab doa terbaik adalah saat sahabatmu bermunajat untukmu dalam diam.

Salam dari kami yang saling merindukan,
Mamak van Groningen

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Oma dan Oma itu

Doe je mee? We maken met zijn alleen tekeningen voor de ouderen uit onze wijk die het verzogings of verpleegtheuis iotten. Zij mogen nu geen bezoek meer ontvangen. Maak een tekening met mooie wens op te schrijven om ze op te vrolijken!”

Begitu isi email singkat dari sekolahnya Runa. Intinya mereka bilang, yuk bikin gambar/kreasi untuk dikirim ke panti jompo di deket lingkungan kita. Karena corona ini mereka gak boleh lagi menerima pengunjung, pasti mereka kesepian kan, kita hibur mereka dengan ngasih gambar karya anak-anak ini, bisa juga ditambah kalimat berisi wish.

Di lingkungan rumah sini ada dua panti jompo, Bernlef dan Blauwbörgje. Memang biasanya dalam beberapa minggu sekali anak-anak berkunjung ke panti jompo tersebut. Kadang anak kelas kecil, mereka bernyanyi dan menari untuk para oma opa. Kan gemesin ya polah anak-anak, mereka jadi terhibur dan merasa senang.

Kondisi sekarang ini tentu bukan cuma anak-anak aja yang ga boleh berkunjung ke sana. Keluarga mereka juga dilarang menemui orang tua di sana. Sebab mereka kan grup orang dengan risiko tinggi kalau sampai kena virusnya. Saya bisa membayangkan betapa sepinya di sana. Biasanya aja udah sepi, apalagi sekarang ini?

Sekolahnya Runa menginisasi pengumpulan drawings ini untuk para oma opa. Jadi tiap hari Jumat mereka menyediakan box di halaman sekolah untuk menampung kertas/kartu ucapan yang akan dikirimkan ke panti jompo tersebut. Runa pun saya encourage untuk ikutan menggambar. Tadinya Runa juga bilang, Runa lagi malas ngegambar, mau bikin-bikin yang lain aja. Tapi saya bilang: Run, pingin gak ngasih sesuatu ke orang? Dia pasti kan senang sekali, Runa perhatian sama mereka. Walaupun cuma gambar juga.. Oma-opa itu pasti kesepian. Runa pun akhirnya menggambar dan memikirkan sesuatu untuk mereka dengan semangat. Continue reading “Oma dan Oma itu”

Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

Kontras

Friday drinks after work?”

Ajakan rutin di grup whatsapp kantor mendekati jam 5 sore.

Ya keles ikutan drinks, Jumat sebelom jam 5 aja eike dah di rumah.

Mungkin di saat kolega-kolega saya melepaskan penat setelah bekerja dengan kongkow di bar, saya sedang melepaskan penat saya dengan nonton kartun Netflix bersama keluarga, atau bahkan sudah kruntelan di kasur.

Sabtu paginya, mungkin di saat mereka masih bobo habis hangout semalam, saya malah sudah nongkrong syantik di IKEA untuk sarapan pagi atau bahkan sudah siap-siap pergi belanja mingguan, muter dari Oriental (toko Asia), Nazar (Toko daging halal), supermarket, atau ke pasar.

Banyak kontras yang saya hadapi di lingkungan kerja saya sebagai PhDmama. Saya sadar, saya sangat berbeda. Bukan hanya dari kultur, latar belakang, kepercayaan, tapi juga dari segi situasi kondisi harian.

Dari penampilan saja saya sudah terlihat berbeda. Belum lagi soal “menghilang” di jam-jam salat, tidak makan/minum di musim panas alias puasa Ramadan (yang mereka anggap sangat berat), dan tidak pernah ikut Friday drinks after work.

Dari sisi sikon: kalau kolega saya biasanya masih stay di atas jam 5 sore jika ada deadline, saya mah kalau bisa jam 5 kurang udah siap pulang (apapun kondisinya), biar bisa cepat-cepat jemput anak-anak. Kalau ada jadwal sekolah anak libur, saya juga ikut libur. Jika terpaksa ngantor ya harus cari akal gantian jadwal sama suami, bahkan minta bantuan sahabat kami untuk “menitip” Runa. Lalu ada juga saat-saat genting, pas sedang sibuk di kampus, tiba-tiba dapat telepon dari daycare: “Senja kayaknya kurang enak badan, mungkin lebih baik dijemput lebih cepat”. Mau gak mau ya tutup semua kerjaan dan cus pulang.

Sometimes being minority feels quite difficult. Menjadi berbeda membuat saya sedikit berkecil hati dan merasa terasing. Tapi teringat salah satu ceramah Ust. NAK menjadi kontras di antara mayoritas bukan berarti sesuatu yang salah. Islam pun datang dari keadaan yang asing dan akan kembali menjadi asing (HR. Muslim), berbahagialah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran.

Hal itu sangat menghibur saya. Paling tidak, saya tidak segan menunjukkan identitas saya sebagai muslimah dan seorang ibu. I’m adapting, but I’m not trying to fit in such community, I’m just enough to have my family and Allah by my side, Insya Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakil.

*kali2 emak curcol gapapa yes.. biar variatif ga ngomongin anak mulu, hehe

Being Indonesian in the Netherlands

Lebih Baik Hujan Batu di Negeri Sendiri…

#Latepost #MulaiRutinNulisLagi

Alhamdulillah summer tahun ini bisa liburan ke Indonesia. Pertama kali untuk Senja pulang kampung nih, sejak lahir. Sebelum Senja bayar pesawat full pas usia 2 tahun, maka lebih baik disempatkan saja.

Untuk Runa juga tidak kalah excitednya, sebab… kata Runa: “Horeee.. Runa bisa makan bubur!” Cita-citamu sungguh sederhana, Nak.

Meski sering dibikinin bubur lezis karya Bapak-Ibu Asmoro di Groningen, tapi Runa ternyata tetap terbayang-bayang bubur Bandung, entah kenapa. Micinnya kali ya?

Terakhir kali kami ke Indonesia, summer 2017. Waktu itu saya lagi hamil trimester kedua, lagi enak-enaknya makan hahay. Mumpung waktu itu saya juga sedang menganggur, jadi ga terikat waktu. Saya ingat waktu 2016 lalu, meski saya senang pulang ke Indonesia, tapi saya suka mendongkol sendiri dalam hati. Kalau udah ketemu macet, panas, regulasi pemerintah yang lieur, kemiskinan yang memprihatinkan, ditambah lagi waktu itu saya sedang mengurus dokumen tertentu (terus birokrasinya alamakjang banget bikin pengen gigit karpet). Saya begitu memuja fasilitas dan kenyamanan yang ada di Belanda, sampai terpikir nanti kalau saya pulang for good ke Indonesia harus banyak berlapang dada dan sabar.

Banyak pun yang komentar ke saya: Gak usah pulang aja kali Mon, kalau udah dapat kerjaan tetap dan kehidupan pasti di sana mah. Ngapainlah di Indonesia, nanti makan hati.

Pulang kampung 2019 ini saya sudah mempersiapkan mental untuk menikmati saja apa yang ada di depan mata (terutama makanan, mwahahaha). Tapi ternyata setelah tiba di Bandung, menghabiskan beberapa pekan di Indonesia, pikiran saya tidak senyinyir dulu. Macet mah pasti ada dan makin parah, panas yaa emang gitu, keribetan ala Indonesia ya tetap jalan. Tapi ternyata di lubuk hati saya yang dalam, saya tetap berpikir, inilah rumah saja. Saya ga akan kemana-mana. Keluarga saya di sini. Meski saya dan suami belum tahu kalau pulang for good mau kerja apa dan tinggal di mana. Mungkin setelah #gantipresiden baru saya pulang habis

Saya jadi ingat peribahasa bijak ini:

Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri

Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

Walaupun emang lebih enak lagi kalau bisa hujan emas di negeri sendiri sih, tul kan? Tapi namanya hidup kadang hari ini kita dapat emas, mungkin besok dapat batu. Yang pasti ya harus tetap berusaha, dan semoga tetap ikhlas dapat apa saja yang terbaik dari Allah. Aamiin..

Kelapa muda dan pantai… Aaahh.. heaven van java